LALANG UNGU

ruang ekspresi sepotong hati

Berkunjung ke DEWI SAMBI (1) : Gancik Hills Top

| 24 Comments

Lalang Ungu. Sore akan segera beranjak menuju Maghrib namun kami masih menyusuri jalan berkabut di kawasan Kec Selo Boyolali, pada hari Jumat 9 Pebruari 2018 kemarin.

Ya, saya bersama 6 orang teman blogger sore itu sedang menuju Desa Samiran untuk memenuhi undangan dari Forum Komunikasi Desa Wisata (FK Deswita) Jawa Tengah yang akan mengadakan pertemuan ke-14 di desa tersebut. Kami ber-6 berangkat dari Semarang sekitar jam 3 sore, karena sudah diwanti-wanti rekan-rekan FK untuk tiba di sana sebelum Maghrib agar tidak terjebak kabut di perjalanan.

Benar saja, di sore nan gerimis itu, kabut sudah mulai turun di kawasan Selo meskipun jam tangan belum menunjukkan pukul 5 sore. Pemandangan pepohonan hijau di  kiri-kanan jalan tak  dapat kami nikmati sepenuhnya karena terselimuti kabut. Setelah sempat bertanya arah pada penduduk sekitar akhirnya kami sampai di Sekretariat Desa Wisata Samiran Boyolali (Dewi Sambi) menjelang pukul 6 sore itu. Alhamdulillah…

Homestay di Samiran

Setelah mengisi registrasi untuk pertemuan FK Deswita Jateng, kami diantar menuju homestay. Ya, bagi semua peserta pertemuan itu disediakan tempat bermalam di homestay-homestay yang ada di Desa Samiran. Menurut informasi, saat ini ada sekitar 20 homestay di Samiran dengan rata-rata 2-3 kamar per rumah. Sewanya cukup murah lho..rata-rata Rp. 35.000/orang (1 kamar bisa 2-4 orang) jika tanpa sarapan dan menjadi Rp. 45.000 jika dengan sarapan. Oya, dua di antara homestay tersebut tarifnya agak berbeda, Rp. 100.000/kamar (2 orang) karena ada kamar mandi di dalam kamar, sedangkan rumah lainnya rata-rata kamar mandi bersama di luar kamar.

Homestay Rhodeo – Dewi Sambi

Homestay Rhodeo adalah tempat yang telah disediakan bagi kami bertujuh untuk menginap di Samiran malam itu. Kami diterima dengan ramah oleh Bu Yuli pemilik rumah itu, setelah beramah-tamah sebentar kami pun segera bersih-bersih, sholat Maghrib berjamaah dan istirahat sejenak sebelum bersiap mengikuti acara malam itu di pendopo.

Pertemuan ke-14 FK Deswita Jateng

Pertemuan ke-14 FK Deswita Jateng di Dewi Sambi

Malam itu pembukaan acara pertemuan ke-14 FK Deswita Jawa Tengah berlangsung cukup meriah, dengan peserta sekitar 200 orang dari 21 Kab/Kota Semarang Jawa Tengah. Sambutan oleh pejabat yang hadir antara lain dari Kepala Dinas Pariwisata Kab Boyolali yang memperkenalkan potensi wisata Boyolali melalui film pendek, dilanjutkan dengan diskusi dengan narasumber dari Dinas Pariwisata Jawa Tengah, Dinas Kominfo Jawa Tengah, Bag Perekonomian Setda Provinsi Jawa Tengah dan perwakilan BRI Jawa Tengah.

Salah satu bahasan dalam diskusi malam itu adalah bahwa kesuksesan kegiatan kepariwisataan bukan hanya tanggung-jawab pemerintah saja, namun diperlukan partisipasi segenap lapisan masyarakat, baik masyarakat pelaku wisata yang tergabung dalam pengelola Desa Wisata maupun anggota masyarakat lainnya termasuk para penggiat sosial media yang bisa berperan membantu promosi pariwisata.

Pertemuan rutin FK Deswita merupakan salah satu upaya menggiatkan kegiatan kepariwisataan, selain sebagai ajang komunikasi antar anggotanya juga dapat saling belajar karena pertemuan berkala triwulanan ini dilakukan dengan sistem bergantian sebagai tuan rumah. Misalnya, pertemuan sebelumnya pada Desember 2017 di Dewi Mangrovesari.

Setelah acara formal Jumat malam, keesokan harinya -Sabtu, 10 Pebruari 2018- kami bersama peserta lainnya dijadwalkan untuk mengunjungi beberapa lokasi wisata di Desa Samiran, yaitu wisata edukasi pemerahan sapi, treking ke Gancik Hills Top dan Gardu pandang Alam Sutera. Nah, pada post ini akan kuceritakan keseruan treking kami ke salah satu lokawisata itu ya..

Gancik Hills Top.

Berlokasi di lereng gunung Merbabu, tepatnya di Dusun Selo Duwur, Bukit Gancik atau lebih ngetop dengan sebutan Gancik Hills Top adalah tempat yang tepat bagi penikmat soft treking dan pemandangan alam.

Dari Sekretariat Dewi Sambi jaraknya sekitar 2 km, ada kendaraan bak terbuka / mobil pickup untuk mengangkut pengunjung (biaya Rp. 10.000/org) dengan melalui jalan yang relatif sempit, berkelok-kelok dan menanjak -cukup curam di beberapa tempat- yang mengingatkanku petualangan dengan Jeep di Lava tour Merapi, namun kali ini kanan kiri jalan adalah rumah penduduk maupun sawah / kebun sayur..

Mobil hanya samapai basecamp Gancik ini saja

Mobil ‘pajero’ (panas Njobo njero) itu hanya mengangkut penumpang sampai basecamp Gancik saja, karena akses selanjutnya tidak memungkinkan untuk dilalui kendaraan roda 4. Ada 2 pilihan untuk menuju puncak Gancik selanjutnya, yaitu naik ojek (Rp. 10.000/org untuk sekali jalan) atau menggunakan alat transportasi yang sudah dianugerahkan Tuhan pada kita, sepasang kaki!

Mendaki puncak Bukit Gancik dapat dilakukan dengan berjalan kaki atau naik kendaraan.

Pada kesempatan kemarin, aku memilih uji kaki saja..dan itu bukan pilihan yang salah. Meskipun harus susah payah menapaki jalur beton yang lumayan panjang -dan terasa makin puanjaaang dengan banyak tikungan dan tanjakan tajam- namun sangat terhibur dengan sajian pemandangan indah di sekeliling. Gunung Merapi yang gagah sudah tampak sejak awal ‘pendakian’, hijau subur kebun sayuran yang seperti tertata rapi di kanan-kiri jalan, juga pemandangan langit luas yang biru berhiaskan gugusan awan putih di sana-sini.. aah..sungguh penghilang lelah yang sempurna!

Puncak Merapi di kejauhan

Kebun-kebun sayur di lereng bukit

Pemandangan langit pun cantik

Sepanjang perjalanan ke atas, tak terhitung berapa kali langkahku terhenti. Menata nafas, mengistirahatkan kaki sambil mengagumi ciptaan Tuhan dan mengambil foto sebanyak-banyaknya! Namun beberapa kali alasan berhenti adalah menepi saat motor-motor ojek lalu lalang membawa penumpang. Polusi suara dan asapnya sayangnya cukup mengganggu.

Menepi dulu… Gajek lewat..

Sesampainya di puncak bukit, ada beberapa gardu pandang yang disediakan dan terhubung dengan jembatan-jembatan yang semuanya juga berfungsi sebagai spot pepotoan. Pemandangan dari puncak bukit ini memang indah dan memanjakan mata. Oya, Gancik ini juga merupakan salah satu jalur pendakian Merbabu, sehingga jangan heran bila bertemu dengan banyak pendaki di sana 🙂

Gardu-gardu pandang di Gancik Hills Top

Setelah uji kaki saat mendaki, kami memutuskan menggunakan jasa GAJEK (Gancik Ojek) untuk menuruni bukit. Dalam perjalanan sempat ngobrol dengan Pak Sunar -pengemudi Gajek- yang menceritakan perkembangan lokawisata yang masih relatif baru ini (sekitar 3 tahun).

Kata Pak Sunar, ada sejumlah 57 Gajek di sana. Para pengemudi adalah warga desa yang dulunya hanya petani yang terbiasa naik-turun bukit mencari rumput gajah untuk ternak lalu sekarang bertambah profesi sebagai tukang ojek selain sebagai petani.

Wanita perkasa versi Dewi Sambi

Nah, demikian cerita pengalamanku trekking ke Bukit Gancik (Gancik Hills Top). Dengan HTM Rp. 5.000,- tidak akan menyesal datang ke sana. Sedikit saran, pastikan badan dalam kondisi sehat bila ingin mendaki Bukit Gancik dengan berjalan kaki; jangan lupa berbekal air minum karena perjalanan akan cukup melelahkan; sebaiknya pendakian dilakukan pada pagi hari agar tidak terganggu panas mentari atau gunakan topi / payung bila perlu; bagi pengunjung dengan motor tidak disarankan untuk mengendarainya hingga puncak bila belum mengenal medan, tikungan dan tanjakannya cukup berat, dan terakhir…jangan nyampah! 😀

Oya, Untuk cerita selanjutnya (Pasar Tiban Duit Batok dan Gardu pandang Alam Sutera) akan kutulis pada post berikutnya yaa..

Bagaimana teman, tertarik ke Gancik Hills Top juga? Atau punya pengalaman jalan-jalan ke sana? Yuk..share di kolom komen yaaa…

PS : Salah satu teman perjalanan kemarin, Mas Wahid sudah nulis juga tentang perjalanan seru kami kemarin. Mangga, langsung capcus ke blogpost-nya yaa… Nah, kalau mau ke Selo dengan angkutan umum, cek dulu postingan Mia

24 Comments

  1. Di atas enam orang, di tengah jadi tujuh orang…serem, tambahan satu siapa tuhhh hiiiii

  2. Nggak nyesel jalan kaki ke atas, karena pemandangan sepanjang jalan sangat cantik

  3. Pajero haha… Nama desa.wisata nya jg bagus, “menjual”. Smg pengalaman yg bs diterapkan di pariwisata Pkl.

    • Hahaha…biasa mba Ayi..lidah kita paling pinter bikin plesetan..
      Kmrn dari Pekalongan ada Mas Gandi dkk mba.. Aamiin, iya semoga bisa jadi masukan buat Pekalongan y..

  4. Dingin banget ya mbak selo apalagi airnya aku nyerah deh kalo suruh mandi

  5. Ajibb pemandangannya…kunjungan sore

  6. wii.. cantik nian desanya ya 🙂

  7. Waah, homestaynya murah banget ya ampuuun.. Wih mbak me selalu strong kl masalah tanjak menanjak
    Pemandangannya keceee

    • wkwkw…kunci rahasianya adalaah…sering2 berhenti tuk atur nafas n istirahatkan kaki..hihi..
      dan setuju bahwa pemandangannya kecee…

  8. pemandangan langitnya juara bangetttt… sukakkkk!!!
    kayanya ini bakal masuk bucket list saya untuk perjalanan ke depannya, thanks for sharing mbaaa

  9. Apiiik yaa, nunggu cuaca cerahh duluu..

    • Iya mb Dew, kmrn sj banyak yg komen musim hujan kok ke pegunungan.. meskipun Alhamdulillah seharian itu cuaca cerah, sempat ketar-ketir juga takut kehujanan di lokasi wisata hehe..

  10. Walahh begitu too pemandangan Gancik Hills Top. Aku TERLAMBAT…! Ulangi lagi!

  11. Pingback: Cara Menuju Desa Wisata Samiran Selo Menggunakan Angkutan Umum!

  12. Boyolali udaranya memang sejuk banget ya. Jadi pengen mendaki gunung Merbabu juga. Aku baru tahu nih kalo ada tempat wisata namanya Gancik Hills. Terimakasih sharingnya.

Leave a Reply

Required fields are marked *.