LALANG UNGU

ruang ekspresi sepotong hati

December 1, 2017
by mechtadeera
14 Comments

Famtrip Banjarnegara (3) : Menikmati Keindahan Seni di Gumelem dan Pagak

Lalang Ungu. Suara gamelan Jawa yang cukup rampak menyambut kedatangan rombongan kami di Desa Gumelem Wetan Kec Susukan Kab Banjarnegara siang itu. Oya, setelah kunjungan kami ke Sentra Keramik Klampok, maka Desa Gumelem adalah tujuan kunjungan Famtrip selanjutnya.

Baca juga : Famtrip Banjarnegara (2)

Tari-tarian menyambut di Balai Desa Gumelem

Ternyata saat kedatangan kami, di halaman Balai Desa Gumelem yang terlihat semarak siang itu sedang dipentaskan sebuah tarian Kuda Lumping oleh para remaja putera, setelah itu juga tari-tarian oleh gadis-gadis kecil di atas panggung. Meriah sekali 😀 Rupanya sedang ada acara peringatan ulang tahun Desa Gumelem, yang juga dihadiri oleh perwakilan dari Kasunanan Surakarta. Setelah mendengarkan sambutan dari Kades, kami pun langsung menuju pinggir arena tempat ibu-ibu memajang aneka macam kain batik.

Lho…ada batik di Banjarnegara??

Eh, jangan salah yaa… Sebagaimana daerah-daerah Jawa lainnya, seni budaya batik sudah lama mengakar di Banjarnegara, khususnya di Desa Gumelem yang menjadi sentra batik Banjarnegara. Dukuh Dagaran dan Karangpace di Gumelem Wetan, Dukuh Ketandan, Beji dan Kauman di Gumelem Kulon adalah merupakan sentra-sentra batik Gumelem, desa yang berbatasan dengan Banyumas ini.

Seperti apa sih batik Gumelem itu? Apakah kekhasannya karena dibuat dengan proses yang berbeda dari batik di daerah lain, atau khas dalam motif-motifnya?

Ya, proses pembuatan batik di Gumelem tentu saja sama dengan proses pembuatan batik di daerah lain, yang meliputi proses menggambar pola di atas selembar kain, penggunaan malam sebagai perintang warna dan proses-proses selanjutnya hingga selembar batik tulis ataupun batik cap siap untuk dipasarkan.
Lalu apa yang membedakannya dengan batik daerah lain?

Motifnya.
Ya, batik Gumelem klasik mempunyai motif-motif khas yang diambil dari kekayaan alam dan budaya lokal, dengan warna-warna yang cenderung gelap. Jenis-jenis motif klasik itu antara lain : Gadjah Uling, Sungai Serayu, Jahe serimpang, Godhong Lumbu, Pring Sedhapur,  Udan Liris, Sidomukti, Sidoluhur, Sekar Jagad, Kopi Wutah, dll.

Beberapa corak klasik Batik Gumelem

Motif-motif klasik ini tidak meninggalkan corak batik khas Kraton Kasunanan Surakarta karena bila ditelusur sejarahnya, maka cikal bakal seni batik di daerah ini dimulai saat jaman perang Diponegoro, saat Pangeran Puger mengungsi ke Banyumas, dengan diikuti oleh para punggawa beserta budhayawan, di antaranya adalah para seniman batik sehingga mulai berkembanglah seni batik di daerah baru ini. Demikian informasi yang kudapat dari web batikgumelem.com.

Warna-warni corak kontemporer Batik Gumelem

Dalam perkembangannya, selain motif-motif klasik, batik Gumelem juga dibuat dalam motif-motif kontemporer, yang lebih bervariatif dalam corak maupun pewarnaannya. Mulai digunakan warna-warni yang lebih berani dengan corak yang relatif lebih besar-besar dan dikenakan hanya pada satu sisi kain, disesuaikan dengan permintaan pasar. Motif kontemporer umumnya dikerjakan oleh para pengrajin muda, dengan beberapa jenis motif a.l : Sawung Alit, Lumbu Pari, Kawung Ceplokan, Kanthil Rinonce, Sekar Tirta, Pilih Tanding, Salak Raja, Sekar Kinasih dll. Batik tulis kontemporer ini sangat cocok dikenakan di berbagai kesempatan termasuk kegiatan yang tidak resmi, dan harganya pun sangat terjangkau. 😀

Selain ke Balai Desa Gumelem, siang itu kami juga berkunjung ke SMP N 2 Susukan, di mana para siswanya juga mempelajari Seni Batik sebagai muatan lokal di sekolah ini. Memasukkan batik sebagai pelajaran dalam muatan lokal merupakan salah satu upaya pemerintah setempat untuk tetap melestarikan seni batik melalui pengenalan sejak dini pada generasi mudanya. Patut diacungi jempol, bukan?

Mulok Batik di SMPN 2 Susukan Banjarnegara

Menyaksikan keasyikan siswa-siswi SMP N 2 Susukan yang sedang membatik rupanya membuat beberapa teman blogger tertarik untuk mencoba. Bagaimana rasanya membatik? Asyiik dan menyenangkan, begitu kesaksian mba Nunik, salah satu rekan blogger yang mencoba membatik siang itu…

Rekan Blogger -mba Nunik- tertarik ikut membatik

Dari Desa Gumelem, rombongan kami menuju Desa Pagak Kecamatan Purworejo Klampok. Lhah, ke Klampok lagi? Melihat keramik lagi?

Haha…bukaaan… Tepatnya di Desa Pagak siang itu, kami menikmati kekayaan budaya Banjarnegara lainnya yaitu di bidang Kuliner dan Seni Musik.

Memang telah sedikit lewat dari waktu makan siang ketika kami sampai di Desa Pagak. Oleh karena itu, setelah menunaikan ibadah di masjid desa setempat kami pun bergegas menuju Balai Desa untuk menikmati hidangan makan siang yang sudah disediakan. Mau tahu menunya?

Nyam-nyaam… Soto Kupat Desa Pagak

Soto, itulah menu makan siang yang telah disiapkan untuk kami santap dengan penuh rasa nikmat. Bukan soto sembarang soto lho, teman…

Soto yang kami santap siang itu menggunakan bumbu kacang sebagai pelengkapnya. Luget dan gurih, lengkap dengan potongan-potongan ketupat dan kerupuk warna-warni di dalam mangkuk tersebut.

Oya ketupatnya istimewa juga lho.. Kupat Landan namanya. Penampilannya tidak putih bersih seperti ketupat biasanya, namun terlihat warna gelap di bagian tepi dan rasanya juga lebih gurih. Apa rahasianya? Dari informasi teman-teman peserta famtrip yang berasal dari Banjarnegara kami mendapat penjelasan bahwa ketupat ini berbeda karena direbus dengan air yang dicampur abu pelepah daun kelapa. Hm..pantas rasanya berbeda dengan ketupat biasanya.. Uenaaak…

Setelah menyantap semangkuk Soto dan mendinginkan tenggorokan dengan (lebih dari segelas) es teh, maka akupun bergegas mengikuti teman-teman lain menuju Pendopo yang berjarak beberapa rumah dari Balai Desa itu.

Di dalam pendopo telah siap beberapa orang bapak dan ibu yang bersila ataupun bersimpuh, masing-masing menghadap sebuah alat dari bambu.

Salah seorang bapak yang tampaknya merupakan pemimpinnya kemudian memberikan penjelasan kepada kami bahwa mereka akan memainkan GUMBENG.

Kesenian Gumbeng Desa Pagak Banjarnegara

Apa itu Gumbeng?

Gumbeng adalah nama alat musik tradisional yang terbuat dari bambu. Konon, awal pembuatan Gumbeng adalah kebutuhan para petani yang ingin hiburan merayakan hasil panen mereka, sekaligus sebagai persembahan rasa syukur kepada Dewi Sri yang dipercayai memberikan kelimpahan panen padi mereka. Kemudian berbekal ketersediaan bambu yang banyak di sekitar mereka, akhirnya para petani itupun berkreasi menciptakan suatu alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyian untuk mengiringi kidungan mereka.

Memainkan Gumbeng kemudian menjadi tradisi para petani setempat pada ‘pesta’ panen padi, juga dalam ritual-ritual budaya lainnya misalnya sebagai tolak balak / penolak malapetaka antara lain melalui tembang Dandang Gula .

Sempat ‘menghilang’ berpuluh tahun, baru akhir-akhir ini kesenian Gumbeng dihidupkan kembali dan diperkenalkan lagi ke masyarakat. Dalam suatu kelompok penampilan Gumbeng, diperlukan minimal 12 orang pemain, yaitu 4 orang memainkan alat musik Gumbeng, 2 orang memainkan Dendem, 2 orang menabuh Gong dan melodi, 2 orang memainkan kecruk dan 2 orang lagi memainkan keprak. Disamping itu dibutuhkan pula 1-2 orang sinden untuk melantunkan kidung / macapat.

Sore semakin terasa syahdu ketika kami mendengarkan alunan musik Gumbeng yang dimainkan oleh kelompok dari Desa Pagak tersebut, terutama saat Sang Sinden melantunkan tembang Dandang gula . Ingin rasanya terus duduk-duduk di sana menikmati teh hangat dan nyamikan yang tersedia sambil mendengarkan alunan Gumbeng dan suara merdu Sinden.

Sayangnya, waktu membatasi kebersamaan kami sore itu. Kami harus meninggalkan Desa Pagak untuk meneruskan perjalanan menuju ke Dieng, tujuan selanjutnya dari Famtrip Blogger dan Media yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kab Banjarnegara itu.

Untuk sementara kami harus mengucapkan selamat tinggal kepada warga Desa Pagak yang ramah-ramah, terima kasih Bapak-Ibu semuanya, atas kesempatan indah yang kami nikmati di sepenggal hari itu… Semoga di lain kesempatan kami dapat kembali lagi, mengeksplor keindahan lain dari Desa Gumelem dan Pagak di Banjarnegara. Aamiin…

Nah, itulah kisah jalan-jalanku menikmati keindahan budaya di Desa Gumelem dan Pagak, Oya teman-teman sudah pernah ke sini juga? Yuuk, share pengalamannya di kolom komen yaa…

November 26, 2017
by mechtadeera
12 Comments

Famtrip Banjarnegara (2) : Menikmati Cantiknya Keramik Klampok

Lalang Ungu. Sabtu, 11 Nopember 2017 merupakan hari ke-2 kegiatan Famtrip Banjarnegara yang kuikuti bersama dengan rekan-rekan blogger, GenPI, pekerja media dan sosial media.

Baca juga : Famtrip Banjarnegara (1)

Kecamatan Purworejo Klampok dan Kecamatan Susukan menjadi tujuan kunjungan kami hari kedua. Di Kecamatan Purworejo Klampok kami langsung menuju ke sentra kerajinan keramik yang merupakan salah satu produk unggulan Banjarnegara.

Keramik Usaha Karya adalah unit usaha pembuatan keramik yang menjadi tujuan pertama kami di pagi itu, salah satu dari banyak usaha keramik yang ada di daerah Klampok ini. Continue Reading →

November 25, 2017
by mechtadeera
13 Comments

Terima Kasih, Guru-guru Kehidupanku

Lalang Ungu. GURU dalam bahasa Jawa seringkali diartikan sebagai kependekan dari kalimat : DIGUGU lan DITIRU. Artinya seorang guru adalah orang yang bisa digugu (dijadikan panutan) dan ditiru (dijadikan contoh / teladan).

Nah, tentunya dalam hidup kita ada sosok-sosok yang kita jadikan panutan dan teladan dalam menjalani hidup keseharian kita, mungkin bahkan ada banyak sosok-sosok yang menginspirasi selama hidup kita ini.

Demikian pula halnya dalam hidupku. Yang kusebut guru dalam hidupku bukan hanya guru formal yang telah membimbingku sejak Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi, namun ada banyak sosok guru informal bagiku. Continue Reading →

November 18, 2017
by mechtadeera
15 Comments

Plesir maring Banjarnegara (1) : Surya Yudha, The PIKAS & GenPI Banyumasan

Banjarnegara. Bila mendengar kata itu, apa yang langsung terbayang olehmu, teman? Dawet Ayu, Tempe Kemul, Dieng, Keramik, Batik, rafting?

Ya, memang banyak sekali potensi yang ada di Kabupaten Banjarnegara ini, sangat menarik untuk dieksplor satu persatu ya… Itu sebabnya aku sangat senang dan semangat ketika beberapa waktu lalu mendapat tawaran untuk ikut Famtrip Blogger dan Media ke Banjarnegara pada 10-12 Nopember 2017.

Semangat sekali sehingga dibela-belain ambil cuti sehari di kantor karena acara itu akan dimulai pada hari Jumat pagi yang notabene bukan hari libur kami, hehe… Alhamdulillah izin cuti disetujui dengan mudah, sehingga aku berhasil ikut acara keren ini. Sungguh tak menyesal karena benar-benar seruuuu…

Mau tau cerita keseruannya? Yuuk..maree…simak ceritaku selanjutnya yaa… Continue Reading →

November 15, 2017
by mechtadeera
15 Comments

Bijak berinternet? Yuuk mareee…

Lalang Ungu.  Suatu hari, saat sedang berselancar di dunia maya, sambil sesekali membuka akun medsosku, aku merasa terkejut dengan status FB salah seorang remaja kami, yang kurasakan cukup kasar dan sama sekali tak seperti dia dalam kesehariannya.

Melalui japrian kemudian terungkap bahwa dia sedang merasakan emosi negatif terhadap salah seorang temannya, dan tanpa pikir panjang melampiaskannya dalam status dengan gaya bahasa anak muda yang menurutnya biasa-biasa saja karena toh banyak digunakan oleh teman-temannya.

Melalui komunikasi itu pun kemudian aku mencoba memberi pengertian padanya tentang tindakannya yang kurang bijak tersebut. Status-status dalam medsos kita adalah salah satu cerminan pribadi kita, jadi alangkah baiknya bila kita selalu hati-hati dalam mempergunakannya.

Kita memang harus cerdas dan bijak berinternet. Lalu, tindakan-tindakan apa saja yang dapat kita lakukan untuk itu? Continue Reading →

October 29, 2017
by mechtadeera
7 Comments

Ngangsu Kawruh di Hydroponic Agrofarm Bandungan

Lalang Ungu. Bandungan. Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar kata itu, teman?

Pasar?

    Bunga?

         Buah?

              Villa?

                     Daerah sejuk?

                          Kabupaten Semarang?

Yak…semua benar! 😀

Menurut Wikipedia, Bandungan adalah nama sebuah wilayah di Kabupaten Semarang, yang merupakan kecamatan baru, pemekaran dari sebagian wilayah Kecamatan Ambarawa dan Kecamatan Jambu.

Bandungan terkenal dengan pasar tradisionalnya yang berlokasi strategis yaitu di pinggir jalan utama Bandungan, di mana pengunjung dapat membeli aneka buah maupun makanan khas Bandungan seperti Tahu Serasi, Kerupuk Opak maupun Torakur alias Tomat Rasa Kurma.

Selain aneka buah -yang paling sering dicari orang adalah Kelengkeng dan Alpukat- bagi pecinta bunga hias Bandungan adalah surganya. Deretan kios-kios penjual bunga hias ini ada di sepanjang trotoar jalan utama. Warna-warni yang sangat menyegarkan mata!

Sebagaimana daerah beriklim sejuk lainnya, ada banyak hotel, motel maupun villa-villa yang bertebaran di Bandungan ini. Pilih saja yang paling sesuai dengan kebutuhan dan ketebalan dompet anda! Hehehe..

Nah, itu dia sekilas info tentang Bandungan, yang menjadi lokasi pengalaman belanjaku yang anti mainstream dan akan kutuliskan kali ini.

Memangnya bisa belanja apalagi di Bandungan selain yang sudah disebutkan sebelumnya?

Masih ada lagi dooong….yaitu : Belanja ilmu alias ngangsu kawruh! Continue Reading →

October 26, 2017
by mechtadeera
10 Comments

Rumahku, (harus jadi) sarang nyamanku…

Sore yang masih panaaas…

Lalang Ungu. Oktober sudah hampir berlalu, tapi cuaca di daerahku belum berganti. Hari masih terasa puanaaas, bahkan ketika hari telah beranjak sore. Meskipun di daerah lain mungkin sudah mulai sering hujan -bahkan menurut berita sudah ada yang kebanjiran- tapi hujan masih menjadi kondisi langka bagi kami saat ini.

Para petani padi masih menunggu-nunggu hujan sehingga belum mulai mengolah tanah apalagi mulai tanam, sementara para petinggi di Pusat sudah ngoyak-oyak pencapain target luas tanam yg belum terealisasi..hiks..*curcol

Eh maafkan kok malah tsurhat di sini, hehe.. Kembali ke bahasan awal deeh… Saat di luar sedang hot potato-potato alias panas kentang-kentang -istilah Jawa untuk kondisi puanaaas pwool- seperti sekarang ini, sungguh kusyukuri kami punya tempat berlindung yang relatif nyaman, sehingga saat ini pun bisa nulis sambil ngleyeh tak terganggu cuaca di luar.

Ya, alhamdulillah ada rumah sederhana tempat kami berlindung dari panas dan hujan ini, yang meskipun belum memenuhi kriteria rumah impian tapi tetap kami usahakan untuk menjadi sarang nyaman kami selama ini.

Memang kriteria rumah impiannya yang seperti apa? Continue Reading →

October 19, 2017
by mechtadeera
13 Comments

Aku dan hobi-hobi penyeimbang hidupku

Lalang Ungu. Hai.. Pa kabar.. Alhamdulillah kembali bisa menulis lagi di sini, setelah beberapa waktu blog ini  nganggur..hehe.. Kali ini mau nulis tentang hobi-hobiku.
Kuyakin, hampir semua kita punya hobi / hal-hal menyenangkan yang dilakukan sebagai pengisi waktu luang.  Ada banyak macamnya ya.. Oya, apa hobbymu, teman?
Kalau hobiku sih, sudah sering kutulis di sini ya.. Mudah-mudahan teman-teman tidak bosan membacanya. Hehe..

Aku dan hobiku

Membaca, bisa di mana saja…

Yang pertama kusebutkan jika ditanya apa hobiku, tentu saja : membaca. Ya, kurasa itulah hobi pertamaku. Seingatku sih kusuka membaca sejak masih kecil. Kata ibuku, sejak bisa mengeja kata maka apaaaa saja kubaca. Nama-nama toko di sepanjang jalan yang kulalui rupanya menjadi sasaran baca yang mengasyikkan saat diajak jalan-jalan oleh ibu / bapak. ☺

Setelah SD mulai berkenalan dengan koran dan majalah, sampai ke iklan-iklan kecik pun kubaca! Hahaha…dan paling suka saat (alm) Mbah Putri memintaku membacakan koran untuk beliau. Hehe..  Selanjutnya bahan bacaan pun makin berkembang dan bervariasi sesuai dengan pertambahan usia dan perkembangan zaman.

Sangking hobinya baca, sekarang pun lebih menikmati drakor dari ringkasan per episod yang banyak ditulis di berbagai blog penikmat drakor, dibandingkan nonton langsung! 😀

Dari hobi baca inilah aku mulai mengenal hobi menulis. Kehabisan bahan bacaan, tulis saja sesuatu untuk dibaca sendiri! Tak puas dengan ending suatu cerita, karang saja ending yang diinginkan, lalu tulis untuk dinikmati sendiri. Punya uneg-uneg yang menyesakkan dada, tulis saja biar dada kembali lega! 😀

Aku dan hobiku

Ngeblog itu asyiiik…

Ya, begitulah… bagiku, membaca dan menulis adalah 2 hobi yang saling berkaitan dan seringnya saling menggantikan. Ada saatnya aku lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca, namun ada kalanya pula buku-buku / novel-novel tertumpuk begitu saja, keiginan membaca terkalahkan dengan keasyikan memainkan kata merangkai kalimat. Continue Reading →

October 14, 2017
by mechtadeera
24 Comments

Uji Kaki di Kompleks Candi Gedong Songo Kab Semarang

Lalang Ungu. Sebagaimana telah sering terjadi di keluarga kami, susah sekali merencanakan pergi bersama. Seringkali rencana yang sudah dibuat gagal terlaksana karena satu dan lain hal, dan bahkan pengalaman membuktikan bahwa acara mendadak justru seringkali berhasil! 😀

Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Tiba-tiba saja ibu ngersake diantar ke Salatiga -kota kelahiran kami- karena merasa kangen dengan satu-satunya eyang yang masih ada dan juga karena pada libur lebaran yang lalu kami tidak sempat bersilaturahmi ke Salatiga seperti tahun-tahun sebelumnya.

Nah, ketika sampai di rumah Semarang, tiba-tiba saja aku kok pengen jalan-jalan bareng dan mengusulkan untuk jalan-jalan dulu ke Bandungan, atau sekalian ke Gedong Songo saja yang sudah cukup lama tidak kami kunjungi…dan usul itu diterima oleh semua! Ahay…asyiknya…

Akhirnya pada hari Sabtu 2 minggu yang lalu, kami sekeluarga pun menuju salah satu lokawisata di Kab. Semarang itu. Alhamdulillah perjalanan dari Semarang – Bandungan lancar, mungkin karena masih pagi sehingga lalu lintas tak terlalu padat. Sekitar 1 jam dari Semarang kami sampai di Pasar Bandungan, terus naik lagi ke atas menuju Gedong Songo.

Sekitar jam 9 pagi kami sampai di kompleks candi hindu yang terletak di Dusun Darum Desa Candi Kec. Bandungan Kab. Semarang itu, namun pengunjung sudah terlihat banyak. Mobil sudah tidak dapat parkir di area wisata, namun di tepi jalan beberapa puluh meter sebelum gerbang lokawisata… Ok, uji kaki sudah dimulai dari sini..hehe…

Continue Reading →

October 1, 2017
by mechtadeera
24 Comments

Kali Pertama Kutatap Kiblatku

Lalang Ungu. Kali pertama melakukan sesuatu…pasti berkesan, bukan? Ada sensasi deg-degannya, ada kegugupan, ada rasa bahagia, dan rasa-rasa lain -kecuali rasa yang tak pernah ada..hehe..- bercampur-aduk, membentuk kesan yang mendalam yang akan membuat kenangan itu terpatri dalam ingatan.

Nah, tulisan kali ini, aku ingin menceritakan momen ‘kali pertama’ yang pernah kulalui, yang meninggalkan kesan mendalam hingga kini. Oya, tulisan ini untuk menjawab tema “tentang yang pertama” yang dilontarkan oleh duet asyik mba Dini dan mba Marita untuk arisan Blog Gandjel Rel putaran ke-12.

Sebenarnya, agak bingung untuk memulai tulisan ini. Seperti kalian semua, tentunya ada banyak kejadian ‘yang pertama’ dalam hidup kalian bukan? Demikian pula denganku. Continue Reading →