LALANG UNGU

ruang ekspresi sepotong hati

July 15, 2018
by mechtadeera
5 Comments

Piknik Keluarga ke Jogja-Magelang? Hayuuuk…

Lalang Ungu. Piknik keluarga ke Jogja-Magelang? Hayuuuk… Itulah yang langsung kukatakan ketika mendengar keinginan ibu untuk menyambangi keluarga kami yang berada di kedua kota tersebut, sekaligus piknik keluarga.

Foto-foto di Borobudur punya @triasarditya dan @marasolehah

Oh ya, beberapa hari lalu aku dan ibu sempat melihat-lihat foto dari beberapa teman yang baru saja pulang dari acara di Candi Borobudur.  Wah, pemandangan di sekitar candi Budha terbesar di Indonesia itu makin cantik saja. Jauh lebih cantik dari kondisi saat terakhir kami ke sana, beberapa tahun lalu. Beberapa waktu sebelumnya kami melihat juga liputan suatu acara di Candi Budha terbesar di Indonesia itu. Nah, saat itu beliau langsung tertarik. “Waah, apik yo saiki… Mbok kapan-kapan dolan mrana yuuk…” demikian tanggapan beliau. Lalu beliau menyambungnya dengan menceritakan kerinduan pada cucu-cucunya yang di Jogja dan juga adanya kerabat kami yang tinggal di Magelang dan telah lama kami tak berjumpa.

“Insya Allah nggih Mah…kita rencanakan saja dulu..”demikian jawabku waktu itu. Lalu aku pun mulai mencari-cari informasi tentang destinasi wisata yang kira-kira cocok untuk kita datangi dalam waktu yang cukup singkat –karena kami hanya punya libur Sabtu-Minggu- dan juga adanya anggota keluarga yang Lansia ini, tentu perlu pemilihan destinasi dan akomodasi yang nyaman untuk beliau. Continue Reading →

Buah Barteh

July 12, 2018
by mechtadeera
2 Comments

Barteh, Sang Primadona saat Ramadhan di Pekalongan

Lalang Ungu. Barteh, Sang Primadona saat Ramadhan di Pekalongan. Eh, adakah yang belum tahu seperti apakah penampilan Barteh itu? Ni dia penampakannya..

buah barteh

Lho.. itu kan Timun Suri?

Hehe..rupanya memang buah yang termasuk keluarga labu-labuan (cucurbitae) ini mempunyai beberapa nama alias. Di daerah lain mungkin banyak yang mengenalnya sebagai Mentimun suri, Timun suri atau Timun betik.

Akupun dulu lebih akrab mengenalnya dengan nama Timun suri. Mengenal nama Barteh ini saat aku mulai menjadi penduduk Kota Pekalongan. Waktu itu seorang teman mengajakku mencari buah Barteh untuk bahan pembuatan minuman segar dalam salah satu pertemuan yang akan kami adakan. Aku mengiyakan ajakannya sambil bertanya-tanya dalam hati..buah apa pula itu?

Sesampainya kami di Pasar Sentiling, temanku dengan langkah pasti menuju ke dalam bagian penjual buah-buahan, milang-miling sejenak lalu mantap menuju ke ujung..tempat seorang ibu sepuh menggelar dagangan di depannya…yaitu Timun suri! Nah baru lah aku ngeh kalau Barteh adalah sebutan bagi Timun suri oleh warga Pekalongan dan sekitarnya.. ☺ Continue Reading →

July 1, 2018
by mechtadeera
12 Comments

Siang hari ke Pantai Sigandu Batang? Kenapa tidak…

“Wuk, Sigandu ki ngendi, to?”

“Pantai Sigandu, napa Mah?”

Iyo ya’e.. wingi ana sing cerita bar dolan mrana..”

Pantai Sigandu caket kok Mah, teng Batang ngriku. Ngersake mrika napa?”

“Yo yuuk..mumpung kowe prei..”

Itu penggalan percakapanku dengan ibu, di hari Minggu yang lalu. Rupanya ibu ingin jalan-jalan. Sebenarnya agak ragu-ragu berangkat ke Sigandu saat itu, karena waktu itu sudah jam 10 lebih, sedangkan biasanya kami ke pantai pagi hari ataupun sore sekalian, mengingat cuaca siang hari yang lumayan terik di daerah kami. Apa asyiknya ke pantai siang-siang begitu?

Namun ketika kusampaikan keinginan ibu kepada adikku, dia bilang tidak apa kalau berangkat sekarang, toh pantainya dekat..kalau nanti terlalu panas ya nggak usah lama-lama di sana..yang penting ibu senang karena sudah kelakon jalan-jalan sebentar hehe.. Iya juga kupikir, mungkin ibu bosen sehari-hari di rumah saja. Maka kamipun segera bersiap-siap menuju Pantai Sigandu. Continue Reading →

June 23, 2018
by mechtadeera
20 Comments

Java Balloon Festival Pekalongan, Solusi Lestarikan Tradisi

JBFP solusi lestarikan tradisi

Hai Sahabat Lalang Ungu, apa kabar? Semoga semua sehat dan bahagia selalu di hari ke-8 Syawal 1439 H ini ya.. Oya, mumpung masih hangat nih beritanya..kali ini aku akan menulis tentang Java Balloon Festival Pekalongan 2018 yang diharapkan sebagai solusi untuk melestarikan sebuah tradisi.

Apa itu Java Balloon Festival Pekalongan 2018, dan tradisi apa yang ingin dilestarikan?

Pelepasan Balon udara Syawalan di Pekalongan

Nah, pertama akan kuceritakan terlebih dahulu tentang beberapa tradisi yang dilaksanakan masyarakat Kota Pekalongan dalam menyambut / memeriahkan Syawalan. Pemotongan lopis raksasa dan pembuatan serta pelepasan balon udara merupakan dua kegiatan yang erat kaitannya dengan perayaan Syawalan di Kota Pekalongan.

Pada hari ke-7 di Bulan Syawal yang merupakan puncak acara Syawalan di Kota Pekalongan, sejak dini hari sudah terdengar gelegar petasan-petasan besar dan di langit akan terlihat banyak noktah-noktah beterbangan yang satu persatu meledak di udara dengan bunyi keras. Ya, noktah-noktah itu sebenarnya adalah balon udara besar yang diterbangkan disertai petasan besar. Terlalu tinggi untuk dinikmati keindahannya namun suara gelegarnya saat meledak di udara tetap terdengar. Bersahut-sahutan seolah dalam suasana perang saja.

Ramai dan meriah memang, namun sekaligus membuat was-was. Bagaimana tidak? Balon besar itu diterbangkan lepas begitu saja dengan tambahan mercon/petasan besar-besar, bagaimana bila meledak sebelum benar-benar tinggi / menjatuhi rumah / menyangkut di tiang listrik? Ini bukan khayalan atau ketakutan tak beralasan, sudah ada peristiwa-peristiwa kecelakaan seperti itu yang benar-benar terjadi dan diberitakan di banyak media, namun sebagian masyarakat tetap nekad melakukan hal itu dengan mengatasnamakan tradisi. 🙁

Kekhawatiran lain adalah apabila balon besar itu naik terlalu tinggi sehingga mengganggu lalu-lintas penerbangan. Sangat berbahaya bila balon berbahan plastik / kertas itu menutup pandangan pilot atau bahkan masuk ke bagian pesawat, bukan? Untuk itu, pemerintah melalui regulasi yang ada  (a.l Peraturan Menteri Perhubungan No 40 Th 2018) telah mengatur mengenai penerbangan balon udara raksasa yang ternyata tidak hanya terjadi di daerah Pekalongan saja, namun juga di beberapa daerah lainnya misalnya Wonosobo dan Ponorogo.

Nah, di sinilah polemik itu terjadi. Di satu sisi ada upaya untuk tetap mempertahankan tradisi masyarakat namun di sisi lain ada upaya untuk menjaga keamanan jiwa maupun lalu lintas penerbangan. Apakah masyarakat harus begitu saja dilarang membuat dan menerbangkan balon udara, tanpa ada solusi lain yang sama-sama menguntungkan?

Java Balloon Festival Pekalongan

Java Balloon Festival Pekalongan 2018 (JBFP2018) merupakan kegiatan baru yang dirintis oleh Pemerintah Kota Pekalongan bekerjasama dengan AirNav Indonesia, yang diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk tetap mempertahankan tradisi penerbangan balon udara namun dengan tidak membahayakan jiwa maupun melanggar regulasi yang ada.

Kegiatan JBFP2018 ini berbentuk lomba pembuatan balon udara dengan ukuran sesuai regulasi yaitu lebar maksimal 4m dan tinggi maksimal 7m. Motif warna-warni sesuai kreatifitas peserta. Pengasapan dilakukan secara manual. Tidak diperkenankan menggunakan atau menyertakan bahan-bahan berbahaya seperti gas ataupun mercon / petasan. Dan yang utama adalah balon harus DITAMBATKAN. Minimal menggunakan 3 tali tambatan sehingga balon mengudara maksimal 150m di atas permukaan tanah.

Sekitar sebulan sebelum pelaksanaan lomba, sosialisasi sudah dilaksanakan melalui penyebaran pamflet maupun flyer di media sosial. Ramai masyarakat membicarakannya. Biasa.., ada pro dan kontra. Apa asyiknya melihat balon udara tertambat? Mana seru balon udara tanpa suara petasan menggelegar? Begitu antara lain suara-suara masyarakat. Namun sebagian besar masyarakat juga menanti-nantikan acara baru ini.

Pada hari pelaksanaan -yaitu tanggal 21-22 Juni 2018 lalu– terjawablah sebagian besar pertanyaan itu.

Sejak dini hari masyarakat telah berduyun-duyun mendatangi Lapangan Kuripan Pekalongan Selatan yang menjadi lokasi acara. Terdapat 31 peserta lomba yang tampil dalam 2 hari tersebut. Aku berkesempatan menyaksikan acara pada hari ke-2. Dan ternyata MEMANG ASYIK!!

JBFP2018 di Pekalongan

Antusias warga menyaksikan JBFP2018 di Lapangan Kuripan Pekalongan

Menyaksikan balon-balon besar bermotif aneka rupa dan warna-warni di satu lokasi dan dalam jarak pandang kita, sungguh memanjakan mata! 😍

JBFP2018 Kuripan Pekalongan

Balon-balon raksasa berlatarkan langit pagi

Pengunjung juga bisa mengamati dengan jelas aneka motif hasil kreatifitas peserta. Sebagian besar bermotifkan batik, sebagai ciri khas Pekalongan, namun masing-masing unik sehingga benar-benar meriah warna-warni dan motifnya.

Balon batik, ciri khas Pekalongan nih…

Dan kami jadi mengetahui tahapan-tahapan penerbangan balon udara, yang dimulai dengan pengasapan secara manual menggunakan pembakaran di ‘mulut’ bawah balon raksasa itu. Dibutuhkan pula kerjasama yang baik dalam suatu tim ‘penerbangan’ itu : ada yang menjaga pembakaran sehingga pengasapan sempurna, ada pula yang menjaga tepian balon agar mengembang sempurna dan siap ‘mumbul‘ alias mengangkasa.

Perlu kreativitas dan kerjasama tim yang baik

Aku sempat bertanya pada salah satu tim, yaitu Tim Sedulur dari daerah Curug Tirto, pembuatan balon mereka memakan waktu sekitar 2 hari dengan bahan 10 kodi kertas layangan dan biaya sekitar Rp. 200.000,- Wow..melihat hasil balonnya tentu aku mengacungkan dua jempol pada pemuda-pemuda kreatif ini! Oya pengasapan dilakukan sekitar 15-20 menit agar balon dapat naik dan berada di atas sekitar 15 menit pula untuk kemudian turun dan harus dilakukan pengasapan ulang. Demikian selama waktu penambatan tersebut.

Balon JBFP2018

Ini balon hasil karya Tim Sedulur dari Tirto

Acara dimulai sejak jam 5.30 pagi dan pemandangan aneka warna balon berlatar belakang  langit kemerahan benar-benar sangat cantik lho! Aku sama sekali tak menyesal harus ke luar rumah pagi-pagi hehe… Mungkin demikian pula perasaan warga yang antusias menikmati JBFP2018 ini.

JBFP2018 Kuripan Pekalongan

Balon-balon raksasa berlatarkan langit pagi Pekalongan

Pada tanggal 22 Juni malam, diumumkan juara lomba ini yaitu balon dari Tim Sak Onone dan Tim Bahdi Hore, yang mendapat hadiah 10 juta rupiah. Selain itu ada doorprize untuk peserta yaitu 2 paket umroh, 1 sepeda motor dan 1 kulkas. Wow!! Benar-benar keren nih AirNav Indonesia!

Penutupan JBFP2018

Foto bersama Walikota Pekalongan, Dirut AirNav Indonesia dan Juara JBFP2018

Nah, itu ceritaku tentang JBFP2018 yang diharapkan bisa menjadi solusi pelestarian tradisi penerbangan balon udara di Kota Pekalongan, sekaligus menjadi agenda wisata baru di Kota Pekalongan pada perayaan Syawalan. Memang belum bisa hilang sepenuhnya penerbangan balon ilegal itu. Saat aku menulis ini pun masih terdengar beberapa kali dentum mercon dari balon di langit Pekalongan. Semua butuh proses dan sosialisasi yang terus menerus. Semoga tahun depan akan lebih baik. Nguri-uri tradisi tanpa melanggar regulasi, kenapa tidak? 😀

Oya, acara serupa juga dilakukan di Wonosobo dan Ponorogo. Jika penasaran dengan keseruan acara ini, yuuk.., kami tunggu kedatangan teman-teman di acara JBFP pada Syawalan tahun depan yaa..

June 20, 2018
by mechtadeera
12 Comments

Cerita Lebaran Kami di 1439 H

Assalamualaikum, teman.. Apa kabar? Oya, mumpung masih di awal Syawal, izinku mengucapkan Selamat Idulfitri 1439 H bagi teman-teman yang merayakan, dan mohon maaf lahir batin kepada segenap sahabat Lalang Ungu di manapun berada, atas segala khilaf yang mungkin ada dalam silaturahmi kita melalui rumah maya ku ini.

Mudik ke mana nih, teman-teman? Kalau aku dalam kesempatan Lebaran tahun ini tidak mudik, namun alhamdulillah tetap mengalami suasana mengesankan di liburan lebaran kali ini, yang akan kuceritakan dalam tulisan perdana setelah cukup lama blog ini nganggur..hehe..

Oya, seperti kusampaikan sebelumnya, tahun ini aku tidak mudik. Itu karena sejak 3-4 tahun terakhir ini ibu kembali menetap di Pekalongan sehingga kalau dulu aku merupakan bagian dari pasukan mudik -ke Jogja atau Semarang, tergantung di mana ibu kami menetap saat itu- maka tahun ini aku menjadi bagian dari penerima tamu, yang tak lain adalah kakak kami dan keluarganya 😊

Hm, ada suka dukanya sih semuanya itu.. Kalau sebelumnya menjadi pemudik harus berdesakan dengan para pemudik lain menggunakan travel atau kereta api -tergantung tiket yang diperoleh- maka menjadi tim tuan rumah tak perlu repot-repot berebut tiket, hanya berkutat dengan persiapan menerima tamu..hehe.. Terutama dalam menyiapkan hidangan lebaran, maklum lah..aku kan seorang awam-dapur yang dapat dihitung jari frekwensi masak-memasaknya..haha..

Tapi Alhamdulillah..memasuki tahun kedua masak sendiri hidangan lebaran rupanya aku sudah mulai terbiasa dan bisa mengatur ritme. Meskipun masih berbekal resep hasil gugling, dengan segala kerempongannya -terutama saat mengupas dan memotong-motong buah Nangka muda untuk bahan Gudeg- akhirnya pada buka puasa terakhir kemarin, hidangan lebaran Ketupat, Gudeg, Sambal goreng dan Opor telah siap santap! 😋

Hasil nguplegnya Si awam dapur 😊

Lebaran tiba kami sambut dengan suka cita. Alhamdulillah, ibu berhasil sholat Id bersama di masjid perumahan kami, tanpa alat bantu kursi roda seperti dua tahun sebelumnya. Setelah sholat kami pun melakukan sungkeman kepada ibu dan seperti biasa air mata tertumpah selama prosesi ini..hiks.. Aktivitas selanjutnya adalah menemui tetangga kanan-kiri yang melakukan ujung-ujung yaitu datang dan bersalam-salaman secara berombongan dari rumah ke rumah..

Bersama ibu tersayang di IdulFitri 1439 H

Sedikit berbeda, tahun ini aku dapat tugas piket Posko Lebaran di Pemkot tepat pada Hari H Lebaran. Alhamdulillah, tugas dapat tertunaikan sebelum kemudian bersiap untuk perjalanan luar kota. Ya, siang itu kami sejenak meninggalkan Pekalongan, menuju Semarang dan Salatiga untuk nyekar alm Bapak dan juga alm/almh simbah-simbah kami. Puji syukur perjalanan lancar dan di sela tour de makam itu sempat bersilaturahmi dengan keluarga Pakde di Salatiga yang sedang berkumpul juga. Wah, itu pertemuan pertama kami dengan anak-cucu Pakde secara relatif lengkap, setelah bertahun-tahun tak bertemu. Indahnya silaturahmi.. ☺

Nyekar alm Bapak di Semarang

Bersama keluarga Salatiga di Lebaran 1439 H

Setelah beristirahat di hari kedua, pada hari ketiga kami menuju Tegal, kali ini bersilaturahmi dengan keluarga Bani Kasijo -anak-cucu-cicit dari alm Eyang Kasijo yaitu ayahanda ibu kami- yang tahun ini bertempat di rumah Oom Din, satu-satunya saudara ibu. Kemeriahan dan kehangatan silaturahmi sangat terasa karena memang hanya setahun sekali kami bisa berkumpul relatif lengkap seperti ini. Pulangnya, sempat nyasar di daerah Pemalang ketika akan mampir sebuah lokawisata tapi ternyata sudah tidak eksis. 🙁

Sungkeman Bani Kasijo pada Lebaran 1439H

Bani Kasijo di Lebaran 1439 H

Begitulah..acara silaturahmi dari kota ke kota memang merupakan acara inti libur lebaran di keluarga kami. Memang inilah kesempatan kami bertemu muka dan saling berkabar secara langsung, setahun sekali di musim mudik. Selain itu tentunya kami juga saling mendoakan semoga semua keluarga sehat wal afiat dan dapat berkumpul lebih lengkap lagi di lebaran yang akan datang. Aamiin..

Keluarga Soeranto mengucapkan Selamat IdulFitri 1439 H, Mohon maaf lahir dan batin..

Nah, bagaimana dengan acara libur lebaranmu, teman? Semoga berkesan dan menjadi penyemangat kerja selanjutnya ya.. Yuuk, bagi ceritanya di kolom komen..

May 29, 2018
by mechtadeera
23 Comments

3 Hal yang Dapat Kita Lakukan untuk Membantu Korban Bencana.

Lalang Ungu. Hai sobat…apa kabar? Semoga tetap sehat dan semangat ya di 10 hari kedua Ramadhan ini… Meskipun kadangkala ujian-ujian di bulan suci ini datang silih berganti, namun semoga itu tak mengurangi semangat kita tuk melakukan yang terbaik di bulan penuh rahmat ini.

Oya, salah satu ujian bagi kami di daerah Pekalongan saat ini adalah banjir rob yang melanda sebagian wilayah khususnya di bagian Utara yang berbatasan langsung dengan pantai dan di bagian Barat. Rob memang sudah menjadi ‘langganan’ bagi penduduk di daerah pantai, namun rob kali ini lebih parah dari waktu-waktu sebelumnya. Daerah yang terkena rob lebih luas, dan ketinggian genangan rob juga lebih dari sebelumnya. Walhasil banyak penduduk yang terpaksa mengungsi ke daerah yang lebih kering, meninggalkan rumah seisinya dalam rendaman rob 🙁

Rob di Kota Pekalongan (foto : Istimewa)

Menyikapi hal ini, apa yang dapat kita lakukan? Continue Reading →

May 26, 2018
by mechtadeera
20 Comments

Selamat Tinggal Problema Rambut…

Lalang Ungu. Hai teman, bagaimana kabarnya di Ramadhan yang telah memasuki 10 hari kedua ini? Semoga sehat selalu ya… Apalagi cuaca saat ini sedang tak menentu, pagi hingga siang terasa panas dan gerah…eh, sore ataupun malam hujan menjelang. Atau kebalikannya, hujan seharian namun malam cuaca kembali terang meskipun tetap terasa gerah. Ada saja keluhan yang kita rasakan ya.. Yang flu lah, biang keringat lah, eh..sampai-sampai rambut dan kepala pun ikut-ikutan unjuk rasa.

Ya, beberapa waktu lalu aku memang agak bermasalah dengan rambut. Keringat yang berlebih menyebabkan kepala mudah sekali terasa gatal, bawaannya ingin keramas terus. Padahal, terlalu sering keramas juga tidak baik lho…rambut bisa jadi kering dan kusam karena kehilangan kelembabannya. Sedih lagi saat tiap kali menyisir, ataupun membuka kerudung, helai-helai rambut yang patah menjadi pemandangan menyedihkan 🙁

Duuh…jangan-jangan rambutku benar-benar rusak ya? Waktu itu, buru-buru kucari-cari artikel tentang tanda-tanda rambut rusak dan mencermatinya. Dari berbagai artikel yang kubaca, dapat kusarikan bahwa beberapa tanda rambut rusak adalah sbb : Continue Reading →

May 23, 2018
by mechtadeera
19 Comments

Yuk, Menyusuri Jejak Sejarah di Kawasan Budaya Jetayu Kota Pekalongan

Menyusuri jejak sejarah di Kawasan Budaya Jetayu Kota Pekalongan dapat menjadi salah satu alternatif wisata minat khusus di wilayah Kota Pekalongan. Para pecinta sejarah tentunya mengenal Kawasan Kota Tua di Jakarta ataupun  Kawasan Kota Lama di Semarang, di mana keduanya terkenal sebagai tempat-tempat yang mempunyai bangunan-bangunan bersejarah ataupun cagar budaya yang sangat menarik untuk dikunjungi para wisatawan. Nah, di Kota Pekalongan, telah pula dikembangkan kawasan semacam itu, yaitu Kawasan Budaya Jetayu, salah satu kawasan di mana kita bisa menikmati bangunan-bangunan cagar budaya sambil mengenal sejarah Kota Pekalongan.

Yuk, kita mengenal Kawasan Budaya Jetayu lebih dekat…

Lapangan Jetayu

Alun-alun utara Kota Pekalongan atau lebih dikenal sebagai Lapangan Jetayu -karena ada di Jalan Jetayu- bisa dikatakan sebagai pusat dari Kawasan Budaya Jetayu ini. Lapangan atau lebih tepatnya taman kota ini sering menjadi lokasi / pusat kegiatan budaya yang diselenggarakan oleh Pemerintah ataupun masyarakat Kota Pekalongan. Saat ini penataan lapangan telah dipercantik dengan tanaman-tanaman yang tertata cantik, trotoar apik, bangku-bangku taman yang nyaman, lampu warna-warni dan yang paling mencolok adalah Landmark BATIK sebagai pusat perhatian.

landmark_batik di Kawasan Budaya Jetayu Kota Pekalongan

Landmark BATIK di Lapangan Jetayu

Oya, pada malam hari, suasana sekitar Lapangan Jetayu ini akan terlihat semakin hidup karena selain adanya lampu-lampu taman juga di sekitar taman ini ada kendaraan hias dengan aneka model dan lampu yang warna warni 😀 Continue Reading →

Seluruh peserta dan pendamping outbound di WAGU

May 20, 2018
by mechtadeera
13 Comments

Serunya bermalam & outbound di Wana Wisata Guci

Wisata Guci Kab Tegal

Selamat Datang di GUCI Kab Tegal

Lalang Ungu. Hai teman…masih tetap semangat di awal Ramadhan ini, bukan? Nah, kali ini aku akan berbagi cerita serunya bermalam & outbound di Wana Wisata Guci. Meskipun ini bukan kali pertamaku berwisata ke Guci, namun sebelumnya lokasi yang kerap kami kunjungi adalah wisata Pemandian Air Panasnya, sedangkan kali ini kami berkunjung ke lokasi yang lain untuk bermalam di pondok dan mengikuti outbound di tengah hutan Pinus. Seru? pastinya…

Oya, Wana Wisata Guci -disingkat : WAGU- ini berlokasi di Dk Pekandangan, Rembul, Bojong, Kab. Tegal, sekitar 0.16 km dari lokasi Pemandian air panas Guci yang sudah lebih dahulu dikenal masyarakat. Nah, di Wana Wisata Guci ini, ada banyak fasilitas lho..pengunjung bisa berenang di kolam air panas, jalan-jalan di hutan Pinus, tracking ke Curug Jedor, mengikuti outbound, tentunya juga bisa bermalam, baik itu camping dengan tenda ataupun menginap di villa-villa yang ada di sana, seperti yang kami lakukan kemarin. Continue Reading →

May 18, 2018
by mechtadeera
26 Comments

Travellers Wajib Punya! Inilah Daftar Kamera Mirrorless untuk Traveling

Daftar Kamera Mirrorless – Kamera mirrorless memang akhir-akhir ini semakin diminati khususnya di kalangan anak muda. Kamera mirrorless ini juga memiliki bodi yang ringan dan desain yang menarik serta memiliki spesifikasi mumpuni yang sudah setara dengan kamera DSLR.

Dengan bodi yang ringan tersebut kamera mirrorless ini dapat dengan mudah dibawa kemana-mana sehingga sangat cocok untukmu yang memiliki hobi traveling atau jalan-jalan. Nah, berikut ini adalah daftar kamera mirrorless untuk traveling bisa dijadikan rekomendasi.

Daftar kamera mirrorless untuk traveling

1.Sony Alpha A-6500

Salah satu kamera yang masuk dalam daftar kamera mirrorless untuk traveling terbaik adalah Sony Alpha A-6500. Kamera mirrorless ini memiliki layar LCD touchscreen dan ditambah dengan in-body image stabilization yang dapat membuat gambar yang dihasilkan mempunyai kualitas tinggi.

Kamera mirrorless Sony Alpha A-6500 dilengkapi juga dengan teknologi auto-focus yang canggih sehingga membuat gambar yang dihasilkan tidak blur serta dapat merekam video dengan kualitas 4K. Selain itu, desain bodi yang sederhana dan bobot ringan ini bisa sangat mudah untuk dibawa kemana saja yang pastinya dapat bertahan dalam segala cuaca.

2. Sony Alpha A-7R II

Kamera mirrorless ini memiliki ukuran yang simpel yang dapat dengan mudah dibawa kemana saja. Selain dilengkapi sensor full-frame, kamera mirrorless ini juga memiliki fitur menarik seperti dapat merekam video 4K, built-in image stabilization, sensor gambar beresolusi 42,2 MP dan dapat menghasilkan gambar yang sangat baik meskipun berada di tempat yang minim cahaya.

Hal ini membuat Sony Alpha A-7R II sangat canggih. Untuk harga di pasaran kamera mirrorless dari sony ini cukup mahal namun tentu saja fitur dan kecanggihan yang ditawarkan sepadan.

3. Fujifilm X-T2

X-T2

Sumber Foto : ephotozine dot com

Sudah tidak perlu diragukan lagi soal kualitas dari Fujifim X-T2 ini yang membuatnya masuk dalam daftar kamera mirrorless untuk traveling. Fujifilm X-T2 ini masih merupakan bagian dalam Fujifilm X Series yang cukup populer di pasaran.

Kamera mirrorless ini dilengkapi dengan berbagi fitur canggih dan menyajikan kualitas gambar yang menakjubkan. Kamera mirrorless X-T2 ini juga memiliki desain klasik yang sangat keren, pastinya saat traveling nanti kamera ini bisa menarik perhatian banyak orang sehingga sangat cocok untuk dibawa kemana-mana.

4. Panasonic Lumix GH4

Panasonic Lumix GH4 menjadi salah satu kamera yang masuk dalam Daftar kamera mirrorless untuk traveling. Kamera mirrorless ini dilengkapi dengan lensa Micro Four Thirds yang sangat menakjubkan dan setara dengan kamera DSLR. Kamera mirrorless ini juga dilengkapi dengan sejumlah fitur seperti auto-focus yang dapat menghasilkan gambar terbaik dan anti blur, serta dapat melakukan perekaman video dengan kualitas 4K.

Untuk desain sendiri Panasonic Lumix GH4 ini sangat menarik dengan dilengkapi bobot yang ringan dan ringkas serta tahan dalam segala cuaca. Hal ini membuat kamera mirrorless ini juga sering digunakan oleh para fotografer profesional. Untuk yang hobi traveling kamera mirroless Panasonic Lumix GH4 ini bisa jadi pilihan yang tepat.

Nah, bagaimana ulasan tentang daftar kamera mirrorless untuk traveling di atas, teman? Apakah kamu tertarik untuk membelinya? Pastinya kamera mirrorless tersebut bisa membuat kamu dengan mudah untuk mengabadikan momen saat sedang travelling.

Demikian ulasan mengenai daftar kamera mirrorless untuk traveling yang wajib kamu miliki. Semoga dapat membantu kamu yang sedang mencari rekomendasi kamera mirrorless.