LALANG UNGU

Ruang berbagi pengalaman dan manfaat

Ketika ada sekat antar sahabat…

| 12 Comments

Tulisan ini ada karena membaca posting mba Ely (duniaely).  Tulisan yang membahas tentang pernah tidaknya kita sebagai blogger merasa asing dengan satu / beberapa blogger lain yang pernah dekat dengan kita di dumay ini, telah membuka memoriku pada peristiwa terurainya sebuah jalinan pertemanan .

Menjalin persahabatan dengan beberapa orang sekaligus, memang mengasyikkan.  Lebih seru dibanding hanya bersahabat dengan 1 orang saja.  Bisa saling curhat, ataupun saling support, lebih banyak telinga yang mendengar, lebih banyak hati yang terlibat.  Namun, bila antara sahabat itu terjadi suatu perselisihan…maka pemecahannya pun relatif lebih sulit karena masalah terasa rumit 🙁

Suatu masa dulu, aku mempunyai teman bernama A, yang sebelumnya telah lebih dahulu bersahabat dengan si B.  Karena frekwensi ketemuan si A dan B ini relatif sering, maka tak jarang saat pertemuanku dengan si A maka si B pun sedang ada di sana, dan ketika obrolan demi obrolan terasa nyambung, jaringan pertemanan itu pun meluas. Akhirnya akupun menjadi kian dekat dengan B, sama dekat antara aku dengan si A, meskipun mungkin tak sedekat antara A dan B… (halaaah…kalimate kok mbingungi ya..hehe..)

Waktu berlalu, dan ternyata kedekatan 3 hati yang menyenangkan itu mendapatkan ujian.  Entah apa sebab awalnya, aku mendapati kerenggangan hubungan antara A dan B, namun keduanya tetap berhubungan baik denganku.  Dalam salah satu kesempatan pertemuan dengan A aku sempat menanyakan tentang B yang tak lagi sering bersamanya, namun jawabannya terdengar klise : si B sibuk.

Awalnya aku menerima jawaban itu, namun kemudian jawaban itu terasa mengada-ada karena ‘aroma perselisihan’ makin kuat tercium, meskipun tak secara terbuka.  Tak ada lagi pertemuan hangat bertiga.  Ketika aku dengan A, tak sekalipun nama B tercetus, begitupun ketika aku bersama B, seolah nama A ‘haram’ disebut.

Aku sedih dan merasa ‘terjepit’ dengan kebekuan itu, namun kadar pertemananku dengan keduanya rupanya belum sampai pada taraf mereka mau terbuka mengenai penyebab keretakan hubungan itu.  Akupun tak mau terlalu jauh ‘mengorek’ informasi pada mereka, terus terang, aku takut menimbulkan salah paham baru yang akan mengancam jalinan pertemananku dengan masing-masing mereka.. ( ih, egoisnya aku ya… jangan ditiru! ) Demikianlah, tanpa kutahu sebab pastinya, akhirnya jalinan pertemanan 3 hati itupun terurai sudah… 🙁

Saat ini, aku berusaha tetap menjaga hubungan baik dengan keduanya, setidaknya dengan si B, karena perlahan si A makin menjauh dari lingkaran pertemanan kami berdua.  Dan ada saat-saat rindu akan kebersamaan waktu dulu, menerbitkan harapan untuk terulang kembali.

Mungkin aku memang bukan sahabat yang baik, yang mampu mencari solusi dan bisa menyatukan kembali 2 hati teman baikku itu, tapi aku tetap mendoakan hal itu terjadi. Mengingat kuatnya jalinan yang pernah mereka rajut bersama, aku percaya, suatu saat jalinan yang sempat terurai itu akan tersambung kembali pada waktunya nanti : mungkin setelah hati sama-sama dingin, atau ketika kenangan-kenangan manis kebersamaan mereka pada akhirnya mengentalkan rasa rindu, memecahkan kebisuan dan meruntuhkan sekat yang ada.  Semoga…

Teman, pernahkah kau juga mengalami keadaan yang sama? Ketika tercipta sekat diantara sahabat, seberapa jauh kita dapat terlibat?

12 Comments

  1. Aku belum pernah mengalami kejadian spt ini Mbak Mechta. Tapi aku menyetujui pilihan Mback, stay out dr masalah sahabat yg sdg berselisih 🙂

    sebenarnya pengen membantu mendamaikan mbak.. tapi saya tak yakin bagaimana hasilnya.. 🙁

  2. udah biasa lah…
    dunia kan muter kadang deket kadang jauh
    nek lengket terus tanpa pernah bersekat malah jadi pertanyaan masih manusia normal engga statusnya…

    Oo..jadi indikator normal / tidak itu ada pada ada tidaknya sekat, Bro? hehe…

  3. wah .. benarkah mbak ? 😛 … makasih ya

    iya mbak, wajar jg kl byk yg ingin dan berniat bersahabat dgn tulus, namun kl dipihak lainnya sdh nggak mau ya bgmn lagi ya, jd sama sama nggak nyaman jg kalau terpaksa satu sama lainnya

    memang mbak.. seperti bertepuk tangan, gak bisa bunyi klo cuma sebelah ya mbak..hehe

  4. sampe sekarang mba,sampe anakku dah ada dua wekeke…dan kita semua juga kayak satu suara gitu, gak ada yg mau bahas kenapa dia berubah..bahkan dl awal dia lulus aku sering nanya kabar dia via FB, tapi ya gitu gak dibales 🙁

    wah sayang ya… ya mudah2an waktu akan mendekatkan kembali hati yg menjauh 🙂

  5. susah juga ya, karena dekat dengan dua-duanya. Saya sependapat dengan bu Evi, stay out dr masalah sahabat yg sdg berselisih. Kalau mereka cerita, baru ditanggapi, kita kasih masukan …

    yg penting kita tetap nebjaga hubungan baik dg keduanya ya … Trims pendapatnya, Hind.. 🙂

  6. Jadi gini ehem… Walo disebut sbg jalinan pertemanan, tapi ini mirip hubungan cinta segitiga. Entah si A atau si B, salah satunya pasti seorang cowok!

    Sebelumnya tanpa sepengetahuan penulis, mereka mencoba merubah jalinan pertemanan menjadi percintaan. Tapi ternyata malah si cowok ada rasa ama si penulis yg notabene cewek. Tapi menurut logika perilaku yg cowok pasti si B. Dan si A berarti cewek laen selaen si penulis. Karna sama2 cewek si A bisa tetep jaga sikap pada penulis, tapi gak dg si B yg galau2nya pengen ngungkapin cinta pada penulis tapi gak enak aja. Perasaan cowok emang gak enakan gitu, deh!

    Intinya jalinan pertemanan bakal tetep terjalin kalo gak berkonversi ke bentuk laen. Ini mungkin analisa psycho gue, kalo gak bener dan salah besar berarti analogi ngawur gue emang bener2 tanpa dasar dan logika.

    Bhahaha

    huaa….kebanyakan ngunyah fiksiiii… wkwkwk… *sik..sik, jangan2 ini curhatnya Sang penulis komen ya?* hehehe

  7. Sedekatnya persahabatan ada sisi hati yang sulit diduga ya Jeng. Istilah Uni Evi diperkuat Mas Hind stay out apik ya tidak memperkeruh keadaan. Salam persahabatan Diajeng.

    Kuncinya adalah : tidak memperkeruh persahabatan. Maturnuwun Bu Prih.. salam persahabatan selalu… 🙂

  8. wah, kalau saya sih belum pernah ngalamin kaya gitu.
    yang ada saya yang berselisih sama seseorang, dan teman kami yang mendamaikan..

    naah.. trik pendamaian itu bisa ditiru klo suatu saat berbalik peran mesti jadi pendamai ya? hehe.. trims sdh mampir di sini ya.. 🙂

  9. Saya juga pernah mendengar cerita seperti ini dari salah seorang teman blogger.
    Bener sih, waktu yang akan menjawabnya.

    semoga jawaban dari sang waktu melegakan kita semua.. 🙂

  10. mbaaaaa…
    aku sih belum pernah dapet kasus seperti ini…

    Tapi kalo kejadian denganku, aku pun akan bersikap sama kayak mba Mechta deh…
    Sebaiknya gak usah ikut campur kecuali kalo memang diminta oleh mereka…
    Dan sebisa mungkin sih biarkan mereka selesaikan sendiri masalahnya aja 🙂

    sepokat..eh sepakaat, Erry… apa kabar, say ? 🙂

Leave a Reply to eksak Cancel reply

Required fields are marked *.