Skip to content
” Assalamualaikum… Boy! Kok ngerem aja sih, di kamar! Ayo dong, ikut kita demo! “
Suara keras Dika mengusik ketenangan kamarku, disusul dengan hempasan tubuh gempalnya di kasur tipis tempat tidurku. Hah… hawa panas seakan terkumpul di kamar kost sempit ku itu..
“Waalaikumsalam… Demo apaan?” jawabku sekenanya, sambil menutup buku tebal yang sedang kubaca.
“Hah? Demo apaan? Aduh Boy…ketinggalan berita amat sih, kau ini! Tak terusikkah hatimu dengan film yg melecehkan junjungan kita itu? ” sambil geleng-geleng kepala, raut wajahnya jadi semakin tak enak dipandang mata.
“Ooh.. tentang film itu…”
“Ya ampun, Boy… Cuma begitu reaksimu?? Hah…muslim apaan!” semakin tak sabar dia tampaknya, sambil membelalakkan mata memandangku.
“Eh… jangan mudah menghakimi seseorang, sobat ! Demi Allah hatiku juga sakit merasakan penghinaan pada junjungan kita itu.. ” agak meningkat rupanya nada suaraku, membuat dia mengerutkan keningnya.
“Lalu, kenapa kau menolak ikut demo? Kenapa kau malah diam-diam saja di sini, tak menyatakan sikap apapun? “
Aku menghela nafas panjang, ” Dik, kau yakin demo yang akan kau ikuti tak akan mengarah ke anarkisme? Kau yakin kalian tak akan terpancing untuk terlibat kerusuhan ? “
” Mungkin saja tidak, tapi.. itu satu-satunya cara kita menyatakan sikap bukan ? ” kata Dika masih tak mau kalah.
” Ada banyak cara untuk menyatakan kecaman terhadap hal itu, sobat… Tidak harus melalui demo-demo yang bisa jadi malah akan memperkeruh suasana..”
Kuraih kembali buku tebal yang sedang kubaca tadi, menyusuri beberapa halamannya, dan membuka halaman 209 lalu menyodorkan ke hadapan Dika, ” Coba baca ini..”
” Wawasan Al-Qur’an terhadap pelecehan terhadap nabi Muhammad SAW ? ” saklajengipun..