LALANG UNGU

ruang ekspresi sepotong hati

Buku Garang Asem H.Masduki
Buku Garang Asem H.Masduki

Buku Garang Asem H.Masduki : Sebuah Catatan Perjalanan Usaha Kuliner

| 27 Comments

“Makan yuuk..”

“Yuk lah.. Makan apa, enaknya ya?”

“Garang Asem, mau?”

“Boleh lah..sudah lama gak makan Garang Asem nih aku”

“Ok deh..yuk cabut..”

Lalu keduanya pun berboncengan menuju kawasan Alun-alun Kota Pekalongan, langsung menuju sebuah warung makan yang malam itu tak terlalu ramai pengunjungnya.

“Garang Asem kaliyan Es Jeruk kaleh, Pak” (Garang Asem dan Es Jeruk dua , Pak), Lelaki itu langsung berkata ke bapak penjual sambil memandu temannya untuk berjalan menuju salah satu sudut meja panjang. Rupanya ia telah beberapa kali ke sana, sementara temannya yang mengekor di belakangnya baru sekali itu ke sana.

Tak lama mereka menunggu, pesanan mereka pun segera tersaji di hadapan mereka. Dua gelas Es Jeruk, dua piring nasi putih lengkap dengan megono di atasnys dan dua piring lain berisi masakan berkuah gelap dengan potongan daging, sebutir telur cokelat, potongan tomat hijau dan cabe rawit yang pating krampul (mengambang) di kuahnya.

Garang Asem Pekalongan

Semacam ini penampilannya. Hayooo…apa ya..namanya??

Si Lelaki yang memesan menu tadi langsung meraih piring terdekat dan mulai menyantap, sementara teman wanitanya justru tertegun menatap hidangan itu.

“Ayuk makan…kok malah bengong..” ujar lelaki itu saat menyadari sikap temannya.

“Kok rawon, jare pesen Garang Asem?” (Kok Rawon, katanya mau pesan Garang Asem) jawab temannya sambil mengaduk-aduk makanan berkuah di depannya.

Lelaki itu pun tertawa… Ah, untung makanan di mulutnya telah ditelan sebelumnya, sehingga tak terjadi hal heboh penyemburan makanan.

Perempuan itu agak cemberut. “Apa yang lucu sih?” tuntutnya.

“Lha ya ini , Garang Asem Pekalongan,” katanya sambil menunjuk piring berisi masakan berkuah di depan mereka, “bukan Rawooon” lanjutnya kemudian.

Perempuan itu lalu menyendok kuah dan sepotong daging, lalu mencicipinya. Hm, memang rasanya tidak seperti Rawon meskipun penampilannya mirip Rawon tanpa tauge. Kuahnya lebih encer dari kuah Rawon, dan rasanya gurih-gurih asem.

Meskipun awalnya ia masih merasa agak aneh dengan masakan yang baru sekali itu disantapnya, perempuan itu akhirnya menikmati makan malamnya dengan lahap 😋

Sahabat Lalang Ungu, kejadian dan petikan percakapan di atas itu benar-benar terjadi, tepatnya pada masa-masa awal aku menjadi warga Kota Batik, di sekitar tahun 90-an. 😀

Itu lah saat pertama aku mencicip Garang Asem Pekalongan yang ternyata amat sangat berbeda -baik rasa maupun penampilannya dengan Garang Asem yang kukenal sebelumnya, yaitu masakan berbahan ayam yang dibumbui dan dikukus dengan menggunakan daun pisang dan kuahnya nyemek alias hanya sedikit.

Ingatanku kembali melayang ke kejadian itu ketika kemarin rekan Blogger Pekalongan mengajakku untuk hadir di acara Launching Buku ‘Garang Asem H.Masduki’ buah karya penulis Taufiq Emich.

Wah, apakah pemilik usaha ini akan berbagi resep masakan andalannya, atau resep sukses usahanya? pertanyaan-pertanyaan itu muncul di benakku, mendorongku untuk mengiyakan ajakan itu.

Begitulah, Minggu 10 Nopember 2019 sekitar jam 8 pagi aku telah sampai di RM Garang Asem H.Masduki yang terletak di Jl. Jendral Sudirman No 169 Pekalongan itu. Ternyata belum banyak yang hadir tepat waktu, sehingga aku masih leluasa memilih tempat duduk di pendopo yang digunakan untuk acara launching pagi itu..hehe..

Pendopo RM Garang Asem H.Masduki Pekalongan

Pendopo tempat berlangsungnya acara

Acara pagi hingga siang hari itu ternyata cukup meriah. Dihadiri oleh Walikota Pekalongan dan juga tokoh-tokoh masyarakat Kota Pekalongan lain, juga audience perwakilan dari komunitas  di Kota Pekalongan, termasuk di antaranya Blogger Pekalongan.

Sambutan Walikota di Launching Buku Garang Asem H.Masduki

Walikota Pekalongan menyambut baik Buku Garang Asem H.Masduki ini

Diawali dengan sambutan Walikota Pekalongan yang merasa senang dengan dibuat dan diterbitkannya buku ini, dan berharap buku ini bisa menjadi salah satu sumber rujukan saat membahas mengenai Kota Pekalongan, khususnya Kuliner Kota Pekalongan dan lebih khusus lagi Garang Asem Pekalongan.

Launching Buku Garang Asem H.Masduki

Walikota Pekalongan bersama penggagas dan penulis Buku Garang Asem H.Masduki

Selanjutnya Taufiq Emich Sang penulis serta Bp H Slamet Sudiono (penerus usaha Garang Asem H Masduki) bergantian membeberkan tentang latar belakang dan proses pembuatan buku cantik ber-cover tebal (hard cover) .

Ternyata buku ini sengaja ditulis dan diterbitkan berawal dari gagasan H. Slamet sebagai upaya untuk mendokumentasikan hasil kerja keras ayahandanya (H.Masduki) dalam merintis hingga membesarkan usaha RM.Garang Asem H.Masduki ini. Sumber penulisannya adalah penuturan dari keluarga besar H.Masduki, penggalan-penggalan kenangan Bp Slamet selaku putera dan penerus usaha H.Masduki dan juga dari Bp. Syis Thamrin, adik kandung / satu-satunya saudara kandung H.Masduki yang masih ada.

Buku Garang Asem H.Masduki

Buku dan sepiring Garang Asem H.Masduki

Di dalam buku setebal 88 halaman ini memang tak akan kita dapati sebuah resep pun tentang Garang Asem Pekalongan..karena memang ini bukan buku panduan memasak..hehe.. Sebaliknya sarat dengan kisah flashback perjalanan usaha H.Masduki dan juga H.Slamet penerusnya, kisah jatuh-bangun dalam berusaha yang dapat kita ambil manfaatnya. Berikut ini salah satu kutipan dari buku ini :

Berdasarkan pengalaman berkecimpung di dunia kuliner, H. Slamet berkesimpulan bahwa ada tiga pilar penyangga, yakni : dapur sebagai ruang aktivitas produksi, warung/rumah makan sebagai ruang etalase marketing dan pelanggan sebagai apresiatif sekaligus promotor produk. Namun, tiga pilar penyangga itu mesti dihidupkan dengan suatu spirit yang oleh H.Slamet disebut sebagai insting bisnis. Dan ketajaman insting bisnis ini tak muncul secara instan, tapi berkat latihan dan tempaan yg panjang. (hal 68)

Tentang Garang Asem a la Pekalongan yang selanjutnya dikenal sebagai Garang Asem H.Masduki itu sendiri, dikisahkan mulai disajikan di warung makan H.Masduki sejak tahun 1979 (saat itu baru berupa warung kecil di area Alun-alun Kota Pekalongan), sebagai salah satu upaya mempertahankan usahanya dengan menjaring pelanggan melalui menu baru yang saat itu belum ada yang menjual.

Kenapa disebut Garang Asem?

Bu Raini -istri Pak Masduki- lah yang menyebut nama masakannya itu sebagai Garang Asem, karena dihidangkan langsung panas-panas dari panci besar yang digarang / dipanasi di atas tungku yang terus menyala, dan kuahnya yang berwarna kecoklatan (karena hanya menggunakan bumbu kluwek / kepayang seperlunya) ini bercita-rasa asam segar, berkat digunakannya potongan tomat hijau atau Belimbing Wuluh dalam resepnya (Hal 33)

Penyajiannya Garang Asem H.Masduki ini sengaja menggunakan piring dan bukannya mangkuk, agar potongan-potongan daging, tomat hijau dan juga cabe rawitnya semakin menggoda pelanggan. Hal ini sekaligus merupakan pembeda dari warung lain, salah satu upaya branding Garang Asem H.Masduki yang tanpa disadari telah dilakukan oleh H.Masduki.

Dalam kesempatan kemarin hadir juga Bp Weda Abdur Rochim, salah satu budayawan Pekalongan yang juga mengulas tentang buku ini. Bahkan pada akhir acara, khusus menyanyikan lagu baru ciptaan beliau bertajuk ‘Garang Asem H.Masduki’ sebagai bentuk supportnya terhadap salah satu ikon kuliner Pekalongan ini.

Oya, buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto tentang Pekalongan : tempat-tempat yang terkait dengan usaha kuliner ini, beberapa kuliner Pekalongan lain (Megono, Tauto, dll), juga foto-foto H.Masduki dan keluarganya. Sayangnya ada beberapa foto yang kurang bagus kualitas gambarnya (pecah) sehingga sedikit kurang nyaman dinikmati..

Acara siang itu diakhiri dengan makan bersama, tentu saja dengan menu khas Garang Asem Pekalongan, ditemani menu khas lainnya yaitu Megono, dan Tomat Pete! Hmm…nikmaaat..

Penasaran dengan cita rasa Garang Asem a la Pekalongan? Capcus mampir saja ke RM Garang Asem H.Masduki di Pekalongan ini. Menu-menu khas Pekalongan lainnya juga tersedia di sini, dan tempatnya asyiiik..bernuansa tradisional Jawa bahkan ada spot pepotoan a la jejadulan lho.. Mantab pokoknya!! Buku ini pun bisa diperoleh di RM ini, teman…

Ga bisa lihat spot pepotoan nganggur.. hehe..

Pssst, tapi hati-hati dengan menu-menu di sini yaaa… Numani alias bikin ketagihan lho! Haha.. Yuklaah, kulineran di Pekalongan…

27 Comments

  1. aduuh baca ini jd laper, masa beli rawon ya ahaha kan disini gda garang asem

  2. Inget majalah femina lama pertama kali baca menu garang asem
    Jadi pingin nyoba. Hebat ya dibukukan juga jejak2 success story nya

  3. Pekalongan kulinernya menariikk ya Mba
    Aku belum pernah ngetrip ke sana (seingatku)
    Btw, garang asem khas Pekaongan menggoda buangeett Mba
    mupeng!

  4. Hi hi, saya tahunya garang asem itu yang dibungkus dan kuahnya dikit, sempat bingung juga dengan penampakan fotonya, itu mau berkisah apa, sih? Hi hi. Tetap saja menggoda selera saya untuk pengen mencobanya suatu saat kelak jika berkesempatan ke Pekalongan. Garang asem atau rawon tetap makanan yang pengen banget saya coba di daerah asalnya.
    Ketahuan, deh, di Bandung dulu tak pernah terpikir untuk kulineran, hu hu. Sekarang di Balubur Limbangan Garut yang ada mah masakan khas Sunda maupun Padang.
    Kehadiran buku Garang Asem H. Masduki itu harus diapresiasi pelaku usaha kuliner di mana pun adanya, bisa belajar mengenai sistem survival dan manajemen usaha.

  5. deh saya ngiler liat ini, lupa diet lupa diri kalau saya sangat jauh dan saya nggak sempat mencicipi nya. wisata kuliner ada lah favoriteku. hehehe beman andak gendut akunya

  6. aish keren ada bukunya juja, aku pernah makan garang asam rasanya ga pas entah yah apa emang bukan yang ahlinya :p jadi pengen makan deh garang asam

  7. Waktu di penampungan, banyak banget teman teman dari Jawa, setiap ada yang besuk selalu ada yang bawa garang asam. Enak banget.
    Jadi keinget itu dan itu bukunya pengen juga hehehe

  8. Belum pernah coba garang asem selama di Medan ga tau juga sih ada yg jual apa nggak hihi, tapi saya jadi jadi penasaran bukunya pak H.Masduki siapa tau jadi bisa buat garang asem abis baca bukunya 🙂

  9. Dengan varian isinya jadi penasaran dnegan Garang Asem, mungkin besok harus dicoba dicari di GoFood atau GrabFood.
    Karena cara palinh mudah menjawab penasaran tentang makanan yaitu.

  10. Sama banget, mba, aku juga ngiranya garang asem bakal dibungkus daun pisang. Jujur aja aku kurang suka garang asem, kira2 kalau makan yg ini bisa suka nggak, ya, hehehehe. Btw. Mantap bgt nih langkah keluarga H. Masduki dan penulis bikin buku, saking legendarisnya ya 🙂

  11. Aku dulu ga Tau garang asem mbakz trus dikasih temenku dia masakin enak banget ternyata

  12. Duuuh, apa kabar aku yang belon pernah sama sekali makan Garang Asem jadi makin penasaran pengen nyicip nih mbaaaak.

    Mbok yah aku diajakin dan ditraktir makan Garang Asem toh mbak agar semakin luas wawasanku hahaha
    *mulai songong mintanya ditraktir terus kalo ketemu mbak Mechta mah*

  13. aku sedih soalnya ga pernah makan rawon apalagi garang asem. Tapi garang asem Pekalongan mirip soto Padang tapi kuahnya coklat . Hahaha

  14. Baru tahu ada makanan yang namanya garang asem. Ini makanan Khas Pekalogan ya Mbak? Pastinya saya belum pernah nyoba juga. Ternyata mirip rawon ya tapi gak sama. Jadi penasaran dengan rasanya Mbak.

  15. Alhamdulillah ya Mbak dibukukan. Itu ilmu banget. Kalau hanya dengan budaya tutur dari mulut ke mulut, takutnya tidak terwariskan ilmu tentang Garang Asem ini dengan baik.

  16. Baca sedikit tentang perjalanan sang pemilik jadi tambah paham mengapa garang asam begitu banyak disukai banyak orang, termasuk orangtua saya dirumah, kalo ke resto selalu cari garang asam dan bagi mereka makan garang asam tuh jadi mood booster tersendiri.. seger banget emang saat dimakan

  17. aku jadi kangen makan garang asem, sayang disini gak ada yang jual

  18. aku mau garang asemnyaa mba..pernah makan dan suka karena memang segeer dan yummy ya

  19. Baca ini jadi kangen makan garang asem. Asem2 seger enak. Biasanya sampe nambah nasi sekali lg. Haha. Sedepe pol

  20. Kangen maning aku mba menikmati endesnya kuah garam asem sama daginge yang empuknya aduhai

  21. duh agak menyesal diajak makan garang asam wktu ke pekalongan malah milih ke cafe, wkwkwk
    kapan2 kl main ke pkl lg wajib makan asam garang ahhhh

  22. lai program diet, jam 8 pagi baca postingan ini

    aku lapaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr 😀

  23. garang asem ini seger aklau dimakan siang hari, ibuku suka bikin, kalau di cirebon ada yang mirip2 naamnya empal asem

Leave a Reply

Required fields are marked *.