Maturnuwun, Ibuk…

Buk, 22 Desember telah datang lagi

Seperti biasa, kemeriahan perayaan Hari Ibu bahkan telah mulai sejak beberapa hari lalu

Kemeriahan yang dulu pun kami hadirkan untukmu dan tak pernah gagal menerbitkan senyum di wajahmu, namun 2 tahun terakhir ini kemeriahan yang sama sukses membuat banjir air mataku

Hari Ibu ke-3 tanpamu ini masih begitu menyesakkan bagiku, Buk

Tak ada lagi ulasan senyum dan binar matamu menyambut ucapan Selamat Hari Ibu dan ungkapan rasa syukur kami…

Ya Allah..kangen sekali sama Ibuk! 😭

Kali ini, rasa syukurku memilikimu sebagai ibuku, hanya bisa kuwujudkan lewat bisikan doa-doa terbaik untukmu

Namun rasa banggaku karena telah terlahir dari wanita lembut namun perkasa sepertimu, tak terbasuh oleh deras air mata yang terus menerus membanjir ini

Tak akan pernah terhapus selamanya 💜

Bukmatur nuwun sanget untuk semuuuuaaa yang telah Ibuk berikan pada kami selama ini.. Kasih sayang, didikan, dukungan dan terutama doa-doa tulusmu untuk kami.  Terima kasih untuk semuaaaanya yang telah membentuk kami menjadi versi terbaik kami saat ini

Ibuk, Selamat Hari Ibu, Srikandi ku..

Merajut Kenangan Bersama Ibu

Lalang Ungu.  Salam jumpa, teman-teman…  Tak terasa, Desember telah terlewati separuhnya ya.. Sebentar lagi akhir tahun akan kita jelang bersama.  Oya, sebelum akhir tahun, ada tanggal-tanggal istimewa ya, antara lain Hari Ibu yang kita peringati tiap tanggal 22 Desember.

Nah, dalam rangka memperingati Hari Ibu ini, dua blogger keren anggota Gandjel Rel -Bu Guru Noorma dan Bu Guru Chela– melontarkan tema arisan ke-17 yaitu ‘Kenangan bersama Ibu’.

Hm…apakah kenangan terindahku bersama ibu? Continue reading “Merajut Kenangan Bersama Ibu”

Perempuan tangguh itu adalah ibu kami!

Ketika dalam perjalanan yang lalu, aku melihat kejadian seorang anak yang tantrum dan membuat heboh satu gerbong kereta, tiba-tiba saja aku teringat cerita ibu bahwa duluuu…saat masih Balita aku pun pernah rewel saat pertama kali diajak beliau naik bus. Dalam pertemuan-pertemuan keluarga kami, cerita tentang hal itu cukup sering ‘diputar-ulang’ , tapi tiba-tiba aku penasaran, separah apa rewelku saat itu?

Dan akupun bertanya-tanya dalam hati, bagaimana perasaan ibu ku saat itu? Seberapa banyak aku telah mempermalukan ibu dengan kerewelanku di masa kecil itu? Akupun kemudian mengirim pesan kepada ibu saat itu juga, menceritakan tentang kejadian anak yang tantrum di kereta api itu dan menanyakan apakah aku juga segitu-nya waktu itu? Dalam pesan jawabannya, beliau menyatakan bahwa saat pertama naik bus itu aku memang menangis tapi tidak sampai teriak-teriak membuat heboh dan mempermalukan beliau… Ah… entah memang begitu kejadiannya dulu, atau itu hanya salah satu cara ibu menenangkanku, tapi aku tetap mengirim pesan mohon maaf atas kelakuanku saat itu. Dan aku bersyukur, mempunyai ibu yang sabar dan tangguh.

Beliau yang lahir dan menjalani masa kecil di masa penjajahan itu telah ditempa cukup keras dalam masa-masa awal kehidupannya.  Terbiasa hidup dalam keterbatasan ekonomi justru membuat beliau semakin kuat & tegar.  Di saat remaja seusianya pasrah dengan nasib menjalani perjodohan dini yang diatur orang-tuanya, beliau nekad menolak dijodohkan saat lulus SMP dan memberanikan diri meninggalkan Salatiga dan merantau ke Jogja,  demi bisa melanjutkan sekolah dengan beasiswa ( namanya ikatan dinas, waktu itu..). Bertekad segera lulus dan bekerja sebagai guru untuk membiayai hidup bersama ibu dan adiknya. Ah, membaca cerita perjalanan hidup yang beliau tuliskan untuk kami, sungguh membuatku makin bangga pada sosok ibuku ini. Continue reading “Perempuan tangguh itu adalah ibu kami!”