Langkah baru

Padamu negri… kami berjanji…

Padamu negri… kami berbakti….

Padamu negri… kami mengabdi…

Bagimu negri… jiwa raga kami….

***

Lagu nasional gubahan Kusbini yang hanya terdiri dari 4 baris lirik itu, masih sering kami nyanyikan, setidaknya sebulan sekali pada apel bersama tanggal 17.  Namun, pada Kamis pagi kemarin lagu itu terasa ‘lain’ bagiku.  Ada rasa nggregel di hatiku saat bersama-sama menyanyikan lagu itu dalam acara resmi yang melibatkan diriku saat itu.

Jika lagu Indonesia Raya dikumandangkan setiap awal acara resmi, maka Lagu Padamu Negeri merupakan lagu penutup sebuah acara resmi, seperti juga pagi itu.  Kata-kata sumpah yang baru saja kami ucapkan sebelumnya makin membuatku menghayati lagu sederhana namun bermakna dalam itu.  Betapa masih sangat sedikit yg sudah kuberikan pada negri tercinta selama ini… betapa masih buanyaaak hutangku pada tanah kelahiran ini.. 🙁 Continue reading “Langkah baru”

Seminggu kemarin…

Hai teman…. apa kabar semua????

Ih, kangen meskipun cuma semingguan gak nulis-nulis di sini.   Tugas akhir tahun yang berkolaborasi manis dengan tugas awal tahun rupanya sukses menjauhkanku dari dunia maya selama semingguan ini, hehe…

Baru saja mulai lagi BW..eh baca berita2 heboh tentang sebuah nama yg rupanya akhir2 ini ngetop karena penipuannya di dunia maya ini…  Hm, meskipun aku baru sekali nginguk blognya (dan sempat pengen pesen beberapa buku second nya), untunglah aku tak termasuk target potensial dia sehingga selamat dari modus tipu2nya itu…  BTW, trims untuk teman2 yang sudah sharing tentang itu sehingga kita bisa meningkatkan kewaspadaan selama bersilancar di dumay ini.. *halah..bahasanya, rek..*

Oya, selain (sok) sibuk dengan tugas-tugas yang kusebutkan itu, seminggu kemarin juga asyik mondar-mandir ke RS untuk periksa (alhamdulillah..hasil akhirnya tidak ada yang mengkhawatirkan..) dan 2 hari weekend kemarin full nginep di salah satu RS swasta di Semarang, menemani mbak ku yang sedang dirawat di sana. Continue reading “Seminggu kemarin…”

Jarak antara menanam dan memanen..

” Hindari budaya quick fix, berfikir jangka pendek, cepat beres dan tidak sabar. Untuk sukses ada jarak antara saat menanam dan panen, inallah maa shabirin..”

***

Itu adalah status yang tertulis di wall FB Muhammad Syafii Antonio yang kubaca kemarin, yang kurasa sangat tepat mengingat kondisi yang banyak kita temui pada saat ini, oleh karena itu ku kutip di sini untuk kujadikan catatan tersendiri.

Tak sedikit pula yang menyebut masa kini adalah masa jaya ‘Budaya Instan’ :  semua serba dicari mudahnya atau cepatnya, tidak hanya pada sarana prasarana yang melengkapi kehidupan kita, namun sampai juga ke perwujudan suatu keinginan ataupun cita-cita.

Ingin kaya, ingin sukses, ingin terkenal ….. semua ada cara instannya, begitu promosi yang seringkali kita jumpai -entah terang-terangan ataupun umpet-umpetan …  Dan sebagaimana biasanya iklan, yang dikedepankan adalah sedikitnya upaya yang dikeluarkan dan besarnya hasil yang didapatkan… Tak disinggung mengenai benar-tidaknya proses yang akan dilakukan, sesuai atau justru bertententangan dengan norma-norma yang ada, dsb.

Ada jarak antara MENANAM dan MEMANEN

Ada jarak antara menanam dan memanen.  Itu kalimat yang aku suka, menjelaskan bahwa ada proses yang harus dilalui dengan sabar. Ada upaya dan kerja keras di antara kondisi ‘tanam’ dan ‘panen’. Dan proses itupun harus dilakukan dengan benar. Bila cara menanam salah.. belum tentu kau akan panen sesuai harapan… Continue reading “Jarak antara menanam dan memanen..”

Warna-warni Si Kembang Bokor

Sudah agak lama aku penasaran dengan nama bunga cantik ini…  Pertama kali tertarik dengan keindahannya ketika jalan-jalan di Pagilaran-Batang pada th 2011 lalu…   Di halaman villa yang kami sewa saat itu banyak ditanam bunga ini dan saat itu sedang bermekaran dengan cantiknya.

Ini si cantik Hydrangea yang kujumpai di Pagilaran kala itu..
Ini si cantik Hydrangea yang kujumpai di Pagilaran kala itu..

Continue reading “Warna-warni Si Kembang Bokor”

Balada obat racikan…

Setelah berkali-kali tertunda, akhirnya hari Jumat kemarin terlaksana juga rencana untuk periksa ke RS, terlebih karena pada  hari Kamis nya rasa sakit di pinggang kananku semakin tak tertahan lagi, membuatku terpaksa izin pulang awal dan melewatkan hari di atas tempat tidur.

Jam masih menunjukkan pukul 7.15 ketika aku sampai di tempat pendaftaran RS ‘B’ namun calon pasien yang ngantri sudah memenuhi ruang tunggu, meskipun baru 45 menit kemudian pelayanan pendaftaran dimulai.  Dengan nomor antrian 058, akupun belajar bersabar menunggu giliranku dipanggil.

Alhamdulillah, ternyata itu bukan pelajaran kesabaran yang terakhir… karena setelah sampai di poli yang kutuju sesuai rujukan, pelajaran sabar Bab II dimulai… Sambil sesekali mengisi waktu dengan HP , kulihat banyak hal yang dilakukan orang-orang yang sedang menunggu : ada yang sibuk dengan HPnya, ada yg ngobrol dengan pengantar maupun sesama pasien, ada yang membaca, ada yang sibuk manyun saja di pojokan… ada pula yang bolak-balik alias wira wiri membuat pusing yang melihatnya.. Continue reading “Balada obat racikan…”

Abon Duri Ikan

Asyik nulis untuk GA ini-itu… jadi lupa mo nerusin oleh2 cerita hasil mengamati pelatihan ketrampilan kemarin itu…  Kalau sebelumnya sudah nulis tentang kulit pisang yang dibuat kerupuk, kali ini akan menulis tentang duri ikan yang dibuat abon… Oya, sebelumnya mohon maaf bila ada yang kurang jelas tentang teknik pengolahannya ya… -karena kemarin itu aku hanya sebagai pengamat dan bukan pengolah langsung- jadi sumber tulisan ini adalah handout pelatihan + penjelasan lesan instrukturnya + hasil nggoogle.. hehe.. *ngeles* mudah2an sih tetep ada manfaatnya..

Oya, waktu mendengar akan diadakannya pelatihan tentang pembuatan abon duri ikan ini, kami sempat gojegan sesama teman : wiih… begitu kreatifnya manusia ya… sampai duri ikan saja masih diupayakan pengolahannya, lha terus kucing-kucingnya dapat apa??? 😉

Tentu saja ide dasar pengolahan limbah duri ikan ini bukanlah agar manusia & kucing saling berebut makanan, hehe… melainkan untuk memaksimalkan pengolahan bagian2 dari ikan, sehingga dapat meningkatkan pendapatan keluarga dan pada akhirnya diharapkan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Ikan adalah bahan pangan yang banyak dikenal & dikonsumsi oleh masyarakat kita. Karena dapat diolah menjadi beraneka ragam masakan,  maka konsumsi ikan di masyarakat cukuplah besar namun sekaligus juga menghasilkan limbah juga antara lain berupa duri  & kepala ikan yang tidak dikonsumsi oleh masyarakat.  Bila tidak dijadikan makanan hewan (misalnya kucing), maka biasanya hanya di buang begitu saja.   Padahal berdasarkan penelitian dari Lab Biokimia FP UNDIP, duri ikan mengandung kalsium, yodium, protein dan lemak yang bisa dimanfaatkan oleh tubuh kita.  Kandungan kalsium yang tinggi ini baik untuk mengurangi osteoporosis… Continue reading “Abon Duri Ikan”

Ketika layar misteri terkuak ….

Gemuruh tepuk tangan penonton yang tadi meramaikan suasana sekitar panggung maupun jeritan & hiruk pikuk  yang sekejap kemudian menggantikannya , seolah hanya ilusi semata saat ini.  Ada sepi yang menggigit hati ketika Inspektur cantik itu memeriksa tubuh Mudhoiso – sang Cakil yang malam itu menjadi korban sebenarnya dalam pementasan berdarah itu.

Keheningan masih meraja, ketika akhirnya Inspektur Suzana mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk memeriksa nadi Mudhoiso.   ” Sudah tak tertolong lagi…” ujarnya lirih, namun seakan suara petir menggelegar di telinga perempuan muda yang duduk terpekur di ujung panggung itu.

“Ya Allah… kenapa bisa begini??” bisiknya tak kalah lirih, mungkin hanya pada diri sendiri.  Tangannya bergetar hebat, dan tanpa disadarinya airmata menganak sungai di pipi mulusnya.  Ketika memejamkan matanya, kejadian-kejadian sebelumnya tertayang ulang secara slow motion di benaknya : gerak-gerak tari yang dilakukannya berpasangan dengan Mudhoiso, gerakan – gerakan baku yang sudah berulangkali mereka lakukan sehingga mereka berdua seperti sudah otomatis dalam melakukannya…, lalu adegan terakhir itu… senyum yang harus diulasnya saat meninggalkan panggung ketika tubuh Cakil ambruk… lalu layar  yang turun perlahan diiringi gemuruh tepuk tangan penonton… kemudian jeritan teman-teman main ketika menyadari kejadian yang sebenarnya, bahwa Sang Cakil tergorok keris sungguhan dan sedang meregang nyawa…. Duuh… Rikmo Sadhepo pun tersedu…  Iapun masih tersedu ketika Inspektur Suzana menghampirinya, ditangannya ada sebilah keris luk 9 yang masih bernoda darah dan terbungkus plastik bening. saklajengipun…

Pandangan Pertama : Kala kiblatku di depan mata….

Ketika bukti keagunganNYA terpampang di ruang pandangku

aku terpana :

lidahku kelu !

Sedangkan beribu rasa ingin kuungkapkan,

bahkan beragam asa tlah kususun tuk kupintakan,

dan tentu saja ingin kutumpahkan tak terkira rasa syukurku atas nikmat yg dilimpahkanNYA padaku…

namun…. lidahku terlalu kelu….

Lalu akhirnya

hanya aliran air mata bahagia yg mewakili semuanya

Tapi aku yakin,

Sang Maha Tahu pastilah memahami semua rasaku…

***

Itulah untaian kata yang pernah kutuliskan untuk menggambarkan rasa hatiku yang campur aduk kala pandangan pertamaku pada Baitullah terjadi…  Meskipun telah berusaha menyiapkan hati sebelumnya, namun saat benar-benar berhadapan langsung dengan apa yang menjadi arah kiblatku setiap harinya…. tak terungkapkan!

baitullah2

Kesan pada pandangan pertama itu terus terpatri di hatiku, di benakku, dalam kenanganku… Meski waktu telah berlalu, masih kurasakan rasa haru mendalam itu, takjub, syukur, bahagia… dan ada yang menyekat tenggorokanku bahkan hanya dengan menuliskan kembali kenangan itu…

Maaf.., semoga Allah menjagaku dari rasa riya’, ujub dan sebangsanya… ketika menuliskan kenangan ini kembali… Namun ini adalah  “Pandangan Pertama Special Untuk Langkah Catatanku”  Semoga sukses GAnya ya Idah….

give-away-langkah-catatanku