LALANG UNGU

ruang ekspresi sepotong hati

October 19, 2018
by mechtadeera
47 Comments

Menguak Pesona Batik Peranakan Wujud Akulturasi Budaya melalui Bincang Budaya

Lalang Ungu. Menguak pesona Batik Peranakan wujud akulturasi budaya melalui Bincang Budaya kuikuti pada hari ini, Jumat 19 Oktober 2018,  dalam rangka Hari Batik Nasional di Kota Pekalongan yang diselenggarakan Pemkot Pekalongan bekerjasama dengan Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo Republik Indonesia.

Tentang Bincang Budaya

Sebelum bercerita panjang lebar tentang batik peranakan, lebih dahulu kusampaikan bahwa acara Bincang Budaya ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional di Kota Pekalongan. Ya, meskipun Hari Batik Nasional telah ditetapkan oleh pemerintah tiap tanggal 2 Oktober, namun di Kota Pekalongan rutin dilakukan rangkaian acara peringatan sepanjang bulan Oktober ini. Maklum lah ya.. Pekalongan kan terkenal sebagai Kota Batik, bahkan sejak tahun 2014 lalu, UNESCO telah memberikan pengakuan Kota Pekalongan sebagai salah satu bagian dari Jaringan Kota Kreatif , terutama di Bidang Seni & Kerajinan Rakyat, di mana BATIK merupakan salah satu bagian penting dalam bidang seni dan kerajinan rakyat Kota Pekalongan. Oleh karena itu, setiap tahun diselenggarakan acara-acara keren untuk mendukung pelestarian batik dan juga meningkatkan promosi batik agar dapat mensejahterakan semua lapisan masyarakat yang terlibat, tidak hanya para juragan batik namun hingga ke pekerja lepas atau buruh-buruh batiknya.

Kemasan acara beragam, mulai dari Pameran Pekan Batik Nusantara, Batik bussines meeting, Lomba disain seragam batik, karnaval batik, dll.  Diharapkan selain mengundang wisatawan ke Kota Batik selama acara Pekan Batik Nusantara berlangsung (yang pada akhirnya diharapkan meningkatkan penghasilan semua laposan penggiat batik) namun juga diadakan acara-acara yang sifatnya edukatif untuk meningkatkan pengetahuan dan kecintaan masyarakat terhadap batik. Bincang Budaya Pesona Batik Peranakan Wujud Akulturasi Budaya yang kuikuti hari ini adalah salah satu acara edukatif tersebut.

Pembukaan Bincang Budaya oleh Ibu Dirjen IKP Kemenkominfo

Pembukaan Bincang Budaya oleh Ibu R Niken Widiastuti, Dirjen IKP Kemenkominfo

Acara Bincang Budaya ini dibuka dengan pemukulan gong oleh Ibu R Niken Widiastuti (Dirjen IKP Kemenkominfo) dengan disaksikan oleh Bapak Walikota Pekalongan dan para narasumber. Dalam sambutannya, baik Ibu Dirjen maupun Bapak Walikota menekankan pentingnya seluruh lapisan masyarakat (termasuk kaum muda milenial) untuk tidak hanya mengenal dan mencintai Batik namun juga terlibat langsung dalam upaya pelestarian nilai-nilai luhur yang terkandung dalam batik, antara lain dengan menyebarluaskannya melalui akun-akun sosial media yang dimiliki. Itulah salah stu tujuan diselenggarakannya Bincang Budaya ini, sebagai bahan untuk menambah pengetahuan tentang batik untuk dapat disebarluaskan ke masyarakat, dan peserta juga dibekali dengan ketrampilan menulis kreatif yang disampaikan oleh Mak Mira Sahid, founder KEB . Aduuuh…senangnya bisa menyerap ilmu dari Mak Mira dan bertemu langsung dengan beliau yang low profile ini. Maaak….aku padamuuuuu…. *muaach…

Bersama Mak Mira Sahid -Founder KEB- usai Bincang Budaya di Pekalongan

Bersama Mak Mira Sahid -Founder KEB- usai Bincang Budaya di Pekalongan

Inti dari paparan Mak Mira adalah bahwa kunci menulis kreatif adalah Judul yang menarik, lengkap badan tulisannya, terdiri dari intro / pendahuluan, detil pembahasan dan ada kesimpulan dari penulisan tersebut. Kita juga mesti bijak bersosial media. THINK before write. THINK di sini artinya, sebelum menulis kita harus memikirkan apakah tulisan kita TRUE (benar / bukan HOAX), HURTFUL (berpotensi menyakitkan / tidak), Illegal ( apakah ada unsur ilegal dalam tulisan kita), Necesary (apakah dibutuhkan / tidak) dan KIND (apakah sudah disampaikan dengan santun / belum).

Tentang Batik Peranakan

Istilah ‘peranakan’ biasa kita gunakan untuk menyebut anak-keturunan dari etnis asing yang menikah dengan warga setempat. Seringnya istilah peranakan ini digunakan pada keturunan Tionghoa, sedangkan kalau dari etnis Eropa keturunannya biasa kita sebut ‘indo’.

Nah, akulturasi budaya akibat perkawinan antara etnis asing dengan warga lokal ini sangat berpengaruh terhadap adat / budaya yang ada, termasuk di antaranya dalam perkembangan Batik, di Indonesia pada umumnya maupun di Pekalongan khususnya. Para perantau ini umumnya berdagang, termasuk memperdagangkan batik hasil karya penduduk lokal, dan pada perkembangannya sebagian dari perantau asal Tionghoa yang datang ke P Jawa sekitar abad XII-XIII itu memulai usaha batik mereka sendiri.

Oey Soe Tjoen, Kwee Nettie, Liem Po Hien,The Tie Siet, Phoa Tjong Ling dan Oey Kim Boen adalah nama-nama peranakan Tionghoa yang kemudian dikenal luas dalam perkembangan Batik Peranakan, utamanya di Pekalongan. Kedungwuni adalah daerah di Pekalongan yang terkenal sebagai pusat batik Tionghoa peranakan, dan rumah Batik Liem Ping We yang berlokasi di Jl Raya Kedungwuni masih aktif hingga saat ini, dikelola oleh Ibu Liem Po Hien yang merupakan generasi ke-4 keluarga Oey Kiem Boen.

Batik peranakan motif Buketan & Burung Merak Tanahan Ukel Lunglungan, koleksi Museum Batik

Batik peranakan motif Buketan & Burung Merak Tanahan Ukel Lunglungan, koleksi Museum Batik

Motif-motif Batik Peranakan sangat dipengaruhi oleh akulturasi budaya tersebut. Pembauran cita-rasa khas lokal dengan budaya pendatang itu melahirkan motif-motif baru yang unik maupun warna-warni yang berbeda. Masing-masing kental dengan makna budaya, antara lain : motif Burung Merak melambangkan kecantikan, kelembutan, keanggunan dan wibawa wanita, motif Bunga Seruni melambangkan keanggunan dan kesejahteraan di usia senja, motif Burung Hong yang merupakan Ratu Segala Burung melambangkan keanggunan, kelembutan dan sifat YIN. Sedangkan motif Ikan melambangkan kemakmuran berlimpah.

Batik peranakan Djawa Hokokai koleksi Museum Batik Pekalongan

Batik peranakan Djawa Hokokai koleksi Museum Batik Pekalongan

Motif Hokokai adalah salah satu motif Batik Peranakan yang terkenal. Motif ini didominasi flora-fauna dan kupu-kupu. Batik dengan ciri motif pagi-sore serta ‘tanahan’ yang sangat rapat ini berkembang pada masa pendudukan Jepang.

Konon pada masa penjajahan Jepang terjadi kelangkaan bahan batik dan juga krisis pekerjaan. Untuk menghindari pengangguran maka selembar kain putih dibatik dengan motif serumit mungkin, dengan pencelupan warna berulang kali sehingga proses pembatikan ini  memakan waktu yang lama. Sekitar 8-12 bulan untuk selembar batik motif Hokokai berkonsep pagi-sore. Batik yang indah, halus pengerjaannya dan tentunya harganya pun lebih dibanding motif batik biasa.

Ohya, yang dimaksud batik ‘pagi-sore‘ ini adalah dalam 1 kain batik terdapat 2 macam tone warna dengan corak yang terpisah. Gelap-terang. Bagian kain bercorak terang dapat dipakai hari, sementara corak gelap dapat dipakai malam hari. Sungguh suatu kreatifitas yang tercipta karena keterpaksaan keadaan..

Corak / motif batik juga dapat menjadi perlambang suatu keadaan. Motif Merak Ngigel misalnya. Motif Batik Keturunan yang terdiri dari gambar burung Merak sedang menari ini, konon merupakan perlambang rakyat Pekalongan dalam masa kekuasaan Kerajaan Mataram yang menentang diskriminasi / pelarangan pemakaian motif batik tertentu. Merak Ngigel melambangkan sifat masyarakat Pekalongan yang mandiri dan tidak mau ditindas.

Motif Batik Merak Ngigel koleksi Museum Batik Pekalongan

Motif Batik Merak Ngigel koleksi Museum Batik Pekalongan

Motif batik keturunan ini dibuat untuk berbagai jenis penggunaan batik. Sebagai kain panjang / Jarit, kain sarung, selendang bahkan juga kain Tok wi. Tok wi ini adalah kain penutup altar persembahyangan etnis / keturunan Tionghoa. Motif utama Batik Tok wi adalah dewa-dewa, hewan mitologis maupun hewan-hewan yang bermakna filosofis a.l Naga, Burung Hong, Kilin, Kupu-kupu, dll. Di Pekalongan, motif Tok wi ini dihiasi bunga-bunga dan pewarnaan yang cerah khas pesisiran.

Batik Tok wi koleksi Museum Batik Pekalongan

Waah..banyak sekali yang bisa kita gali mengenai batik peranakan ini, teman.. Bincang budaya ini hanya menjadi pembuka bagiku untuk semakin menggali lebih dalam tentang batik peranakan, juga tentang filosofi-filosofi batik pada umumnya.  Semoga aku dapat mewujudkan harapan dari para penggagas forum Bincang Budaya ini, menggali lebih dalam mengenai batik dan menyebarluaskannya melalui akun medsos yang kumiliki, agar semakin banyak masyarakat yang tahu, mengenal, mencinta dan pada akhirnya terlibat dalam pelestarian batik, warisan tradisonal non benda yang sudah sah menjadi milik Bangsa Indonesia. Yuk, teman..kamu juga bisa menjadi ‘agen pelestarian’ batik ini lho..dengan menggali nilai-nilai luhur batik dan menyebarluaskannya melalui medsosmu. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? 🙂

Oya, jangan lupa teman…tanggal 20 Oktober besok adalah pembukaan Pekan Batik Nusantara Tahun 2018 lho.. PBN ini berlangsung sejak tanggal 20-24 Oktober 2018 di Kawasan Jetayu Pekalongan. Selain pameran batik banyak lagi kemeriahan acara Pekan Batik Nasional ini…jangan sampai ketinggalan, teman…

 

#flashblogging #flashbloggingpekalongan #akubanggapakaibatik #batikpekalongan

October 14, 2018
by mechtadeera
74 Comments

Mencicip Kembang Pari di Peken Batikan Pekalongan

Lalang Ungu. Mencicip Kembang Pari di Peken Batikan Pekalongan, baru saja kulakukan pagi ini. Oya, ada yang tahu apa itu “Kembang Pari”?

Meskipun kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia kedua kata itu berarti ‘bunga padi’, namun makanan yang kucicip pagi ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan bunga-bungaan, namun erat kaitannya dengan Padi, meskipun sama sekali bukan makanan yang terbuat dari bunga padi lho..hehe…

Kembang Pari, jajanan Jadul Pekalongan

Continue Reading →

October 11, 2018
by mechtadeera
53 Comments

Berkenalan dengan Bawang Dayak

Lalang Ungu. Berkenalan dengan Bawang Dayak baru kulakukan sekitar setahun lalu, tepatnya sejak aku menjadi bagian dari keluarga besar Dinas yang sekarang menjadi tempatku bertugas sehari-hari. Oya, apakah teman-teman juga sudah mengenal tumbuhan yang dikenal sebagai salah satu jenis obat herbal ini? Bila belum, yuk kenalan dulu….

Flashback ke awal tahun lalu, hari-hari pertamaku bertugas di kantor baru, kugunakan untuk mengenal lingkungan kerjaku. Tidak hanya ruangan-ruangan kerja saja tentunya, namun juga lingkungan di luar gedung alias halaman dan juga kebun. Ya, berbeda dengan kantor-kantorku terdahulu, tempat tugasku kali ini mempunyai lahan yang cukup luas di sekitar gedung kantor yang juga digunakan sebagai ‘lahan percobaan’ budidaya beragam tanaman pangan maupun hortikultura. Continue Reading →

October 6, 2018
by mechtadeera
65 Comments

Festival Karimunjawa : sajian sepekan yang mengesankan

Lalang Ungu.  Hai teman, kali ini aku menulis tentang Festival Karimunjawa : sajian sepekan yang mengesankan, karena ada beberapa pertanyaan dari teman-teman mengenai festival ini, setelah membaca cerita pengalamanku ikut Famtrip Karimunjawa kemarin. Yuuk.., kepoin bareng-bareng…

Apa sih Festival Karimunjawa itu?

Festival Karimunjawa 2018

Continue Reading →

October 3, 2018
by mechtadeera
73 Comments

Catatan Perjalananku mengikuti Famtrip Karimunjawa

Lalang Ungu. Catatan Perjalananku Mengikuti Famtrip Karimunjawa ini kutuliskan sebagai kenang-kenangan atas kegiatan seru dan mengasyikkan yang kuikuti pada weekend yang lalu, tepatnya pada tanggal 28-30 September 2018. Oya, siap-siap ya teman…, catatan perjalananku kali ini cukup panjaaaang lho…karena ada banyaaaak kata yang ingin kuungkapkan untuk mewakili semua rasaku. Ups…sudah seperti lirik lagu cinta saja…haha…

Nah gimana, teman…posisi sudah nyaman? camilan sudah siap? Ok..yuk, lanjuuuut…

Continue Reading →

September 22, 2018
by mechtadeera
89 Comments

Bersukaria Menyusuri Kawasan Kota Lama Semarang

Bersukaria Menyusuri Kawasan Kota Lama Semarang

Lalang Ungu. Bersuka ria menyusuri kawasan Kota Lama Semarang, itulah yang kami lakukan beberapa waktu yang lalu, tepatnya hari Sabtu 15 September 2018. Sore itu, aku dan rekan-rekan blogger Semarang mendapat undangan untuk jalan-jalan di Kawasan Kota Lama Semarang. Mau tahu keseruan jalan-jalan kami? Yuk mariii… Continue Reading →

September 10, 2018
by mechtadeera
98 Comments

Menikmati Festival of Light di Pekalongan

Lalang Ungu. Hai teman.. Bagaimana weekend kemarin? Semoga cerah ceria sehingga energi untuk beraktivitas pekan ini bisa penuh ya… Oya, apakah kalian sudah menikmati Festival of Light di Pekalongan? Kalau belum, nih..kukasih bocoran keseruannya ya.. hehe..

Apa sih Festival of Light itu?

Festival of Light ini adakah sebuah acara hiburan yang dikemas dalam konsep pertunjukan dan disain taman dengan elemen utama cahaya yang ditampilkan dalam warna-warni dan aneka bentuk lampion, juga kolaborasi cahaya, air dan musik dalam pertunjukan air mancur menari. Nah, acara di Pekalongan ini diselenggarakan oleh official Taman Pelangi, yang juga telah melakukan road show di banyak kota di Indonesia, antara lain Semarang, Solo, Jogja dan Palembang.

Continue Reading →

September 7, 2018
by mechtadeera
30 Comments

ASUS Vivobook Flip TP410 Calon Pengganti Si Marun Laptop ASUSku

Lalang Ungu. Hai teman…, apa kabar menjelang weekend ini? Mungkin ada yang sedang happy-happy mempersiapkan acara weekend-nya atau ada pula yang sedang ngebut menyelesaikan tugas-tugas agar akhir pekan terbebas dari beban tugas hehe… Sepertiku, yang seharian tadi menyelesaikan tugas-tugas termasuk apdet blog Minggu ini. Jadilah seharian ini ditemani Si Marun Laptop ASUSku yang selalu setia.

Oya, omong-omong tentang Si Marun laptop ASUSku ini, aku sangat bersyukur memilikinya sejak sekitar 10 tahun lalu. Hah..jadul amaaat?? Iyaaa…memang jadul kok laptop ASUS model Eee PC yang konon diproduksi pertama tahun 2007 ini, dan Si Marun itu telah menemaniku sejak sekitar Tahun 2008. Tapi jangan salah…biarpun sudah berumur, Si Mungil kesayanganku ini awet dan tahan banting lhoh!! Buktinya sampai saat ini tidak pernah bermasalah serius meskipun sering kupaksa lembur saat kerjaan sedang menumpuk dan tidak rewel juga ketika harus kucangking kemana-mana. Alhamdulillah…

Si Marun Laptop ASUSku

Continue Reading →

September 1, 2018
by mechtadeera
7 Comments

Pengalamanku Menggunakan ZenPower Pocket

Lalang Ungu. Hai teman..apa kabar? Weekend datang lagi, senangnyaaa… Ya, aku selalu senang menyambut akhir pekan, karena ini salah satu kesempatan untuk nge-charge semangat. Iya…semangat perlu juga dicas agar ‘siap tempur’ di awal pekan berikutnya. Jadi bukan hanya HP saja yang perlu dicas. Eh, ngomong-omong tentang ngecas HP, kali ini aku mau berbagi cerita pengalamanku menggunakan ZenPower Pocket. Sudah kenal belum dengan salah satu dari 3 powerbank keren ASUS ini? Sebelum mengenalnya lebih lanjut, aku mau cerita tentang perkenalanku dengannya ya..

Zenpower Pocket, salah satu alat bantu yang handal

Continue Reading →

August 18, 2018
by mechtadeera
71 Comments

Memacu Adrenalin di Batu Pandang Ratapan Angin

Lalang Ungu . Hai teman, apa kabar? Masih belum bisa move on dari keelokan Dieng nih.., jadi kali ini aku akan ceritakan pengalamanku memacu adrenalin di Batu Pandang Ratapan Angin. Nama yang unik ya.. Nah, selain berbagi cerita tentang uji nyali, keelokan pemandangan dari spot ini, akan kuceritakan juga legenda namanya ya..

Apa itu Batu Pandang Ratapan Angin?

Ini adalah nama salah satu lokasi wisata yang sedang hits di Dieng, teman.. Lokasi tepatnya adalah di Desa Dieng Wetan, Kec. Kejajar Kab. Wonosobo. Kalau kalian dari Kompleks Candi Arjuna, cari saja arah ke lokasi Telaga Warna, terus saja sampai Dieng Plateu Theatre, nah..lokasi Batu Pandang Ratapan Angin tepat di sebelah teater ini 🙂

Parkir kendaraanmu di tempat parkir yang tersedia, lalu lakukan treking ke atas. Tak terlalu terjal dan tak lama kok…jalan santai sambil menikmati pemandangan saat menanjak paling sekitar 15 menitan..dan kita akan sampai di atas, disuguhi pemandangan indah dan dibelai semilir angin 🙂

Pemandangan dari Batu pandang Ratapan Angin (Foto by Mechta)

Continue Reading →