#3. Dan sore itu pun berlalu, menyisakan sendu..

Bagian pertama bisa (Suatu sore di sebuah cafe), trus dilanjutin blog x3onfire..

***

Hari ini Dea mendapat izin untuk tidak masuk kerja.  Untunglah, si Boss berbaik hati memaklumi kondisi psikisnya yang tak karuan setelah peristiwa tak terduga sore kemarin.  Menjadi saksi dalam sebuah kasus kematian membuatnya harus menjalani serangkaian pemeriksaan di kantor polisi kemarin.  Hm, untung saja bukan Sang Kepala Polisi sendiri yang memeriksanya, sehingga ia bisa bernafas lega, tak terganggu kenangan lalu.  Potongan-potongan interogasi itu masih diingatnya.

“Sebutkan nama saudari..”

“Dearesta Anindya “

“Pekerjaan?”

“Karyawati..” jawabnya sambil membuka dompet menyerahkan kartu namanya. Polwan itu menerimanya dan setelah mencatat pekerjaan & kantornya, mengembalikan lagi kartu itu.

“Nona Dearesta…, apa hubungan anda dengan Saudara Rangga?”

“Maaf bu… panggil saja Dea.  Rangga siapa maksud ibu?”

“Korban itu, anda tidak tahu siapa dia?”

Dea menggeleng tegas, “Saya baru melihatnya beberapa kali di cafe itu, kami bahkan belum pernah bertukar sapa..” Hm jadi, lelaki berkaca-mata hitam itu bernama Rangga ….

Masih banyak pertanyaan lagi seputar kehadiran Dea di cafe sore itu, sebelum akhirnya Dea diperkenankan pulang dengan catatan siap dipanggil bila sewaktu-waktu diperlukan keterangan lain darinya.

Sesampainya di kamar kost, ia langsung mencari berita tentang peristiwa itu, dan ternyata cukup mudah!  Peristiwa meninggalnya Rangga Aditya Permana sudah dilansir di media.  Ternyata laki-laki berkaca-mata hitam itu tak lain adalah mantan aktor laga yang dikenal umum sebagai Radit Permana.  Dia cukup terkenal sebelum akhirnya mengundurkan diri dari dunia akting setelah sebuah kecelakaan saat shooting menciderai salah satu matanya.

Ah.. pantas saja aku merasa mengenalnya, batin Dea. Meskipun bukan pecinta film -apalagi film laga- namun saat masih aktif Radit tak hanya membintangi film-film laga namun juga menjadi bintang iklan banyak produk, sehingga wajah itu tampak familier baginya.  Setelah sembuh dari kecelakaan itu Rangga alias Radit seolah menghilang.  Baru kini Dea tahu setelah membaca berita-berita tadi malam, bahwa bintang laga itu kemudian ‘banting stir’ menjadi penulis dan pemilik dari beberapa cafe , salah satunya adalah cafe tempatnya meninggal kemarin sore.

Tapi… kalau memang meninggalnya mantan aktor itu akibat pembunuhan, apa motif pembunuhan itu?  Siapa yang memusuhinya? Lalu kode-kode di laptop Rangga itu…. apa maksudnya? Apakah Rangga sebenarnya bukan hanya berprofesi sebagai penulis & pengusaha cafe???  Ah… entahlah! Itu tugas para polisi itu untuk mengungkapkan misteri kematian Rangga! begitu pikir Dea pada akhirnya, setelah judeg memikirkan kejadian sore itu.

Kejadian lain yang juga membuat tidurnya tak nyenyak semalam adalah pertemuan kembali dengan lelaki dari masa lalunya : Sang AKBP yang melempar pandangan sinis padanya kemarin.  Ah.. sudah berapa tahun kami tidak bertemu? Masa-masa awal kuliah rasanya sudah sangat lama berlalu, masa-masa ketika lelaki itu masih memandang dan memperlakukannya dengan lembut,  jauh berbeda dari pandangan sinis yang diterimanya sore kemarin.

Beberapa minggu setelah sebuah peristiwa yang menyakitkan bagi mereka berdua, didengarnya lelaki itu pindah tugas ke luar daerah, dan setelah itu tak pernah ada komunikasi apapun diantara mereka, hingga sore kemarin! Duuh Gusti… kenapa harus bertemu dia lagi???

Nyanyikan lagu indah/ sebelum ku pergi dan mungkin tak kembali/ nyanyikan lagu indah/ tuk melepas ku pergi/ dan tak kembali…

Suara ringtone HPnya membuyarkan lamunan Dea, kembali ke masa kini…

“Beb… kamu dimana? susah amat dihubungi dari semalem… Lalu, kenapa namamu disebut-sebut di banyak berita pagi ini??”  pertanyaan bernada tinggi langsung menyerang telinganya…

Hadeeeh!! Pusiiing…. 🙁

***

Mudah-mudahan, teman-teman nggak ikutan pusing ya….  Hm, memang belum terjawab semua pertanyaan, namun setidaknya identitas lelaki berkaca-mata hitam itu sudah terkuak.  Kelanjutannya? Yuuk…kita tanyakan pada Sang AKBP  yang terhormat!  haha… atau ada teman-teman yang mau ikut berpartisipasi? Silahkan lhoooo… 🙂  

17 thoughts on “#3. Dan sore itu pun berlalu, menyisakan sendu..”

  1. ahhhh, harus nunggu postingan berikutnya lagi… 🙁
    Kupikir kode-kode yg kemaren, bakal dipecahin mbak Mechta disini. Ternyata dilempar balik ke pak AKBP. :v
    Nice story mbak. 🙂
    Btw, nama korbannya mirip nama temenku. LOL. Itu nama artis beneran ya? #kepo jarang nonton TV
    XD

    1. hihihi, cara ngeles yg super sekali mbak. 😀
      Kupikir tadi itu nama artis beneran lho,
      XD

      boleh dicontek klo ntar ada yg pengen jadi artis En.. hehe…

    1. Padahal gue berharap elo mecahin kode2 itu, mec! Masa’ balik ke gue lagi, sih? Nama panjang Dea keren bgt! Bhahaha, But, overallisgud! Gudjob! 😉

    2. Huft! Giliran gue aja disatpamin! Coba itu berapa macem nama elo di lapak gue? 😛

      hihi… maap, si satpam udah tak marahin tuuh.. tapi dia kan hobynya ngeyel, suka2 dia aja… mungkin yg ngelatih dulu AKBP Jutek ituh.. 😉

    1. Lo bukan ban serep, mec! Tapi ban vulkanisir! Eh, gak juga ding!

      Tapi buat #5 jangan bolos ea… 😉

      yaah… tetep saja ban2an… bunder n nyempluk memang.. haha…

  2. Jadi akankah terkuak kasus selanjutnya? bacanya pakai gaya infotainment silat ya mbak hehehe

  3. Merenda kata jadi cerita bagian dari kepakaran Diajeng, sy bagian peran menikmatinya. merambah ke cerita detektif dan romantika nih Jeng. Salam

    1. Ceritanya kan lg belajar bikin cerita nih mbak… eh, ada yg ngajakin nulis ganti2an… haha… serasa lagi praktikum kelompok deh 🙂
      Gak tahu besok2 gimana akhir ceritanya… haha…

      1. Asal tau ya, mec! Tadinya gue ngajak alaika buat proyek ini [jiah! Proyek apaan?], tapi karna beliaunya lagi sibuk ama proyek laen, so gue ngajakin elo! Hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *