Jangan terkecoh dengan judul tulisan ini ya… Judulnya memang menjanjikan sekali, namun mohon maaf bila isinya hanya catatan kecil ku untuk menjaga semangat yang seringkali naik turun dalam mengerjakan sesuatu.
Memulai adalah kiat pertama menuju sukses, demikian yang pernah kubaca . Dan tentu saja aku setuju akan hal itu, tanpa tindakan memulai, tak akan sampai kita pada tujuan. Ibaratnya cucian kering yg menggunung tak akan berubah menjadi tumpukan rapi terseterika hanya dengan niat kita untuk melakukannya, bukan? Persis sama dengan sebuah buku impian yang tak akan siap terbit begitu saja tanpa kita mulai menuliskan ide-ide yang bersliweran di benak… *ahay… contoh-contohnya subyektif banget..* 🙂
Namun setelah langkah pertama kita lakukan, entah itu mulai menata alas setrika atau mulai menetapkan tema tulisan, hasil akhir yang kita impikan masih jauh dari kenyataan jika kita mandeg di tengah usaha yang kita lakukan. Kenapa berhenti? karena semangat kita menguap di tengah jalan, dengan begitu banyak alasan.
Nah, itu sebabnya aku berusaha mencari kiat-kiat untuk menjaga semangat tetap menyala hingga selesai suatu kegiatan. Lalu, apakah kiat-kiat itu? Menurutku, ini beberapa diantaranya : Continue reading “Kiat menjaga semangat”
” Allah selalu memberi semua hamba-NYA, namun tak semua hamba berhasil mendapatkan, karena tak semua hati hamba-NYA terbuka untuk menerima barokah-NYA “
***
Kedua kalimat bijak itu adalah antara lain yang kami catat dari Gus Imam di sela-sela penjelasannya tentang sejarah pesantren ketika beliau berkenan mengantarkan kami menikmati Pondok Pesantren Turen beberapa waktu lalu.
Dua buah kalimat sederhana, bukan? Namun sekaligus bisa mengundang perenungan mendalam dan pertanyaan pada diri kita : sudahkah kita selalu bersyukur dan sudahkah kita mengkondisikan hati untuk senantiasa terbuka agar mudah menerima barokah-NYA?
” Hindari budaya quick fix, berfikir jangka pendek, cepat beres dan tidak sabar. Untuk sukses ada jarak antara saat menanam dan panen, inallah maa shabirin..”
***
Itu adalah status yang tertulis di wall FB Muhammad Syafii Antonio yang kubaca kemarin, yang kurasa sangat tepat mengingat kondisi yang banyak kita temui pada saat ini, oleh karena itu ku kutip di sini untuk kujadikan catatan tersendiri.
Tak sedikit pula yang menyebut masa kini adalah masa jaya ‘Budaya Instan’ : semua serba dicari mudahnya atau cepatnya, tidak hanya pada sarana prasarana yang melengkapi kehidupan kita, namun sampai juga ke perwujudan suatu keinginan ataupun cita-cita.
Ingin kaya, ingin sukses, ingin terkenal ….. semua ada cara instannya, begitu promosi yang seringkali kita jumpai -entah terang-terangan ataupun umpet-umpetan … Dan sebagaimana biasanya iklan, yang dikedepankan adalah sedikitnya upaya yang dikeluarkan dan besarnya hasil yang didapatkan… Tak disinggung mengenai benar-tidaknya proses yang akan dilakukan, sesuai atau justru bertententangan dengan norma-norma yang ada, dsb.
Ada jarak antara MENANAM dan MEMANEN
Ada jarak antara menanam dan memanen. Itu kalimat yang aku suka, menjelaskan bahwa ada proses yang harus dilalui dengan sabar. Ada upaya dan kerja keras di antara kondisi ‘tanam’ dan ‘panen’. Dan proses itupun harus dilakukan dengan benar. Bila cara menanam salah.. belum tentu kau akan panen sesuai harapan… Continue reading “Jarak antara menanam dan memanen..”
Anak yatim, mendapat perhatian yang besar di dalam Islam, terbukti dengan ditemukannya 12 surah dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang anak-anak yatim.
Dari sisi waktu hadirnya tuntunan tersebut, dapat dibedakan menjadi 2 periode yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Perlu diketahui bahwa peride Mekkah adalah periode peletakan dasar tuntunan agama dan uraian menyangkut akidah, sedangkan peride Madinah lebih banyak merupakan penerapan syariat agama.
Dalam periode Mekkah, uraian tentang anak yatim ditemukan dalam 7 Surah, yaitu : al-Fajr [89]:17, adh-Dhuha [93]:9, al-Balad [90]:15, al-An’am, al-Isra’ [17]:34, al-Kahfi [18]:82 dan al-Ma;un [107]:7 . Secara umum, tuntunan terhadap anak yatim yang turun pada periode Mekkah ini adalah tuntunan untuk memperhatikan sisi kejiwaan & akhlak mereka. Ini berarti, perhatian pertama yg perlu diberikan kepada mereka adalah memelihara mereka sehingga tidak terlantar atau terabaikan. Yang pertama dan utama adalah jangan sampai jiwa mereka terganggu sehingga mereka tumbuh berkembang membawa kompleks-kompleks kejiwaan. Kesan yang diperoleh dari tuntunan di periode ini adalah : KALAU TAK DAPAT MEMBERI BANTUAN MATERI, MAKA JANGAN BERLEPAS TANGAN, BERIKANLAH BANTUAN DALAM BENTUK NON-MATERI KEPADA MEREKA.
Selebihnya, dalam periode Madinah, tuntunan terhadap anak yatim lebih rinci. Dalam Surah an-Nisa’ [4] terdapat penekanan perlunya menjaga perasaan anak-anak yatim dan kaum lemah lainnya, tuntunan bagi wali / pengurus harta anak yatim untuk mengembangkan harta mereka yg belum mampu mengurusnya serta peringatan untuk tidak menyalahgunakan harta anak yatim yang ada dalam pemeliharaannya.
Mencermati tuntunan-tuntunan yang sudah diberikan pada kita… Mari, kita perbesar perhatian pada anak-anak yatim yang mungkin ada di sekitar kita… Selamat hari Jum’at, Sahabat… 🙂
Konon, pada suatu malam Jumat, Shalih Al-Murri hendak pergi ke masjid Jami’ untuk salat subuh. Ia melewati kuburan, lantas berkata, ” Aku akan berhenti di sini sampai terbit fajar.” Ia lalu masuk ke pemakaman itu, mengerjakan salat dua rakaat, lantas bersandar pada salah satu kuburan dan tertidur.
Dalam tidurnya ia bermimpi melihat para penghuni kubur itu keluar dari kubur mereka lalu duduk berkelompok-kelompok sambil berbincang-bincang. Namun ada seorang pemuda dengan pakaian yang kotor duduk sendirian dan tampak sedih sekali.
Tidak lama kemudian, disuguhkan talam-talam yang ditutupi dengan sapu tangan. Setelah menerima talam itu, mereka masuk lagi ke dalam kubur masing-masing, sehingga tinggal pemuda itu sendirian. Ia tidak mendapatkan talam. Dengan wajah sedih ia berdiri hendak masuk ke kuburnya, lantas Shalih Al-Murri menegurnya : selanjutnya
Abdurrahman bin Yazid meriwayatkan dari Abu Lubabah bin Abdul Mundzir bahwa Rasulullah Saw. bersabda :
“Hari Jumat adalah penghulu segala hari dan hari yang paling agung di sisi Allah. Di sisi Allah, hari itu lebih agung daripada Hari Raya Fitri dan Hari Raya Kurban. Pada hari Jumat itu ada lima peristiwa penting : pada hari itu Allah menciptakan Adam, pada hari itu Adam wafat, pada hari itu ada suatu saat mustajabah, dimana tidak ada seseorang yang memohon sesuatu melainkan Allah akan mengabulkannya selama ia tidak memohon yang haram, pada hari itu kiamat akan terjadi, dan tidak ada malaikat yang dekat dengan Tuhannya, baik yang berada di langit maupun di bumi, melainkan ia merasa sayang kepada hari Jumat.” Continue reading “Keutamaan Hari Jum'at”