Maafkan aku, Mama…

Brak!!

Suara daun pintu terbanting yang terdengar hingga ke teras rumah, membuat Bu Winda mengerutkan kening, lalu menghela nafas panjang.

Ngambeg lagi ya, Bu ?” Tanya Bi Inah ketika membukakan pintu.

Bu Winda mengangguk sambil masuk rumah. Diletakkannya tas tangan di kursi tamu, lalu diliriknya sekilas kamar Dani –anak bungsunya- yang tertutup rapat.

Continue reading “Maafkan aku, Mama…”

Antara Dea, Dodi dan sebuah nama

Beberapa waktu lalu, membuka-buka arsip lama & menemukan cerita berseri ini :

#1. Suatu sore di sebuah cafe

#2. Sore itu menjadi tak terduga

#3. Dan sore itu pun berlalu menyisakan sendu

#4. Back to the cafe, breaking the code

#5. Akhir sebuah kasus

Satu kasus memang sudah selesai, namun masih ada ‘kasus’ lain yang belum tuntas, bukan? Inginnya, kisah berikut ini menjadi pembuka kisah-kisah selanjutnya… 🙂

****

Dea masih asyik dengan bacaannya di cafe langganannya sore itu, ketika tiba-tiba nada detik terakhir-nya Lyla terdengar.  Sekilas diliriknya layar HP dan ketika melihat identitas penelpon yang sama yang telah berkali-kali menelponnya seharian itu, ia pun kembali asyik dengan bacaannya.

Dia masih saja asyik begitu ketika beberapa waktu kemudian suara detak sepatu di lantai keramik terdengar teratur menuju ke arahnya, dan sejurus kemudian sebuah tepukan lembut singgah di bahunya.

“Hai, Re… Kamu terlambat seperti biasanya,” sapanya pada karibnya yang memasang senyum tak bersalah di sebelahnya itu.

“Maaf, De… Pak Bos rewel betul hari ini, jadi tak bisa langsung kutinggalkan kantor begitu saja..” sahut Rere sambil menarik dan menduduki salah satu kursi di meja itu.

“Oya, Dodi berkali-kali menelponku… Masih belum mau menerima telpon darinya ya?” tanya Rere langsung dengan nada menyelidik.

Dea menghela nafas panjang, menutup novel yang dibacanya, lalu menyipitkan mata ke arah sahabatnya itu. Continue reading “Antara Dea, Dodi dan sebuah nama”

Mitos

Aku termangu…sebal!

“Sabar,Nez… Kata orang-orang, yang kedua biasanya memang lebih sulit..” ucapan sahabatku masih terngiang..

Akhir-akhir ini aku sering mendengar kalimat itu. Aah, itu hanya mitos bukan? Tak selalu yang kedua lebih sulit dari yang pertama, bukan? Tapi…

Rasanya, dulu memang tak sesukar kini. Semua seolah mengalir begitu saja. Selaksa syukur senantiasa kupanjatkan atas semua kelancaran dan kemudahan waktu itu… Continue reading “Mitos”

[Prompt #62] Sesaat bersama lagi

sumber

“Senangnya, bisa ke sini lagi…”

“Iya, Nda… Syukurlah, akhirnya Mama mengizinkan kita merayakan ultah di sini lagi..”

Memang, menyenangkan sekali bisa kembali bersama menikmati indahnya sore di villa, apalagi di hari istimewa kami ini. Rasanya sudah lamaaa sekali kami tak duduk bertiga begini.

“Eh, Kak Win… Lihat itu mawar kesukaan Kak Ndy sedang bermekaran…” seru Winda tiba-tiba.

Rumpun mawar itu berseri seolah menyambut kebersamaan kami kembali…

“Ya, cantik dan lembut seperti Windy kita..” sahut Kak Wina lalu tersenyum sendu.

Ah, Kak Wina menyanjungku. Sebenarnya dialah yang paling lembut diantara kita bertiga. Winda manja sedangkan aku sedikit tomboy.

“Winaaa… Windaaa… Ayo pulang, hampir maghriiib..” teriakan Mama dari teras mengusik kebersamaan kami.

“Yaah…, Mama benar-benar belum mau menginap di sini lagi..” keluh Winda.

“Masih butuh waktu bagi beliau untuk kembali ke sini tanpa Windy..” jawab Kak Wina perlahan.

Mereka pun segera beranjak menuju teras…

Meninggalkanku kembali sendiri, di kesunyian villa ini.

***

150 kata untuk MFF Prompt #62 : Hey Girls!

Kisah Uang Nyasar

Lepas maghrib itu, Pak Harun melipat sajadah yang baru saja dipakainya, sambil mengamati Andi -putra bungsunya- yang kali itu terlihat khusu’ berdoa sedangkan biasanya paling cepat ngabur segera setelah mereka selesai berjamaah sholat maghrib.

“Hm, doa apa saja, Dek?” tanyanya kemudian kepada Andi, setelah anak itu menyelesaikan doanya.

“Aku minta pada Allah, agar rejeki Ayah banyaaaak…”

“Aamiin… Untuk apa, Nak?” tanya Bu Harun yang ikutan penasaran dengan doa panjang bungsunya itu.

“Yaa… agar aku segera dapat sepeda baru yang kuinginkan, Bunda..” jawab Andi polos.

Maka tawa Pak Harun, Bu Harun dan Tuti -kakak Andi- pun berderai,  “Aamiin….” sahut mereka kompak.

“Ohya Ayah, siang tadi ada tamu yang mencari Ayah. Kelihatannya penting sekali,” kata Bu Harun.

“Hm… siapa, Bu? Kenalan kita?”

“Tampaknya wajah baru, Yah… Katanya, malam ini dia akan datang kembali.”

“Oh baiklah, kita tunggu saja nanti.”

*** Continue reading “Kisah Uang Nyasar”

Yang Kedua dan Keempat

Ketika iseng melihat-lihat tulisan-tulisanku di rumah maya yang ini, khususnya pada kategori ‘buku ku’, sempat mengerutkan kening ketika hanya menemukan 2 tulisan -yaitu tentang buku solo pertamaku & buku antologi pertamaku- sementara aku merasa telah mendokumentasikan beberapa antologi lain yang juga memuat karyaku.

Ternyata eh ternyata…. yang satu kutuliskan di blogdetikku, sementara 2 buku lagi memang belum sempat kuulas di sini..hihi… *pikuuun…

Jadi -tanpa bermaksud pamer- aku akan menuliskan 2 buku yang tertinggal itu kali ini, untuk melengkapi dokumentasi pribadiku tentang beberapa buku yang -Alhamdulillah- telah terbit pada tahun 2014 ini dan memuat tulisanku.

Buku pertamaku yaitu Notes from Mecca terbit Bulan Februari, bulan yang sama saat kuterima buku antologi pertamaku yaitu Blogger Punya Mimpi yang merupakan Kumpulan Cerpen dari warga Warung Blogger.

Yang Kedua

Adapun buku antologi kedua ku adalah Harmoni yang merupakan antologi Warung Blogger pula, namun kali ini berupa Kumpulan Puisi.

HARMONI - Antologi Puisi Warung Blogger.
HARMONI – Antologi Puisi Warung Blogger.

Berkolaborasi dengan 34 kawan lain dalam buku ini sungguh merupakan suatu kebanggaan bagiku.  Ke-80 untaian kata indah ini dikelompokkan dalam 5 Bagian yaitu : Mengetuk Pintu-Mu ; Cintamu Sesejuk Embun ; Bisikan Alam ; Kasidah Nyeri dan Zamrud Cinta Untuk Nusantara.  Hm, dengan membaca judul-judul bab itu tidakkah kalian penasaran akan puisi-puisi yang terangkum di dalam masing-masing bab itu, teman? Continue reading “Yang Kedua dan Keempat”

Prompt #57 – Lorong Kenangan

Lorong itu sepi lagi.  Sesudah sesiang tadi ramai dengan kemeriahan hari pertama sekolah.  Selalu senang menikmati keceriaan adik-adik yang baru saja resmi menjadi murid SMA Ternama ini dan sedang mengikuti MOS.

Rasa bangga terlukis jelas di wajah-wajah ceria mereka.  Seragam putih-biru masih mereka kenakan, dilengkapi atribut khas masa yang dulu sering disebut masa perploncoan itu. Ah, melihat mereka mondar-mandir ceria di lorong kenangan itu, membangkitkan rasa haru di hatiku.

Ya… lorong itu, memang lorong kenangan bagiku.  Kenangan ketika keadaanku persis sama dengan mereka : siswa baru SMA Ternama.  Masih kuingat jelas rasa bahagia yang memenuhi dadaku ketika pertama kali menapakkan kaki menyusuri lorong itu, menuju ruang kelas X-C, yang akan menjadi kelasku.

Satu lagi kenangan indahku, di sudut lorong itu, dekat Mading. Tempatku pertama kali berkenalan dengan gadis manis berkuncir lima berpita ungu, yang sama-sama dihukum berdiri di sana.

“Hai… siapa namamu?” tanyaku

“Lolita. Eh, salah apa kau sampai dapat hukuman ini?”

“Itu… Kacang Panjang di Oseng-osengku tak semua pas 3 cm. Kau?”

“Seharusnya aku pakai lima warna, bukan hanya ungu…” jawabnya menunjuk pita di kuncirnya.

“Warna kesukaanmu?”

“Iyalaah…” jawabnya centil. Kami pun tertawa tertahan, takut dibentak lagi.

Sejak itu, hari-hari di masa MOS itu terasa cepat berlalu, dengan kedekatan kami : Oki dan Lolita, yang seolah tak terpisahkan. Namun pada akhirnya hal itu memancing kecemburuan dari teman lain. Bahkan tak hanya teman-teman seangkatanku, juga beberapa senior kami.  Tentu saja, karena Lolita tak hanya cantik dan selalu ceria, ia pun pintar dan pandai bergaul.

Ah.. mengingat kecemburuan itu, membuyarkan semua kenangan indahku dan mengungkit kenangan pahitku di lorong itu. Ya, kenangan terakhirku di lorong itu begitu pahit : saat kelemahan fisikku tak sanggup menerima kebrutalan kakak-kakak senior dan nafas terakhirku terpaksa kuhembuskan di ujung lorong itu!

Hanya satu doaku selalu, semoga peristiwa MOS kelabu itu tak pernah terulang. Cukup aku saja korbannya…

Mimpi Lintang

Sumber

Lintang asyik menikmati malam yang tampak begitu indah dari balik jendela kamarnya. Langit dihiasi gemintang nan sibuk berkerlipan, lalu tiba-tiba… wuuss… Bintang jatuh!

Ia pun terkesiap, cepat-cepat memejamkan mata dan mengucapkan permintaannya : semoga aku juaranya!

Lalu tiba-tiba dirasakannya bumi bergoncang..eh bukan, badannya yang bergoyang-goyang. Dengan kaget dibukanya mata, ternyata ibu yang membangunkannya karena hari sudah siang. Argh…, hanya mimpi rupanya…

Tapi, ketika sambil mandi ia mengingat kembali mimpinya, iapun tersenyum. Hey, siapa tahu mimpi itu bukan sekedar bunga tidur, jangan-jangan itu sebuah pertanda! Ya, pertanda kemenangannya di kontes siang nanti… Continue reading “Mimpi Lintang”

Pilihan ketiga

Sumber

Aku bersama Nadia. Sementara ayah dan ibu berada tak jauh dari kami. Tetapi kami tak melihat keduanya. Kami hanya mendengar suara-suara mereka saling berteriak. Lalu suara itu menghilang. Tak terdengar lagi.

“Bagaimana menurutmu, Dan?” tanya Nadia pelan.

“Apanya?” tanyaku tak mengerti.

“Perpisahan. Tampaknya hal itu tak terelakkan lagi,” bisiknya parau.

Ya, aku juga menyadari hal itu, menilik semakin seringnya pertengkaran keduanya meramaikan rumah kami.

Aku menoleh dan kulihat air mata membasahi pipinya. Ah, Nadia si lembut hati. Mungkin dia yang akan terluka paling parah diantara kami berempat.

“Kau memilih siapa?” tanyaku kemudian.

“Maksudmu?”

“Mereka pasti akan memisahkan kita. Kau boleh memilih duluan, Ayah atau Ibu?”

Nadia menghapus air matanya. Lalu tiba-tiba bangkit dan duduk menghadapku.

“Dania, kenapa aku yang harus memilih duluan?” Continue reading “Pilihan ketiga”