Betul sekali bila ada yg bilang bahwa salah satu persiapan yg perlu kita lakukan sebelum (dan selama) ibadah haji adalah memperbanyak rasa sabar.
Antrian panjang, ada pada setiap proses. Bahkan sejak saat pendaftaran, karena meskipun dengan menyetorkan dana Rp. 25.000.000,- saat ini anda sudah mendapat porsi haji, namun untuk keberangkatan ada daftar tunggu yang cukup panjang, yang bervariasi untuk masing-masing daerah. Kecuali untuk ONH plus, mungkin daftar tunggunya tak selama itu. Jadi, mesti sabar menanti panggilan itu….
Dalam proses selanjutnya, tentu saja antrian itu akan teruuus ada. Saat pemeriksaan kesehatan ( yang dijadwalkan 4x selama proses persiapan hingga pemberangkatan ), saat pembuatan paspor, pemberangkatan bahkan selama pelaksanaan & kepulangan haji. Tentu saja, karena melibatkan begitu banyak orang, proses antrian akan terus ada dan tentunya menuntut kesabaran bagi semua yang terlibat.
Pokoke… kita memang mesti punya persediaan sabar yang tak terbatas..hehe…
Notes from Mecca – Catatan Perjalanan Haji Th 2011
***
Kutipan di atas adalah petikan dari Buku Notes From Mecca – buku pertamaku yang terbit beberapa tahun lalu – dan sesungguhnya merupakan catatan perjalanan haji yang kulakukan di tahun 2011. Teringat lagi pada catatan itu ketika beberapa waktu lalu salah seorang sahabat menanyakan apakah aku masih menyimpan catatan perjalanan haji ini, mungkin sebagai salah satu persiapan baginya untuk perjalanan yang sama Insya Allah tahun depan.
Sayangnya buku itu sudah tak terbit lagi dan yang ada padaku entah di mana. Haha…akhir-akhir ini aku memang agak abai dengan koleksi buku-buku kami. Tetapi aku teringat masih menyimpan materi buku karena memang berasal dari kumpulan tulisan-tulisan yang tersebar di blog detikku (Beranda Mechta) dan di blog ini.
Alhamdulillah setelah bongkar-bongkar arsip lama di laptop, ketemulah apa yang kucari. Ndilalah tema 1W1P Gandjel Rel kali ini juga tentang Naik Haji. Hmm, pas lah kalau kutulis lagi sedikit kenanganku tentang perjalanan 12 tahun lalu. Continue reading “Kaitan Erat Antara Sabar dan Ibadah Haji”
” Assalamualaikum… Boy! Kok ngerem aja sih, di kamar! Ayo dong, ikut kita demo! “
Suara keras Dika mengusik ketenangan kamarku, disusul dengan hempasan tubuh gempalnya di kasur tipis tempat tidurku. Hah… hawa panas seakan terkumpul di kamar kost sempit ku itu..
“Waalaikumsalam… Demo apaan?” jawabku sekenanya, sambil menutup buku tebal yang sedang kubaca.
“Hah? Demo apaan? Aduh Boy…ketinggalan berita amat sih, kau ini! Tak terusikkah hatimu dengan film yg melecehkan junjungan kita itu? ” sambil geleng-geleng kepala, raut wajahnya jadi semakin tak enak dipandang mata.
“Ooh.. tentang film itu…”
“Ya ampun, Boy… Cuma begitu reaksimu?? Hah…muslim apaan!” semakin tak sabar dia tampaknya, sambil membelalakkan mata memandangku.
“Eh… jangan mudah menghakimi seseorang, sobat ! Demi Allah hatiku juga sakit merasakan penghinaan pada junjungan kita itu.. ” agak meningkat rupanya nada suaraku, membuat dia mengerutkan keningnya.
“Lalu, kenapa kau menolak ikut demo? Kenapa kau malah diam-diam saja di sini, tak menyatakan sikap apapun? “
Aku menghela nafas panjang, ” Dik, kau yakin demo yang akan kau ikuti tak akan mengarah ke anarkisme? Kau yakin kalian tak akan terpancing untuk terlibat kerusuhan ? “
” Mungkin saja tidak, tapi.. itu satu-satunya cara kita menyatakan sikap bukan ? ” kata Dika masih tak mau kalah.
” Ada banyak cara untuk menyatakan kecaman terhadap hal itu, sobat… Tidak harus melalui demo-demo yang bisa jadi malah akan memperkeruh suasana..”
Kuraih kembali buku tebal yang sedang kubaca tadi, menyusuri beberapa halamannya, dan membuka halaman 209 lalu menyodorkan ke hadapan Dika, ” Coba baca ini..”
” Wawasan Al-Qur’an terhadap pelecehan terhadap nabi Muhammad SAW ? ” saklajengipun..