
Aku bersama Nadia. Sementara ayah dan ibu berada tak jauh dari kami. Tetapi kami tak melihat keduanya. Kami hanya mendengar suara-suara mereka saling berteriak. Lalu suara itu menghilang. Tak terdengar lagi.
“Bagaimana menurutmu, Dan?” tanya Nadia pelan.
“Apanya?” tanyaku tak mengerti.
“Perpisahan. Tampaknya hal itu tak terelakkan lagi,” bisiknya parau.
Ya, aku juga menyadari hal itu, menilik semakin seringnya pertengkaran keduanya meramaikan rumah kami.
Aku menoleh dan kulihat air mata membasahi pipinya. Ah, Nadia si lembut hati. Mungkin dia yang akan terluka paling parah diantara kami berempat.
“Kau memilih siapa?” tanyaku kemudian.
“Maksudmu?”
“Mereka pasti akan memisahkan kita. Kau boleh memilih duluan, Ayah atau Ibu?”
Nadia menghapus air matanya. Lalu tiba-tiba bangkit dan duduk menghadapku.
“Dania, kenapa aku yang harus memilih duluan?” Continue reading “Pilihan ketiga”