Staycation di Banyumili Garden

Hai Sahabat Lalang Ungu, apa kabar di hari-hari terakhir tahun 2024 ini? Semoga tetap sehat dan bahagia ya.. Alhamdulillah akhirnya aku bisa nulis lagi di sini sehingga rumah mayaku ini tak lagi suwung , hehe..

Sahabat, kali ini aku ingin menceritakan pengalaman kami staycation di liburan kemarin. Suatu liburan bersama yang baru sanggup kami lakukan lagi sejak kepergian almh Ibu sekitar 3 tahun lalu.

Ya, sejak kepergian beliau, kami memang belum sanggup liburan / jalan-jalan bareng sebagaimana yang biasa kami lakukan minimal setahun sekali seperti sebelumnya. Entah kenapa, rasanya malas pergi-pergi. Apalagi ke tempat-tempat yang sebelumnya banyak kenangan bersama beliau. Rasanya beraaaat banget..

Merencanakan Kumpul Keluarga di Akhir Tahun

Tapi tahun ini berbeda. Ada beberapa peristiwa yang membuatku menyadari bahwa umur manusia benar-benar rahasia Illahi. Tak ada yang tahu berapa lama waktu kita yang tersisa. Itu adalah fakta.

Memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya sambil menabung kenangan dalam kebersamaan keluarga adalah salah satu upaya yang menurutku tepat untuk menyikapi fakta itu.

Itu sebabnya, berbeda dengan 3 tahun terakhir, awal Desember tahun ini aku kembali mulai mencari-cari info tempat yang nyaman untuk staycation bersama keluarga besar, bertukar informasi sambil mencocokkan waktu melalui komunikasi di WAG keluarga, dll.

Alhamdulillah, meskipun gagal kumpul keluarga secara lengkap karena keterbatasan waktu dan juga prioritas-prioritas yang tak semua sama, akhirnya bisa juga terlaksana acara liburan bersama itu pada tanggal 25-26 Desember 2024 kemarin meski hanya diikuti sebagian keluarga Semarang dan Pekalongan.

Staycation di Banyumili Garden

Banyumili Garden – Linggoasri Pekalongan

Continue reading “Staycation di Banyumili Garden”

Santai Sejenak di Ndoro Glompong Kajen Pekalongan

Hari Ibu memang telah berlalu, tepatnya tanggal 22 Desember 2019, tepat sepekan yang lalu. Apakah kalian memperingatinya secara khusus, Sahabat Lalang Ungu? Ya, memang banyak cara kita untuk memperingati momen itu sebagai penghargaan atas jasa-jasa Ibu ataupun wanita pada umumnya ya.. Nah, demikian pula dengan kami yang ingin merajut kenangan bersama ibu kami tercinta di hari itu, salah satu nya adalah dengan mengajak beliau santai sejenak di Ndoro Glompong Kajen Pekalongan.

Apa itu Ndoro Glompong?

Saat ini sektor pariwisata memang  sedang menggeliat, banyak bermunculan tempat wisata baru termasuk cafe & resto sebagai alternatif wisata kuliner, tidak hanya di kota-kota besar, namun termasuk di daerah-daerah, juga Pekalongan.

Ndoro Glompong adalah nama salah satu alternatif wisata baru di Pekalongan yang berkonsep menggabungkan antara wisata kuliner, petualangan dan olah raga sebagaimana tagline-nya ‘culinary, adventure and sport’.  Di sini pengunjung dapat menikmati makan-minum di resto, bisa menginap juga indoor (guest house) maupun outdoor ( ngecamp di tenda)  juga beberapa keg petualangan.  Namun saat berkunjung kemarin,  kami baru menikmati maksi di resto dengan konsep yang dekat dengan alam dan mengusung budaya lokal, mudah-mudahan lain kali bisa menikmati kegiatan lainnya di sini.

Berlokasi di daerah Kajen Kab Pekalongan, tepatnya di Ds Sadang, Linggoasri Kajen, sebelum Bumi Perkemahan dan lokasi outbound di tempat wisata Linggoasri yang telah lebih dahulu dikenal di Pekalongan. Dari Kota Pekalongan berjarak sekitar 30 KM dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.

Posisi Ndoro Glompong dari Kota Pekalongan

Sebelumnya kami melihat foto-foto cantik lokasi ini lalu-lalang di lini masa dan juga ada beberapa teman yang merekomendasikan tempat ini  sehingga akhirnya Minggu 22 Desember 2019 lalu kami mengajak ibu untuk mlipir sejenak dari rumah, bersantai sambil makan siang di tempat ini.

Pengalaman kami di Ndoro Glompong

Continue reading “Santai Sejenak di Ndoro Glompong Kajen Pekalongan”

Buku Garang Asem H.Masduki : Sebuah Catatan Perjalanan Usaha Kuliner

“Makan yuuk..”

“Yuk lah.. Makan apa, enaknya ya?”

“Garang Asem, mau?”

“Boleh lah..sudah lama gak makan Garang Asem nih aku”

“Ok deh..yuk cabut..”

Lalu keduanya pun berboncengan menuju kawasan Alun-alun Kota Pekalongan, langsung menuju sebuah warung makan yang malam itu tak terlalu ramai pengunjungnya.

“Garang Asem kaliyan Es Jeruk kaleh, Pak” (Garang Asem dan Es Jeruk dua , Pak), Lelaki itu langsung berkata ke bapak penjual sambil memandu temannya untuk berjalan menuju salah satu sudut meja panjang. Rupanya ia telah beberapa kali ke sana, sementara temannya yang mengekor di belakangnya baru sekali itu ke sana.

Tak lama mereka menunggu, pesanan mereka pun segera tersaji di hadapan mereka. Dua gelas Es Jeruk, dua piring nasi putih lengkap dengan megono di atasnys dan dua piring lain berisi masakan berkuah gelap dengan potongan daging, sebutir telur cokelat, potongan tomat hijau dan cabe rawit yang pating krampul (mengambang) di kuahnya.

Garang Asem Pekalongan
Semacam ini penampilannya. Hayooo…apa ya..namanya??

Si Lelaki yang memesan menu tadi langsung meraih piring terdekat dan mulai menyantap, sementara teman wanitanya justru tertegun menatap hidangan itu.

“Ayuk makan…kok malah bengong..” ujar lelaki itu saat menyadari sikap temannya.

“Kok rawon, jare pesen Garang Asem?” (Kok Rawon, katanya mau pesan Garang Asem) jawab temannya sambil mengaduk-aduk makanan berkuah di depannya.

Lelaki itu pun tertawa… Ah, untung makanan di mulutnya telah ditelan sebelumnya, sehingga tak terjadi hal heboh penyemburan makanan.

Perempuan itu agak cemberut. “Apa yang lucu sih?” tuntutnya.

“Lha ya ini , Garang Asem Pekalongan,” katanya sambil menunjuk piring berisi masakan berkuah di depan mereka, “bukan Rawooon” lanjutnya kemudian.

Perempuan itu lalu menyendok kuah dan sepotong daging, lalu mencicipinya. Hm, memang rasanya tidak seperti Rawon meskipun penampilannya mirip Rawon tanpa tauge. Kuahnya lebih encer dari kuah Rawon, dan rasanya gurih-gurih asem.

Meskipun awalnya ia masih merasa agak aneh dengan masakan yang baru sekali itu disantapnya, perempuan itu akhirnya menikmati makan malamnya dengan lahap 😋

Continue reading “Buku Garang Asem H.Masduki : Sebuah Catatan Perjalanan Usaha Kuliner”

Ciblon di Curug Jlarang Lebakbarang

Hai sobat Lalang Ungu, apa kabar? Semoga tetap sehat dan bahagia ya… Sobat, di akhir pekan ini, sudahkah ada tujuan jalan-jalan? Jika belum ada tujuan, bagaimana bila ciblon di Clurug Jlarang Lebakbarang saja? Ciblon ( bhs Jawa : bermain air )  itu asyik sekali lho…seperti yang sudah kami rasakan di awal bulan lalu, dan yang akan kuceritakan keseruannya di tulisanku kali ini.

Bermain air di Curug Jlarang Lebakbarang
Ciblon di Curug Jlarang Lebakbarang

“Buuk, hari Sabtu besok lego nggak?”

“Belum ada acara sih, memangnya kenapa, mbak Put?”

“Itu..teman-teman mau jalan-jalan ke Curug di Lebakbarang nih, njenengan mau ikut?”

“Wah..asyik tuh.. Siapa saja yang ikut, mba?”

Itulah sepenggal chat WA di awal bulan lalu, antara aku dan salah seorang rekan kerja dari kantor lama. Ya, meskipun sudah tak lagi sekantor, alhamdulillah aku masih sering berkomunikasi dan sesekali ketemuan dengan teman-teman dari kantor lama. Apalagi kami punya hobi yang sama yaitu ngerumpi dan jalan-jalan..hehe.. Nah, rupanya teman-teman lama masih ingat dengan hobi jalanku itu, sehingga saat ada acara jalan-jalan mereka menawariku untuk ikut.

Terus, aku mau?

Yo jelaaas… 😀  Aku langsung mengiyakan ajakan itu, meskipun saat itu aku sedang di luar kota dan baru akan pulang malam sebelum acara jalan-jalan itu. Haha…dasar Si gatal kaki!

Eh, tapi…Lebakbarang itu di mana sih? Continue reading “Ciblon di Curug Jlarang Lebakbarang”

Berwisata ke Pekalongan dengan Kereta Api, kenapa tidak?

Lalang Ungu. Berwisata ke Pekalongan dengan Kereta Api, kenapa tidak? Beberapa waktu yang lalu, seorang sahabat menghubungiku melalui chat di Whatsapp.

“Assalamualaikum, mba… Minta info dong tentang tempat wisata yang dekat-dekat Stasiun. Ini anak-anak pengen naik Kereta Api, jadi pengen kuajak saja ke Pekalongan yang dekat..hehe…”

Itu pesan darinya yang mengawali  chat kami kemudian. Oya, temanku ini berdomisili di Semarang, rupanya putri-putri mungilnya ingin merasakan pengalaman naik kereta api, sehingga ibu mereka terpikir untuk mengajak kedua putrinya naik kereta api dari Semarang ke Pekalongan. Jadi yang dimaksud dengan ‘Stasiun’ dalam pesan temanku itu, adalah Stasiun Pekalongan, kota tujuan wisata mereka, yang juga merupakan kota tempat tinggalku..hehe..

Nah aku sangat setuju dengan pilihan mereka ke Pekalongan dengan kereta api ini, karena berkereta dari Semarang ke Pekalongan memang mengasyikkan. Betapa tidak, perjalanan tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 1,5 jam saja. Dengan kondisi kereta yg relatif nyaman rentang waktu 1,5 jam itu tak akan terasa lama. Semua gerbong ber-AC, tempat duduk juga nyaman meskipun belum reclining seat, kondisi gerbong pun bersih, dan asyiknya lagi setiap tempat duduk dekat dengan ‘colokan listrik‘ sehingga tidak perlu takut kehabisan baterai sambil berkomunikasi dalam perjalanan. Oya, kukasih bocoran ya… Bila naik KA Kaligung, usahakan pesan kursi no 11/12 maka kita akan dapat tempat ternyaman karena jarak antar kursi yang lebar. Lebih OK lagi kalau bisa pesan no A / D, itu berarti kita duduk di samping jendela hingga leluasa melihat pemandangan selama perjalanan… 😀

Bag dalam gerbong KA Kaligung
Kondisi gerbong KA Kaligung

Continue reading “Berwisata ke Pekalongan dengan Kereta Api, kenapa tidak?”

Mencicip Kembang Pari di Peken Batikan Pekalongan

Lalang Ungu. Mencicip Kembang Pari di Peken Batikan Pekalongan, baru saja kulakukan pagi ini. Oya, ada yang tahu apa itu “Kembang Pari”?

Meskipun kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia kedua kata itu berarti ‘bunga padi’, namun makanan yang kucicip pagi ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan bunga-bungaan, namun erat kaitannya dengan Padi, meskipun sama sekali bukan makanan yang terbuat dari bunga padi lho..hehe…

Kembang Pari, jajanan Jadul Pekalongan

Continue reading “Mencicip Kembang Pari di Peken Batikan Pekalongan”

Ngadem di Museum Batik Pekalongan

Seperti yang sudah kutuliskan di post sebelumnya, libur Lebaran selalu istimewa karena perjumpaan dengan kerabat yang lama tak bersua karena terpisah jarak, di antaranya adalah kedatangan dua orang keponakan dari Jogja yang memang sudah cukup lama tak berkunjung.

Nah, di antara waktu kunjungan mereka yang singkat, kami pun menyempatkan diri menemani mereka jalan-jalan di kota kami. Pantai adalah tujuan pertama, seperti kebiasaan mereka dulu yang selalu mengajak main air di pantai bila sedang di Pekalongan. Namun karena sekarang mereka bukan kanak-kanak lagi, acara main air di Pantaisari di-skip , sebagai gantinya hanya duduk-duduk di tepi pantai, menonton anak-anak kecil yang mandi-mandi (seperti mereka duluuu…hehe).

Tujuan berikutnya adalah Pekalongan Mangrove Park di Jl Kunti Pekalongan Utara. Di sana tidak lama karena panas yang cukup terik meskipun baru sekitar Pukul 11-an, hanya berperahu keliling area dan jalan-jalan dari ujung ke ujung area saja. Lalu ke mana lagi? Cari yang adem, begitu permintaan mereka. Maka akupun mengarahkan mereka ke Museum Batik.

Lhah…kenapa ke sana? Continue reading “Ngadem di Museum Batik Pekalongan”