Mitos

Aku termangu…sebal!

“Sabar,Nez… Kata orang-orang, yang kedua biasanya memang lebih sulit..” ucapan sahabatku masih terngiang..

Akhir-akhir ini aku sering mendengar kalimat itu. Aah, itu hanya mitos bukan? Tak selalu yang kedua lebih sulit dari yang pertama, bukan? Tapi…

Rasanya, dulu memang tak sesukar kini. Semua seolah mengalir begitu saja. Selaksa syukur senantiasa kupanjatkan atas semua kelancaran dan kemudahan waktu itu… Continue reading “Mitos”

[Prompt #62] Sesaat bersama lagi

sumber

“Senangnya, bisa ke sini lagi…”

“Iya, Nda… Syukurlah, akhirnya Mama mengizinkan kita merayakan ultah di sini lagi..”

Memang, menyenangkan sekali bisa kembali bersama menikmati indahnya sore di villa, apalagi di hari istimewa kami ini. Rasanya sudah lamaaa sekali kami tak duduk bertiga begini.

“Eh, Kak Win… Lihat itu mawar kesukaan Kak Ndy sedang bermekaran…” seru Winda tiba-tiba.

Rumpun mawar itu berseri seolah menyambut kebersamaan kami kembali…

“Ya, cantik dan lembut seperti Windy kita..” sahut Kak Wina lalu tersenyum sendu.

Ah, Kak Wina menyanjungku. Sebenarnya dialah yang paling lembut diantara kita bertiga. Winda manja sedangkan aku sedikit tomboy.

“Winaaa… Windaaa… Ayo pulang, hampir maghriiib..” teriakan Mama dari teras mengusik kebersamaan kami.

“Yaah…, Mama benar-benar belum mau menginap di sini lagi..” keluh Winda.

“Masih butuh waktu bagi beliau untuk kembali ke sini tanpa Windy..” jawab Kak Wina perlahan.

Mereka pun segera beranjak menuju teras…

Meninggalkanku kembali sendiri, di kesunyian villa ini.

***

150 kata untuk MFF Prompt #62 : Hey Girls!

Pilihan ketiga

Sumber

Aku bersama Nadia. Sementara ayah dan ibu berada tak jauh dari kami. Tetapi kami tak melihat keduanya. Kami hanya mendengar suara-suara mereka saling berteriak. Lalu suara itu menghilang. Tak terdengar lagi.

“Bagaimana menurutmu, Dan?” tanya Nadia pelan.

“Apanya?” tanyaku tak mengerti.

“Perpisahan. Tampaknya hal itu tak terelakkan lagi,” bisiknya parau.

Ya, aku juga menyadari hal itu, menilik semakin seringnya pertengkaran keduanya meramaikan rumah kami.

Aku menoleh dan kulihat air mata membasahi pipinya. Ah, Nadia si lembut hati. Mungkin dia yang akan terluka paling parah diantara kami berempat.

“Kau memilih siapa?” tanyaku kemudian.

“Maksudmu?”

“Mereka pasti akan memisahkan kita. Kau boleh memilih duluan, Ayah atau Ibu?”

Nadia menghapus air matanya. Lalu tiba-tiba bangkit dan duduk menghadapku.

“Dania, kenapa aku yang harus memilih duluan?” Continue reading “Pilihan ketiga”

[Berani Cerita#22] Akhir penantian itu…

“Dio sayaang…, baik-baik dengan Oma Nina ya… Nggak boleh rewel…” begitu bujuk Mama Luna sambil mengelus kepalaku dan berusaha memindahkanku dari gendongannya, ke pelukan Oma Nina.

Aku meronta tak mau lepas dari gendongannya, dan dia pun kembali memeluk dan menenangkanku. ” Cuma beberapa hari, sayaaang… Lalu mama akan menjemputmu dan kita bersama lagi,” bujuknya lembut.  Akhirnya akupun menurut, berpindah dari pelukan hangatnya ke pelukan rapuh Oma Nina.  Sekilas diciumnya kepalaku, lalu bergegas menuruni anak tangga, meninggalkanku.  Ah, aku tak tahan dengan perpisahan ini, kupalingkan wajahku dari memandangi langkahnya yang lambat karena perutnya yang mulai membuncit.  Cepat jemput aku kembali, mama…bisik hatiku.

Namun ternyata, janjinya tak kunjung nyata.  Hari berganti, minggu berlalu dan perpisahan di tangga rumah Oma Nina itu telah terhitung bulan, tanpa kehadirannya kembali.  Tiap sore aku setia duduk menantinya di anak tangga teratas teras rumah Oma Nina, dengan keyakinan penuh bahwa itu adalah sore terakhir penantianku… namun sejauh ini semua tampaknya sia-sia. Malam selalu menjelang begitu cepat dan mengakhiri penantianku, karena Oma Nina tak pernah membiarkanku menunggu di kegelapan malam.  Dengan penuh kasih ia akan mengajakku masuk rumah, sebagaimana kasihnya mengurusiku selama itu, namun dia bukan kamu, mama…

Sore ini, entah sore yang keberapa, tak sanggup lagi aku menghitungnya.  Rembang petang rupanya telah menjelang, dan dengan lesu aku menyadari, rinduku padamu belum akan tuntas malam ini.  Nanar kupandangi kelokan jalan di depan rumah, sebelum sebentar lagi Oma Nina mengajakku masuk.

Ya Tuhan! Bukankah itu kau yang berdiri di balik pagar??? Mama… kenapa kau hanya berdiri diam di situ dan tak segera menghambur memelukku? Bergegas aku bangkit dari dudukku untuk menyambutmu, namun… dua buah tangan hangat memelukku tiba-tiba.  Sambil mengangkat tubuhku ke dalam pelukannya, Oma Nina tersedu.

“Ah.. Dio, kasihan kau nak… Penantianmu sia-sia… ” begitu bisiknya lirih.

Hah, apa maksud Oma Nina? Penantianku sudah berakhir, Oma… Bukankah itu Mama Luna yang datang hendak menjemputku? Aku meronta, ingin melompat dari pelukannya, sementara pandanganku ke pagar terhalang tubuhnya.

“Dio…, Mama Luna sudah pergi, nak… Dia dan bayinya, tak berhasil bertahan…” bisik Oma Nina kembali, kali ini sambil berputar kearah pagar, lalu duduk memangkuku di ujung anak tangga itu.

Mataku nanar mencari sosok Mama Luna di balik pintu pagar.  Ya, dia masih berdiri di sana menatapku sambil tersenyum, ah… ada bayi mungil dalam gendongannya… tapi… mengapa bayangnya mengabur? Mama Luna, jangan pergi !!

Arrgh… aku tak berdaya melepaskan diri dari gendongan Oma Nina, menatap bayangan terkasih yang perlahan memudar di balik pintu pagar…. dan tangisan sedihku hanya berupa eongan tak jelas, teredam pelukan erat Oma Nina…

Note : 413 kata.