[Berani Cerita#08] Main Stempel

“Iiih… nggak serapi punya mamah! Susah amat ya..”

“Iya Kak, susyah… “

“Hehe… ikut-ikutan saja ah, Adek ni…”

“Iya…ikutan aja…”

Dan mereka berdua tergelak.

“Ambilkan kakak tisu, Dek… Kita hapus dulu yang ini “

Adek berlari keluar kamar, lalu kembali dengan segulung tisu dan menyerahkan ke si kakak.

“Ah, Adek memang pinter… Nanti, kakak bilang ke Mamah kalau Adek makin pinter.  Mau?”

Si adek mengangguk dan tersenyum bangga.  “Main stempel lagi, Kak!”, serunya kemudian.

Si kakak masih sibuk mengelap dengan tisu.  Lalu mengamati hasilnya, dan mengangguk dengan bangga.

“Naa… sudah bersih.  Kakak coba lagi, ya?”

Si adek kembali mengangguk dengan semangat dan memperhatikan tingkah kakaknya.

“Kakaaak… Adeeek… Kalian di manaaa?”

Si Kakak baru saja mengatupkan bibirnya di pinggir cangkir melamin putih yang kosong itu, ketika tiba-tiba terdengar suara ibu mereka dari arah belakang rumah.  Lalu langkahnya terdengar mendekati kamar itu.

“Aduuh… Cepat amat si mamah selesai jemur bajunya pagi ini..” gerutu si kakak.

Buru-buru si kakak meletakkan cangkir itu pada tatakannya di atas meja rias, lalu menutup mulut dengan kedua tangannya. Dan tentu saja adiknya segera menirukan tingkah kakaknya.  Keduanya berdiri tegang menghadap pintu kamar yang terbuka.

“Lho…, pada ngapain sih di kamar mamah?” si ibu masuk sambil mengerutkan keningnya.

Lalu dilihatnya cangkir putih bernoda lipstik pink  itu dan kedua anaknya yang menutup mulut dengan tangan. Continue reading “[Berani Cerita#08] Main Stempel”

#5. Akhir sebuah kasus

Yang belum baca cerita sebelumnya, silahkan cek di lapak tetangga ya … ***

Hari berganti namun penyelidikan yang terus dilakukan belum menunjukkan hasil yang berarti.  Seluruh sudut TKP telah diperiksa dengan teliti, semua karyawan cafe yang bekerja di sore yang naas itu telah diinterogasi.  Namun belum ada titik terang tentang kematian Rangga Aditya alias Radit, mantan aktor yang menjadi penulis sekaligus pengusaha cafe itu.

AKBP Eksak Sindhunata kembali menghirup kopi hitam nan kental dari cangkir di hadapannya.  Tandas.  Entah itu cangkir kopi ke berapa yang sudah diminumnya malam ini.  Berkas-berkas dan foto-foto tentang kasus itu berserakan memenuhi mejanya, termasuk selembar kertas bertuliskan sederet angka yang (sekilas) tampak tak beraturan.  Itu adalah kode sandi Franklin’s Magic Square yang dicoretkan Dea di cafe beberapa hari lalu, ketika memecahkan kode huruf yang ada di laptop korban dan ternyata menghasilkan satu nama : KIRANA.

Tapi…. siapa pula sang empunya nama itu? seberapa penting dia dalam hidup Rangga hingga ia merasa perlu menuliskan dalam bentuk kode-kode seperti itu?  Sejauh ini belum satu orang pun yang berkaitan dengan kasus itu, yang bernama Kirana.  Tidak karyawan cafe, tidak teman-teman dekat korban, atau mungkin pelanggan cafe? tiba-tiba pikiran itu terlintas di benaknya.  Ah.. tapi bagaimana bisa mendata pelanggan cafe? Mereka datang-pergi tak terdaftar… eh, emangnya perpustakaan, punya daftar pengunjung? bantahnya sendiri dalam hati.. Continue reading “#5. Akhir sebuah kasus”

Membantu Mengarahkan Panah Para Srikandi

BLKKrplor1

Berbagi itu membahagiakan.  Meski yang kami bagi hanya  pengetahuan sederhana, namun sungguh membahagiakan melihat kesungguhan para ibu untuk belajar sesuatu yang baru, tidak malu bertanya dan mau mencoba.  Semua bertujuan agar kelompok usaha yang mereka kelola lebih berkembang dan pada akhirnya membantu meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

Berbagi itu sekaligus mendapatkan.  Karena semangat para Srikandi keluarga dalam membidik kesejahteraan keluarga dan lingkungannya ini, memacu semangat kami untuk memberi yang terbaik dalam memfasilitasi usaha gigih mereka. Semangat mereka menyemangati kami juga, menjadikan itu semua tak sekedar menunaikan tugas semata.

Foto diatas adalah ketika kami menyemangati para Srikandi pada kegiatan pembinaan rutin bagi ibu-ibu pengurus kelompok BLK ( Bina Lingkungan Keluarga ) Kel. Kuripan Lor. Foto ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Sehari Menjadi Srikandi.

#3. Dan sore itu pun berlalu, menyisakan sendu..

Bagian pertama bisa (Suatu sore di sebuah cafe), trus dilanjutin blog x3onfire..

***

Hari ini Dea mendapat izin untuk tidak masuk kerja.  Untunglah, si Boss berbaik hati memaklumi kondisi psikisnya yang tak karuan setelah peristiwa tak terduga sore kemarin.  Menjadi saksi dalam sebuah kasus kematian membuatnya harus menjalani serangkaian pemeriksaan di kantor polisi kemarin.  Hm, untung saja bukan Sang Kepala Polisi sendiri yang memeriksanya, sehingga ia bisa bernafas lega, tak terganggu kenangan lalu.  Potongan-potongan interogasi itu masih diingatnya.

“Sebutkan nama saudari..”

“Dearesta Anindya “

“Pekerjaan?”

“Karyawati..” jawabnya sambil membuka dompet menyerahkan kartu namanya. Polwan itu menerimanya dan setelah mencatat pekerjaan & kantornya, mengembalikan lagi kartu itu.

“Nona Dearesta…, apa hubungan anda dengan Saudara Rangga?”

“Maaf bu… panggil saja Dea.  Rangga siapa maksud ibu?”

“Korban itu, anda tidak tahu siapa dia?”

Dea menggeleng tegas, “Saya baru melihatnya beberapa kali di cafe itu, kami bahkan belum pernah bertukar sapa..” Hm jadi, lelaki berkaca-mata hitam itu bernama Rangga ….

Masih banyak pertanyaan lagi seputar kehadiran Dea di cafe sore itu, sebelum akhirnya Dea diperkenankan pulang dengan catatan siap dipanggil bila sewaktu-waktu diperlukan keterangan lain darinya.

Sesampainya di kamar kost, ia langsung mencari berita tentang peristiwa itu, dan ternyata cukup mudah!  Peristiwa meninggalnya Rangga Aditya Permana sudah dilansir di media.  Ternyata laki-laki berkaca-mata hitam itu tak lain adalah mantan aktor laga yang dikenal umum sebagai Radit Permana.  Dia cukup terkenal sebelum akhirnya mengundurkan diri dari dunia akting setelah sebuah kecelakaan saat shooting menciderai salah satu matanya.

Ah.. pantas saja aku merasa mengenalnya, batin Dea. Meskipun bukan pecinta film -apalagi film laga- namun saat masih aktif Radit tak hanya membintangi film-film laga namun juga menjadi bintang iklan banyak produk, sehingga wajah itu tampak familier baginya.  Setelah sembuh dari kecelakaan itu Rangga alias Radit seolah menghilang.  Baru kini Dea tahu setelah membaca berita-berita tadi malam, bahwa bintang laga itu kemudian ‘banting stir’ menjadi penulis dan pemilik dari beberapa cafe , salah satunya adalah cafe tempatnya meninggal kemarin sore.

Tapi… kalau memang meninggalnya mantan aktor itu akibat pembunuhan, apa motif pembunuhan itu?  Siapa yang memusuhinya? Lalu kode-kode di laptop Rangga itu…. apa maksudnya? Apakah Rangga sebenarnya bukan hanya berprofesi sebagai penulis & pengusaha cafe???  Ah… entahlah! Itu tugas para polisi itu untuk mengungkapkan misteri kematian Rangga! begitu pikir Dea pada akhirnya, setelah judeg memikirkan kejadian sore itu.

Kejadian lain yang juga membuat tidurnya tak nyenyak semalam adalah pertemuan kembali dengan lelaki dari masa lalunya : Sang AKBP yang melempar pandangan sinis padanya kemarin.  Ah.. sudah berapa tahun kami tidak bertemu? Masa-masa awal kuliah rasanya sudah sangat lama berlalu, masa-masa ketika lelaki itu masih memandang dan memperlakukannya dengan lembut,  jauh berbeda dari pandangan sinis yang diterimanya sore kemarin.

Beberapa minggu setelah sebuah peristiwa yang menyakitkan bagi mereka berdua, didengarnya lelaki itu pindah tugas ke luar daerah, dan setelah itu tak pernah ada komunikasi apapun diantara mereka, hingga sore kemarin! Duuh Gusti… kenapa harus bertemu dia lagi???

Nyanyikan lagu indah/ sebelum ku pergi dan mungkin tak kembali/ nyanyikan lagu indah/ tuk melepas ku pergi/ dan tak kembali…

Suara ringtone HPnya membuyarkan lamunan Dea, kembali ke masa kini…

“Beb… kamu dimana? susah amat dihubungi dari semalem… Lalu, kenapa namamu disebut-sebut di banyak berita pagi ini??”  pertanyaan bernada tinggi langsung menyerang telinganya…

Hadeeeh!! Pusiiing…. 🙁

***

Mudah-mudahan, teman-teman nggak ikutan pusing ya….  Hm, memang belum terjawab semua pertanyaan, namun setidaknya identitas lelaki berkaca-mata hitam itu sudah terkuak.  Kelanjutannya? Yuuk…kita tanyakan pada Sang AKBP  yang terhormat!  haha… atau ada teman-teman yang mau ikut berpartisipasi? Silahkan lhoooo… 🙂  

Gugon tuhon

Ketika membaca Cerpen Pakdhe yang berjudul ‘Botol Parfum Biru Daun’ dimana salah satu tokohnya percaya tentang pantangan memberikan parfum bagi yang sedang pacaran, aku kembali teringat cerita salah satu eyangku dulu tentang gugon tuhon semacam itu.

Oya untuk teman-teman yang belum mengetahui, gugon tuhon adalah nasehat dari para sesepuh (Jawa) untuk tidak melakukan sesuatu hal / berperilaku yang dianggap tidak pantas / tidak baik untuk dilakukan dan dipercaya akan mendatangkan kesialan.  Biasanya larangan ini dimulai dengan kata ‘Aja‘ yang berarti Jangan. Misalnya : Aja … mundhak… atau Jangan…nanti akan….   Dan ketika ditanyakan alasannya, jawaban yang paling sering keluar adalah : Ora ilok alias tidak pantas .  Mungkin istilah lainnya adalah ‘Pamali’ ataupun Mitos.

Nah, dalam salah satu ceritanya kepada kami, eyang menceritakan adanya gugon tuhon bahwa memberikan saputangan pada kekasih adalah sebuah pantangan, konon saputangan atau kacu (sebutannya dalam bahasa jawa) ini akan membuat hubungan tersebut putus alias kacunthel ( Cunthel = selesai ).

Nah, lucunya… dengan mengetahui kepercayaan tersebut, eyang kakung kami itu malah memberikan selembar saputangan kepada seorang gadis yang saat itu menjadi pacangan / pacarnya.. Lho… apa eyang memang ingin putus? Jawabannya adalah ya, karena ada gadis lain yang lebih menarik hati beliau dan ternyata gadis terakhir inilah yang kelak menjadi eyang putri kami.. hehe…

Tapi sebenarnya ada banyak juga gugon tuhon yang berisi nasehat tersembunyi, misalnya larangan untuk tidak duduk di depan pintu (Aja lungguh nang ngarep lawang), tentu saja alasan rasionalnya adalah agar tak menghalangi jalan.  Atau larangan untuk menyapu malam hari (Aja nyapu wayah bengi), yang barangkali alasan rasionalnya adalah karena akan relatif lebih sulit melihat kotoran pada malam hari sehingga dikhawatirkan tidak bersih. Dan masih banyak pula lainnya.

Oya.. di jaman modern seperti ini, adakah gugon tuhon atau pamali atau pantangan yang masih berlaku di keluarga / lingkungan terdekatmu, teman ? Bagi ceritanya ya…

7 Kawasan Tanpa Rokok di Kota Pekalongan

Beberapa hari lalu, aku mengalami hal tak menyenangkan berkaitan dengan bau rokok.  Kantin di belakang kantor kami memang ruangannya kecil, hanya muat untuk beberapa orang saja.  Namun (mungkin) karena harga yg terjangkau dan rasa masakan yang relatif enak, kantin Mak Saroh itu mempunyai banyak pelanggan, tidak hanya karyawan dari kantor kami.

Nah, yang paling menjengkelkan adalah segerombolan pelanggan tanpa tenggang rasa yang setelah selesai menyantap makanan mereka suka berlama-lama duduk sambil ngobrol & rokokan di sana.  Bau asap rokok yg tertinggal di ruang kantin nan sempit itu sangat mengganggu!  Mau makan jadi nggak kolu alias makanan tak bisa tertelan karena merasa mual. Daripada maag kumat, akhirnya terpaksalah aku memesan makan siang untuk diantar ke mejaku, padahal sebenarnya aku sangat tidak suka makan di meja kerja 🙁

Di lain pihak, sebenarnya saat ini pemerintah kota kami sedang menggalakkan sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Kota Pekalongan No. 19 Tahun 2012 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang sudah ditetapkan pada tanggal 22 November 2012 lalu.  Perda KTR tersebut dimaksudkan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari bahaya asap rokok, memberi ruang dan lingkungan yang bersih bagi masyarakat, melindungi kesehatan masyarakat dari dampak buruk merokok dan mencegah perokok pemula.

Adapun 7 KTR tersebut adalah :

(1) Fasilitas pelayanan kesehatan;

(2) Tempat proses belajar mengajar;

(3) Tempat anak bermain;

(4) Tempat ibadah;

(5) Angkutan umum;

(6) Tempat kerja;  dan

(7) Tempat umum.

Tidak hanya larangan merokok di 7 KTR tersebut, namun di kawasan yang telah ditetapkan sebagai KTR tersebut juga dilarang untuk kegiatan menjual, mengiklankan atau mempromosikan rokok.  Bagi perokok / penjual / pengiklan / yg mempromosikan rokok di 7 KTR tersebut akan dikenakan sanksi administrasi hingga denda.

Khusus di 2 kawasan yaitu Tempat kerja dan tempat umum, diperbolehkan untuk menyediakan tempat merokok / smoking area.  Dinas Kesehatan Kota Pekalongan menyiapkan 22 smoking area di sejumlah kantor pelayanan & kelurahan.  Namun dari pengamatanku, tempat-tempat khusus tersebut saat ini masih kurang berfungsi secara maksimal, banyak yang tidak digunakan alias masih banyak yg merokok di tempat terbuka.

Yaah… semoga saja kedepan masyarakat kota kami akan makin menyadari pentingnya udara bebas asap rokok itu dan hanya merokok pada tempat-tempat yang diperbolehkan…

Bagaimana denganmu, teman… adakah pengalaman tidak mengenakkan dengan perokok / asap rokok? Oya, tentang Kawasan Tanpa Rokok, apakah berhasil diterapkan di kotamu?

[BeraniCerita#06] Akhir sebuah pelarian

Tak perlu waktu lama, Rino akhirnya sampai di rumah bergaya Jawa kuno yang cukup besar. Halamannya luas dengan beberapa pohon beringin. Tampaknya rumah ini adalah rumah turun-temurun.

Tok, tok! Rino mengetuk pintu.

Tak lama pintu dibuka. Rino terkejut melihat sosok yang berada di hadapannya.

***

Rino bergegas berbalik, namun tangan halus itu kuat memegangi lengannya..

“Aku sudah lama menunggumu di sini.  Rumah nenek yg penuh kenangan ini, pasti menjadi tujuan akhir pelarianmu…”

Rino tetap diam, namun diapun mengurungkan niatnya untuk lari.

“Rino… masuklah, ada banyak hal yang ingin kujelaskan…”

“Tak ada lagi yang ingin kudengar.  Kau telah memilihnya, maka tak perlu ada aku lagi di hidupmu!”

“Kenapa tidak?”

“Karena aku tak mau menjadi benalu dalam hidup kalian!”

“Benalu? Dalam 15 tahun kebersamaan kita, kau adalah yang terpenting bagiku! Kau, satu-satunya! Siapa yg berani mengatakan kau adalah benalu dalam hidupku?” suara penuh emosi wanita itu menyentak hati Rino.

Perlahan ditatapnya wajah cantik yang sangat dicintainya itu…, ada yg tercekat di hatinya menyaksikan bulir-bulir air mata membasahi pipi pucat nan tirus itu….

Baru kemarin aku meninggalkanmu namun rasanya sudah sangat lama waktu berlalu, bisik hatinya.  Ada luka di mata indah itu, aku kah yang menorehkannya, ibu?

“Nak… jangan pernah meragukan cinta ibu.  Tadinya aku memang sedang mempertimbangkan pinangannya, namun bila itu menyakiti hatimu, membuatmu pergi dari hidupku, maka untuk apa kuterima?  Kau hanya perlu mengatakan ketaksetujuanmu, tidak harus pergi tanpa pamit seperti ini…”

Rino masih terdiam, diingatnya rasa takut yang membuatnya nekad kabur kemarin.  Kabar bahwa ibu akan segera menikah dengan Oom Randi!

“Kenapa kau membencinya, Rino?”

“Aku tak pernah membencinya..” jawab Rino lirih, “…tapi aku takut bernasib seperti Rudi..”

Perlahan wanita cantik itu mendekati Rino lalu memeluknya erat.  Air mata tertumpah membasahi rambut lelaki kecil kesayangannya.  Ia tahu kisah hidup Rudi -teman Rino- yang kurang beruntung mendapatkan ayah tiri yang cengkiling .  Tapi ia cukup mengenal Randi – sahabat lama almarhum suaminya- yang ia yakin tak akan bertabiat seperti itu.

“Aku tak berani menjanjikan yang muluk-muluk, Nak… Namun aku ingin kamu mau mengenalnya lebih dekat.  Jika pada akhirnya nanti apa yang kau putuskan tetap sama,  maka aku tetap akan menghormati keputusanmu itu…”

Mereka berpelukan lama, tak menyadari sepasang mata tua yang basah menatap dari dalam rumah tua itu.  Namun, ada senyum di bibir keriput Mbah Citro, menyaksikan cucu dan menantu kesayangannya kembali berdamai…

***

Notes : 385 kata.  Cengkiling  (Bhs Jawa = ringan tangan / suka memukul )

Keke & Nai… ke River World yuuk…

Ketika jalan-jalan ke Purbalingga tempo hari, tidak hanya Taman Sanggaluri (yang ada museum reptil & serangga serta Museum Uang itu), kami juga sempat mampir ke wahana wisata lain yang bernama River World Purbasari Pancuran Mas.  Ini cerita jalan-jalan kami di sana…

Lokasi wisata yang terkenal dengan akuarium raksasanya ini terletak di Desa Purbayasa Kec Padamara Kab. Purbalingga Jawa Tengah.  Salah satu yang paling terkenal di sana adalah Ikan Araipama Gigas yang berasal dari Sungai Amazon  yang panjangnya bisa lebih 2 meter.

Si ikan raksasa yg berasal dari sungai Amazon itu... (maaf, hasil fotonya kurang bagus..hehe..)
Si ikan raksasa yg berasal dari sungai Amazon itu… (maaf, hasil fotonya kurang bagus..hehe..)
Sekumpulan Araipama di akuarium lain...
Sekumpulan Araipama di akuarium lain…

Selain ikan raksasa itu, banyak juga jenis-jenis ikan lain yang dapat dilihat di sana, terutama jenis ikan perairan sungai sebagaimana nama taman ini yaitu River World PPM :  ada Ikan Aba aba, Ikan Buaya, Belut Listrik / Sidat, dll.  Eh, di Jakarta  ada Sea world, di Purbalingga nggak mau kalah dengan River world-nya 🙂

River World PPM
River World PPM Purbalingga

Aba2buayasidat

Tak hanya ikan-ikan dalam akuarium saja yang dapat dinikmati di taman itu.  Sambil berjalan-jalan di lingkungan taman yang asri, dapat pula menikmati burung ataupun unggas cantik yang ada di sana.  Ada Golden Pheasant yang warna-warni, Si biru Mambruk, Nuri Kepala Hitam (dengan tubuh berbulu warna warni ceria) dan masih banyak lagi.

Burung-burung cantik di Bird park PPM
Burung-burung cantik di Bird park PPM

Oya, satu hal lagi yang membuatku semakin ingin mengajak para krucils kami untuk main di sana adalah adanya kolam renang yang lumayan luas yaitu di Taman air luncur ( water boom ), karena para krucils kami paling betah main air…   Selain itu, bagi yang ingin bersantai diatas perahu dapat memilih naik perahu besar / speedboat / sepeda air untuk berputar-putar di wisata telaga yang juga ada di sana.

Ohya, HTMnya Rp. 10.000,-  untuk masuk di lokasi-lokasi wisata yg ada di sana ( River world, play ground, water boom & kolam renang anak / dewasa, Bird park & konservasi rusa ) sedangkan untuk berperahu dikenakan tambahan sewa pelampung Rp. 2.500,- atau Rp. 10.000,- untuk bersepeda air…

Bermain air, berlarian di lapangan hijau atau berjalan menyusuri pinggir telaga... pilih saja...
Bermain air, menikmati alam hijau atau berperahu di telaga… pilih saja…

Nah, itu dia cerita jalan-jalan kami di River world Purbasari Pancuran Mas yang ada di Purbalingga, apakah Keke & Nai tertarik untuk jalan-jalan ke sana? Silahkan minta mama untuk menjadwalkannya di liburan mendatang, ya.. 🙂

1st Giveaway : Jalan-jalan Seru untuk Keke dan Nai

Tamba pingin

Ketika memasuki kawasan Imogiri dalam perjalanan menuju Kebun Buah Mangunan di minggu lalu, langsung teringat olehku minuman khas Imogiri yang ingin kucicipi terutama setelah membaca tulisan mbak Evi yang ini.

Ya, Wedang Uwuh, itulah nama minuman khas Imogiri itu.  Wedang adalah kata dalam bahasa jawa yang berarti minuman, sedangkan Uwuh berarti sampah.  Bukan berarti minuman yang berasal dari sampah lho…. Yang lebih tepatnya adalah minuman yang berbahan rempah & dedaunan yang tampaknya seperti sampah.

Beberapa kali mendengarnya namun belum pernah berkesempatan mencicipinya, membuatku mengusulkan mencari minuman itu saat memasuki Imogiri kemarin itu, namun sayangnya sebagian besar kakak-kakakku menolak…alasannya itu minuman yang nikmat di pagi ataupun malam hari, sedangkan saat kami sampai di sana adalah siang hari!  Yo wis…. kalah deh… (padahal mungkin juga minuman itu disajikan dingin kan, mbak Evi? ) akhirnya pada kesempatan itu akupun gagal mencicipi Wedang Uwuh di tempat asalnya… 🙁

Tapi… ternyata itu bukanlah akhir cerita.  Tuhan Maha baik mengabulkan keinginanku.  Keesokan harinya, ketika mencari oleh-oleh di salah satu toko pusat oleh-oleh di Jl. Aip II KS Tubun Jogja, aku menemukan minuman yang kucari! Ya, memang bukan yang ‘asli’  namun Wedang Uwuh instan yang disajikan dalam kemasan-kemasan kecil berisi 5 sachet itu cukuplah jadi tamba pingin alias mengobati keinginanku untuk mencicipi minuman tradisionil yang konon menyehatkan itu…

Tombo pengen itu bernama Wedang Uwuh Instan
Tamba pingin itu bernama Wedang Uwuh Instan

Oya, dalam kemasan itu disebutkan juga tentang ‘sejarah’ adanya minuman itu, yaitu dari kebiasaan masyarakat tempo dulu untuk memanfaatkan daun-daun cengkeh yang berguguran untuk menjadi minuman dengan menambahkan bahan-bahan berkhasiat lain seperti jahe, kayu manis, pala, sereh, kapulogo dan tak ketinggalan kayu secang yang memberikan warna merah ceria pada wedang ini.

Keterkenalan Wedang Uwuh sebagai minuman yang berkhasiat ini rupanya menginspirasi para kreatif untuk menyajikannya secara instan, dan bahkan katanya wedang uwuh celup juga sudah ada lho.. hehe…

Apakah kini aku sudah tak penasaran lagi dengan Wedang Uwuh itu ? Hm…. jangan salah! Ternyata, setelah merasakan yang instan aku tetap ingin merasakan yang asli, karena menurutku yang segar tentunya lebih berkhasiat dibanding yang instan bukan?

Bagaimana denganmu, teman… penasaran juga kah dengan si Wedang Uwuh itu ?

[Berani Cerita#05] Deja vu (?)

Sepertinya suasana malam ini tidak begitu bersahabat bagi Riana. Angin yang dingin membuat dia memaki dirinya sendiri kenapa lupa membawa jaketnya yang tertinggal di mobil. Lorong yang tidak terlalu terang karena beberapa lampu mulai dimatikan. Dan kenapa tidak ada orang bersliweran? Padahal masih jam 8 malam.

 “Nah, sebentar lagi sudah sampai di kamar Sinta.” Riana mencoba menghibur diri sendiri karena dirinya masih merinding. Cepat-cepat langkahnya diayun, sampai akhirnya dia berhenti tiba-tiba saat melihat sebuah tempat tidur dorong melaju cepat ke arahnya.

Continue reading “[Berani Cerita#05] Deja vu (?)”