Nostalgia rasa dan suasana tempo doeloe di Kampung Jawa Pawone Simbah. Hai Sahabat Lalang Ungu, apa kabar? Semoga selalu sehat dan bahagia ya… Sahabat, apa yang tebersit dalam benak kalian saat mendengar / membaca kata ‘PAWONE SIMBAH’?

Khususnya bagi teman-teman dari daerah Jawa (Tengah / Timur) pasti sudah tak asing dengan kata PAWON yang artinya DAPUR ini, bukan? Nah, kalau kata ini dirangkai dengan kata SIMBAH yang merupakan sebutan buat seseorang yang sudah tua / orang-tua dari ayah/ibu kita, maka dua kata itu bisa memicu nuansa nostalgia.
Nostalgia akan kehangatan suasana dapur nenek yang kita alami di masa kecil, atau kerinduan akan masakan-masakan enak hasil olahan tangan trampil dan penuh kasih dari nenek kita, yang diolah di dapur jadul yang sarat cerita kebersamaan keluarga.
Nah, mungkin hal itulah yang ingin diangkat oleh pengelola sebuah tempat makan di daerah Batang, menciptakan branding tempat makan dengan menu tradisional lengkap dengan suasana jadul yang sekarang tampaknya sedang nge-trend. Berhasilkah? Hm, sebaiknya kuceritakan dulu kesanku saat berkunjung ke sana ya..
RM Kampung Jawa Pawone Simbah, menyajikan suasana dan menu tradisional
Lokasi RM Kampung Jawa Pawone Simbah
Rumah makan ini terletak di Area Sawah Lebo Kec Warungasem Kab Batang Jawa Tengah. Lokasi ini memang tidak berada di pinggir jalan besar, perlu usaha untuk mencapainya, dengan menggunakan map atau tanya-tanya ke penduduk sekitar..hehe..
Rute ke lokasi dari arah Alun-alun Batang
Dari pusat Kota Batang atau Alun-alun Batang, RM ini berjarak sekitar 5 km dengan waktu tempuh sekitar 10 menit. Dari alun-alun mengarah ke Barat menuju Jl Dr Sutomo (sebelah Hutan Kota Rajawali) lalu terus ke Selatan hingga perempatan RSUD Batang lalu belok ke kiri ( arah Timur ) melalui Jl Dr Wahidin, lalu sampai di pertigaan Puskeswan belok ke kanan ke Jl Tentara Pelajar terus saja ke arah Selatan lalu di perempatan Pasekaran belok ke kanan (arah Barat) ke Jl. Srondo.
Rute ke lokasi dari Kota Pekalongan
Nah, jika dari Kota Pekalongan, jarak dan waktu tempuhnya sedikit berbeda. Misalnya teman-teman bertolak dari Lap Jetayu Kota Pekalongan (depan Musium Batik Pekalongan), maka jaraknya sekitar 11 km dengan waktu tempuh sekitar 25 menit. Dari Jetayu teman-teman bisa menuju ke Jl Sultan Agung, lalu belok ke Jl Semarang, selanjutnya ke Jl Agus Salim hingga ke ujung Selatan lalu belok kiri ke Jl Dr Cipto terus sampai Tugu Adipura ke arah kanan menuju Jl Dr Wahidin terus hingga perempatan Posis belok ke kiri menuju Jl Raya Pantura hingga depan Pasar Grosir Setono. Dari sini ambil arah ke kanan masuk ke exit Tol Pekalongan terus ke arah Selatan hingga perempatan Kel SokoDuwet. Dari perempatan ini belok ke kiri melalui Jl Rimat Bakti sekitar 900m lalu belok kanan ke Jl Sunan Kalijaga, 500 m kemudian belok kanan lagi ke Jl Desa Lebo sekitar 600 m sebelum kemudian belok kiri ke Jl. Srondo dan sekitar 700 m kemudian akan sampai di Kampung Jawa Pawone Simbah.
Hmm, masih bingung dengan arahan ini? Tenang saja…ada google map atau ‘GPS’ (Gunakan Penduduk Sekitar) alias rajin2 tanya penduduk sekitar..haha..
Pengalamanku makan siang di Kampung Jawa Pawone Simbah
Suasana Pedesaan yang asyik
Setelah sampai di depan lokasi rumah makan ini, kami disambut pemandangan sebuah Joglo vintage dengan lahan yang cukup luas untuk parkir di depan maupun samping kirinya. Pengunjung siang itu cukup ramai juga, terlihat dari beberapa mobil berderet di depan maupun motor-motor yang diparkir di samping.

Terlihat juga meja-kursi yang ditata di bagian belakang luar rumah Joglo itu, rupanya itu area makan di luar ruang (outdoor) di bawah pohon-pohon rindang yang tumbuh di sekitar Joglo. Untuk melindungi dari panas, ada terpal plastik yang terpasang di sana..eh..kesannya seperti kondangan di desa jaman dulu..haha..
Suasana ruang makan di dalam Joglo
Karena siang itu cukup terik dan terasa berdebu (makluuum..kemaraau..) kami memutuskan untuk makan di dalam rumah Joglo saja. Ada beberapa akses masuk-keluar, yaitu dari depan (1 pintu) dan 2 pintu di samping (dari arah parkiran).

Memasuki Joglo ini, langsung teringat pendopo kelurahan di desa. Ruangan yang luas tanpa sekat, dengan beberapa set kursi ditata membentuk kelompok-kelompok. Ya, begitulah suasana di dalam Joglo Kampung Jawa Pawone Simbah ini : tidak ada meja kursi makan yang seragam tertata sebagaimana rumah makan biasanya. Sebagai gantinya, ada beberapa set meja-kursi kayu & rotan dengan bentuk dan ukuran berbeda-beda, ditata membentuk kelompok dan menyebar di ruangan dari depan hingga belakang. Hm..berasa sedang bertamu di rumah kerabat deh…
Masakan di Kampung Jawa Pawone Simbah tersaji di Pawon
Di mana pesan makanannya ya?
Aku sempat lingak-linguk ketika pertama masuk itu. Setelah mendapat meja kosong agak di bagian belakang, aku pun bertanya tentang daftar menu ke pelayan yang kebetulan lewat di dekat meja kami. Sambil tersenyum, pelayan menunjuk ke suatu arah, dan menjawab “langsung ambil di sana, Bu..”. Oh..self service rupanya. Ok deh.. kami pun melangkah menuju arah yang ditunjukkannya..dan… surprise : ternyata kami masuk ke area dapur!

Pawon / dapur itu merupakan sebuah ruangan cukup luas tanpa sekat dan berdinding bambu. Di pojok pinggir ada meja berisi tumpukan piring, mangkuk dan sendok garpu. Sementara di bagian tengah adalah meja prasmanan di mana pengunjung bisa memilih lauk yang diinginkannya. Adapun aneka sayur tersaji di sebelah meja itu, di atas beberapa tungku yang masih menyala dan masing-masing ada panci / wajan besar di atasnya. Aiih..masakan berkuah itu masing-masing menguarkan aroma sedap nan mengundang lapaaar 😋

Ah..jadi ini sebabnya dinamakan sebagai ‘Pawone Simbah’ yang artinya dapur nenek. Pengunjung bisa memilih sendiri masakan yang diinginkannya, langsung di dalam dapur. Ada sensasi tersendiri saat memilih-milih masakan di dapur tradisional itu, diiringi pega / asap dari tungku menyala itu yang sungguh aduhai.. hehe..

Oh ya di dapur ini (juga di ruang makan di dalam Joglo) pengunjung tidak boleh merokok. Dan ada juga tulisan yang mengingatkan pengunjung untuk mengambil makanan secukupnya. Bagus sekali nih..agar tak banyak makanan sisa dan terbuang percuma, bukan?
Masakan tradisional di Kampung Jawa Pawone Simbah
Apa saja menu masakan yang dapat kita temui di sini?
Buanyaaaak… Haha… Karena tidak ada daftar menu yang bisa kupotret, maka kutuliskan yang kuingat saja ya.. Menu di RM ini adalah menu tradisional yang sering kita jumpai sehari-hari. Ada Jangan Lodeh alias Sayur Lodeh, Sayur Sop, Sayur Mangut, Nasi Liwet, Mie Jawa, Megono, Oreg Tempe, Rawon, Ayam goreng, Ayam bakar, Bebek goreng, Telor Balado, Udang tepung, Pepes Jamur, Botok mlanding, Gadon, aneka gorengan (tahu, tempe, bakwan), dll.

Saking banyak jenisnya, jadi bingung milihnya..hehe.. Akhirnya kemarin aku memilih Sayur Lodeh, Udang tepung, Pepes Jamur dan tentu saja Megono sebagai teman nasi. Ohya, Megononya enaaaak… Agak berbeda dari Megono yang kutemui sehari-hari yang berbahan cecek (nangka muda), kali ini yang kuicip terbuat dari daun kol/kubis yang diberi bumbu khas Megono. Megono Demang namanya. Kata mbak yang masak, itu salah satu jenis Megono khas Batang..hmm..yummy…

Untuk minumannya ada kopi khas Batang, Teh (panas/dingin), Jeruk (panas/dingin) dan…Jamu! Antara lain Jamu Beras Kencur dan Kunir Asem, yang kami pesan kemarin disajikan dingin dalam cangkir seng nan jadul, menemani sajian masakan dalam piring seng jadul juga ☺
Oh ya, ada aneka jajanan jadul juga lho di sini. Sepanjang dinding samping yang berbatasan dengan area dapur itu, ada meja panjang untuk display aneka ragam jajanan jadul : cenil, klepon, grontol, ketan serundeng, putu mayang, dll.. Klethikan (snack kering) ada juga, tersaji dalam toples kaca jadul juga ada di ujung, berdekatan dengan kopi bubuk khas Batang dalam kemasan yang menggoda untuk dibawa pulang.

Jadi, apakah upaya pengelola untuk menciptakan suasana jadul penuh nostalgia di RM Kampung Jawa Pawone Simbah ini berhasil?
Bagiku ya! Menurutku, pengelola RM Kampung Jawa Pawone Simbah ini telah berhasil menciptakan suasana tempo Doeloe lengkap dengan menu-menu tradisional yang ngangeni alias mengundang rindu.
Suasana ruang makannya nyaman, meskipun ada sedikit catatan yaitu perlu penerangan yang lebih baik sehingga tak terkesan singup karena agak remang-remang. Oh ya ada sudut-sudut yang ditata dengan barang-barang jadul, mungkin dimaksudkan untuk area pepotoan namun pencahayaan di dalam Joglo saat itu (meski siang hari) terasa kurang mendukung.

Sedangkan suasana dapur tempat mengambil makanan, yang sekaligus juga untuk memasak menurutku kurang nyaman. Asap api dari tungku agak mengganggu dan kesibukan memasak di sana malah tampak seperti suasana rewang saat ada hajatan di kampung..hehe..

Nah, teman..itulah cerita pengalamanku bernostalgia rasa dan suasana tempo doeloe di Kampung Jawa Pawone Simbah yang terletak di daerah Batang Jawa Tengah. Jujur, aku masih ingin ke sana lagi, karena ada beberapa masakan yang kemarin belum sempat kucoba. Pengen juga merasakan ngiras makan di area outdoor juga..hehe.. Kalian penasaran juga? Atau punya pengalaman makan di sini? Yuk, ceritakan di kolom komen yaa…
ngeliat suasananya jadi kangen banget pengen pulang kampung, kalo bisa kerja di sana
Hari ini buka ga yah
Wah kurang tahu tuh..hehe..
Nuansa perkampungan khas Jawa nya berasa banget dengan rumah joglo ya itu. Tapi agak disayangkan ya..kalau daerah nya kurang strategis
Biasanya tak banyak yang tau. Aku pernah ketemu tempat makan dengan suasana seperti ini di Yogyakarta
Iya..akses kurang bagus..
Betahin banget suasananya Dapurnya si mbah eh Pawone si Mbah. Aduuh liat makanannnya semua aauto ngiler aku tuch.
Yuk kapan2 mampir sini..
Duh menu Pawone Simbah bikin laferr.. Suasana pedesaan nya maksimal bangett plus properti pawonnya. Kapan ya bisa lewat Batang lagi..
Yuk main ke Batang dan Pekalongan..
Suasana rumah Simbah nya dapat banget ya, jadi nyaman dan penuh nostalgia ya menginap di sana..
Asyik memang mba..
Wiiih konsep rumah makannya unik banget ya.. Jadi ngambil makannya memaang di dapur.. Hehe pantes nama tempat makannya pawon.. Suasananya jadi bener-bener kayak ada di rumah eyang di desa ya, Masih tradisional banget keliatannya..
Wah, lumayan total juga ya suasana jadulnya.
Lalu kalau tidak ada enunya, tahu harganya dari mana?
Aku tuh kalau melihat makanan disajikan dalam wadah yang besar banget malah jadi nggak nafsu makan, kesannya kok kayak banyak banget gitu.
Dan di salah satu gambar yang mbak upload, keberadaan kulkas itu merusak kesan jadulnya kalau menurutku 🙂
Nah iyaaa..kulkasnya bikin ilusi jadulnya menguap..hehe.
Waah jadi kangen masakan mbahku nih
Ini di Batang ya Mbak? Bisa mampir nih kapan kapan kalau pas pulkam.
Betul..di Lebo Batang
Wah asyik banget suasananya ini, aku jadi ngiler
Bener-bener terasa nuansa tradisionalnya
Dulu waktu tol trans Jawa belum jadi kayak sekarang, sering nih lewat Batang trus nyari-nyari kuliner setempat, tapi belum pernah nyobain di Pawone Simbah
Sekarang udah jarang mampir Batang, tolnya bablas huhuhu
Kapan2 mampir ke Pekalongan dulu via exit tol mba..belanja batik n kulineran lalu mampir ke Batang juga..hehe..
Duhh aku jadi ngiler mbak lihat tampilan masakannya yang banyak ituh.
Beneran kayak rumah simbah ya suasananya. Aku pasti suka kalo makan di sini, karena enggak boleh merokok ya pengunjungnya, hihii
Betul mba..asyiik..
Wowww kulinernya khas banget nih, belum rumah joglo nya bikin suasana adem banget
Betuuul…
Pas banget niii. Akhir November mau main ke Pekalongan ama temen. Lagi ngelist nih, selain Taoto apalagi sih kuliner Pekalongan.
Sip…aku bookmark. Makasih ya sharingnya…
Semoga berkesan kunjungannya nanti mba..
Suasananya jadul tapi makanannya aku yakin enak banget tuh. Rasanya makan dengan tempat kyk gini pasti makannya lahap.
Betul sekali..
Yaampun.. Jadi berasa di rumah saudara yang mau hajatan ya mbak ya. Banyak yang masak dan dapurnya pun begitu. Enak banget ya suasananya
Nash..itu yg kupikirkan waktu itu mba..hehe..
Ya ampun, mbak. Aku suka banget suasana dapur tempat ambil makanan itu. Bener-bener kayak di rumah simbah, lengkap dengan dinding gedhek yang berlobang-lobang kecil. Rumah kerabat ibu di Gunung Kidul juga masih kayak gitu. Sayangnya ada beberapa detil yang merusak konsep, seperti kehadiran kulkas itu. Kalo menurutku nggak perlu ada sih.
Peralatan makan dan menu makanannya juga ndeso banget, terbayang kenikmatannya! Baru tau Batang ada kopi. Cicipin nggak, mbak?
Salut sama pihak pengelola yang tegas melarang rokok dan mengingatkan pengunjung supaya ambil makan secukupnya. Banyak orang yang memang suka laper mata terus ambil banyak-banyak, eh ternyata nggak habis. Indonesia itu pembuang sampah makanan terbesar di dunia!
Nggak nyangka lokasinya ada di Batang, kirain ada di kota-kota populer kayak Jogja atau Solo gitu.
Hehe.. iya, kulkasnya beda jaman..
Unik banget prasmanannya ambil di dapur. Berasa beneran ngambil makannan di rumah si mbah yaa…
Betuuul ..
Sambil makan bisa mencium aroma masakan ya kan deketan tuh dengan tempat makannya. Eh ada juga barang2 dan mainan jadoel kayak congklak dll. Kesannya tempo doeloe banget ya tapi gelaaap itu makannya cukup sinar lampu ga? Hehehe. Camilannya juga lumayan komplit ya. Ah jadi mau 🙂
Gelap banget sih nggak mba.
Tapi cahaya kurang merata..hehe.