Perempuan tangguh itu adalah ibu kami!

Ketika dalam perjalanan yang lalu, aku melihat kejadian seorang anak yang tantrum dan membuat heboh satu gerbong kereta, tiba-tiba saja aku teringat cerita ibu bahwa duluuu…saat masih Balita aku pun pernah rewel saat pertama kali diajak beliau naik bus. Dalam pertemuan-pertemuan keluarga kami, cerita tentang hal itu cukup sering ‘diputar-ulang’ , tapi tiba-tiba aku penasaran, separah apa rewelku saat itu?

Dan akupun bertanya-tanya dalam hati, bagaimana perasaan ibu ku saat itu? Seberapa banyak aku telah mempermalukan ibu dengan kerewelanku di masa kecil itu? Akupun kemudian mengirim pesan kepada ibu saat itu juga, menceritakan tentang kejadian anak yang tantrum di kereta api itu dan menanyakan apakah aku juga segitu-nya waktu itu? Dalam pesan jawabannya, beliau menyatakan bahwa saat pertama naik bus itu aku memang menangis tapi tidak sampai teriak-teriak membuat heboh dan mempermalukan beliau… Ah… entah memang begitu kejadiannya dulu, atau itu hanya salah satu cara ibu menenangkanku, tapi aku tetap mengirim pesan mohon maaf atas kelakuanku saat itu. Dan aku bersyukur, mempunyai ibu yang sabar dan tangguh.

Beliau yang lahir dan menjalani masa kecil di masa penjajahan itu telah ditempa cukup keras dalam masa-masa awal kehidupannya.  Terbiasa hidup dalam keterbatasan ekonomi justru membuat beliau semakin kuat & tegar.  Di saat remaja seusianya pasrah dengan nasib menjalani perjodohan dini yang diatur orang-tuanya, beliau nekad menolak dijodohkan saat lulus SMP dan memberanikan diri meninggalkan Salatiga dan merantau ke Jogja,  demi bisa melanjutkan sekolah dengan beasiswa ( namanya ikatan dinas, waktu itu..). Bertekad segera lulus dan bekerja sebagai guru untuk membiayai hidup bersama ibu dan adiknya. Ah, membaca cerita perjalanan hidup yang beliau tuliskan untuk kami, sungguh membuatku makin bangga pada sosok ibuku ini. Continue reading “Perempuan tangguh itu adalah ibu kami!”