Aku termangu…sebal!
“Sabar,Nez… Kata orang-orang, yang kedua biasanya memang lebih sulit..” ucapan sahabatku masih terngiang..
Akhir-akhir ini aku sering mendengar kalimat itu. Aah, itu hanya mitos bukan? Tak selalu yang kedua lebih sulit dari yang pertama, bukan? Tapi…
Rasanya, dulu memang tak sesukar kini. Semua seolah mengalir begitu saja. Selaksa syukur senantiasa kupanjatkan atas semua kelancaran dan kemudahan waktu itu…
Masih terbayang perasaanku kala itu : betapa bahagianya…betapa bangganya… Yang pertama itu melengkapi hidupku. Ucapan selamat dari keluarga, teman dan kerabat menghangatkan hati dan serupa candu yang ingin terus kunikmati…
Maka akupun segera merencanakan yang kedua, ketiga dan selanjutnya..
Tapi, ternyata semua tak seindah rencana. Kemudahan & kelancaran bagai hal yang langka kini.
Entah kenapa, kali ini semua terasa lebih menguras energi!
Sejak penciptaan awal, terasa serba salah. Kalau tak terlalu sederhana, ya kurang istimewa.. Begini kurang pas, begitu tampak berlebihan… Dibeginikan tak alami, dibegitukan terasa mengada-ada! Aargh…menyebalkan!
Mungkinkah itu karena aku ingin yang kedua ini tak kurang dari yang pertama, setidaknya harus sama menawannya. Entahlah, itu keinginan yang wajar atau obsesi telah membelungguku?
Hari berganti bulan, yang pertama kian kesepian, karena yang kedua tak kunjung tiba.
Kenapa harus sesulit ini, sih? Aku merutuk dalam hati.
Karena kau mempersulit diri sendiri!
Hah! Aku terhenyak!
Kutoleh kesekelilingku, dan kesunyian balik menyapaku. Disekelilingku hanya ada komputer jadul, serakan buku-buku dan…buku pertamaku.
Bebaskan imajimu dari belenggu harapan ini-itu… Biarkan kata-kata menari merangkai kisahnya sendiri. Mungkin tak lebih baik dari yang pertama, tapi tiap karyamu itu unik!
Dan aku tersadar. Itulah jawaban yang ‘tlah lama kutunggu!

Ayo Mba Tanti semangat
Hahaha, bisa -bisa. Mari kita saling menyemangati untuk menulis lagi
Yuuuk… Thx suntikan semangatnya, Nyi
Wakakak saya kira juga proses melahirkan anak kedua ketiga dan keempat yang dibahas. Ternyata…
Ups..maafkaaan..
Kejebak deh, Dewi kira mau lahiran anak kedua. Hihihi… Jiwa penulis banget nih:)
Hihi..maafkaan..
Semangat untuk kembali menulis mbak, saya juga selalu bingung mau menelurkan buku yang pertama. Hehe semangat terus kita mbak.
Mari kita bersama saling semangat y mba Arda..
Semangat untuk bukunya yg kedua Mba Mechta. Yang kedua jd banyak ekspektasinya ya Mba, kalo pas yg pertama seru karena udah pecahin telor 🙂
Alhmdlh yg kedua dan ketiga sudah.. Nah, yg keempat maceeet lagi..
Ahahahah! aku tertipu… kirain ngomongin lahiran anak, ternyata brojolin buku. hihi
tap memang ya Mbak, nelurin buku tuh susah. hiks.
Susaaah..tapi insya Allah bukan mustahil kok. Hehe..
Sama kayak yg lain2..kukira ini ttg hamil dan melahirkan…asosiasinya kesana karna aku lagi hamil anak ke dua. Hahahaa…. nulis emang susah2 gampang ya mbak…
Semoga lancaaaar utk kelahiran nanti u mbaa..
Setuju. Yang bikin writer block itu karena merasa ide kita sudah pernah dituliskan ya. Ah, jadi pengen nulis fiksi lagi nih.
Akupun sudah lamaaaaa mandeg ngefiksi..hihi..