LALANG UNGU

Ruang berbagi pengalaman dan manfaat

Sayur hidroponik di pekarangan
Sayur hidroponik di pekarangan

Yuk, Bertanam Sayur Hidroponik di Pekarangan Sebagai Warung Hidup Keluarga Kita

| 38 Comments

“Assalamualaikum, Jeng Tuti. Boleh minta cabai?”

“Waalaikumsalam, Mbakyu Ani. Silakan Mbakyu, mau yang rawit, teropong atau keriting nih?”

“Rawit saja, Jeng. Ini lho, tadi ke warung beli cabai dapatnya kok ya sejumput thok. Mana cukup nyambel buat orang serumah yang doyan pedes semua..Hehe.. Eh Jeng, mbok aku ini diajari bikin seperti ini. Pengen juga punya … eh … apa namanya kebun ini?”

Warung Hidup, Mbakyu. Yuk, kapan mau mulai, saya siap bantu-bantu.”

***

Sahabat Lalang Ungu, petikan obrolan di atas memang hanya ilustrasi, tetapi mungkin juga terjadi di kehidupan nyata, bukan? Para ibu tangguh pengelola rumah tangga sering cukup puyeng memikirkan menu untuk konsumsi keluarganya, sementara harga kebutuhan sehari-hari melambung tinggi, termasuk harga bahan pangan. Nah, di saat demikianlah dirasakan perlunya pemanfaatan pekarangan.

Apa sih Manfaat Pekarangan?

Kita mengenal pekarangan sebagai sebidang tanah darat yang terletak langsung di sekitar rumah tinggal dan mempunyai batas -batas yang jelas. Meski bagi kita yang tinggal di perkotaan, seringkali pekarangannya sangat sempit, bahkan tidak sedikit yang hanya mempunyai teras rumah saja.

Selain memiliki fungsi estetika/memberikan keindahan pada lingkungan rumah kita, pekarangan yang dikelola dengan baik juga bisa memberikan banyak manfaat. Sebagai Warung Hidup, pekarangan dapat ditanami aneka tanaman yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari kita, seperti sayur-mayur, buah-buahan, rempah dan herba keperluan dapur, dll. Dengan demikian, kita dapat menghemat pengeluaran karena tidak harus membeli berbagai kebutuhan pangan tersebut.  Baca juga : Yuk, hijaukan lingkungan kita dengan KRPL.

KRPL Anggrek Asri Kulon Progo

Suasana di KRPL Anggrek Asri Kulon Progo

Budidaya Sayuran Sistem Hidroponik di Pekarangan

Pekarangan di daerah perkotaan biasanya sempit (antara 20-50 m2) atau bahkan sangat sempit ( < 20 m2 ). Untuk pemanfaatan pekarangan yang demikian ini, direkomendasikan pemanfaatan lahan secara maksimal antara lain dengan pola tanam vertikal/verticulture dan penerapan teknologi hidroponik dalam bercocok-tanam.

Hidroponik  merupakan metode budidaya tanaman dengan menggunakan media selain tanah dan mendapatkan nutrisi untuk pertumbuhan tanaman melalui air. Ada beragam media tanam yang digunakan sebagai pengganti tanah, antara lain: kerikil, potongan batu bata, arang, serabut kelapa (cocopiet), rockwoll, skerwool, perlit, dll.

Kelebihan Budidaya Tanaman Sistem Hidroponik

Dari berbagai sumber dapat diketahui bahwa budidaya tanaman dengan cara hidroponik ini layak dipilih karena memiliki beberapa kelebihan, antara lain :

  • Tingkat Pertumbuhan Lebih Baik.

Pada sistem hidroponik ini akar tanaman berkontak langsung dengan air untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkannya sehingga energi untuk mencari makanan bisa dialihkan/difokuskan pada upaya menghasilkan buah dan bunga. Hasilnya, tanaman dengan sistem hidroponik mempunyai tingkat pertumbuhan 20-30% lebih tinggi dibanding budidaya dengan menggunakan media tanah.

  • Menghemat Air.

Penggunaan sistem resirkulasi air yang efisien dalam sistem hidroponik ini menyebabkan penghematan penggunaan air, hanya 10% dibanding penggunaan air pada sistem budidaya dengan tanah.

  • Tidak Membutuhkan Tanah dan Penggunaan Nutrisi Efektif.

Tanpa menggunakan tanah, budidaya sistem hidroponik ini dapat dilakukan di lebih banyak alternatif tempat, bahkan dengan luasan yang terbatas. Adapun zat hara yang berasal dari tanah digantikan dengan nutrisi cair yang menyebabkan penggunaannya lebih efektif.

Pengalaman Berkebun Hidroponik di Pekarangan Sempit

Sebagai keluarga yang bermukim di daerah perkotaan, khususnya di perumahan tipe sedang,  kami juga tidak mempunyai pekarangan yang luas. Alhamdulillah masih ada teras dan bidang datar yang tersisa di bagian depan rumah, sekitar 2,5 x 8 m saja. Nah di lahan pekarangan yang masuk kategori sempit inilah kami tetap semangat melakukan pemanfaatan pekarangan sebagai Warung Hidup keluarga kami, salah satunya adalah bertanam sayur dengan sistem hidroponik.

Sistem dan Peralatan Hidroponik yang Digunakan

Ada beragam model hidroponik dan dari beragam model yang ada, kami memulainya dengan Sistem Wick. Sistem ini selain paling tepat bagi pemula, juga mempunyai banyak kelebihan, antara lain: (1) Tidak memerlukan peralatan mahal; (2) Bentuk sederhana dan cara pembuatan relatif mudah; (3) Media sumbu yang digunakan menyebabkan penambahan nutrisi bisa jarang dilakukan; (4) Tidak perlu listrik sehingga biaya operasional lebih murah; (5) Mudah dipindah sesuai kebutuhan.

Sistem Hidroponik Wick

Ilustrasi Hidroponik Sistem Wick ( Sumber Gbr : Bibitonline.com)

Adapun Peralatan yang digunakan untuk hidroponik Sistem Wick ini antara lain :

  • Wadah penampung air. Kami menggunakan botol bekas air kemasan / styrofoam bekas buah / kaleng bekas cat / jerigen bekas oli;
  • Sumbu. Kami menggunakan kain flanel / kain bekas baju kaus;
  • Netpot. Selain netpot hasil beli, kami menggunakan juga gelas plastik bekas AMDK;
  • Rockwool sebagai media tanam (bisa juga diganti sabut kelapa –cocopiet– potongan arang, atau hidroton).
Tanam sayur hidroponik sistem Wick

Kangkung, bayam dan Pakchoy hidroponik di wadah sederhana buatan sendiri

Setelah mulai mapan, kami juga belajar budidaya hidroponik dengan model lainnya, antara lain Sistem DFT, yang kami terapkan menggunakan rak pralon bertingkat, pipa pralon tempel pagar, dan pipa pralon tempel dinding. Untuk sistem DFT ini pengaturan sirkulasi air menggunakan pompa listrik 30 Watt.

Pada lahan sekitar 10 m2 kami bertanam sayur hidroponik menggunakan rak bertingkat dari bahan pipa pralon (4 x 1 m), pralon tempel ke pagar (4m), rak dinding yang juga berbahan pralon (1 x 1 m) dan selebihnya menggunakan aneka wadah daur ulang sebagai pot hidroponik antara lain gelas/botol bekas kemasan air minum, styrofoam bekas kemasan buah, jerigen bekas kemasan oli dan kaleng-kaleng bekas cat.

Pemilihan Jenis Tanaman untuk Budidaya Hidroponik di Pekarangan

Karena tujuan utama pemanfaatan pekarangan adalah untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga, maka dipilih jenis yang disukai keluarga. Selain itu, merawat tanaman yang kita sukai tentunya bisa lebih intens dalam merawatnya, bukan?

Sayur hidroponik di pekarangan

Sistem DFT dengan rak susun

Beragam tanaman yang sudah kami budidayakan dengan hidroponik sampai dengan saat ini adalah : selada, sawi, pakchoy, kangkung, bayam merah, bayam hijau, bayam Brazil, tomat, terong, kemangi, daun mint, bawang daun, seledri, telang, cabai.

Pemanfaatan Hasil Budidaya Hidroponik di Pekarangan

Sayur daun rata-rata dipanen pada umur 30-40 Hari Setelah Tanam (HST) dengan 1x panen, sedangkan untuk sayur buah rata-rata mulai panen 60 HST (rata-rata 3x panen).  Selain dikonsumsi keluarga sehari-hari, alhamdulillah hasil panen bisa juga memberi tambahan penghasilan keluarga, antara lain untuk selada, pakchoy dan seledri. Pembelinya masih terbatas dari lingkungan sekitar juga ada teman yang menjadi pemasok sayuran segar beberapa cafe dan hotel.

Terong Hidroponik

Terong umur 71 HST, menjelang panen kedua

Nah Sahabat, itulah cerita pengalaman kami melakukan budidaya sayuran sistem hidroponik di pekarangan. Bagaimana, apakah tertarik untuk mencoba budidaya hidroponik sebagai pemanfaatan pekarangan kalian? Tunggu apa lagi, yuk, bertanam sayur hidroponik di pekarangan sebagai Warung Hidup keluarga kita.

***

Referensi :

  1. “5 Cara Membuat Warung Hidup”. Kompas, 12 Juli 2018
  2. “Cara Menanam Hidroponik” . budidaya.id / hidroponik.
  3. “Tips Budidaya Tanaman Hidroponik di Rumah, Cocok Untuk Pemula”. Merdeka.com (1 Juli 2020)
  4. Mulyaningsih, dkk. (2019). “Hidroponik  Skerwoll dan Faedah Pekarangan Rumah Untuk Pertanian Dengan Menerapkan Konsep Hidroponik nyaman di Hati dan di Kantong”.  Jurnal Qardhul Hasan;  Media Pengabdian  kepada Masyarakat, 5(2),  107-114.
  5. “Para Ibu Diajarkan Pemanfaatan Lahan Pekarangan Melalui Hidroponik”. Warta Bahari (September 2019).

38 Comments

  1. hihihi syukurlah minta diajarin bertanam sayuran, biar bisa metik di rumahnya sendiri ya 😀
    Saya suka bertanam-tanaman gini Mba, sayangnya butuh niat banget ya, hihihi.
    Padahal bikin rumah asri, lebih suka tanam-tanaman sayur dan sesuatu yang bisa di makan ketimbang bunga 😀

    Apalagi kalau ditanam secara hidroponik 🙂

  2. Seru emang ya mom bisa panen dari hasil tanam sendiri. Sejauh ini yg bisa dipetik dari pekaranganku itu daun pandan, katuk, & cabe

  3. aku sering banget mba nyoba nanem, tapi selalu ga hidup, hiks, entah aku kalo nanem sayur gagal mulu, tapi kalau tanaman hias alhamdulillah beranak pinak

  4. Alhamdulillah ya bisa panen sendiri jadinya. Saya sering nanam tapi hasilnya gak pernah maksimal. Kurang perhatian dan kasih sayang nih sepertinya. Hehehe

  5. Saya nanam dengan sistem hidroponik ini belum nyoba. Ingin juga metik sayuran segar dari halaman sendiri. Selain kepuasannya beda, kualitasnya jg terjamin ya, tanpa bahan2 kimia.

  6. Mbaaaa aku mupeeenggg
    Ya ampun, sepertinya menanam sayur mayur jauuuhh lebih berfaedah ya mba
    Bismillah, semogaaa aku bisa realisasikan tanam sayur hidroponik kayak dirimuuuu

  7. Aku langsung googling cabe teropong nih mbak hehehe ternyata yang besar gitu ya. Pas banget nih bertanam sayur hidroponik buat di teras aku yang sempit ya

    • Iya mba.. Cabe teropong yg merah gede tapi tak terlalu pedes, kalau Cabe kriting yg kurus tapi puedeees,hehe..

  8. Ya Allah…
    Cantiknya kak Tanti…itu terong segaaarr~
    Sepertinya panen dari kebun sendiri ini terasa lebih yummii… ((aku pernah dikasih temen yang budidaya hidroponik juga… enyaak banget sayurannya, mashaAllah))

  9. aku baru coba sekali dan gagaaal mba hahahaha. kayaknya musti lebih banyak berguru lagi deh baca tulisan teman – teman niiih

  10. Super banget mba. Ini cita-cita aku juga hihi. Tapi mesti pindah lokasi dulu soalnya rumah sekarang di tepi jalan dan terlalu banyak partikel debu yang membahayakan:’

  11. Wes sui gak dolan omahmu mba Tan, aku kud dolan mrene maneh iki hahaha
    pekaranganmu wes ranum tinggal petik

  12. Tulisan mbak Mechta selalu inspiratif nih. Oh ya, kapan hari cerita aku nanam serai ya. Entah kenapa sekarang sudah tidak ada hahaha. Memang nanam ke kebun milik kompleks sih, siapa saja boleh ambil

  13. Memaksimalkan lahan pekarangan, memang bener-bener membantu para ibu, Mbak. Contohnya di saat Lombok mahal seperti sekarang ini, saya bersyukur punya pohon cabe walau cuma dua. Tiap hari gak perlu beli cabe.

    • setuju mbaa..nah, salah satu tujuan pemanfaatan pekarangan sudah terwujud ya mba : pemenuhan kebutuhan dapur keluarga

  14. Seru mba punya kebun sendiri. Lebih aman juga karena tahu ya proses tanem smpe panen seperti apa. Yg pasti sih ads rasa puas tiap merasakan sendiri hasil panen. Hehee

  15. Pengen banget aku punya rumah dengan halaman yang cukup luas buat ditanami sayur, bunga dan buah-buahan

    Baca tulisan Mbak Tanti jadi pengen nyoba hidroponik wick, lebih simpel dan bisa memanfaatkan barang2 bekas, ya

  16. Aku tuh masih maju mundur buat nanam hidroponik bisa ngga ya mengurusnya…pengen punya warung hidup di halaman rumah..

  17. Suburnya.
    Saking hijaunya, terasa adem dilihat, walau lewat foto saja.
    Manalagi kalau lihat langsung ya.
    Uadem, ijo royo-royo ^^

  18. Ibu tuh udah nyobain mba bertanam hidroponik gini. Tapi kayaknya kok beliau lebih senang yang menggunakan media tanah gitu yaaa.. padahal kayaknya lebih enak yang hidroponik gini kan yaaa..

  19. Asslkm mbak Mechta tumah bunda kecil mungil tak ada lagi halaman. Bunda penyuka tanaman hias di pot. Kurang manfaat. zBaca tulisan ini jd pengen banget memanam di pot2 jenis tananam yg manfaat buat rumah tangga. Itu terong ungu juga hasil tanam hidrofonikkah. wow! Puas ya liat buahnya segar dan sehat. Apa bunda bisa beralih dari tanaman hias ke tanaman yg lbh manfaat buat rmh tangga? Mksh ya Allah sdh sampai di postingan ini. Mbak Mechta super dupper keren lho. Hidrofonik bunda rada harus berguru kl mau memulainya.

    • Terima kasih sudah mampir, Bunda.. Bisa banget mulai menanam tanaman sayur di pot, Bunda. Pilih saha jenus yg disuka keluarga jadi lebih semangat merawatnya..

Leave a Reply to mechtadeera Cancel reply

Required fields are marked *.