LALANG UNGU

Ruang berbagi pengalaman dan manfaat

Mimpi Lintang

| 16 Comments

Sumber

Lintang asyik menikmati malam yang tampak begitu indah dari balik jendela kamarnya. Langit dihiasi gemintang nan sibuk berkerlipan, lalu tiba-tiba… wuuss… Bintang jatuh!

Ia pun terkesiap, cepat-cepat memejamkan mata dan mengucapkan permintaannya : semoga aku juaranya!

Lalu tiba-tiba dirasakannya bumi bergoncang..eh bukan, badannya yang bergoyang-goyang. Dengan kaget dibukanya mata, ternyata ibu yang membangunkannya karena hari sudah siang. Argh…, hanya mimpi rupanya…

Tapi, ketika sambil mandi ia mengingat kembali mimpinya, iapun tersenyum. Hey, siapa tahu mimpi itu bukan sekedar bunga tidur, jangan-jangan itu sebuah pertanda! Ya, pertanda kemenangannya di kontes siang nanti…

Maka ia pun menjadi bersemangat. Senyumnya melebar. Senyuman yang betah menghiasi bibirnya sepagian itu, ketika ibu sibuk mendandani sambil menasehatinya untuk berjalan dengan hati-hati namun tetap anggun sesuai dengan arahan Tante Mita yang melatihnya kemarin.

Lintang mengangguk-angguk, tapi nasehat ibunya hanya sekedar lewat telinga kanan ke kiri. Ia justru asyik membayangkan, saat-saat kemenangannya diumumkan nanti : ia akan dengan bangga menerima tropi kemenangannya, menikmati pandangan kecewa kontestan lainnya, dan yang terutama merasa bangga menjadi juara di depan Kak Roni, Sang Ketua Osis idolanya.. Aah, ia sudah tak sabar.

Ketaksabaran itu makin dirasakannya saat mendapat undian nomor 24 : no ke-4 dari akhir! Uuh… 🙁

Ketaksabaran yang seolah terus menguntitnya, meski ia telah mencoba menghalaunya dengan kembali memikirkan mimpi yang menjadi pertanda kemenangannya itu.

“Peserta berikutnya, No. 24 ,” suara pembawa acara akhirnya terdengar merdu di telinganya.

Maka iapun bergegas. Menaiki satu demi satu anak tangga ke panggung, sambil berkata dalam hati, “sebentar lagi aku juaranya!”

Matanya sibuk mencari-cari tempat duduk Sang Idola… ah, itu dia Kak Roni ada di deretan kedua! Ia pun mengulas senyum termanisnya, lalu… gubrak!!

Entah bagaimana, ujung salah satu sendalnya terkait di kain panjang :  Lintang terjatuh !

***

Ini hari ketiga Lintang tak mau sekolah. Bukan karena sakit akibat jatuh di bibir panggung saat kontes yang lalu.  Tak ada yang terluka di tubuhnya akibat insiden itu. Bahkan setelah dibantu untuk bangkit dari posisi jatuhnya, ia menenangkan diri sejenak dan menguatkan diri untuk meneruskan langkah menuju tengah panggung, membungkuk memberi hormat sebelum kembali ke bawah panggung dan langsung pulang.

Ya, tak ada yang terluka selain harga dirinya. Ia malu sekali. Seharian mengurung diri di kamar, menghabiskan sebagian besar waktunya dengan merutuki mimpi yang telah melenakannya.

Terdengar ketukan pelan di pintu kamar.

“Lin, ada temanmu di depan…” suara lembut Ibu terdengar.

“Suruh pulang saja, Bu. Lintang masih males ketemu siapa-siapa!”

Terdengar suara sandal ibunya menjauhi kamar. Lama tak terdengar suara-suara lagi, lalu tiba-tiba…

Sreet…

Suara gesekan benda mengejutkannya. Dilihatnya selembar kertas terlipat masuk lewat bawah pintu kamarnya. Dengan penasaran dibuka dan dibacanya kertas itu.

Lin, terima kasih sudah memberi kesempatan padaku melihat tampilan femininmu kemarin. Siapapun juara di kontes kemarin, Lintang Tomboy yang berani bangkit dan meneruskan langkahnya di panggung itu, adalah juara hatiku.

Jangan lama-lama ngumpetnya ya, non… Kangen niih… 🙂

Roni

Olala… ribuan bintang jatuh menari-nari untuknya di siang itu….

***

Jumlah kata : 466.  Menyemarakkan  Prompt #51 MFF

16 Comments

Leave a Reply

Required fields are marked *.