Mampir sejenak di Keraton Kasepuhan Cirebon

Sabtu pagi yang lalu, aku berkesempatan menemani ibu yang ingin mengantar kakak berobat ke Cirebon.  Tadinya hanya adikku yang akan menemani ibu sekalian sebagai sopir ke Cirebon nantinya, tapi karena tahu hari Sabtu aku libur akhirnya ibupun minta ditemani pula olehku.

OK lah… mumpung ada kesempatan nyeneng2ke ibu, maka akupun menitipkan tugas sebagai bendahara di kelompok arisan kami yg akan pertemuan hari minggu pada kawan yang lain sehingga aku bisa bebas sabtu-minggu ngawal ibu..  Maka jadilah hari sabtu pagi kami berangkat naik bis menuju terminal Tegal dan menunggu jemputan kakak dari sana.

Kami baru bisa berangkat ke Cirebon siang hari setelah anak-anak pulang sekolah, langsung ke tempat praktek dokter yang kami tuju yaitu di jalan Lemah Wungkul.  Nah..sambil menunggu kakak periksa dan ngantri ambil obat di apotik sebelahnya, kamipun duduk-duduk di pinggir jalan itu sambil menikmati semangkuk empal gentong yang lumayan maknyuss 🙂 Continue reading “Mampir sejenak di Keraton Kasepuhan Cirebon”

Telepon dari Polda (?)

Suasana terminal bus -seperti biasanya- selalu ramai, begitu juga yang kujumpai ketika sampai di Kota Tegal sabtu pagi kemarin.  Turun dari bus, masih harus menunggu kakak yang akan menjemput dari rumahnya di Brebes, oleh karena itu aku, ibu dan adikku duduk-duduk di depan salah satu agen bus yang sebelumnya membawa kami ke kota itu.

Sedang asyik membuka FB dengan HP ketika tiba-tiba ada panggilan masuk.  Kukira dari kakak yang akan menjemput, ternyata dari nomor yang tak kukenal..  Ketika kemudian kuterima, begini ringkasan percakapan telepon itu :

“Haloo… ini ibu…. (menyebutkan nama panggilanku di kantor) “

“Betul, pak.. Maaf ini dari siapa, ya?”

“Saya dari Polda Jateng bu.. Saya sudah menelpon Pak X (nama atasanku) berkali-kali tapi tak bisa sambung.  Bisa saya minta tolong disampaikan pesan?”

“Insya Allah pak.. Maaf ini dengan Bapak siapa ya?”

Kurang jelas apakah penelepon menjawab atau tidak, karena suara bising di sekitarku, sehingga aku minta diulang, namun ia tak menanggapi permintaanku.

” Ini saya mau minta tolong untuk menyampaikan pesan pada istrinya Pak Sigit”

“Maaf, Pak Sigit yang mana ya?”

“Lho.. masa anda tidak tahu Pak Sigit Suryono.  Pak X saja tahu lho.. Dia kan mantan pejabat di kantor XX (menyebutkan nama kantor kami tapi kurang tepat) “

“Maaf pak, mungkin saya tadi kurang jelas mendengar.  Maklum saya sedang di terminal sekarang. Bisa diulang nama Pak Sigit, Pak? Seingat saya tidak ada mantan pejabat kantor kami bernama Sigit Suryono..”

“Hah.. ibu ini gimana sih.. masa sama senior tidak kenal. Ini penting bu, saya harus titip pesan pada istrinya…” suaranya terdengar kurang jelas lagi, meskipun aku sudah mencoba mencari pojokan yang lebih sepi, sambil mengingat-ingat nama senior-senior kami.. tetap saja nama itu tak muncul dalam ingatanku.  Padahal aku juga bukan orang baru di kantor kami.

Ketika aku minta maaf  & minta penjelasan lagi, mulailah si penelepon itu marah-marah..

“Ibu ini bagaimana sih… tidak sopan sekali dalam menerima telepon.  Padahal ini penting sekali.  Karena ibu tidak sopan, tunggu saja…akan ada surat panggilan dari Polda Jateng!” ketusnya sebelum mengakhiri telepon.

Tinggal aku terbengong sendiri… lhah…kok malah ngancam???

Akupun mencoba menghubungi Pak X -atasanku yg disebutkan tadi- namun lewat sms karena takut komunikasi lewat telepon akan terhambat lagi.  Pada pesan itu kuceritakan singkat kejadiannya & kutanyakan mungkin beliau tahu apa maksud si penelepon.

Tak lama kemudian balasan sms dari Pak X masuk, dan pesannya singkat saja : “Wis, mbak… gak usah ditanggapi.. Biasa itu telepon teror.”

Hm… meski masih penasaran aku pun tak membahasnya lebih lanjut, terlebih karena kakakku yang menjemput sudah sampai dan kami pun meninggalkan terminal Tegal menuju rumah kakakku.  Tapi, rasa penasaran itu masih mengusik juga.. apa maksudnya telepon teror? apa sejenis telepon tipu-tipu yang beberapa waktu ini terjadi di beberapa instansi lain? Maka aku bertekad akan bertanya langsung pada Pak X di kantor nanti…

Hm, kira-kira siapa ya?? *penasaranakut*

Sudahkah kita…

” Bahagia itu bersumber dari rasa syukur “

dan

” Allah selalu memberi semua hamba-NYA, namun tak semua hamba berhasil mendapatkan, karena tak semua hati hamba-NYA terbuka untuk menerima barokah-NYA “

***

Kedua kalimat bijak itu adalah antara lain yang kami catat dari Gus Imam  di sela-sela penjelasannya tentang sejarah pesantren ketika beliau berkenan  mengantarkan kami menikmati Pondok Pesantren Turen beberapa waktu lalu.

Dua buah kalimat sederhana, bukan?  Namun sekaligus bisa mengundang perenungan mendalam dan pertanyaan pada diri kita : sudahkah kita selalu bersyukur dan sudahkah kita mengkondisikan hati untuk senantiasa terbuka agar mudah menerima barokah-NYA?

Selamat mendulang berkat di hari Jum’at, teman…

Hari ini

Hari ini,

seperti juga tahun-tahun nan lalu…

syukur tak terhingga kupanjatkan pada-MU

atas semua nikmat dari-MU di tiap helaan nafasku

Hari ini,

seperti juga tahun-tahun sebelumnya…

kupinta kekuatan dari-MU,  Sang Maha Daya

untuk bisa terus mensyukuri setiap karunia

untuk bisa terus tegar meniti pintalan pinesthi hamba

untuk bisa senantiasa membuat pemilik surgaku tersenyum bahagia

Hari ini,

kusiapkan diri menjalani hari baru

dalam naungan kasih-MU

Aku, Lily & Impian…

“Reee….lihat deh… Bagus, ya?” tanya Lily tiba-tiba sambil meletakkan sebuah majalah dengan halaman terbuka di atas meja yang kuhadapi.

“Rumah lagi? “

“Iya lah…. Tapi yang ini bener-bener keren lho, Re.. Tuh lihat penampilan depan, samping ataupun belakangnya.. Mantap, kan?”

Kupasang muka serius sambil membolak-balik halaman salah satu majalah yang memuat gambar-gambar rumah cantik yang dikagumi Lily.  Memang bagus rumah itu, tidak mewah namun sangat tepat seperti rumah impian Lily. Tapi..

“Iya, aku tahu…pasti kamu mau bilang : mahal! Iya kan?” Lily pasang wajah cemberut.

“Buat referensi saja sih gak papa, Ly… “

Yo wis, pokoke kamu dah lihat rumah impianku…”  sambil meninggalkan senyum manisnya, ia pun berlalu menuju ruang kerjanya di divisi sebelah.

***

“Aku kirim gambar bagus yang pasti kau suka” itu sms dari Lily yang kubaca siang ini.  Hm, rumah lagi kah? Bergegas kubuka emailku mencari kiriman gambar darinya.

Ternyata kali ini sebuah gambar MOGE gagah  yang sudah lama kuimpikan, lengkap dengan latar belakang pemandangan yang menawan. Sebentar kemudian sms nya masuk lagi ke HPku.

“Gimana… apik to?”

“Iyaa…. Uapik, cah ayuuu… Pemandangannya juga mantap.  Dapat dari mana?

“Biasalah… hasil browsing sana-sini… Pas banget dengan impianmu kan, Re?”

“Heeh… kamu memang paling tahu apa yang kumau, Ly..”

“Ya iyalah… Lily, gitu looh…”

Hahaha…. Tak sadar kutertawa lepas membaca balasan pesan dari si kocak itu.  Terbayang mimik mukanya seolah dia mengucapkan kata-kata itu langsung di hadapanku, dan bukannya dari Ibu Kota tempat dia dinas dua hari ini.  Ah..Lily memang ngangeni..

***

“Mas Lare, kata Kak Lily undangannya yang cantik itu hasil disain njenengan, to?” kata Nuning yang tiba-tiba saja masuk ke ruanganku.

“Kenapa, mau pesen juga?” selorohku.

“Mau juga sih, kalau mas nggak keberatan… Eh tapi mas, awalnya kukira kalian itu berpasangan lho.  Wong sak kantor ini, pasti kaget ketika menerima undangan Kak Lily dan tak ada nama mas di sana..”

Ah…ada yang tercubit di hati ini mendengar kata-kata Nuning, tapi alhamdulillah aku terhindar dari keharusan merespon perkataannya itu ketika suara melengking Pak Agus -Bos Nuning- memanggil si centil yang langsung kabur kembali ke habitatnya itu.

Yang tersisa hanya senyum kecut di bibirku.  Ah, Lily…banyak impian kita yang sama, namun kita tak berhak menjalaninya bersama….

 ##

Sebenarnya fiksi ini ingin kuikutsertakan pada proyek menulis buku yang diprakarsai Pakdhe pada kategori  Kumpulan Cerpen bertema MIMPI  yang DOnya Neng Orin tea… tapi, karena belum sampai 500 kata sudah mentok idenya, jadi batal deh… Biar hasil belajar nulis fiksi ini ngga mubazir, kupajang saja di sini.. hehe…  Sekalian woro-woro, buat teman-teman yang berminat ikutan, langsung merapat ke TKP  sebelum DLnya tgl 31 Mei 2013 ya… 😀

(Bukan) Alih Fungsi

alihfungsi

Ketika geliat usaha perbatikan itu kembali meraja, ketika mentari tak lagi bersembunyi, pemandangan seperti ini kembali banyak dijumpai di daerah kami…

Tentu saja ini bukan alih fungsi lahan secara permanen seperti yang banyak dikritisi oleh para ahli itu…  Ini hanya sekedar pemanfaatan secara maksimal lahan yang ada untuk keperluan mengepulnya dapur banyak keluarga…

Sementara jemuran kain ratusan meter itu belum lagi kering…. pengguna lapangan lainnya ngantri dulu ya.. hehe…

Masjid – Ponpes – Tas

Apa hubungannya ketiga hal tersebut?

Haha… sebenarnya sih tak ada hubungan langsung ya.. Aku saja yang iseng menggabungkan 3 dari banyak ikon terkenal dari Jatim yang membuat kami ingin mengunjunginya, dan alhamdulillah kelakon pada 15-16 Pebruari kemarin.

Lokasi utama yang kami kunjungi kemarin adalah Masjid Bawah Tanah di Tuban, Pondok pesantren di Turen Malang dan Sentra pengrajin tas di Tanggulangin Sidoarjo.   Namun menuju ke sana, kami sempat mampir di beberapa tempat menarik lainnya.

Rombongan berangkat dari Pekalongan hari Jumat sore dengan bus, sempat mampir untuk sholat Magrib & Isya di Masjid Agung Demak.  Meskipun malam hari, suasana masjid agung itu tetaplah ramai dikunjungi banyak peziarah.  Entah sebagai tujuan utama, atau persinggahan seperti kami.  Setelah mengagumi keindahan masjid itu di waktu malam, kami pun melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur. Continue reading “Masjid – Ponpes – Tas”

Kontradiksi….

Sore tadi, setelah gonta ganti chanel TV, ada sebuah acara di salah satu TV swasta yang sempat membuatku betah untuk menonton dari tengah hingga akhir acara itu.  Aku lupa apa nama acaranya, yang jelas episode saat itu menceritakan tentang kehidupan seorang anak pinggiran yang karena keterbatasan ekonomi keluarganya, harus  membantu orangtuanya mencari uang namun tetap berusaha menjalani sekolahnya – SD- dengan semangat.

Sementara itu, siang tadi aku baru mengikuti sebuah acara tatap muka unsur Pemkot dengan warga di salah satu kelurahan, dan salah satu masalah yang terinventarisasi di sana adalah masih  adanya beberapa anak putus sekolah, namun alasannya bukan karena masalah ekonomi.

Berbagai upaya ditempuh agar anak-anak putus sekolah ini dapat kembali mendapatkan pendidikan, baik itu melalui jalur sekolah formal maupun non formal.   Penyuluhan kepada masyarakat setempat juga terus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran pentingnya pendidikan dasar bagi generasi muda itu.

Selain itu, beberapa waktu terakhir ini mbak penjual di kantin kantor ditemani oleh salah seorang keponakannya, seorang remaja manis nan modis…. yang ternyata DO dari sekolahnya.  Ketika sempat kutanya kenapa tidak meneruskan sekolah lagi, ternyata dia  tidak naik ke kelas II SMP dan karena malu mengulang akhirnya tak mau sekolah lagi.

Haah… sayang sekali…  Hari gini kok ya  masih ada yang memilih tak sekolah dengan alasan yang sepele begitu…   Padahal orang tuanya masih relatif  mampu menyekolahkannya…  Dia memilih menghabiskan siang dengan menemani budenya jualan di kantin, sesekali melayani pembeli, sesekali sibuk dengan HPnya, daripada belajar di sekolah bersama dengan teman-teman sebayanya…

Sungguh sayang sekali… 🙁

Ada (hubungan) apa diantara mereka?

Ketika beberapa waktu lalu jalan2 bersama keluarga, kendaraan yang kami tumpangi berhenti di dekat areal persawahan yang (tampaknya) belum lagi tanam.  Yang menarik perhatian kami adalah terdapat beberapa ekor sapi yang sedang merumput disana….dan disekitarnya ada burung-burung yang asyik ngetutke si sapi kemanapun sapi itu melangkah…

Satu ekor sapi diikuti oleh 2 ekor burung di kanan kirinya… wiih, seperti bos dengan ajudannya saja… haha… Ini dia fotonya, dua ekor sapi yang berbeda, masing-masing dengan ‘pengawal’nya…

sekedar pertemanan biasa...atau simbiosme mutualisma?
Sekedar pertemanan biasa…atau simbiosis mutualisma?

Aku jadi teringat pelajaran Biologi jaman SMP dulu, tentang hubungan simbiosis mutualisma antara Burung Jalak dan Kerbau, dimana si burung mendapat keuntungan berupa makanan (kutu) dan si kerbau juga diuntungkan karena kutunya habis dimakan burung itu.

Hm…apakah begitu juga yang terjadi antara Sapi dan (kalau tak salah) burung Kuntul Sawah itu ? Ada hubungan apa diantara mereka, ataukah cuma kebetulan saja mereka ada di tempat yang sama? *Eh.. kok terdengar seperti narasi di infotainment2  itu yah..hehe..*

Bagaimana pendapatmu, teman?  *pertanyaan iseng di akhir pekan*

Doping semangat dari sahabat

Rasa lelah sepulang kerja sore tadi langsung menguap ketika masuk kamar dan mendapati dua buah bungkusan coklat bertengger manis di atas si Maroon.  Ihirrr…. stock doping ku datang lagi, kali ini dari Surabaya & Jakarta…  😀

Yang terbungkus kertas coklat beralamat ditujukan padaku itu memang doping  penambah semangat dari sahabat yang sedang kutunggu minggu ini, melengkapi yang sudah kuterima dua hari lalu dari Jogja.  Eits…jangan curiga dulu ya… Bukan pendongkrak stamina nan haram semacam Kathi, Methi n sebangsanya yang lagi heboh akhir2 ini lho…. tapi hadiah-hadiah GA dari sahabat selama ini memang kuanggap sebagai doping yang mendongkrak semangat untuk menulis… Dijamin halal deh!

GA_ammazzet2GA_Pakdhe

Continue reading “Doping semangat dari sahabat”