2 Aroma

Alkisah, di suatu siang menjelang sore, seorang gadis sedang termangu di tepi jalan di seberang rumah kostnya.  Ia gelisah menanti datangnya bus AKAP yang akan membawanya kembali ke rumahnya di Kota Lumpia.  Tunggu punya tunggu tak juga datang bus itu, hingga lewat 1 jam lebih dari waktu yang seharusnya, dan siang pun beranjak sore.

Akhirnya si gadis pun menyeberang jalan, kembali ke rumah kostnya.  Setelah meminjam telepon kepada ibu kostnya, barulah ia mendapat kepastian bus yang ditunggunya sudah berangkat sesuai jadwal, namun entah kenapa tidak berhenti di seberang rumah kost itu, tempat yang sudah disepakati sebelumnya dengan si agen.  Sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya selama dia menggunakan jasa bus itu.  Maka galaulah hatinya saat itu… batal pulang kampung dan bertemu keluarga tersayang? aargh… menyebalkan! 🙁

Namun rupanya itu bukan akhir cerita.  Seseorang dengan baik hati menawarkan untuk mengantarnya ke agen bus itu, sehingga bisa segera mencari solusi atas masalah itu.  Dan sore itu, kegalauannya akhirnya sirna…tercecer di sepanjang perjalanan PP dari Jl. GG (tempat kost) – Tajur (tempat pool bus malam itu) yang mereka tempuh dengan berboncengan Vespa tua Sang Pahlawan itu…  Tentu saja, karena Sang Pahlawan itu tak lain orang yang -saat itu- menghiasi mimpi-mimpinya 😉 Continue reading “2 Aroma”

Menunggu …

***

Tik..tok…tik…tok…

waktu berlalu, hari berganti

namun jemariku seolah beku, enggan menari

jangankan jalinan cerita

bahkan kata pembuka pun begitu sulit dicari

Tik..tok..tik..tok…

kucoba telusuri lorong benak hingga ke sudut hati

kosong…kering…sepi…

tak selintas ide pun kutemui

jangankan kisah baru

bahkan kenangan lama pun rapi bersembunyi…

Tik..tok..tik..tok…

baiklah…

kan kubiarkan saja kebuntuan itu puas menikmati waktu

sampai dia bosan

dan siap ditaklukkan….

***

Rumus ’10-D’ dan Beda Kaum Pemenang dg Kaum Kalah

Akhir pekan kemarin, kami berkesempatan mengikuti sebuah acara dimana salah satu pembicaranya adalah Prof. DR. Mudjahirin Thohir MA, seorang budayawan Jawa Tengah sekaligus salah satu Guru Besar UNDIP Semarang.  Dan ini adalah sekelumit penggalan catatan kami :

* Rumus 10 D yang menentukan Kualitas Hidup, yaitu :

  1. DREAM –> bagaimana mewujudkan mimpi atau angan-angannya
  2. DECISIVENESS –> kecepatan & ketepatan dalam mengambil keputusan adalah faktor kunci sukses bisnis
  3. DOERS –> tidak menunda-nunda kesempatan yang dapat dimanfaatkan
  4. DETERMINATION –> tanggung jawab tinggi walau dihadapkan pada halangan dan rintangan
  5. DEDICATION –> pengorbanan yang tinggi untuk kesuksesan
  6. DEVOTION  –> kegemaran yang dapat mendorong keberhasilan
  7. DETAILS –> memperhatikan factor kritis secara rinci
  8. DESTINY –>bertanggung jawab terhadap nasib dan tujuan yg hendak dicapainya
  9. DOLLARS –> motivasinya bukan uang, namun uang dapat menjadi tolok ukur kesuksesan bisnis
  10. DISTRIBUTE –> mendistribusikan kepemilikan bisnisnya kepada orang-orang kepercayaannya

 

* Sikap positif terhadap persaingan :

  • Persaingan perlu dilihat sebagai sebuah bentuk kerjasama, dimana kedua pesaing / lebih mendapatkan keuntungan karena dipaksa untuk melakukan yang terbaik

* Perbedaan cara pandang orang pesimis dan optimis  :

  • Orang PESIMIS :

             –          Hanya melihat kesulitan dalam setiap peluang
             –          Merasa bahwa perubahan adalah ANCAMAN

  • Orang OPTIMIS :

             –          Cenderung melihat peluang dalam setiap kesulitan

             –          Menganggap perubahan adalah sebuah TANTANGAN

* Kelebihan kaum pemenang dari kaum kalah :

  • Kaum PEMENANG :

             –          Mampu menemukan peluang di setiap kesulitan

             –          Berpikir bahwa, “ Itu memang sulit, tapi pasti ada jalan keluar”

  • Kaum KALAH :

             –          Selalu melihat adanya masalah pada tiap peluang

             –          Berpikir bahwa, “setiap penyelesaian tetap menghadirkan masalah”

Nah… bagaimana denganmu, teman? Semoga kita semua tergabung dalam kelompok orang OPTIMIS yang ditakdirkan menjadi kaum PEMENANG…  

Selamat mengawali pekan, teman 🙂

[Berani Cerita#08] Main Stempel

“Iiih… nggak serapi punya mamah! Susah amat ya..”

“Iya Kak, susyah… “

“Hehe… ikut-ikutan saja ah, Adek ni…”

“Iya…ikutan aja…”

Dan mereka berdua tergelak.

“Ambilkan kakak tisu, Dek… Kita hapus dulu yang ini “

Adek berlari keluar kamar, lalu kembali dengan segulung tisu dan menyerahkan ke si kakak.

“Ah, Adek memang pinter… Nanti, kakak bilang ke Mamah kalau Adek makin pinter.  Mau?”

Si adek mengangguk dan tersenyum bangga.  “Main stempel lagi, Kak!”, serunya kemudian.

Si kakak masih sibuk mengelap dengan tisu.  Lalu mengamati hasilnya, dan mengangguk dengan bangga.

“Naa… sudah bersih.  Kakak coba lagi, ya?”

Si adek kembali mengangguk dengan semangat dan memperhatikan tingkah kakaknya.

“Kakaaak… Adeeek… Kalian di manaaa?”

Si Kakak baru saja mengatupkan bibirnya di pinggir cangkir melamin putih yang kosong itu, ketika tiba-tiba terdengar suara ibu mereka dari arah belakang rumah.  Lalu langkahnya terdengar mendekati kamar itu.

“Aduuh… Cepat amat si mamah selesai jemur bajunya pagi ini..” gerutu si kakak.

Buru-buru si kakak meletakkan cangkir itu pada tatakannya di atas meja rias, lalu menutup mulut dengan kedua tangannya. Dan tentu saja adiknya segera menirukan tingkah kakaknya.  Keduanya berdiri tegang menghadap pintu kamar yang terbuka.

“Lho…, pada ngapain sih di kamar mamah?” si ibu masuk sambil mengerutkan keningnya.

Lalu dilihatnya cangkir putih bernoda lipstik pink  itu dan kedua anaknya yang menutup mulut dengan tangan. Continue reading “[Berani Cerita#08] Main Stempel”

#5. Akhir sebuah kasus

Yang belum baca cerita sebelumnya, silahkan cek di lapak tetangga ya … ***

Hari berganti namun penyelidikan yang terus dilakukan belum menunjukkan hasil yang berarti.  Seluruh sudut TKP telah diperiksa dengan teliti, semua karyawan cafe yang bekerja di sore yang naas itu telah diinterogasi.  Namun belum ada titik terang tentang kematian Rangga Aditya alias Radit, mantan aktor yang menjadi penulis sekaligus pengusaha cafe itu.

AKBP Eksak Sindhunata kembali menghirup kopi hitam nan kental dari cangkir di hadapannya.  Tandas.  Entah itu cangkir kopi ke berapa yang sudah diminumnya malam ini.  Berkas-berkas dan foto-foto tentang kasus itu berserakan memenuhi mejanya, termasuk selembar kertas bertuliskan sederet angka yang (sekilas) tampak tak beraturan.  Itu adalah kode sandi Franklin’s Magic Square yang dicoretkan Dea di cafe beberapa hari lalu, ketika memecahkan kode huruf yang ada di laptop korban dan ternyata menghasilkan satu nama : KIRANA.

Tapi…. siapa pula sang empunya nama itu? seberapa penting dia dalam hidup Rangga hingga ia merasa perlu menuliskan dalam bentuk kode-kode seperti itu?  Sejauh ini belum satu orang pun yang berkaitan dengan kasus itu, yang bernama Kirana.  Tidak karyawan cafe, tidak teman-teman dekat korban, atau mungkin pelanggan cafe? tiba-tiba pikiran itu terlintas di benaknya.  Ah.. tapi bagaimana bisa mendata pelanggan cafe? Mereka datang-pergi tak terdaftar… eh, emangnya perpustakaan, punya daftar pengunjung? bantahnya sendiri dalam hati.. Continue reading “#5. Akhir sebuah kasus”

Membantu Mengarahkan Panah Para Srikandi

BLKKrplor1

Berbagi itu membahagiakan.  Meski yang kami bagi hanya  pengetahuan sederhana, namun sungguh membahagiakan melihat kesungguhan para ibu untuk belajar sesuatu yang baru, tidak malu bertanya dan mau mencoba.  Semua bertujuan agar kelompok usaha yang mereka kelola lebih berkembang dan pada akhirnya membantu meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

Berbagi itu sekaligus mendapatkan.  Karena semangat para Srikandi keluarga dalam membidik kesejahteraan keluarga dan lingkungannya ini, memacu semangat kami untuk memberi yang terbaik dalam memfasilitasi usaha gigih mereka. Semangat mereka menyemangati kami juga, menjadikan itu semua tak sekedar menunaikan tugas semata.

Foto diatas adalah ketika kami menyemangati para Srikandi pada kegiatan pembinaan rutin bagi ibu-ibu pengurus kelompok BLK ( Bina Lingkungan Keluarga ) Kel. Kuripan Lor. Foto ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Sehari Menjadi Srikandi.

#3. Dan sore itu pun berlalu, menyisakan sendu..

Bagian pertama bisa (Suatu sore di sebuah cafe), trus dilanjutin blog x3onfire..

***

Hari ini Dea mendapat izin untuk tidak masuk kerja.  Untunglah, si Boss berbaik hati memaklumi kondisi psikisnya yang tak karuan setelah peristiwa tak terduga sore kemarin.  Menjadi saksi dalam sebuah kasus kematian membuatnya harus menjalani serangkaian pemeriksaan di kantor polisi kemarin.  Hm, untung saja bukan Sang Kepala Polisi sendiri yang memeriksanya, sehingga ia bisa bernafas lega, tak terganggu kenangan lalu.  Potongan-potongan interogasi itu masih diingatnya.

“Sebutkan nama saudari..”

“Dearesta Anindya “

“Pekerjaan?”

“Karyawati..” jawabnya sambil membuka dompet menyerahkan kartu namanya. Polwan itu menerimanya dan setelah mencatat pekerjaan & kantornya, mengembalikan lagi kartu itu.

“Nona Dearesta…, apa hubungan anda dengan Saudara Rangga?”

“Maaf bu… panggil saja Dea.  Rangga siapa maksud ibu?”

“Korban itu, anda tidak tahu siapa dia?”

Dea menggeleng tegas, “Saya baru melihatnya beberapa kali di cafe itu, kami bahkan belum pernah bertukar sapa..” Hm jadi, lelaki berkaca-mata hitam itu bernama Rangga ….

Masih banyak pertanyaan lagi seputar kehadiran Dea di cafe sore itu, sebelum akhirnya Dea diperkenankan pulang dengan catatan siap dipanggil bila sewaktu-waktu diperlukan keterangan lain darinya.

Sesampainya di kamar kost, ia langsung mencari berita tentang peristiwa itu, dan ternyata cukup mudah!  Peristiwa meninggalnya Rangga Aditya Permana sudah dilansir di media.  Ternyata laki-laki berkaca-mata hitam itu tak lain adalah mantan aktor laga yang dikenal umum sebagai Radit Permana.  Dia cukup terkenal sebelum akhirnya mengundurkan diri dari dunia akting setelah sebuah kecelakaan saat shooting menciderai salah satu matanya.

Ah.. pantas saja aku merasa mengenalnya, batin Dea. Meskipun bukan pecinta film -apalagi film laga- namun saat masih aktif Radit tak hanya membintangi film-film laga namun juga menjadi bintang iklan banyak produk, sehingga wajah itu tampak familier baginya.  Setelah sembuh dari kecelakaan itu Rangga alias Radit seolah menghilang.  Baru kini Dea tahu setelah membaca berita-berita tadi malam, bahwa bintang laga itu kemudian ‘banting stir’ menjadi penulis dan pemilik dari beberapa cafe , salah satunya adalah cafe tempatnya meninggal kemarin sore.

Tapi… kalau memang meninggalnya mantan aktor itu akibat pembunuhan, apa motif pembunuhan itu?  Siapa yang memusuhinya? Lalu kode-kode di laptop Rangga itu…. apa maksudnya? Apakah Rangga sebenarnya bukan hanya berprofesi sebagai penulis & pengusaha cafe???  Ah… entahlah! Itu tugas para polisi itu untuk mengungkapkan misteri kematian Rangga! begitu pikir Dea pada akhirnya, setelah judeg memikirkan kejadian sore itu.

Kejadian lain yang juga membuat tidurnya tak nyenyak semalam adalah pertemuan kembali dengan lelaki dari masa lalunya : Sang AKBP yang melempar pandangan sinis padanya kemarin.  Ah.. sudah berapa tahun kami tidak bertemu? Masa-masa awal kuliah rasanya sudah sangat lama berlalu, masa-masa ketika lelaki itu masih memandang dan memperlakukannya dengan lembut,  jauh berbeda dari pandangan sinis yang diterimanya sore kemarin.

Beberapa minggu setelah sebuah peristiwa yang menyakitkan bagi mereka berdua, didengarnya lelaki itu pindah tugas ke luar daerah, dan setelah itu tak pernah ada komunikasi apapun diantara mereka, hingga sore kemarin! Duuh Gusti… kenapa harus bertemu dia lagi???

Nyanyikan lagu indah/ sebelum ku pergi dan mungkin tak kembali/ nyanyikan lagu indah/ tuk melepas ku pergi/ dan tak kembali…

Suara ringtone HPnya membuyarkan lamunan Dea, kembali ke masa kini…

“Beb… kamu dimana? susah amat dihubungi dari semalem… Lalu, kenapa namamu disebut-sebut di banyak berita pagi ini??”  pertanyaan bernada tinggi langsung menyerang telinganya…

Hadeeeh!! Pusiiing…. 🙁

***

Mudah-mudahan, teman-teman nggak ikutan pusing ya….  Hm, memang belum terjawab semua pertanyaan, namun setidaknya identitas lelaki berkaca-mata hitam itu sudah terkuak.  Kelanjutannya? Yuuk…kita tanyakan pada Sang AKBP  yang terhormat!  haha… atau ada teman-teman yang mau ikut berpartisipasi? Silahkan lhoooo… 🙂  

Gugon tuhon

Ketika membaca Cerpen Pakdhe yang berjudul ‘Botol Parfum Biru Daun’ dimana salah satu tokohnya percaya tentang pantangan memberikan parfum bagi yang sedang pacaran, aku kembali teringat cerita salah satu eyangku dulu tentang gugon tuhon semacam itu.

Oya untuk teman-teman yang belum mengetahui, gugon tuhon adalah nasehat dari para sesepuh (Jawa) untuk tidak melakukan sesuatu hal / berperilaku yang dianggap tidak pantas / tidak baik untuk dilakukan dan dipercaya akan mendatangkan kesialan.  Biasanya larangan ini dimulai dengan kata ‘Aja‘ yang berarti Jangan. Misalnya : Aja … mundhak… atau Jangan…nanti akan….   Dan ketika ditanyakan alasannya, jawaban yang paling sering keluar adalah : Ora ilok alias tidak pantas .  Mungkin istilah lainnya adalah ‘Pamali’ ataupun Mitos.

Nah, dalam salah satu ceritanya kepada kami, eyang menceritakan adanya gugon tuhon bahwa memberikan saputangan pada kekasih adalah sebuah pantangan, konon saputangan atau kacu (sebutannya dalam bahasa jawa) ini akan membuat hubungan tersebut putus alias kacunthel ( Cunthel = selesai ).

Nah, lucunya… dengan mengetahui kepercayaan tersebut, eyang kakung kami itu malah memberikan selembar saputangan kepada seorang gadis yang saat itu menjadi pacangan / pacarnya.. Lho… apa eyang memang ingin putus? Jawabannya adalah ya, karena ada gadis lain yang lebih menarik hati beliau dan ternyata gadis terakhir inilah yang kelak menjadi eyang putri kami.. hehe…

Tapi sebenarnya ada banyak juga gugon tuhon yang berisi nasehat tersembunyi, misalnya larangan untuk tidak duduk di depan pintu (Aja lungguh nang ngarep lawang), tentu saja alasan rasionalnya adalah agar tak menghalangi jalan.  Atau larangan untuk menyapu malam hari (Aja nyapu wayah bengi), yang barangkali alasan rasionalnya adalah karena akan relatif lebih sulit melihat kotoran pada malam hari sehingga dikhawatirkan tidak bersih. Dan masih banyak pula lainnya.

Oya.. di jaman modern seperti ini, adakah gugon tuhon atau pamali atau pantangan yang masih berlaku di keluarga / lingkungan terdekatmu, teman ? Bagi ceritanya ya…

7 Kawasan Tanpa Rokok di Kota Pekalongan

Beberapa hari lalu, aku mengalami hal tak menyenangkan berkaitan dengan bau rokok.  Kantin di belakang kantor kami memang ruangannya kecil, hanya muat untuk beberapa orang saja.  Namun (mungkin) karena harga yg terjangkau dan rasa masakan yang relatif enak, kantin Mak Saroh itu mempunyai banyak pelanggan, tidak hanya karyawan dari kantor kami.

Nah, yang paling menjengkelkan adalah segerombolan pelanggan tanpa tenggang rasa yang setelah selesai menyantap makanan mereka suka berlama-lama duduk sambil ngobrol & rokokan di sana.  Bau asap rokok yg tertinggal di ruang kantin nan sempit itu sangat mengganggu!  Mau makan jadi nggak kolu alias makanan tak bisa tertelan karena merasa mual. Daripada maag kumat, akhirnya terpaksalah aku memesan makan siang untuk diantar ke mejaku, padahal sebenarnya aku sangat tidak suka makan di meja kerja 🙁

Di lain pihak, sebenarnya saat ini pemerintah kota kami sedang menggalakkan sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Kota Pekalongan No. 19 Tahun 2012 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang sudah ditetapkan pada tanggal 22 November 2012 lalu.  Perda KTR tersebut dimaksudkan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari bahaya asap rokok, memberi ruang dan lingkungan yang bersih bagi masyarakat, melindungi kesehatan masyarakat dari dampak buruk merokok dan mencegah perokok pemula.

Adapun 7 KTR tersebut adalah :

(1) Fasilitas pelayanan kesehatan;

(2) Tempat proses belajar mengajar;

(3) Tempat anak bermain;

(4) Tempat ibadah;

(5) Angkutan umum;

(6) Tempat kerja;  dan

(7) Tempat umum.

Tidak hanya larangan merokok di 7 KTR tersebut, namun di kawasan yang telah ditetapkan sebagai KTR tersebut juga dilarang untuk kegiatan menjual, mengiklankan atau mempromosikan rokok.  Bagi perokok / penjual / pengiklan / yg mempromosikan rokok di 7 KTR tersebut akan dikenakan sanksi administrasi hingga denda.

Khusus di 2 kawasan yaitu Tempat kerja dan tempat umum, diperbolehkan untuk menyediakan tempat merokok / smoking area.  Dinas Kesehatan Kota Pekalongan menyiapkan 22 smoking area di sejumlah kantor pelayanan & kelurahan.  Namun dari pengamatanku, tempat-tempat khusus tersebut saat ini masih kurang berfungsi secara maksimal, banyak yang tidak digunakan alias masih banyak yg merokok di tempat terbuka.

Yaah… semoga saja kedepan masyarakat kota kami akan makin menyadari pentingnya udara bebas asap rokok itu dan hanya merokok pada tempat-tempat yang diperbolehkan…

Bagaimana denganmu, teman… adakah pengalaman tidak mengenakkan dengan perokok / asap rokok? Oya, tentang Kawasan Tanpa Rokok, apakah berhasil diterapkan di kotamu?

[BeraniCerita#06] Akhir sebuah pelarian

Tak perlu waktu lama, Rino akhirnya sampai di rumah bergaya Jawa kuno yang cukup besar. Halamannya luas dengan beberapa pohon beringin. Tampaknya rumah ini adalah rumah turun-temurun.

Tok, tok! Rino mengetuk pintu.

Tak lama pintu dibuka. Rino terkejut melihat sosok yang berada di hadapannya.

***

Rino bergegas berbalik, namun tangan halus itu kuat memegangi lengannya..

“Aku sudah lama menunggumu di sini.  Rumah nenek yg penuh kenangan ini, pasti menjadi tujuan akhir pelarianmu…”

Rino tetap diam, namun diapun mengurungkan niatnya untuk lari.

“Rino… masuklah, ada banyak hal yang ingin kujelaskan…”

“Tak ada lagi yang ingin kudengar.  Kau telah memilihnya, maka tak perlu ada aku lagi di hidupmu!”

“Kenapa tidak?”

“Karena aku tak mau menjadi benalu dalam hidup kalian!”

“Benalu? Dalam 15 tahun kebersamaan kita, kau adalah yang terpenting bagiku! Kau, satu-satunya! Siapa yg berani mengatakan kau adalah benalu dalam hidupku?” suara penuh emosi wanita itu menyentak hati Rino.

Perlahan ditatapnya wajah cantik yang sangat dicintainya itu…, ada yg tercekat di hatinya menyaksikan bulir-bulir air mata membasahi pipi pucat nan tirus itu….

Baru kemarin aku meninggalkanmu namun rasanya sudah sangat lama waktu berlalu, bisik hatinya.  Ada luka di mata indah itu, aku kah yang menorehkannya, ibu?

“Nak… jangan pernah meragukan cinta ibu.  Tadinya aku memang sedang mempertimbangkan pinangannya, namun bila itu menyakiti hatimu, membuatmu pergi dari hidupku, maka untuk apa kuterima?  Kau hanya perlu mengatakan ketaksetujuanmu, tidak harus pergi tanpa pamit seperti ini…”

Rino masih terdiam, diingatnya rasa takut yang membuatnya nekad kabur kemarin.  Kabar bahwa ibu akan segera menikah dengan Oom Randi!

“Kenapa kau membencinya, Rino?”

“Aku tak pernah membencinya..” jawab Rino lirih, “…tapi aku takut bernasib seperti Rudi..”

Perlahan wanita cantik itu mendekati Rino lalu memeluknya erat.  Air mata tertumpah membasahi rambut lelaki kecil kesayangannya.  Ia tahu kisah hidup Rudi -teman Rino- yang kurang beruntung mendapatkan ayah tiri yang cengkiling .  Tapi ia cukup mengenal Randi – sahabat lama almarhum suaminya- yang ia yakin tak akan bertabiat seperti itu.

“Aku tak berani menjanjikan yang muluk-muluk, Nak… Namun aku ingin kamu mau mengenalnya lebih dekat.  Jika pada akhirnya nanti apa yang kau putuskan tetap sama,  maka aku tetap akan menghormati keputusanmu itu…”

Mereka berpelukan lama, tak menyadari sepasang mata tua yang basah menatap dari dalam rumah tua itu.  Namun, ada senyum di bibir keriput Mbah Citro, menyaksikan cucu dan menantu kesayangannya kembali berdamai…

***

Notes : 385 kata.  Cengkiling  (Bhs Jawa = ringan tangan / suka memukul )