LALANG UNGU

Ruang berbagi pengalaman dan manfaat

Gugon tuhon

| 22 Comments

Ketika membaca Cerpen Pakdhe yang berjudul ‘Botol Parfum Biru Daun’ dimana salah satu tokohnya percaya tentang pantangan memberikan parfum bagi yang sedang pacaran, aku kembali teringat cerita salah satu eyangku dulu tentang gugon tuhon semacam itu.

Oya untuk teman-teman yang belum mengetahui, gugon tuhon adalah nasehat dari para sesepuh (Jawa) untuk tidak melakukan sesuatu hal / berperilaku yang dianggap tidak pantas / tidak baik untuk dilakukan dan dipercaya akan mendatangkan kesialan.  Biasanya larangan ini dimulai dengan kata ‘Aja‘ yang berarti Jangan. Misalnya : Aja … mundhak… atau Jangan…nanti akan….   Dan ketika ditanyakan alasannya, jawaban yang paling sering keluar adalah : Ora ilok alias tidak pantas .  Mungkin istilah lainnya adalah ‘Pamali’ ataupun Mitos.

Nah, dalam salah satu ceritanya kepada kami, eyang menceritakan adanya gugon tuhon bahwa memberikan saputangan pada kekasih adalah sebuah pantangan, konon saputangan atau kacu (sebutannya dalam bahasa jawa) ini akan membuat hubungan tersebut putus alias kacunthel ( Cunthel = selesai ).

Nah, lucunya… dengan mengetahui kepercayaan tersebut, eyang kakung kami itu malah memberikan selembar saputangan kepada seorang gadis yang saat itu menjadi pacangan / pacarnya.. Lho… apa eyang memang ingin putus? Jawabannya adalah ya, karena ada gadis lain yang lebih menarik hati beliau dan ternyata gadis terakhir inilah yang kelak menjadi eyang putri kami.. hehe…

Tapi sebenarnya ada banyak juga gugon tuhon yang berisi nasehat tersembunyi, misalnya larangan untuk tidak duduk di depan pintu (Aja lungguh nang ngarep lawang), tentu saja alasan rasionalnya adalah agar tak menghalangi jalan.  Atau larangan untuk menyapu malam hari (Aja nyapu wayah bengi), yang barangkali alasan rasionalnya adalah karena akan relatif lebih sulit melihat kotoran pada malam hari sehingga dikhawatirkan tidak bersih. Dan masih banyak pula lainnya.

Oya.. di jaman modern seperti ini, adakah gugon tuhon atau pamali atau pantangan yang masih berlaku di keluarga / lingkungan terdekatmu, teman ? Bagi ceritanya ya…

22 Comments

  1. Lucu juga gugon tuhon ttg sapu tangan hendak putus itu mbak mechta. Seingatku di kampung saya dulu pemberian sapu tangan sebagai tabda cinta dr si gadis untuk kekasihnya. Sapu tangannya disulam dengan bunga2 cantik. Tapi emang sih lain ladang lain belalang ya. 🙂

  2. pernah dengar dari teman yg nggak berani masih pacara. main ke Kebun Raya Bogor…., takut putus katanya ..

  3. Kampung kita kan tetanggaan ya mbak.. jadi gugon tuhonnya hampir sama, hehe…

  4. Beberapa gugon tuhon malah sering saya gunakan untuk penyuluhan Jeng, tentunya dengan kekiniannya. Misal, saat hasil panen turun, setelah wawancara identifikasi penyebab, saya bilang kurang sajen, lho. … Perlu kembang setaman berkarung dan dilanjut artinya penambahan bahan organik untuk energi mikroba tanah (si mungil penunggu tanah). Gugon tuhon bagian dari kearifan lokal. Salam

    • betul ibu, gugon tuhon adalah bagian dari kearifan lokal, perlu di pilah mana2 yang bermuatan positif dilestarikan dengan dicari rasionalitasnya sebagaimana yg ibu lakukan… salut, Bu Prih 🙂

  5. Saya malah baru tahu hal ini…

    • Istilah lainnya pamali… mungkin lebih familier… hehe… Lebih jelasnya bisa di search dg keyword itu dan ada banyak penjelasan di sana.. tapi tetep di pilah pilih ya 🙂

  6. pernah mendengar beberapa mengenai gugon tuhon yang ada dimasyarakat, misalnya anak gadis tidak boleh duduk didepan pintu, lah iya ya bun kan menghalangi jalan 🙂

  7. Candikala yo mbak… dan rasanya memang itu penjelasan rasionalnya 🙂

  8. dulu pas hamil, Mamah minta sy pasang gunting kecil di baju tp gak sy lakukan. Hehe

    • ah ya… pernah juga melihat ibu2 hamil mengalungkan / menyematkan gunting kecil bila hendak keluar rumah… tapi, klo tidak hati2 malah bisa melukai ya? hehe…

  9. Apa ya Mba ya? Kok kayaknya ga ada yang gimana-gimana gitu ya. Apa karena kaminya yang ndableg ya. Hehehehe. Tapi memang kok kalau dirunut-runut ada logikanya ya Mba.

    • Naah.. bagian ndableg itu kaya’nya sama deh Dan.. Entah berapa kali kami dapat omelan dari Simbah gara2 suka ngeyel kalau dibilangin “Aja… mundak…” itu… Kalau yg ada nalarnya yo dituruti, tp kalau gak ketemu nalarnya cenderung dieyel.. hehe… *duuh..kasiannya simbahku dulu punya putu2 ngeyelan ini* 🙂

  10. Ah Iya… yang satu itu juga sering kami dengar sejak kecil… Apa kabar, Uni ? 🙂

  11. Sumpah! Gue baru ngeh istilah ini meskipun gue blasteran jawa-perancis! Paling kalo ada hal yg gak pantes, org2 tua bilang, “gak ilok” atau “ora elok”.

    Atau mungkin gini, berdasar analisa bahasa gue…

    Gugon= gugu, manut (nurut)
    Tuhon= tuhan, gusti Allah!

    So, gugon tuhon artinya manut karo gusti Allah, ora nggugu karo sesuatu sing gak mutu!

    Bhahaha

    • silahkan dimaknai masing-masing… kalau dinalar sebenarnya yang namanya nasehat selalu ada sisi positifnya… hanya saja seringkali ‘terbungkus’ sehingga kurang dimengerti 🙂

  12. gugon tuhon yang waktu kecil memang serasa aneh, namun sekarang seperti kata bu prih sangat bisa dimaknai dengan fakta-fakta yang sesungguhnya, hanya saja dalam gugon tuhon lebih banyak menggunakan bahasa simbol

  13. heuheu…nenekku jg masih banyak tuh auntie ‘pamali’nya, saking banyaknya aku jd ga inget satu pun *halah* hihihi

  14. Pamali di tempat / keluarga kami …
    mmmm masih ada Mechta …
    Hanya saja … pamali yang masuk diakallah yang kami ikuti … misalnya jangan menggunting kuku saat maghrib …
    (ya iyalah … saat maghrib adalah saatnya sholat maghrib kan ?)
    dan banyak lagi yang lain

    Salam saya Mechta

    • Seperti juga di kelg kami, menuruti utk tidak pergi berkendara menjelang magrib, karena memang saat itu banyak ‘samber mata’ yg sering bahaya buat kami yg naik motor.. hehe… Salam kembali, Pak Her..

Leave a Reply

Required fields are marked *.