Hai Sahabat Lalang Ungu, apa kabar? Semoga semuanya selalu sehat dan bahagia ya..
Sahabat, hari Kamis 6 November 2025 lalu, aku berkesempatan mengikuti acara Pembukaan Festival Literasi yang diadakan di kita kami. Nah, tulisanku kali ini akan menceritakan pengalamanku mengikuti acara tersebut.
Apa itu Festival Literasi?
Festival Literasi merupakan rangkaian acara yang diselenggarakan untuk merayakan dan mengembangkan budaya membaca, menulis, berpikir kritis dan kecakapan digital, melalui berbagai kegiatan a.l lomba, pameran, talk show, workshop, dllSelain untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap literasi, festival ini juga diharapkan memberi ruang berekspresi berbagai kalangan masyarakat, baik pelajar maupun umum.
Festival Literasi Kota Pekalongan Th 2025
Festival Literasi Kota Pekalongan Th 2025
Festival Literasi di Kota Pekalongan merupakan agenda rutin yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Pekalongan.
Suatu Sore di Welo Asri Petungkriyono. Hai Sahabat Lalang Ungu, melanjutkan cerita perjalananku menyapa kembali ekowisata Petungkriyono yang telah kutuliskan sebelumnya, kali ini aku akan menuliskan pengalamanku suatu sore di Welo Asri, salah satu destinasi wisata di Petungkriyono.
Welo Asri adalah salah satu destinasi wisata alam yang letaknya di Desa Kayupuring Kec Petungkriyono Kab Pekalongan. Lokasi ini berjarak sekitar 31,1 Km dari Kajen -ibu kota Kab Pekalongan- atau waktu tempuh sekitar 1 jam.
Jarak Kajen – Kayupuring (lokasi Welo Asri)
Jam Operasional dan Tiket Masuk
Wisata alam Welo Asri ini buka jam 07.00 WIB s.d jam 17.00 WIB sedangkan tiket masuknya per orang Rp.5000,- untuk parkir motor Rp.2000,- sedangkan mobil Rp.5000,- Untuk aktivitas air (river tuning, body raffting, dll) dikenakan biaya tersendiri ya..
Mau mandaran seafood? ke De’Pendopo Pekalongan saja!
Mau Mandaran Seafood? Ke De’ Pendopo Pekalongan Saja! Hai Sahabat Lalang Ungu, siapa di antara kalian yang suka seafood? Naah..pasti banyak yang angkat tangan nih. Tos dulu kalau begitu, menu olahan berbahan ikan, kerang, cumi, dll memang banyak penggemarnya termasuk aku. Dalam tulisanku kali ini, aku akan ceritakan pengalamanku menikmati menu seafood di salah satu resto Pekalongan yaitu De’Pendopo di International Batik Center Wiradesa Pekalongan, yang disajikan a la mandaran.
Tentang De’Pendopo IBC Pekalongan
Beberapa hari lalu, kebetulan aku harus bertemu dengan beberapa rekan dari Komunitas Blogger Pekalongan, nah kali ini kami memilih tempat di sebuah resto yang baru saja soft launching pertengahan bulan lalu. Sebenarnya resto yang berlokasi di kawasan International Batik Center (IBC) Wiradesa Pekalongan ini sudah lama ada, hanya rupanya baru-baru ini ada pergantian manajemen. Nah, kami penasaran nih ceritanya, pengen nyobain menu-menu di De’Pendopo yang ‘baru’ ini 😊
Teman-teman sudah pernah berkunjung ke IBC Pekalongan? Lokasinya persis di tepi jalan jalur Pantura Pekalongan tepatnya di Jl. A. Yani 573 Wiradesa Kab Pekalongan. Nah di bagian depan dari salah satu pusat perdagangan Batik Pekalongan ini, ada sebuah bangunan berbentuk Pendopo khas Jawa. Itulah bangunan yang digunakan untuk Resto De’Pendopo ini. Cukup luas dan semi terbuka, seperti layaknya bangunan Pendopo / aula khas Jawa pada umumnya.
Menuju De’Pendopo IBC Pekalongan
Ruangan resto dengan bangunan semi terbuka ini tampak luas, bersih dan nyaman dengan meja-kursi makan yang di tata berjarak, sementara lingkungan sekitarnya pun tampak tertata apik (mengundang jiwa-jiwa selfie, hahaha..) dan tempat parkir relatif luas juga.
Ruangan Resto De’Pendopo IBC Pekalongan
Perkiraan kami semula, menu yang tersaji di resto ini adalah menu tradisional / khas Jawa atau menu lokal Pekalongan, ternyata setelah melihat daftar menu yang tersaji, justru seafood merupakan ciri khas dari resto ini. Dan yang lebih menarik lagi, informasi dari pramusaji bahwa paket-paket menu laut yang ada akan disajikan a la mandaran. Wah asyik sekali, bukan?
Menyapa Kembali Curug Bajing di Petungkriyono. Salam jumpa Sahabat Lalang Ungu… Kali ini aku ingin menuliskan cerita singkat kunjungan kami ke salah satu destinasi wisata di Petungkriyono, yaitu : Curug Bajing.
4 Langkah Mudah Mendaftar BPUM / BLT UMKM di Kota Pekalongan. Salam jumpa, Sahabat Lalang Ungu, semoga semua sehat dan bahagia ya.. Oya, beberapa waktu lalu, ada kerabat yang menanyakan tentang prosedur pendaftaran BPUM kepadaku, mungkin karena dia mengira aku masih dinas di OPD yang menangani Koperasi & UMKM, tempat tugasku sebelum yang sekarang.
Aku pun kemudian mencari informasi dari rekan-rekan yang bertugas di dinas tersebut, dan karena kurasa ini adalah info yang cukup penting, maka sekalian kutuliskan saja di sini. Meski yang akan kutuliskan di sini terutama adalah prosedur pendaftaran BPUM di Kota Pekalongan, namun mudah-mudahan bermanfaat juga bagi pelaku UMKM dari daerah lain yang membutuhkan informasi ini.
Tentang BPUM
Sebelum kita bahas lebih lanjut tentang langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mendaftar program BPUM ini, ada baiknya kita kenalan dulu dengan BPUM itu sendiri, bukan? 🙂
“Sudah kemarin. Kamu gimana, sudah daftar juga, kan?”
…
“Lhaa… Ditanya kok malah bengong..”
“Nggak jadi, mba. Aku nggak jadi ikut”
“Lho kenapa? Kemarin kamu yang semangat mengajakku, eh malah kamu nggak jadi ikut..”
“Iya maaf mba.. Nggak boleh sama orang rumah..”
“Oh gitu.. Yo wis, kalau alasannya begitu.”
“Semoga hasil test besok baik ya mba..”
“Aamiin.. Suwun ya…”
***
Percakapan itu terjadi sekitar dua pekan lalu, antara aku dan salah seorang rekan kerjaku. Bukan tentang rencana pergi bersama ke suatu tempat / acara, namun rencana untuk barengan mengikuti test yang ditawarkan.
Di masa pandemi seperti ini, mungkin kalian sudah menebak bahwa test yang dimaksud di sini adalah test kesehatan, terutama berkaitan dengan Covid19. Ya betul, dugaan kalian tidak salah.
Beberapa waktu lalu ada surat dari Pemkot ke kantor kami, mengenai anjuran untuk mengikuti test untuk mengetahui apakah terinfeksi Covid19 atau tidak. Test yang diminta adalah PCR (polimerase chain reaction) yaitu metode yang digunakan dalam pemeriksaan virus SARS Co-2 dengan cara mendeteksi DNA virus. Dari hasil uji ini diperoleh hasil apakah seseorang terinfeksi SARS Co-2 atau tidak. Test inilah yang direkomendasikan WHO untuk mendeteksi Covid19.
Sekelumit percakapan itu terjadi antara aku dan ibu di awal bulan Pebruari lalu, ketika aku mengutarakan niatku untuk mengajak beliau menginap semalam di hotel pada tanggal kelahiranku.
Niat yang tiba-tiba saja muncul, ingin memberikan suatu kenangan yang istimewa bagi beliau di hari istimewaku itu, karena aku merasa selama ini kuraaang sekali waktuku yang teralokasi untuk beliau yang telah bertaruh nyawa melahirkanku sekian puluh tahun lalu. Sehari-hari meninggalkan beliau sesiangan karena tugas dan hanya bertemu sore hingga malam, bahkan di akhir pekan kadang ada kegiatan juga sehingga tak selalu bisa menemani beliau di rumah. Duuh…sediih.. Maafkan aku, Mah.. 😢
Nah kebetulan tanggal lahirku tahun ini pas di akhir hari kerja, dan karena hari berikutnya kakak-kakak dan keluarga akan datang ke rumah untuk kumpul-kumpul, maka aku memutuskan mengajak ibu menginap di hotel malam sebelum kedatangan kakak-kakakku itu.
Demikianlah, Jumat 28 Pebruari 2020 lalu jadi juga aku bersama ibu staycation di salah satu hotel di Kota Pekalongan. Kenapa milih hotel di kota sendiri? Pertimbangan waktu yang terbatas membuat pilihan hotel yang dekat rumah menjadi logis, bukan? Hehe.. Selain itu, berdasarkan rekomendasi teman-teman, Hotel Horison Pekalongan adalah salah satu hotel pilihan di Kota Pekalongan lho…
Hari Ibu memang telah berlalu, tepatnya tanggal 22 Desember 2019, tepat sepekan yang lalu. Apakah kalian memperingatinya secara khusus, Sahabat Lalang Ungu? Ya, memang banyak cara kita untuk memperingati momen itu sebagai penghargaan atas jasa-jasa Ibu ataupun wanita pada umumnya ya.. Nah, demikian pula dengan kami yang ingin merajut kenangan bersama ibu kami tercinta di hari itu, salah satu nya adalah dengan mengajak beliau santai sejenak di Ndoro Glompong Kajen Pekalongan.
Apa itu Ndoro Glompong?
Saat ini sektor pariwisata memang sedang menggeliat, banyak bermunculan tempat wisata baru termasuk cafe & resto sebagai alternatif wisata kuliner, tidak hanya di kota-kota besar, namun termasuk di daerah-daerah, juga Pekalongan.
Ndoro Glompong adalah nama salah satu alternatif wisata baru di Pekalongan yang berkonsep menggabungkan antara wisata kuliner, petualangan dan olah raga sebagaimana tagline-nya ‘culinary, adventure and sport’. Di sini pengunjung dapat menikmati makan-minum di resto, bisa menginap juga indoor (guest house) maupun outdoor ( ngecamp di tenda) juga beberapa keg petualangan. Namun saat berkunjung kemarin, kami baru menikmati maksi di resto dengan konsep yang dekat dengan alam dan mengusung budaya lokal, mudah-mudahan lain kali bisa menikmati kegiatan lainnya di sini.
Berlokasi di daerah Kajen Kab Pekalongan, tepatnya di Ds Sadang, Linggoasri Kajen, sebelum Bumi Perkemahan dan lokasi outbound di tempat wisata Linggoasri yang telah lebih dahulu dikenal di Pekalongan. Dari Kota Pekalongan berjarak sekitar 30 KM dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.
Posisi Ndoro Glompong dari Kota Pekalongan
Sebelumnya kami melihat foto-foto cantik lokasi ini lalu-lalang di lini masa dan juga ada beberapa teman yang merekomendasikan tempat ini sehingga akhirnya Minggu 22 Desember 2019 lalu kami mengajak ibu untuk mlipir sejenak dari rumah, bersantai sambil makan siang di tempat ini.
Sahabat Lalang Ungu, menurut kalian adakah peran blogger dalam membangun industri pariwisata di daerahnya? Aku yakin hampir semua menjawab ‘ada‘ dan bahkan sebagian besar di antara kalian bahkan telah mengambil peran dalam upaya peningkatan pariwisata di daerah masing-masing, bukan?
Nabila -pemandu Temu Blogger Pekalongan- bersama Bu Ketua KBP Noorma FMZ
“Boleh lah..sudah lama gak makan Garang Asem nih aku”
“Ok deh..yuk cabut..”
Lalu keduanya pun berboncengan menuju kawasan Alun-alun Kota Pekalongan, langsung menuju sebuah warung makan yang malam itu tak terlalu ramai pengunjungnya.
“Garang Asem kaliyan Es Jeruk kaleh, Pak” (Garang Asem dan Es Jeruk dua , Pak),Lelaki itu langsung berkata ke bapak penjual sambil memandu temannya untuk berjalan menuju salah satu sudut meja panjang. Rupanya ia telah beberapa kali ke sana, sementara temannya yang mengekor di belakangnya baru sekali itu ke sana.
Tak lama mereka menunggu, pesanan mereka pun segera tersaji di hadapan mereka. Dua gelas Es Jeruk, dua piring nasi putih lengkap dengan megono di atasnys dan dua piring lain berisi masakan berkuah gelap dengan potongan daging, sebutir telur cokelat, potongan tomat hijau dan cabe rawit yang pating krampul (mengambang) di kuahnya.
Semacam ini penampilannya. Hayooo…apa ya..namanya??
Si Lelaki yang memesan menu tadi langsung meraih piring terdekat dan mulai menyantap, sementara teman wanitanya justru tertegun menatap hidangan itu.
“Ayuk makan…kok malah bengong..” ujar lelaki itu saat menyadari sikap temannya.
“Kok rawon, jare pesen Garang Asem?” (Kok Rawon, katanya mau pesan Garang Asem) jawab temannya sambil mengaduk-aduk makanan berkuah di depannya.
Lelaki itu pun tertawa… Ah, untung makanan di mulutnya telah ditelan sebelumnya, sehingga tak terjadi hal heboh penyemburan makanan.
Perempuan itu agak cemberut. “Apa yang lucu sih?” tuntutnya.
“Lha ya ini , Garang Asem Pekalongan,” katanya sambil menunjuk piring berisi masakan berkuah di depan mereka, “bukan Rawooon” lanjutnya kemudian.
Perempuan itu lalu menyendok kuah dan sepotong daging, lalu mencicipinya. Hm, memang rasanya tidak seperti Rawon meskipun penampilannya mirip Rawon tanpa tauge. Kuahnya lebih encer dari kuah Rawon, dan rasanya gurih-gurih asem.
Meskipun awalnya ia masih merasa agak aneh dengan masakan yang baru sekali itu disantapnya, perempuan itu akhirnya menikmati makan malamnya dengan lahap 😋