[BeraniCerita#03] Terhempas

Aku menatap bayangan yang dipantulkan cermin panjang yang ada di salah satu dinding ruangan mungil ini.  Lampu terang di ruang ganti itu menampilkan dengan jelas sosokku di cermin itu.   Cantik.. bisikku puas.  Ya, aku puas menyadari pilihanku tak salah.  Gaun malam merah marun itu membalut indah tubuhku, menonjolkan bahu mulus dan leher jenjangku…

Hm, syukurlah aku memutuskan mampir ke sini untuk menukar seragam kerja formal yang kupakai seharian tadi, demi menyambut malam yang istimewa ini.  Aku kembali memandangi bayangku di cermin itu.  Meraih tas dari tumpukan baju di atas kursi kecil itu dan mengeluarkan lipstik merah, menyempurnakan penampilanku.

Sempurna.. ya, penampilanku malam ini haruslah sempurna, karena kurasa inilah malam yang telah kutunggu-tunggu selama ini.  Setelah berkali-kali tertunda, makan malam kali ini haruslah sukses dan tolok ukur kesuksesan itu adalah  cincin berlian yg akan segera melingkari jari manisku malam ini. Menandai selangkah maju dalam komitmen kami…

Suara telepon memecah kesunyian ruangan mungil itu.  Nada khusus yang kupilih untuk panggilan dari pangeranku! Bergegas kuraih HP menjawab panggilannya.

“Ya mas… Aduuh…, mas sudah sampai ya?”

…..

“Iya, aku masih di atas… sebentar lagi ke situ.  Ke sini? Lho, mas nggak nunggu di bawah saja?”

…..

“Ooh.. sudah di eskalator? Ya..ya.. baiklah, aku segera keluar…  Hm, dari eskalator itu kearah kiri, mas… ya.. di salah satu ruang pas di ujung itu…” aku bergegas membereskan setelan kerja yang kupakai sebelumnya, menjejalkannya di tas plastik besar yang tadi membungkus gaun baruku, sekilas melirik cermin memastikan kerapian penampilanku sebelum membuka korden pembatas untuk  menyongsong arjunaku yang sudah tak sabar menemuiku itu…

“Papaaa…..” suara melengking kekanakan menghantam pendengaranku begitu kubuka pintu ruang pas itu.  Di depanku sesosok tubuh mungil berlari untuk kemudian memeluk erat kaki pria yang kulihat berjalan mendekat dengan telepon di genggamannya… “Kok papa tahu sih, kami ada di sini? Mama bilang papa ke luar kota…” sayup kudengar celoteh riang gadis kecil itu, namun tak sanggup kudengar jawaban dari lelaki yang kupanggil arjuna…

Ruangan meredup…raga melemas seiring dengan impianku yang terhempas…

***

Note : 325 kata

Kiat menjaga semangat

Jangan terkecoh dengan judul tulisan ini ya… Judulnya memang menjanjikan sekali, namun mohon maaf bila isinya hanya catatan kecil ku untuk menjaga semangat yang seringkali naik turun dalam mengerjakan sesuatu.

Memulai adalah kiat pertama menuju sukses, demikian yang pernah kubaca .  Dan tentu saja aku setuju akan hal itu, tanpa tindakan memulai, tak akan sampai kita pada tujuan.  Ibaratnya cucian kering yg menggunung tak akan berubah menjadi tumpukan rapi terseterika hanya dengan niat kita untuk melakukannya, bukan? Persis sama dengan sebuah buku impian yang tak akan siap terbit begitu saja tanpa kita mulai menuliskan ide-ide yang bersliweran di benak… *ahay… contoh-contohnya subyektif banget..* 🙂

Namun setelah langkah pertama kita lakukan, entah itu mulai menata alas setrika atau mulai menetapkan tema tulisan, hasil akhir yang kita impikan masih jauh dari kenyataan jika kita mandeg di tengah usaha yang kita lakukan.  Kenapa berhenti? karena semangat kita menguap di tengah jalan, dengan begitu banyak alasan.

Nah, itu sebabnya aku berusaha mencari kiat-kiat untuk menjaga semangat tetap menyala hingga selesai suatu kegiatan.   Lalu, apakah kiat-kiat itu? Menurutku, ini beberapa diantaranya : Continue reading “Kiat menjaga semangat”

Tak hanya kupu-kupu…

Selama ini, bila ditanya serangga apa yg cantik, pastilah aku menyatakan kupu-kupu lah serangga cantik sedangkan serangga lainnya tak punya warna beragam & bentuknya juga begitu-begitu saja…

Astaghfirullah… ternyata aku dengan pikiran sempitku telah sangat tidak adil menilai mahkluk-makhluk ciptaan-NYA yang tentu saja semua mempunyai kelebihan nya masing-masing.  Kesadaran itu kurasakan ketika di hari Sabtu kemarin sempat mengunjungi Taman Reptil & Insekta di Sanggaluri Park Purbalingga.

Di taman yang namanya ternyata kependekan dari Sanggar Luru Ilmu ( Tempat Mencari Ilmu) khususnya di bagian Reptil & Insect Park inilah kami menemui ratusan jenis awetan serangga yang tertata rapi dalam kotak-kotak kaca yang sangat menarik perhatian.

Ternyata ada beragam jenis kumbang, kupu-kupu maupun serangga lainnya yang ada di bumi kita tercinta ini.  Dan setelah melihat dari dekat beragam jenis awetan serangga itu, barulah terbuka mataku bahwa tak hanya kupu-kupu yang cantik melainkan ada banyak kumbang & serangga lain yg cantik dengan keunikannya masing-masing… Subhanallah… Yuuk, kita nikmati kecantikan mereka… Continue reading “Tak hanya kupu-kupu…”

Nunut urip

Nalika aku sak kulawarga dolan bareng menyang kebon teh Medini dhek mbiyen kae, ana ing sak wijining dalan aku sempat weruh ana uwit gedhe kang narik kawigatenku.  Sebabe, uwit gedhe iku ketok ngrembuyung amarga di nunuti urip karo tanduran-tanduran cilik  kang nempel ana ing uwit kuwi.

Ketika aku sekeluarga pergi bersama ke kebun teh Medini dulu itu, di suatu jalan aku sempat melihat ada sebuah pohon besar yang menarik perhatianku.  Hal itu dikarenakan pohon besar itu terlihat rimbun karena banyaknya tanaman-tanaman kecil yang numpang hidup di pohon itu.

Uwit gedhe kang dadi inang kanggone tanduran-tanduran cilik liyane..
Uwit gedhe kang dadi inang kanggone tanduran-tanduran cilik liyane..

mangga dipun lajengaken…

Mampir sejenak di Keraton Kasepuhan Cirebon

Sabtu pagi yang lalu, aku berkesempatan menemani ibu yang ingin mengantar kakak berobat ke Cirebon.  Tadinya hanya adikku yang akan menemani ibu sekalian sebagai sopir ke Cirebon nantinya, tapi karena tahu hari Sabtu aku libur akhirnya ibupun minta ditemani pula olehku.

OK lah… mumpung ada kesempatan nyeneng2ke ibu, maka akupun menitipkan tugas sebagai bendahara di kelompok arisan kami yg akan pertemuan hari minggu pada kawan yang lain sehingga aku bisa bebas sabtu-minggu ngawal ibu..  Maka jadilah hari sabtu pagi kami berangkat naik bis menuju terminal Tegal dan menunggu jemputan kakak dari sana.

Kami baru bisa berangkat ke Cirebon siang hari setelah anak-anak pulang sekolah, langsung ke tempat praktek dokter yang kami tuju yaitu di jalan Lemah Wungkul.  Nah..sambil menunggu kakak periksa dan ngantri ambil obat di apotik sebelahnya, kamipun duduk-duduk di pinggir jalan itu sambil menikmati semangkuk empal gentong yang lumayan maknyuss 🙂 Continue reading “Mampir sejenak di Keraton Kasepuhan Cirebon”

Telepon dari Polda (?)

Suasana terminal bus -seperti biasanya- selalu ramai, begitu juga yang kujumpai ketika sampai di Kota Tegal sabtu pagi kemarin.  Turun dari bus, masih harus menunggu kakak yang akan menjemput dari rumahnya di Brebes, oleh karena itu aku, ibu dan adikku duduk-duduk di depan salah satu agen bus yang sebelumnya membawa kami ke kota itu.

Sedang asyik membuka FB dengan HP ketika tiba-tiba ada panggilan masuk.  Kukira dari kakak yang akan menjemput, ternyata dari nomor yang tak kukenal..  Ketika kemudian kuterima, begini ringkasan percakapan telepon itu :

“Haloo… ini ibu…. (menyebutkan nama panggilanku di kantor) “

“Betul, pak.. Maaf ini dari siapa, ya?”

“Saya dari Polda Jateng bu.. Saya sudah menelpon Pak X (nama atasanku) berkali-kali tapi tak bisa sambung.  Bisa saya minta tolong disampaikan pesan?”

“Insya Allah pak.. Maaf ini dengan Bapak siapa ya?”

Kurang jelas apakah penelepon menjawab atau tidak, karena suara bising di sekitarku, sehingga aku minta diulang, namun ia tak menanggapi permintaanku.

” Ini saya mau minta tolong untuk menyampaikan pesan pada istrinya Pak Sigit”

“Maaf, Pak Sigit yang mana ya?”

“Lho.. masa anda tidak tahu Pak Sigit Suryono.  Pak X saja tahu lho.. Dia kan mantan pejabat di kantor XX (menyebutkan nama kantor kami tapi kurang tepat) “

“Maaf pak, mungkin saya tadi kurang jelas mendengar.  Maklum saya sedang di terminal sekarang. Bisa diulang nama Pak Sigit, Pak? Seingat saya tidak ada mantan pejabat kantor kami bernama Sigit Suryono..”

“Hah.. ibu ini gimana sih.. masa sama senior tidak kenal. Ini penting bu, saya harus titip pesan pada istrinya…” suaranya terdengar kurang jelas lagi, meskipun aku sudah mencoba mencari pojokan yang lebih sepi, sambil mengingat-ingat nama senior-senior kami.. tetap saja nama itu tak muncul dalam ingatanku.  Padahal aku juga bukan orang baru di kantor kami.

Ketika aku minta maaf  & minta penjelasan lagi, mulailah si penelepon itu marah-marah..

“Ibu ini bagaimana sih… tidak sopan sekali dalam menerima telepon.  Padahal ini penting sekali.  Karena ibu tidak sopan, tunggu saja…akan ada surat panggilan dari Polda Jateng!” ketusnya sebelum mengakhiri telepon.

Tinggal aku terbengong sendiri… lhah…kok malah ngancam???

Akupun mencoba menghubungi Pak X -atasanku yg disebutkan tadi- namun lewat sms karena takut komunikasi lewat telepon akan terhambat lagi.  Pada pesan itu kuceritakan singkat kejadiannya & kutanyakan mungkin beliau tahu apa maksud si penelepon.

Tak lama kemudian balasan sms dari Pak X masuk, dan pesannya singkat saja : “Wis, mbak… gak usah ditanggapi.. Biasa itu telepon teror.”

Hm… meski masih penasaran aku pun tak membahasnya lebih lanjut, terlebih karena kakakku yang menjemput sudah sampai dan kami pun meninggalkan terminal Tegal menuju rumah kakakku.  Tapi, rasa penasaran itu masih mengusik juga.. apa maksudnya telepon teror? apa sejenis telepon tipu-tipu yang beberapa waktu ini terjadi di beberapa instansi lain? Maka aku bertekad akan bertanya langsung pada Pak X di kantor nanti…

Hm, kira-kira siapa ya?? *penasaranakut*

Sudahkah kita…

” Bahagia itu bersumber dari rasa syukur “

dan

” Allah selalu memberi semua hamba-NYA, namun tak semua hamba berhasil mendapatkan, karena tak semua hati hamba-NYA terbuka untuk menerima barokah-NYA “

***

Kedua kalimat bijak itu adalah antara lain yang kami catat dari Gus Imam  di sela-sela penjelasannya tentang sejarah pesantren ketika beliau berkenan  mengantarkan kami menikmati Pondok Pesantren Turen beberapa waktu lalu.

Dua buah kalimat sederhana, bukan?  Namun sekaligus bisa mengundang perenungan mendalam dan pertanyaan pada diri kita : sudahkah kita selalu bersyukur dan sudahkah kita mengkondisikan hati untuk senantiasa terbuka agar mudah menerima barokah-NYA?

Selamat mendulang berkat di hari Jum’at, teman…

Hari ini

Hari ini,

seperti juga tahun-tahun nan lalu…

syukur tak terhingga kupanjatkan pada-MU

atas semua nikmat dari-MU di tiap helaan nafasku

Hari ini,

seperti juga tahun-tahun sebelumnya…

kupinta kekuatan dari-MU,  Sang Maha Daya

untuk bisa terus mensyukuri setiap karunia

untuk bisa terus tegar meniti pintalan pinesthi hamba

untuk bisa senantiasa membuat pemilik surgaku tersenyum bahagia

Hari ini,

kusiapkan diri menjalani hari baru

dalam naungan kasih-MU

Aku, Lily & Impian…

“Reee….lihat deh… Bagus, ya?” tanya Lily tiba-tiba sambil meletakkan sebuah majalah dengan halaman terbuka di atas meja yang kuhadapi.

“Rumah lagi? “

“Iya lah…. Tapi yang ini bener-bener keren lho, Re.. Tuh lihat penampilan depan, samping ataupun belakangnya.. Mantap, kan?”

Kupasang muka serius sambil membolak-balik halaman salah satu majalah yang memuat gambar-gambar rumah cantik yang dikagumi Lily.  Memang bagus rumah itu, tidak mewah namun sangat tepat seperti rumah impian Lily. Tapi..

“Iya, aku tahu…pasti kamu mau bilang : mahal! Iya kan?” Lily pasang wajah cemberut.

“Buat referensi saja sih gak papa, Ly… “

Yo wis, pokoke kamu dah lihat rumah impianku…”  sambil meninggalkan senyum manisnya, ia pun berlalu menuju ruang kerjanya di divisi sebelah.

***

“Aku kirim gambar bagus yang pasti kau suka” itu sms dari Lily yang kubaca siang ini.  Hm, rumah lagi kah? Bergegas kubuka emailku mencari kiriman gambar darinya.

Ternyata kali ini sebuah gambar MOGE gagah  yang sudah lama kuimpikan, lengkap dengan latar belakang pemandangan yang menawan. Sebentar kemudian sms nya masuk lagi ke HPku.

“Gimana… apik to?”

“Iyaa…. Uapik, cah ayuuu… Pemandangannya juga mantap.  Dapat dari mana?

“Biasalah… hasil browsing sana-sini… Pas banget dengan impianmu kan, Re?”

“Heeh… kamu memang paling tahu apa yang kumau, Ly..”

“Ya iyalah… Lily, gitu looh…”

Hahaha…. Tak sadar kutertawa lepas membaca balasan pesan dari si kocak itu.  Terbayang mimik mukanya seolah dia mengucapkan kata-kata itu langsung di hadapanku, dan bukannya dari Ibu Kota tempat dia dinas dua hari ini.  Ah..Lily memang ngangeni..

***

“Mas Lare, kata Kak Lily undangannya yang cantik itu hasil disain njenengan, to?” kata Nuning yang tiba-tiba saja masuk ke ruanganku.

“Kenapa, mau pesen juga?” selorohku.

“Mau juga sih, kalau mas nggak keberatan… Eh tapi mas, awalnya kukira kalian itu berpasangan lho.  Wong sak kantor ini, pasti kaget ketika menerima undangan Kak Lily dan tak ada nama mas di sana..”

Ah…ada yang tercubit di hati ini mendengar kata-kata Nuning, tapi alhamdulillah aku terhindar dari keharusan merespon perkataannya itu ketika suara melengking Pak Agus -Bos Nuning- memanggil si centil yang langsung kabur kembali ke habitatnya itu.

Yang tersisa hanya senyum kecut di bibirku.  Ah, Lily…banyak impian kita yang sama, namun kita tak berhak menjalaninya bersama….

 ##

Sebenarnya fiksi ini ingin kuikutsertakan pada proyek menulis buku yang diprakarsai Pakdhe pada kategori  Kumpulan Cerpen bertema MIMPI  yang DOnya Neng Orin tea… tapi, karena belum sampai 500 kata sudah mentok idenya, jadi batal deh… Biar hasil belajar nulis fiksi ini ngga mubazir, kupajang saja di sini.. hehe…  Sekalian woro-woro, buat teman-teman yang berminat ikutan, langsung merapat ke TKP  sebelum DLnya tgl 31 Mei 2013 ya… 😀

(Bukan) Alih Fungsi

alihfungsi

Ketika geliat usaha perbatikan itu kembali meraja, ketika mentari tak lagi bersembunyi, pemandangan seperti ini kembali banyak dijumpai di daerah kami…

Tentu saja ini bukan alih fungsi lahan secara permanen seperti yang banyak dikritisi oleh para ahli itu…  Ini hanya sekedar pemanfaatan secara maksimal lahan yang ada untuk keperluan mengepulnya dapur banyak keluarga…

Sementara jemuran kain ratusan meter itu belum lagi kering…. pengguna lapangan lainnya ngantri dulu ya.. hehe…