[FF Cinta Pertama] Cinta Monyet

“Niaaar…, sdh jadi beluuum?” suara centil Tia menyambutku pagi itu.

Kelas masih sepi, tumben dia datang pagi-pagi begini.

“Apanya?” sahutku pura-pura tak tahu.

“Halaaah…, suka gitu deh..” dengan lincah dia duduk di sebelahku, lalu meletakkan sebatang coklat kegemaranku di atas meja, ” niih.. sudah kubawakan untukmu.”

Aku pun tertawa, memasukkan coklat itu ke dalam tas dan segera mengangsurkan selembar kertas padanya.

Sekilas dia membacanya, lalu senyum manis terulas di bibirnya, ” Makasih, Niar. Kau memang jago merangkai kata.  Aku yakin Ardi akan klepek-klepek membaca puisi ini.”

Aku hanya tersenyum mendengar pujian yang sudah sering kudengar, khususnya dari teman-teman  sekelas yang memintaku menuliskan puisi untuk dikirimkan pada cowok / cewek gebetan mereka.  Sudah cukup banyak coklat atau kue-kue yang kubawa pulang sebagai barter puisi-puisi pesanan itu. Lumayaan.. hehe..

Sebenarnya, aku geli dengan kelakuan teman-temanku itu.  Belum lagi lulus SD sudah naksir-naksiran dengan teman sekelas ataupun tetangga kelas. Mendingan juga belajar dengan rajin agar  bisa mengerjakan ujian nanti dengan baik, begitu pikirku kala itu. Continue reading “[FF Cinta Pertama] Cinta Monyet”

[Berani Cerita#22] Akhir penantian itu…

“Dio sayaang…, baik-baik dengan Oma Nina ya… Nggak boleh rewel…” begitu bujuk Mama Luna sambil mengelus kepalaku dan berusaha memindahkanku dari gendongannya, ke pelukan Oma Nina.

Aku meronta tak mau lepas dari gendongannya, dan dia pun kembali memeluk dan menenangkanku. ” Cuma beberapa hari, sayaaang… Lalu mama akan menjemputmu dan kita bersama lagi,” bujuknya lembut.  Akhirnya akupun menurut, berpindah dari pelukan hangatnya ke pelukan rapuh Oma Nina.  Sekilas diciumnya kepalaku, lalu bergegas menuruni anak tangga, meninggalkanku.  Ah, aku tak tahan dengan perpisahan ini, kupalingkan wajahku dari memandangi langkahnya yang lambat karena perutnya yang mulai membuncit.  Cepat jemput aku kembali, mama…bisik hatiku.

Namun ternyata, janjinya tak kunjung nyata.  Hari berganti, minggu berlalu dan perpisahan di tangga rumah Oma Nina itu telah terhitung bulan, tanpa kehadirannya kembali.  Tiap sore aku setia duduk menantinya di anak tangga teratas teras rumah Oma Nina, dengan keyakinan penuh bahwa itu adalah sore terakhir penantianku… namun sejauh ini semua tampaknya sia-sia. Malam selalu menjelang begitu cepat dan mengakhiri penantianku, karena Oma Nina tak pernah membiarkanku menunggu di kegelapan malam.  Dengan penuh kasih ia akan mengajakku masuk rumah, sebagaimana kasihnya mengurusiku selama itu, namun dia bukan kamu, mama…

Sore ini, entah sore yang keberapa, tak sanggup lagi aku menghitungnya.  Rembang petang rupanya telah menjelang, dan dengan lesu aku menyadari, rinduku padamu belum akan tuntas malam ini.  Nanar kupandangi kelokan jalan di depan rumah, sebelum sebentar lagi Oma Nina mengajakku masuk.

Ya Tuhan! Bukankah itu kau yang berdiri di balik pagar??? Mama… kenapa kau hanya berdiri diam di situ dan tak segera menghambur memelukku? Bergegas aku bangkit dari dudukku untuk menyambutmu, namun… dua buah tangan hangat memelukku tiba-tiba.  Sambil mengangkat tubuhku ke dalam pelukannya, Oma Nina tersedu.

“Ah.. Dio, kasihan kau nak… Penantianmu sia-sia… ” begitu bisiknya lirih.

Hah, apa maksud Oma Nina? Penantianku sudah berakhir, Oma… Bukankah itu Mama Luna yang datang hendak menjemputku? Aku meronta, ingin melompat dari pelukannya, sementara pandanganku ke pagar terhalang tubuhnya.

“Dio…, Mama Luna sudah pergi, nak… Dia dan bayinya, tak berhasil bertahan…” bisik Oma Nina kembali, kali ini sambil berputar kearah pagar, lalu duduk memangkuku di ujung anak tangga itu.

Mataku nanar mencari sosok Mama Luna di balik pintu pagar.  Ya, dia masih berdiri di sana menatapku sambil tersenyum, ah… ada bayi mungil dalam gendongannya… tapi… mengapa bayangnya mengabur? Mama Luna, jangan pergi !!

Arrgh… aku tak berdaya melepaskan diri dari gendongan Oma Nina, menatap bayangan terkasih yang perlahan memudar di balik pintu pagar…. dan tangisan sedihku hanya berupa eongan tak jelas, teredam pelukan erat Oma Nina…

Note : 413 kata.

Miscall dari Eyang

“Wiin, Eyang gimana?”

“Belum tahu, Kak…”

Wina adalah yang ke 5 kutanya tentang Eyang yang miscall sejak pagi, tapi tak menjawab telepon ataupun  sms dari kami.

Akhirnya siang ini aku ke rumah Eyang, menggenapi keluarga kami yang telah berkumpul di sana.

“Eyaang… Eyang sehat kan?” seruku sambil menghambur kepelukannya.

Eyang tersenyum manis, dan menjawab dengan riang, “Alhamdulillah… Sehat nduk..  Eyang cuma kangen kalian kok…”

[BeraniCerita#12] Hadiah dari Bunda

Setelah beberapa kali menekan remote  untuk mengganti-ganti saluran TV dan tak menemukan acara yang diminatinya, akhirnya Putri memutuskan untuk mematikan saja TV itu.  Lalu dia menghampiri tempat tidur besar di sudut kamarnya dan menghempaskan diri di kasur empuk itu.

Dia tersenyum puas ketika melayangkan pandangnya menikmati kamar luas itu.  Sudah lebih setahun dia menempati kamar indah itu, sejak Bunda menerima pinangan Oom Doni, duda kaya yang sekarang dipanggilnya Ayah.  Lebih dua belas bulan telah berlalu namun tak juga berkurang rasa gembiranya menikmati kemewahan yang sekarang melimpahinya, dunia gemerlap yang tak disangka-sangka menggantikan kehidupan sederhana yang dulu dimilikinya berdua ibunya.

Putri memiringkan badannya, meraih Teddy Bear besar berbulu lembut yang menjadi hadiah dari ayah barunya setahun lalu.  Seulas senyum kembali terukir di bibirnya.  Esok adalah ulang tahunnya yang ke 14, dan ia yakin akan mendapat hadiah-hadiah indah lainnya dari orang-tuanya.  Dan akhirnya Putri pun terlelap, masih dengan senyum yang terukir di bibirnya.

***

Pesta meriah itu telah usai dan teman-temannya telah meninggalkan rumahnya.  Putri tak sabar membuka bungkusan-bungkusan kadonya.  Senang hatinya melihat satu demi satu hadiah yang diterimanya.  Ah, setahun lalu, hanya ada tiga bungkusan hadiah yang diterimanya.  Satu boneka beruang dari ayah barunya, satu lagi tas sekolah cantik dari ibunya, dan satu tempat pinsil dari Tuti, teman sebangkunya dulu. Ya, dulu, karena sudah lama ia tak lagi sebangku dengan Tuti bahkan  malam inipun Tuti tak diundangnya.

Yah, tahun lalu -kecuali Tuti- tak ada teman-teman yang mengucapkan selamat padanya, apalagi memberikan kado untuknya.  Tahun lalu, ia hanyalah Putri -gadis sederhana yang tak diperhitungkan teman-temannya.  Namun kini? Ah…lihat saja kado-kado bertumpuk itu…  Dunia gemerlapnya membawa teman-teman baru, seolah madu yang menghadirkan kumbang-kumbang 🙂

Kado terakhir yang belum dibukanya, berbungkus kertas indah seperti kado-kado sebelumnya.  Putri menoleh kepada ibunya ketika meraih kado itu.  Dilihatnya ada senyum di bibir ibunya, yang berdiri bersisian dengan ayahnya.  Kado itu terasa ringan ketika ditimangnya… apakah isinya? Apakah ponsel baru seperti yang sedang diinginkannya? Tergesa ia membuka kado itu, dan tertegun ketika melihat isinya. Continue reading “[BeraniCerita#12] Hadiah dari Bunda”

[Berani Cerita #11] Kembalinya Cincin Ibu

“Buuk… Sri pergi dulu yaa… Assalamualaikuum ”

“Waalaikumsalam. Lho Sri, mau kemana lagi? Kan baru pulang?” ibu menyahut dari belakang rumah, tapi tak ada jawaban dari Sri. Rupanya anak itu langsung  pergi lagi.  Hm… wanita paruh baya itu menarik nafas panjang sebelum meneruskan kesibukannya mencuci.  Ada apa dengan anak gadisnya itu? Akhir-akhir ini selalu saja pergi sepulang sekolah hingga malam hari.  Malam ini, aku harus tahu kemana saja Sri selama ini, tekadnya dalam hati.

Rasa gelisah terus hinggap di hatinya saat duduk menunggu di amben sambil memilah-milah baju-baju yang sudah diseterikanya, dikelompok-kelompokkan sesuai pemiliknya. Ia teringat berita TV yang ditontonnya sore kemarin di rumah Bu Sardi.  Ah.. miris hatinya mengetahui berita kekerasan yang korbannya gadis seusia Sri. Atau juga cerita Yu Ginah tentang penangkapan gadis-gadis yang katanya bekerja di warung remang-remang… Duh Gusti… Bagaimana kalau Sri mengalami hal itu? Pikiran buruk itu melintas. Ya Allah…lindungilah selalu anak hamba…doanya untuk keselamatan buah hatinya itu.

“Assalamualaikum… ” Sri masuk rumah dengan wajah tampak lelah.

“Waalaikumsalam…. Dari mana saja to, nduk ?”

“Dari… rumah Santi, buk..” jawab Sri pelan sambil membantu ibunya menata baju-baju pelanggan ibunya.

“Tiap hari? Ah, ojo ngapusi ta nduk…

“Buk, maafkan Sri ya buuk..” tiba-tiba Sri merangkul ibunya sambil menangis.

Hati perempuan paruh baya itupun tersentak Ya Allah… ada apa dengan anak semata wayangnya ini? Berbagai pikiran buruk kembali memenuhi benaknya.

“Ada apa, nduk ? apa yang sudah kau lakukan?”

Sri melepas pelukannya dan perlahan mencium tangan ibunya, tepat di atas tanda yang melingkari jari manis kanan ibunya.

“Sri membuat ibu harus melepaskan cincin peninggalan Bapak..”

“Oalaah nduuk… Cuma karena itu to? Ndak papa , kapan-kapan kalau ada rejeki bisa kita tebus.  Yang penting, ujianmu kemarin lancar to?”

“Alhamdulillah bu, sudah selesai.  Dan, sepuluh hari ini aku tiap sore bantu-bantu Bulik Tri jaga toko bu… kadang-kadang bantu masak di katering ibunya Santi. Lumayan bu, ini hasilnya…”

Sri menyerahkan bungkusan saputangan ke tangan ibunya.  Perlahan sang ibu membuka saputangan itu dan air matanya mengalir melihat cincin kawin yang sempat digadaikannya untuk biaya yang harus dilunasi sebelum Sri bisa ikut ujian akhir di SMAnya.

“Alhamdulillah…. Duh Gustiiii…maturnuwun sanget…” rasa lega dan syukur memenuhi hati perempuan paruh baya itu. Bukan karena cincinnya telah tertebus, tapi lebih karena keselamatan Sri- kekayaannya yang tak ternilai…

Note : 370 kata.

[Berani Cerita#08] Main Stempel

“Iiih… nggak serapi punya mamah! Susah amat ya..”

“Iya Kak, susyah… “

“Hehe… ikut-ikutan saja ah, Adek ni…”

“Iya…ikutan aja…”

Dan mereka berdua tergelak.

“Ambilkan kakak tisu, Dek… Kita hapus dulu yang ini “

Adek berlari keluar kamar, lalu kembali dengan segulung tisu dan menyerahkan ke si kakak.

“Ah, Adek memang pinter… Nanti, kakak bilang ke Mamah kalau Adek makin pinter.  Mau?”

Si adek mengangguk dan tersenyum bangga.  “Main stempel lagi, Kak!”, serunya kemudian.

Si kakak masih sibuk mengelap dengan tisu.  Lalu mengamati hasilnya, dan mengangguk dengan bangga.

“Naa… sudah bersih.  Kakak coba lagi, ya?”

Si adek kembali mengangguk dengan semangat dan memperhatikan tingkah kakaknya.

“Kakaaak… Adeeek… Kalian di manaaa?”

Si Kakak baru saja mengatupkan bibirnya di pinggir cangkir melamin putih yang kosong itu, ketika tiba-tiba terdengar suara ibu mereka dari arah belakang rumah.  Lalu langkahnya terdengar mendekati kamar itu.

“Aduuh… Cepat amat si mamah selesai jemur bajunya pagi ini..” gerutu si kakak.

Buru-buru si kakak meletakkan cangkir itu pada tatakannya di atas meja rias, lalu menutup mulut dengan kedua tangannya. Dan tentu saja adiknya segera menirukan tingkah kakaknya.  Keduanya berdiri tegang menghadap pintu kamar yang terbuka.

“Lho…, pada ngapain sih di kamar mamah?” si ibu masuk sambil mengerutkan keningnya.

Lalu dilihatnya cangkir putih bernoda lipstik pink  itu dan kedua anaknya yang menutup mulut dengan tangan. Continue reading “[Berani Cerita#08] Main Stempel”

#5. Akhir sebuah kasus

Yang belum baca cerita sebelumnya, silahkan cek di lapak tetangga ya … ***

Hari berganti namun penyelidikan yang terus dilakukan belum menunjukkan hasil yang berarti.  Seluruh sudut TKP telah diperiksa dengan teliti, semua karyawan cafe yang bekerja di sore yang naas itu telah diinterogasi.  Namun belum ada titik terang tentang kematian Rangga Aditya alias Radit, mantan aktor yang menjadi penulis sekaligus pengusaha cafe itu.

AKBP Eksak Sindhunata kembali menghirup kopi hitam nan kental dari cangkir di hadapannya.  Tandas.  Entah itu cangkir kopi ke berapa yang sudah diminumnya malam ini.  Berkas-berkas dan foto-foto tentang kasus itu berserakan memenuhi mejanya, termasuk selembar kertas bertuliskan sederet angka yang (sekilas) tampak tak beraturan.  Itu adalah kode sandi Franklin’s Magic Square yang dicoretkan Dea di cafe beberapa hari lalu, ketika memecahkan kode huruf yang ada di laptop korban dan ternyata menghasilkan satu nama : KIRANA.

Tapi…. siapa pula sang empunya nama itu? seberapa penting dia dalam hidup Rangga hingga ia merasa perlu menuliskan dalam bentuk kode-kode seperti itu?  Sejauh ini belum satu orang pun yang berkaitan dengan kasus itu, yang bernama Kirana.  Tidak karyawan cafe, tidak teman-teman dekat korban, atau mungkin pelanggan cafe? tiba-tiba pikiran itu terlintas di benaknya.  Ah.. tapi bagaimana bisa mendata pelanggan cafe? Mereka datang-pergi tak terdaftar… eh, emangnya perpustakaan, punya daftar pengunjung? bantahnya sendiri dalam hati.. Continue reading “#5. Akhir sebuah kasus”

#3. Dan sore itu pun berlalu, menyisakan sendu..

Bagian pertama bisa (Suatu sore di sebuah cafe), trus dilanjutin blog x3onfire..

***

Hari ini Dea mendapat izin untuk tidak masuk kerja.  Untunglah, si Boss berbaik hati memaklumi kondisi psikisnya yang tak karuan setelah peristiwa tak terduga sore kemarin.  Menjadi saksi dalam sebuah kasus kematian membuatnya harus menjalani serangkaian pemeriksaan di kantor polisi kemarin.  Hm, untung saja bukan Sang Kepala Polisi sendiri yang memeriksanya, sehingga ia bisa bernafas lega, tak terganggu kenangan lalu.  Potongan-potongan interogasi itu masih diingatnya.

“Sebutkan nama saudari..”

“Dearesta Anindya “

“Pekerjaan?”

“Karyawati..” jawabnya sambil membuka dompet menyerahkan kartu namanya. Polwan itu menerimanya dan setelah mencatat pekerjaan & kantornya, mengembalikan lagi kartu itu.

“Nona Dearesta…, apa hubungan anda dengan Saudara Rangga?”

“Maaf bu… panggil saja Dea.  Rangga siapa maksud ibu?”

“Korban itu, anda tidak tahu siapa dia?”

Dea menggeleng tegas, “Saya baru melihatnya beberapa kali di cafe itu, kami bahkan belum pernah bertukar sapa..” Hm jadi, lelaki berkaca-mata hitam itu bernama Rangga ….

Masih banyak pertanyaan lagi seputar kehadiran Dea di cafe sore itu, sebelum akhirnya Dea diperkenankan pulang dengan catatan siap dipanggil bila sewaktu-waktu diperlukan keterangan lain darinya.

Sesampainya di kamar kost, ia langsung mencari berita tentang peristiwa itu, dan ternyata cukup mudah!  Peristiwa meninggalnya Rangga Aditya Permana sudah dilansir di media.  Ternyata laki-laki berkaca-mata hitam itu tak lain adalah mantan aktor laga yang dikenal umum sebagai Radit Permana.  Dia cukup terkenal sebelum akhirnya mengundurkan diri dari dunia akting setelah sebuah kecelakaan saat shooting menciderai salah satu matanya.

Ah.. pantas saja aku merasa mengenalnya, batin Dea. Meskipun bukan pecinta film -apalagi film laga- namun saat masih aktif Radit tak hanya membintangi film-film laga namun juga menjadi bintang iklan banyak produk, sehingga wajah itu tampak familier baginya.  Setelah sembuh dari kecelakaan itu Rangga alias Radit seolah menghilang.  Baru kini Dea tahu setelah membaca berita-berita tadi malam, bahwa bintang laga itu kemudian ‘banting stir’ menjadi penulis dan pemilik dari beberapa cafe , salah satunya adalah cafe tempatnya meninggal kemarin sore.

Tapi… kalau memang meninggalnya mantan aktor itu akibat pembunuhan, apa motif pembunuhan itu?  Siapa yang memusuhinya? Lalu kode-kode di laptop Rangga itu…. apa maksudnya? Apakah Rangga sebenarnya bukan hanya berprofesi sebagai penulis & pengusaha cafe???  Ah… entahlah! Itu tugas para polisi itu untuk mengungkapkan misteri kematian Rangga! begitu pikir Dea pada akhirnya, setelah judeg memikirkan kejadian sore itu.

Kejadian lain yang juga membuat tidurnya tak nyenyak semalam adalah pertemuan kembali dengan lelaki dari masa lalunya : Sang AKBP yang melempar pandangan sinis padanya kemarin.  Ah.. sudah berapa tahun kami tidak bertemu? Masa-masa awal kuliah rasanya sudah sangat lama berlalu, masa-masa ketika lelaki itu masih memandang dan memperlakukannya dengan lembut,  jauh berbeda dari pandangan sinis yang diterimanya sore kemarin.

Beberapa minggu setelah sebuah peristiwa yang menyakitkan bagi mereka berdua, didengarnya lelaki itu pindah tugas ke luar daerah, dan setelah itu tak pernah ada komunikasi apapun diantara mereka, hingga sore kemarin! Duuh Gusti… kenapa harus bertemu dia lagi???

Nyanyikan lagu indah/ sebelum ku pergi dan mungkin tak kembali/ nyanyikan lagu indah/ tuk melepas ku pergi/ dan tak kembali…

Suara ringtone HPnya membuyarkan lamunan Dea, kembali ke masa kini…

“Beb… kamu dimana? susah amat dihubungi dari semalem… Lalu, kenapa namamu disebut-sebut di banyak berita pagi ini??”  pertanyaan bernada tinggi langsung menyerang telinganya…

Hadeeeh!! Pusiiing…. 🙁

***

Mudah-mudahan, teman-teman nggak ikutan pusing ya….  Hm, memang belum terjawab semua pertanyaan, namun setidaknya identitas lelaki berkaca-mata hitam itu sudah terkuak.  Kelanjutannya? Yuuk…kita tanyakan pada Sang AKBP  yang terhormat!  haha… atau ada teman-teman yang mau ikut berpartisipasi? Silahkan lhoooo… 🙂  

[BeraniCerita#06] Akhir sebuah pelarian

Tak perlu waktu lama, Rino akhirnya sampai di rumah bergaya Jawa kuno yang cukup besar. Halamannya luas dengan beberapa pohon beringin. Tampaknya rumah ini adalah rumah turun-temurun.

Tok, tok! Rino mengetuk pintu.

Tak lama pintu dibuka. Rino terkejut melihat sosok yang berada di hadapannya.

***

Rino bergegas berbalik, namun tangan halus itu kuat memegangi lengannya..

“Aku sudah lama menunggumu di sini.  Rumah nenek yg penuh kenangan ini, pasti menjadi tujuan akhir pelarianmu…”

Rino tetap diam, namun diapun mengurungkan niatnya untuk lari.

“Rino… masuklah, ada banyak hal yang ingin kujelaskan…”

“Tak ada lagi yang ingin kudengar.  Kau telah memilihnya, maka tak perlu ada aku lagi di hidupmu!”

“Kenapa tidak?”

“Karena aku tak mau menjadi benalu dalam hidup kalian!”

“Benalu? Dalam 15 tahun kebersamaan kita, kau adalah yang terpenting bagiku! Kau, satu-satunya! Siapa yg berani mengatakan kau adalah benalu dalam hidupku?” suara penuh emosi wanita itu menyentak hati Rino.

Perlahan ditatapnya wajah cantik yang sangat dicintainya itu…, ada yg tercekat di hatinya menyaksikan bulir-bulir air mata membasahi pipi pucat nan tirus itu….

Baru kemarin aku meninggalkanmu namun rasanya sudah sangat lama waktu berlalu, bisik hatinya.  Ada luka di mata indah itu, aku kah yang menorehkannya, ibu?

“Nak… jangan pernah meragukan cinta ibu.  Tadinya aku memang sedang mempertimbangkan pinangannya, namun bila itu menyakiti hatimu, membuatmu pergi dari hidupku, maka untuk apa kuterima?  Kau hanya perlu mengatakan ketaksetujuanmu, tidak harus pergi tanpa pamit seperti ini…”

Rino masih terdiam, diingatnya rasa takut yang membuatnya nekad kabur kemarin.  Kabar bahwa ibu akan segera menikah dengan Oom Randi!

“Kenapa kau membencinya, Rino?”

“Aku tak pernah membencinya..” jawab Rino lirih, “…tapi aku takut bernasib seperti Rudi..”

Perlahan wanita cantik itu mendekati Rino lalu memeluknya erat.  Air mata tertumpah membasahi rambut lelaki kecil kesayangannya.  Ia tahu kisah hidup Rudi -teman Rino- yang kurang beruntung mendapatkan ayah tiri yang cengkiling .  Tapi ia cukup mengenal Randi – sahabat lama almarhum suaminya- yang ia yakin tak akan bertabiat seperti itu.

“Aku tak berani menjanjikan yang muluk-muluk, Nak… Namun aku ingin kamu mau mengenalnya lebih dekat.  Jika pada akhirnya nanti apa yang kau putuskan tetap sama,  maka aku tetap akan menghormati keputusanmu itu…”

Mereka berpelukan lama, tak menyadari sepasang mata tua yang basah menatap dari dalam rumah tua itu.  Namun, ada senyum di bibir keriput Mbah Citro, menyaksikan cucu dan menantu kesayangannya kembali berdamai…

***

Notes : 385 kata.  Cengkiling  (Bhs Jawa = ringan tangan / suka memukul )

[Berani Cerita#05] Deja vu (?)

Sepertinya suasana malam ini tidak begitu bersahabat bagi Riana. Angin yang dingin membuat dia memaki dirinya sendiri kenapa lupa membawa jaketnya yang tertinggal di mobil. Lorong yang tidak terlalu terang karena beberapa lampu mulai dimatikan. Dan kenapa tidak ada orang bersliweran? Padahal masih jam 8 malam.

 “Nah, sebentar lagi sudah sampai di kamar Sinta.” Riana mencoba menghibur diri sendiri karena dirinya masih merinding. Cepat-cepat langkahnya diayun, sampai akhirnya dia berhenti tiba-tiba saat melihat sebuah tempat tidur dorong melaju cepat ke arahnya.

Continue reading “[Berani Cerita#05] Deja vu (?)”