LALANG UNGU

Ruang berbagi pengalaman dan manfaat

Talam yg dinanti

| 5 Comments

Konon, pada suatu malam Jumat, Shalih Al-Murri hendak pergi ke masjid Jami’ untuk salat subuh.  Ia melewati kuburan, lantas berkata, ” Aku akan berhenti di sini sampai terbit fajar.”  Ia lalu masuk ke pemakaman itu, mengerjakan salat dua rakaat, lantas bersandar pada salah satu kuburan dan tertidur.

Dalam tidurnya ia bermimpi melihat para penghuni kubur itu keluar dari kubur mereka lalu duduk berkelompok-kelompok sambil berbincang-bincang.  Namun ada seorang pemuda dengan pakaian yang kotor duduk sendirian dan tampak sedih sekali.

Tidak lama kemudian, disuguhkan talam-talam yang ditutupi dengan sapu tangan.  Setelah menerima talam itu, mereka masuk lagi ke dalam kubur masing-masing, sehingga tinggal pemuda itu sendirian.  Ia tidak mendapatkan talam.  Dengan wajah sedih ia berdiri hendak masuk ke kuburnya, lantas Shalih Al-Murri menegurnya :

“Hai hamba Allah, mengapa kamu kelihatan sedih dan apa yg dibawa oleh orang-orang itu?”

“Wahai Shalih Al-Murri, apakah kamu melihat talam?”

“Ya, lalu apakah itu?”

 Itu adalah kiriman dari orang-orang yang hidup kepada orang-orang yang mati, berupa sedekah atau doa, lalu diantar ke sini setiap malam Jumat.  Sedangkan aku berasal dari Sind.  Aku dibawa ibuku untuk menunaikan ibadah haji, namun ketika sampai di Bashrah aku meninggal dunia dan ibuku kawin lagi.  Ia tidak mengatakan kepada suaminya yg baru bahwa ia mempunyai anak.  Ia telah dilalaikan oleh harta bendanya sehingga tidak mengingat aku lagi.  Maka alangkah malang nasibku karena tidak ada orang yang mengingatku sesudah aku mati.”

Shalih Al-Murri kemudian menanyakan alamat rumah pemuda itu dan keesokan harinya, setelah selai salat subuh, ia pun mencari alamat yang disebutkan pemuda itu.  Ia berhasil bertemu dengan ibu dari pemuda itu, dan menceritakan mimpi yang dialaminya.

Lantas perempuan itu menangis hingga air matanya bercucuran di pipi, seraya berkata , ” Wahai Shalih, benar.  Ia adalah anakku yang pernah di dalam perutku, dan meminum air susuku, serta pangkuanku menjadi tempat tidurnya.”

Kemudian perempuan itu memberikan seribu dirham kepada Shalih untuk disedekahkan atas nama anaknya, dan ia berjanji tak akan pernah lalai mendoakan anaknya.  Kemudian Shalih pun pergi menyedekahkan seribu dirham itu.

Pada malam Jumat berikutnya, Shalih pergi ke kuburan itu, mengerjakan salat dua rakaat dan bersandar pada salah satu kuburan di sana lalu tertidur.  Dalam tidurnya ia melihat para penghuni kubur keluar dan pemuda itu tampak mengenakan pakaian putih bersih  dan kelihatan gembira sekali.

Pemuda itu mendekat kepada Shalih, lantas berkata, ” Wahai Shalih Al-Murri, semoga Allah membalas kebaikanmu, hadiah itu telah sampai padaku.”

Shalih bertanya kepadanya, “Apakah kamu mengetahui hari Jumat?”

Pemuda itu menjawab, “Tentu, burung-burung yang berada di angkasa mengetahuinya, dan mereka mengucapkan : Selamat untuk hari yang baik, yakni hari Jumat

***

Sebagaimana dikisahkan oleh Al-Faqih dalam ‘Keutamaan Jumat’ dalam buku Tanbihul Ghafilin – Pustaka Amani – Jakarta.

5 Comments

Leave a Reply

Required fields are marked *.