Desa Bahasa Borobudur. Apa dan di mana itu? Dua kata itulah yang terlintas pertama di benakku ketika mendengar rencana Blogger Gandjel Rel Semarang akan berkunjung ke Desa Bahasa Borobudur. Terus terang, itu kali pertama aku mendengar namanya.
Informasi yang kudapat dari teman-teman di grup IIDN Semarang & Gandjel Rel, bahwa itu adalah sebuah lembaga pembelajaran bahasa inggris yang menerapkan konsep “Belajar bahasa inggris secara mudah, cepat dan menyenangkan”.
Hm..menarik, bukan? Maka akupun segera mendaftarkan diri untuk ikut acara yang dikemas sebagai : “English Revolution for IIDN Semarang & Blogger Gandjel Rel” itu, agar bisa tahu lebih banyak tentang Desa Bahasa Borobudur itu. Dan inilah cerita kunjungan kami ke sana, tepatnya pada hari Sabtu, 24 September 2016 lalu.
Pa kabar, teman-teman..? Lama tak berinteraksi di sini yaa… Nah, sambil membersihkan sawang-sawang yang menghiasi blog yang lama nganggur ini, kita cerita-cerita tentang kumpul-kumpul di libur lebaran saja yaa. Memang, momen libur lebaran paling asyik buat kumpul-kumpul, baik itu dengan keluarga dan kerabat, ataupun teman dan sahabat.
Eh iya, mumpung masih di bulan Syawal, izinkan sebelumnya kumemohon maaf lahir batin yaa… Mungkin saja selama silaturahmi kita di dunia maya ini ada tulisan, komen ataupun opini saya yang tak menyenangkan hati, mohon teman-teman sudi memaafkannya ya…
Nah, kembali ke cerita kumpul-kumpul di libur lebaranku kali ini. Lebaran di 1437 H ini memang kurasakan berbeda dari lebaran-lebaran sebelumnya. Terutama saat persiapan lebaran yang baru kali ini sebagian besar harus kulakukan sendirian, karena mbakku berlebaran di mertuanya dan ibu tidak sesehat dulu. Heboh deh, pengalaman pertamaku menyiapkan hidangan wajib lebaran -gudeg, opor, sambal goreng- kala itu, tapi syukurlah meskipun mesti bersusah-payah, misi berhasil diselesaikan dengan sukses! 🙂 Continue reading “Kumpul-kumpul di libur Lebaran.”
Sedang menikmati long weekend, kah? Mungkin ada yang dari jauh-jauh hari sudah merencanakan jalan-jalan ke tempat-tempat wisata tertentu, namun ada juga yang mungkin masih mencari-cari alternatif tempat wisata ya?
Untuk yang di Semarang dan sekitarnya, tak perlu juga jauh-jauh ke luar kota ya.. Di sekitar Semarang pun sudah banyak tempat-tempat rekreasi yang asyik dikunjungi bersama keluarga. Salah satunya Desa Wisata Kampoeng Djowo Sekatul, sudah pernah dengar?
Salah satu tujuan wisata ini terletak di Desa Mergosari Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal. Nah, banyak kegiatan berdekatan dengan alam yang bisa teman lakukan, bersama keluarga, rekan kantor maupun anggota komunitas. Salah satunya adalah kegiatan outbound, seperti yang kami lakukan di awal tahun ini, dan inilah beberapa catatan keseruan kami di sana…
Rombongan kami berangkat dari Pekalongan sebelum jam 7 pagi, dan setelah melalui jalan yang berliku-liku, akhirnya sekitar jam 9 lebih sampai di lokasi. Beberapa kali harus bertanya kepada penduduk sekitar, karena dirasa kurangnya tanda penunjuk jalan di beberapa pertigaan.
Pernah mengalami kondisi yang mengharuskan pembatalan suatu rencana perjalanan, teman?
Misalnya karena ada tugas mendadak / cuti ditolak / ada keluarga yang tiba-tiba sakit / alasan-alasan mendadak lain yang menyebabkan perjalanan harus di tunda atau bahkan dibatalkan padahal tiket-tiket telah terbeli jauh-jauh hari?
Bagaimana nasib tiket-tiket itu ? Dibiarkan saja ‘hangus’, atau diusahakan untuk diuangkan kembali alias refund ?
Untuk pembatalan tiket kereta api, aku sudah pernah mengurusnya, namun untuk tiket pesawat belum pernah, maklum…lha wong naik pesawat juga jarang-jarang banget, hehe…
Nah, ketika keputusan untuk menunda perjalanan kemarin sudah kuambil, yang pertama kali kupikirkan adalah bagaimana cara pembatalan tiket pesawat? Sempat tanya-tanya ke teman yang sering melakukan perjalanan, dan dianjurkan untuk mengunjungi website dari maskapai penerbangan yang terkait.
OK, akupun kemudian mencari-cari info tentang pembatalan tiket dengan mengunjungi kedua website dari maskapai penerbangan yang sedianya akan kugunakan, mendapat no telepon yang dapat kuhubungi, dan setelah tersambung, ternyata aku harus mengajukan refund itu melalui agen perjalanan tempatku memesan tiket! Oalaaah… 🙂
Jika belum, ketikkan saja nama itu di mesin pencari… dan siap-siap ternganga dengan keindahan foto-foto pantai ini yang banyaaak bertebaran di dunia maya.
Sudah cukup lama aku memimpikan melihat langsung keindahan pantai ini. Para pecinta Film Laskar Pelangi pasti tahu tentang pantai ini, karena salah satu pantai indah berbatu-batu besar yang terletak di Pulau Belitung ini menjadi salah satu lokasi shooting Film Laskar Pelangi.
Selain pantai satu ini masih banyak destinasi wisata yang sangat menggoda untuk dikunjungi. Cukup lama mimpi untuk jalan-jalan ke Belitung terpendam dalam rutinitas keseharianku, dan akhirnya aku akan bisa mewujudkannya!
Adalah dari mba Dewi Rieka aku pertama kali mendengar ada rencana trip ke Belitung. Di bulan-bulan terakhir tahun lalu tepatnya aku pertama kali mengetahui rencana trip yang akan dilaksanakan pada 1-3 Mei 2016 nanti.
Senang? Tentu saja! Kala itu aku langsung antusias mendaftar, mulai hunting tiket pesawat maupun kereta api,berkenalan dengan teman-teman baru yang akan menjadi teman seperjalanan, wislah…pokoknya sudah tak sabar menghitung hari menuju tgl 1 Mei!
Hari ke-3 trip to Batu Malang adalah hari perjalanan pulang kami. Setelah seharian sebelumnya dari pagi hingga sore hari menikmati wisata di Batu Secret Zoo dan Museum Angkut, serta 2 malam nyenyak beristirahat di homestay nan nyaman, maka tiba waktunya kami meninggalkan kota sejuk Batu ini.
Sebelum meninggalkan homestay, narsis berjamaah dulu..hehe..
Sekitar pukul 7 pagi kami meninggalkan kawasan Mutiara Panderman Residence, namun tidak langsung menuju luar kota, karena ingin mampir sarapan di Alun-alun Kota Batu. Sebenarnya malam sebelumnya berencana untuk menikmati suasana malam di Alun-alun Kota Batu, namun apa daya pulang dari Museum Angkut badan sudah mengajak leyeh-leyeh saja..
Maka pagi itu, kami menyempatkan diri mampir ke Alun-alun, ngiras-ngirus pamitan dengan kota sejuk itu 🙂 Setelah sempat beberapa kali bertanya arah di sepanjang rute ke sana dari daerah Oro-oro ombo, akhirnya kami pun sampai di pusat Kota Batu itu 🙂
Alun-alun ini diresmikan tgl 7 Mei 2011
Ternyata suasana di sekitar Alun-alun pagi itu belum tampak ramai, sehingga kami pun leluasa menikmati alun-alun yang indah dan rapi itu. Ya, kami sukaaa…dengan suasana Alun-alun yang tertata rapi dan tampak bersih, mengundang kaki-kaki untuk melangkah santai, menyusuri sudut-sudutnya, sekedar duduk-duduk nyaman di bangku-bangku yang tersedia di sana atau ber-selfie-ria di sudut-sudut taman yang asri. Yuuk, mareee… Continue reading “Trip to Batu Malang (3)”
“Lhah, wong kadar angkot wae kok yo ndadak dilebokke museum?”
“Hah? Angkote sinten, Eyang?”
“Lha kuwi jare cah-cah arep nonton museum angkot?”
“Oalaaah… Museum Angkut, Eyaaang… Sanes, angkot..hehe”
…
Itu sekelumit percakapan kami dengan si Eyang dalam perjalanan ke Museum Angkut. Rupanya beliau salah sangka, dikiranya yang mau dilihat adalah ‘angkot’ / angkutan / transportasi umum dalam kota itu..hehe..
Kota Batu sudah mulai terasa panas ketika kami meninggalkan Batu Secret Zoo menuju ke lokasi Museum Angkut di suatu siang pada akhir Bulan Desember tahun lalu. Berdasarkan informasi, Museum alat transportasi yang berlokasi di Jl. Terusan Sultan Agung Atas No. 2 Kota Batu Malang itu mulai buka jam 12.00 WIB hingga jam 20.00 WIB, namun belajar dari pengalaman di Jatim Park II yang sudah penuuuh pengunjung sebelum jam buka, maka kami pun bergegas meninggalkan lokasi jatim Park II sebelum pukul 12 di siang itu.
Betul saja, karena sedang high season, lalu lintas menuju lokasi-lokasi wisata di Kota Batu siang itu padaaaat oleh aneka kendaraan, baik bus-bus wisata maupun aneka jenis kendaraan pribadi. Walhasil sampai di lokasi Museum Angkut sekitar jam 13, sehingga setelah mencari parkir dan antri tiket masuk kami pun langsung menuju zona Pasar Apung untuk mengisi perut dulu.
Horee… setelah bermacet-macet-ria, sampai juga di Museum Angkut Batu Malang
Mungkin rata-rata akan menjawab sudah lama yaa.. Menurut Wikipedia, sejarah internet di Indonesia dimulai pada tahun 1990-an. Jadi internet sudah menjadi bagian dari kehidupan kita lebih dari 2 dekade, dan kedudukannya bagi kita saat ini mungkin mengalahkan keberadaan televisi ataupun radio, yang sudah jauh lebih lama kita kenal. Nah, ini cerita interaksiku di Dunia Maya.
Aku sendiri mengenal internet sejak masa-masa awal di dunia kerja namun baru sebatas aktivitas ber-email ria untuk urusan kantor. Perkenalan dengan internet lebih lanjut adalah setelah membuat akun Facebook di saat heboh mau reunian dengan teman-teman SMP, sekitar tahun 2009.
Selain chit-chat dan say hello dengan teman-teman via FB, aku juga menggunakannya untuk menampung hasil tulisan-tulisan singkat pada Catatan FB. Rasanya, aku lebih banyak menulis di Catatan daripada menulis status, hehe… Selebihnya sih komen-komen sana-sini saja..
Tanggal 1 April merupakan Hari Jadi Kota Pekalongan. Dan kemarin, Jumat tanggal 1 April 2016 merupakan HUT ke 110 Kota Pekalongan. Jadi jangan heran kalau sekarang-sekarang ini kami sedang heboh merayakan HUT Kota Batik tercinta. Rakhat wis pokoke..!
Apa itu rakhat?
RAKHAT adalah istilah khasnya Wong’kalongan yang artinya : ramai, menyenangkan dan penuh kebersamaan. Kalau kata Pak Gub Ganjar Pranowo sih, Gayeng… 🙂
Sesuai dengan tagline pasangan Walikota & Wakil Walikota saat ini yaitu Brayan Urip & Brayan Kerja, maka kegiatan perayaan HUT Kota Pekalongan mulai tahun ini lebih melibatkan masyarakat yang diwakili oleh komunitas-komunitas budaya yang ada di Kota Pekalongan. Tepatnya ada 21 komunitas masyarakat yang terlibat dalam perayaan HUT ke 110 Kota Pekalongan di tahun ini yang mengusung tema “Kreativitas dan Keragaman Budaya Penggerak Ekonomi Menuju Pekalongan Lebih Sejahtera”.
Wuiih…kangen banget nulis di sini, setelah 2 bulan tidak apdet…hiks.. *bersih-bersih debu di Beranda..
OK deeh, mumpung proposal sudah jadi, dan kerjaan rumah juga masih aman terkendali, langsung deh mau nulis tentang perjalanan ke Malang kemarin..
Kemarin??
Hehe… Akhir tahun kemarin, tepatnya ! Iyaaa…memang sudah telaaat byanget nulisnya, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan?? 😛
Meskipun tanpa perencanaan yang matang seperti sebelum-sebelumnya, libur beberapa hari di akhir tahun kemarin akhirnya kami gunakan sebagai kesempatan jalan bareng yang sudah lama ingin kita lakukan, tapi tertunda-tunda terus.
Aku, Ibu, kakak berserta suami & putranya, serta 2 orang keponakan, itulah peserta jalan-jalan dadakan di akhir tahun kemarin. Tujuan utamanya adalah ke Museum Angkut, karena ABG-ABG itu sudah kepincutdengan cerita teman-temannya yang sudah ke sana sebelumnya.
Di awali dengan kehebohan mencari penginapan, karena mendadak sehingga tidak bisa memilih-milih lagi, rata-rata hotel / penginapan yang kami kontak sudah full book, mengingat saat itu memang high season kalau kata orang pariwisata..hehe.. Syukurlah, setelah klak-klik di inet, akhirnya berhasil mendapat 1 villa yang masih bisa di sewa, meskipun dengan harga 2x lipat biasanya.. *fyuuh…perjuangan pertama berhasil…
Dari Semarang kami berangkat sebelum subuh, dengan niat jalan-jalan dengan santai dan tidak ngoyo mengejar waktu. Oleh karena itu, perjalanan darat Semarang – Batu itu penuh dengan jeda istirahat…hehe…
Perhentian pertama di sebuah masjid di perbatasan Kota Salatiga, untuk melaksanakan sholat subuh di sana. Brrr…dingiiiin… Sudah lama tak merasakan air sejuk kota kelahiran, kami agak kaget ketika merasakan air wudhu di masjid yang bersih dan nyaman itu.
Awal pagi di sekitar Boyolali
Perhentian kedua, di sekitar Boyolali, karena ibu melihat ada beberapa penjual Bubur Jangan di sekitar sana. OK deh… beli sarapan dulu kita…