Etika peminjaman buku

Bbrp_bukuqAda yang bilang : ” Buku itu seperti halnya berlian… tidak untuk dipinjamkan.”

Hm, apakah kau setuju dengan pernyataan itu, teman?

Kalau aku, setengah setuju.  Lho…setuju kok setengah-setengah? nanggung amaat… hehe…

Maksudku, aku setuju bahwa buku sama berharganya dengan berlian. Namun bukan berarti tidak untuk dipinjamkan. Sayang kan, kalau hanya numpuk saja tanpa ada yang mengetahui apalagi memanfaatkan ‘isi’nya? Mungkin -bagiku- lebih tepatnya adalah boleh dipinjamkan, dengan syarat dan ketentuan berlaku. #eh, kok jadi mirip iklan yaa? 🙂

Hehe, jelasnya… kita harus pilah-pilih teman yang bisa dipinjami buku – barang berharga kita – itu. Kenapa harus demikian?

Ya, tentunya agar jangan sampai kita berniat baik … tapi berujung pada penyesalan : buku yang dipinjamkan rusak, lama kembali… atau malah tidak kembali sama sekali! 🙁

Sedih? Ya… pastilah sedih bila hal itu terjadi.  Barang yang kita sayang-sayang, dirawat dengan baik dan hati-hati, ternyata mendapat perlakuan buruk bahkan tak dapat kita temui lagi.  Itu mimpi buruk tentunya!

Kok, tahu? Sudah pernah mengalami?

Sudaah… Beberapa kejadian tak mengenakkan di waktu lampau telah membuatku lebih memilih-milih teman yang akan kupinjami. Tapi…ternyata aku masih kurang hati-hati dalam memilih (mungkin karena lebih mengedepankan faktor kasihan), sehingga saat ini pun aku sedang kangen dengan  3 buah buku yang belum jelas nasibnya.

Sudah beberapa bulan lalu aku meminjamkannya pada seorang teman yang kala itu sedang membutuhkan bacaan perintang waktu… namun entah dia tipe ‘pembaca super duper lambat’ atau  ada alasan lain yang tak kumengerti, nyatanya sampai saat ini belum satu pun dari 3 bukuku itu  yang kembali.  Hiks…

Menurutku, perlu ada etika khusus peminjam buku, antara lain :

  1. Menjaga keutuhan & kebersihan buku.
  2. Memperkirakan waktu membaca & menyepakati waktu peminjaman
  3. Segera mengembalikan buku pinjaman setelah selesai di baca
  4. Memberitahukan kepada pemilik bila belum selesai membaca namun waktu peminjaman yang disepakati telah lewat
  5. Please…, jangan lipat halaman.. pakai pembatas buku yaa…. ( ini tambahan dari Bu Prih )
  6. Jangan dipinjamkan lagi pada orang lain tanpa memberitahu / seizin pemilik buku (yg ini tambahan dari Mbak Nanik Nara )
  7. …..

Hm…, ada yang mau menambahkan lagi? Mangga lhoo…. 🙂

***

Catatan : Oya, tulisan ini sudah tayang sebelumnya di Blog IIDN Semarang.

 

2 Ilustrasi

Ilustrasi #1

Seorang Batita cantik ikut ibunya arisan. Pada suatu kesempatan, si mungil itu memandang penuh rasa ingin pada sepiring kue yang ada di depannya.  Tanggap akan situasi itu, nyonya rumah mengangkat piring dan menyodorkannya pada si Batita.

“Ayo De’… dipundhut ( diambil) kuenya..” begitu ia menawarkan sambil tersenyum manis.

Setelah mengerling pada ibunya, si mungil itupun malu-malu mengulurkan tangannya, mengambil kue yang diinginkannya itu.  Sang ibu pun tersenyum sambil berbisik pada putri kecilnya, ” mature pripun (bilang gimana), De’ ?”

“Uwuun, Tante..” dengan bahasa cadelnya si mungil mengucapkan maturnuwun untuk berterima kasih pada si Tante yang telah memberinya kue … 🙂

***

Ilustrasi #2

SMS dari A :  ” Mbak, aku lagi kepepet butuh nih. Tolong aku dipinjami sebesar…. untuk keperluan…. yaa.”

Balasan B : “Insya Allah… aku transfer besok..”

SMS A pada keesokan paginya : “Mbak, jadi transfer hari ini kan?”

Balasan B : “Insya Allah nanti jam 9”

Setelah mentransfer, si B mengirim SMS pemberitahuan pada si A.  Setelah itu, tak ada SMS  lagi dari si A, tapi si B berbaik sangka bahwa transferan sudah diterima dan si A hanya ‘lupa’ mengabarinya.

SMS dari A beberapa bulan kemudian : “Maaf mbak, aku mau ngrusuhi lagi…, karena aku butuh biaya untuk  … dan … Mbak bisa tolong pinjami aku lagi? Besok aku kerumah ya mbak…”

Balasan si B : “Besok aku ke luar kota, tapi akan kutitipkan ke orang rumah.. Atau kalau mau ketemu aku tunggu beberapa hari lagi…”

Balasan A : “Aku ambil besok saja ya mbak..”

Keesokan harinya sebelum pergi si B menyiapkan dan menitipkan kepada adiknya di rumah, dengan pesan bahwa si A akan mengambilnya siang itu.  Si B baru tahu bahwa si A sudah datang & mengambil titipan itu ketika ia bertanya pada adiknya malam harinya, sedangkan dari si A sendiri rupanya kembali lupa untuk memberitahukannya…

Si B hanya bisa mbatin : mudah-mudahan bermanfaat bagi A dan keluarganya…

***

T-e-r-i-m-a-k-a-s-i-h.  Satu kata yang hanya terdiri dari sebelas huruf.  Tidak susah untuk diucapkan. Sayangnya, meskipun banyak dari kita yang sejak kecil diajarkan untuk  mengejanya namun masih ada orang dewasa yang ‘lupa‘ cara mengucapkannya.. 😉

***

Selamat hari Jum’at, teman-teman….