Apa Resolusimu Tahun ini, Teman?

Lalang Ungu. Hai teman… Sampai kita di akhir minggu ke-3 Januari 2018… Tetap bahagia kan yaaaa…? Iyalaah…harus itu..!

Oya, meskipun sudah lewat 3 minggu dari hari pertama di tahun 2018 ini, masih boleh kan ngomong eh nulis tentang Resolusi Tahun Baru?

Ya..jika di akhir tahun pembuatan kaleidoskop peristiwa dalam setahun itu merupakan hal yang banyak sekali kita temukan, maka di awal tahun yang menjadi tren adalah pembuatan Resolusi Tahun Baru.

Apa resolusi tahun baru-mu? Itu pertanyaan yang sering muncul di awal tahun begini. Dan ada beragam jawaban untuk pertanyaan ini.

Ada yang menjawabnya dengan lantang dan yakin, membeberkan list yang sudah dibuatnya ataupun satu dua target yang sudah dicanangkan. Dalam kelompok ini ada yang sudah siap dengan langkah-langkah / tahapan-tahapan yang akan dijalankannya untuk mewujudkan apa yang telah ditulisnya dalam list itu, ada pula yang belum tahu bagaimana mewujudkannya…sing penting wis gawe resolusi! Haha.. hayo ngakuuu…ada nggak yang seperti ini ? šŸ˜›

Ada pula yang menjawab tegas tidak mempunyai / menetapkan resolusi tahun baru, karena menurutnya itu hal yang sia-sia..lebih baik jalani saja hidup ini dengan mengalir apa adanya. Dalam kelompok ini ada yang membuat alasan tidak menetapkan target tertentu sebagai resolusi tahun baru karena tidak mau stres memikirkan apa-apa yang harus dilakukan untuk mencapai target yang telah ditetapkan dan takut lebih stres lagi bila pada akhirnya ada target -atau bahkan semua target- yang tak dapat terwujudkan di akhir tahun nanti.

Ada pula kelompok yang ragu-ragu. Entah karena merasa ‘butuh nggak butuh‘ dengan resolusi ini atau karena ikut-ikutan saja, agar tak dinilai ketinggalan zaman oleh lingkungannya tapi tak yakin akan kemampuannya merumuskan dan menjalankan langkah-langkah pencapaian target itu, juga tak mau merasa sedih atau kecewa atau bahkan stres berkepanjangan jika resolusi tak tercapai. Walhasil..masih belum memutuskan akan membuat resolusi atau tidak, sementara waktu terus berlalu dan ragu tetap membelenggu..huhuhu… Continue reading “Apa Resolusimu Tahun ini, Teman?”

Cerita di balik Blog a la Mechta

 

“Waah…dapat hadiah lagi ya, mbak?”

“Iya nih, alhamdulillah… Rezeki ngeblog, hehe… ”

“Seneng ya mbak…, bisa dapatĀ  hadiah macam-macam modalnya cuma nulis saja..”

“Hm…iya… Alhamdulillaaaah banget…”

***

Itu sekelumit percakapan yang beberapa waktu lalu kualami, dan sudah beberapa kali pula terjadi.

Ada beragam perasaan muncul di hati saat percakapan semacam itu terjadi.

Yang pertama, tentu ada rasa senang…bangga…lalu ada juga rasa jengkel.

Jengkel??

Iya benar… rasa yang satu itu muncul ketika mendengar kalimat yang kugaris bawahi itu. Ā CUMA NULIS SAJA”.

Nulis itu…tak sekedar CUMA, Oy…!!

Pengen rasanya aku teriak begitu bila ada yang menggambarkan ketrampilan menulis dengan kata CUMA atau HANYA ataupun SEKEDAR.

Ya -buatku- menulis itu tidak mudah. Sebuah proses yang tak sekedar merangkai huruf menjadi kata dilanjutkan merangkai kata menjadi kalimat bermakna. Jauh lebih dari itu. Buatku, menulis itu menceritakan apa yang kurasa, mengemukakan pendapatku, mengisahkan kembali apa yang kulihat, kudengar ataupun kualami.Ā  Memberitakan suatu hal, menuturkan langkah-langkah yang ingin kujabarkan…dll, dsb, dst…. Intinya, menurutku menulis itu bukan suatu pekerjaan yang pantas diargai hanya dengan CUMA / HANYA / SEKEDAR saja. Continue reading “Cerita di balik Blog a la Mechta”

Etika peminjaman buku

Bbrp_bukuqAda yang bilang : ” Buku itu seperti halnya berlian… tidak untuk dipinjamkan.”

Hm, apakah kau setuju dengan pernyataan itu, teman?

Kalau aku, setengah setuju.Ā  Lho…setuju kok setengah-setengah? nanggung amaat… hehe…

Maksudku, aku setuju bahwa buku sama berharganya dengan berlian.Ā Namun bukan berarti tidak untuk dipinjamkan. Sayang kan, kalau hanya numpuk saja tanpa ada yang mengetahui apalagi memanfaatkan ‘isi’nya? Mungkin -bagiku- lebih tepatnya adalah boleh dipinjamkan, dengan syarat dan ketentuan berlaku. #eh, kok jadi mirip iklan yaa? šŸ™‚

Hehe, jelasnya… kita harus pilah-pilih teman yang bisa dipinjami buku – barang berharga kita – itu. Kenapa harus demikian?

Ya, tentunya agar jangan sampai kita berniat baik … tapi berujung pada penyesalan : buku yang dipinjamkan rusak, lama kembali… atau malah tidak kembali sama sekali! šŸ™

Sedih? Ya… pastilah sedih bila hal itu terjadi.Ā  Barang yang kita sayang-sayang, dirawat dengan baik dan hati-hati, ternyata mendapat perlakuan buruk bahkan tak dapat kita temui lagi.Ā  Itu mimpi buruk tentunya!

Kok, tahu? Sudah pernah mengalami?

Sudaah… Beberapa kejadian tak mengenakkan di waktu lampau telah membuatku lebih memilih-milih teman yang akan kupinjami. Tapi…ternyata aku masih kurang hati-hati dalam memilih (mungkin karena lebih mengedepankan faktor kasihan), sehingga saat ini pun aku sedang kangen denganĀ  3 buah buku yang belum jelas nasibnya.

Sudah beberapa bulan lalu aku meminjamkannya pada seorang teman yang kala itu sedang membutuhkan bacaan perintang waktu… namun entah dia tipe ‘pembaca super duper lambat’ atauĀ  ada alasan lain yang tak kumengerti, nyatanya sampai saat ini belum satu pun dari 3 bukuku ituĀ  yang kembali.Ā  Hiks…

Menurutku, perlu ada etika khusus peminjam buku, antara lain :

  1. Menjaga keutuhan & kebersihan buku.
  2. Memperkirakan waktu membaca & menyepakati waktu peminjaman
  3. Segera mengembalikan buku pinjaman setelah selesai di baca
  4. Memberitahukan kepada pemilik bila belum selesai membaca namun waktu peminjaman yang disepakati telah lewat
  5. Please…, jangan lipat halaman.. pakai pembatas buku yaa…. ( ini tambahan dari Bu Prih )
  6. Jangan dipinjamkan lagi pada orang lain tanpa memberitahu / seizin pemilik buku (yg ini tambahan dari Mbak Nanik Nara )
  7. …..

Hm…, ada yang mau menambahkan lagi? Mangga lhoo…. šŸ™‚

***

Catatan : Oya, tulisan ini sudah tayang sebelumnya di Blog IIDN Semarang.

 

Tulisan : warisan yang tak lekang oleh waktu

Seperti teman-teman ketahui, beberapa waktu lalu aku menuliskan petikan-petikan tulisan dari alm. Mbah Kakung Kasijo -bapaknya ibu- yang beliau tulis di tahun 1935 yang menceritakan tentang masa kecil hingga masa tugas beliau sebagai guru.

Sengaja tulisan-tulisan itu kutayangkan di sini agar mudah link nya kubagi lewat status FB kuĀ  dengan tujuan mudah dibaca anggota keluarga kami yang saat ini tersebar di 4 Kota : Jogja, Semarang, Pekalongan dan Brebes (karena para ponakan itu masih asyik masyuk dg FB dan belum ada yg mau melirik Blog… hiks… ).

Tak disangka, ada banyak tanggapan positif dari teman-teman yang membaca kutipan-kutipan itu -baik di FB maupun di Blog ini- dan rata-rata menyatakan apresiasinya serta tak sedikit pula yang menyarankan agar tulisan itu dibukukan. Continue reading “Tulisan : warisan yang tak lekang oleh waktu”

Wira-wiri

Mbengi iki aku wis ana nang Jogja maneh, sakwise limang ndina wingiĀ  bali nang kuthaku.Ā  Pancen ‘diklat’ sing tak lakoni mulai tanggal 27 PebruariĀ  nganti suk tanggal 25 Juni iku, jadwale ora pada karo diklat-diklat sakjenis sing wis dianakne sakdurunge.Ā  Jenenge diklat iki ditambahi tembung ‘Pola Anyar’ ateges ora pada karo sing uwis-uwis.

Sing jelas beda karo ‘pola lawas’, yaiku ing pembagian wektune. Yen diklat ngene iki wingi-wingi wektune 3 wulan dur dilakoni ana ing Balai Diklat, saiki ora ngono.Ā  Wektu 4 sasi iku kegiatane dibagi ana ing Balai Diklat lan ana ing kantore dewe-dewe : 9 dina pisanan nang Diklat (piwulangan), 5 dina sakteruse nang kantor (golek data lan nemtoake owah-owahan sing arep dilakoni), 17 dina teruse nang Diklat maneh (sinau maneh), banjur 2 sasi nang kantor (praktek, nglakoni owah-owahan sing wis dirancang) lan terakhir nang diklat maneh (evaluasi / ujian pungkasan ) nganti penutupan.Ā  Lha.. rak kuwi jenenge wira-wiri yo? (eh.. sing bener kiĀ wira-wiriĀ  utawa riwa-riwi yo?..hehe..). Continue reading “Wira-wiri”

Miksi kuwi numani…

Alhamdulillah…. Ā 

Aku bungah, soale pirang-pirang dina kepungkur iki, tambah akeh kanca-kanca kang nggawe tulisan Ā fiksi, mbuh kuwi crita cekak, apa crita super cekak – sing jare basa mancaneĀ flash fiction iku lho… Ā 

Ana Mbak Monda sing crita tentang kacamata silihan, Mbak Irma sing crita bab donya kang beda, lan nembe wingi Mbak Ely uga nulis crita super cekak tentang si pleboi cap krupuk ( sst… ana candhake lho…) Ā lan isih akeh kanca liyane šŸ™‚

Yo mesti wae aku bungah, soale aku ki pancen karem banget maca crita-crita, dadi yen tambah akeh kanca sing gawe tulisan critaĀ fiksi ngono kui, rak berarti wacananku tambah akeh to? asyiiik…

Oya, nek miturut pengalamanku dewe, nulis crita fiksi aliasĀ miksiĀ ki numani lho… dadi, gedhe pangarep-arepku, kanca-kanca kuwi yo banjur numan nulis crita ben tambah akeh sing bisa diwaca bareng-bareng.. rak gayeng to?

Mangga lho..kanca-kanca… sinten malih sing badheĀ miksi ?Ā Kula tengga nggih….

Terjemahan :

Alhamdulillah…

Aku bahagia, karena beberapa hari terakhir ini semakin banyak teman-teman yang membuat tulisan fiksi, entah itu berupa Cerita Pendek ataupun Cerita super pendek – yang sering disebut dengan bahasa seberangĀ flash fiction itu lho..

Ada Mbak Monda yang bercerita tentangĀ kacamata pinjaman,Ā ada Mbak Irma yang bercerita tentang dunia yang berbeda, dan kemarin ini Mbak Ely menulis cerita tentang Si Pleboi Cap KerupukĀ  (sst…. akan ada lanjutannya lhoo), juga tentunya masih ada beberapa teman lainnya… šŸ™‚

Ya, tentu saja aku bahagia, karena aku kan paling suka membaca aneka cerita, jadi dengan semakin banyaknya teman yang menulis fiksi , berarti persediaan bacaanku semakin banyak.. Asyiik…

Oya, berdasarkan pengalaman pribadi, menulis cerita fiksi aliasĀ miksi itu bisa bikin ketagihan lho… jadi aku sangat berharap teman-teman itupun akan merasakan menulis fiksi sebagai candu agar semakin banyak cerita yang ditulis dan semakin banyak yang dapat kita nikmati bersama-sama. Ā Menyenangkan, bukan ?

Silahkan teman-teman… siapa lagi yang mauĀ miksi ? Tak tunggu yaa….

Jarak antara menanam dan memanen..

” Hindari budaya quick fix, berfikir jangka pendek, cepat beres dan tidak sabar. Untuk sukses ada jarak antara saat menanam dan panen, inallah maa shabirin..”

***

Itu adalah status yang tertulis di wall FB Muhammad Syafii Antonio yang kubaca kemarin, yang kurasa sangat tepat mengingat kondisi yang banyak kita temui pada saat ini, oleh karena itu ku kutip di sini untuk kujadikan catatan tersendiri.

Tak sedikit pula yang menyebut masa kini adalah masa jaya ‘Budaya Instan’ :Ā  semua serba dicari mudahnya atau cepatnya, tidak hanya pada sarana prasarana yang melengkapi kehidupan kita, namun sampai juga ke perwujudan suatu keinginan ataupun cita-cita.

Ingin kaya, ingin sukses, ingin terkenal ….. semua ada cara instannya, begitu promosi yang seringkali kita jumpai -entah terang-terangan ataupun umpet-umpetan …Ā  Dan sebagaimana biasanya iklan, yang dikedepankan adalah sedikitnya upaya yang dikeluarkan dan besarnya hasil yang didapatkan… Tak disinggung mengenai benar-tidaknya proses yang akan dilakukan, sesuai atau justru bertententangan dengan norma-norma yang ada, dsb.

Ada jarak antara MENANAM dan MEMANEN

Ada jarak antara menanam dan memanen.Ā  Itu kalimat yang aku suka, menjelaskan bahwa ada proses yang harus dilalui dengan sabar. Ada upaya dan kerja keras di antara kondisi ‘tanam’ dan ‘panen’. Dan proses itupun harus dilakukan dengan benar. Bila cara menanam salah.. belum tentu kau akan panen sesuai harapan… Continue reading “Jarak antara menanam dan memanen..”