LALANG UNGU

ruang ekspresi sepotong hati

[Berani Cerita #11] Kembalinya Cincin Ibu

| 13 Comments

“Buuk… Sri pergi dulu yaa… Assalamualaikuum ”

“Waalaikumsalam. Lho Sri, mau kemana lagi? Kan baru pulang?” ibu menyahut dari belakang rumah, tapi tak ada jawaban dari Sri. Rupanya anak itu langsung  pergi lagi.  Hm… wanita paruh baya itu menarik nafas panjang sebelum meneruskan kesibukannya mencuci.  Ada apa dengan anak gadisnya itu? Akhir-akhir ini selalu saja pergi sepulang sekolah hingga malam hari.  Malam ini, aku harus tahu kemana saja Sri selama ini, tekadnya dalam hati.

Rasa gelisah terus hinggap di hatinya saat duduk menunggu di amben sambil memilah-milah baju-baju yang sudah diseterikanya, dikelompok-kelompokkan sesuai pemiliknya. Ia teringat berita TV yang ditontonnya sore kemarin di rumah Bu Sardi.  Ah.. miris hatinya mengetahui berita kekerasan yang korbannya gadis seusia Sri. Atau juga cerita Yu Ginah tentang penangkapan gadis-gadis yang katanya bekerja di warung remang-remang… Duh Gusti… Bagaimana kalau Sri mengalami hal itu? Pikiran buruk itu melintas. Ya Allah…lindungilah selalu anak hamba…doanya untuk keselamatan buah hatinya itu.

“Assalamualaikum… ” Sri masuk rumah dengan wajah tampak lelah.

“Waalaikumsalam…. Dari mana saja to, nduk ?”

“Dari… rumah Santi, buk..” jawab Sri pelan sambil membantu ibunya menata baju-baju pelanggan ibunya.

“Tiap hari? Ah, ojo ngapusi ta nduk…

“Buk, maafkan Sri ya buuk..” tiba-tiba Sri merangkul ibunya sambil menangis.

Hati perempuan paruh baya itupun tersentak Ya Allah… ada apa dengan anak semata wayangnya ini? Berbagai pikiran buruk kembali memenuhi benaknya.

“Ada apa, nduk ? apa yang sudah kau lakukan?”

Sri melepas pelukannya dan perlahan mencium tangan ibunya, tepat di atas tanda yang melingkari jari manis kanan ibunya.

“Sri membuat ibu harus melepaskan cincin peninggalan Bapak..”

“Oalaah nduuk… Cuma karena itu to? Ndak papa , kapan-kapan kalau ada rejeki bisa kita tebus.  Yang penting, ujianmu kemarin lancar to?”

“Alhamdulillah bu, sudah selesai.  Dan, sepuluh hari ini aku tiap sore bantu-bantu Bulik Tri jaga toko bu… kadang-kadang bantu masak di katering ibunya Santi. Lumayan bu, ini hasilnya…”

Sri menyerahkan bungkusan saputangan ke tangan ibunya.  Perlahan sang ibu membuka saputangan itu dan air matanya mengalir melihat cincin kawin yang sempat digadaikannya untuk biaya yang harus dilunasi sebelum Sri bisa ikut ujian akhir di SMAnya.

“Alhamdulillah…. Duh Gustiiii…maturnuwun sanget…” rasa lega dan syukur memenuhi hati perempuan paruh baya itu. Bukan karena cincinnya telah tertebus, tapi lebih karena keselamatan Sri- kekayaannya yang tak ternilai…

Note : 370 kata.

13 Comments

  1. No twist, but this story moved me a lot, Mbak. Serius. Aku suka :’)

    terima kasih, Nina… 🙂

  2. Hmmm… Iya, sepakat dengan komentar yang sudah ada. Sederhana, tapi ngena.

    Makasih, Fauzi.. 🙂

  3. Sumpah,terharu bnget…

    aih.. begitukah *sodorintisu*

  4. Indahnya cnta seorang Ibu ke anaknya Mba Mechta.

    iya Dan.. plus bakti anak pada ibunya juga… *karepe sih ngono..hehe*

  5. Kirain tek dung eh ternyata mau minta ijin untuk nggadein cincin tho

    si ibu mungkin juga mengira tekdung mbak…ternyata sekedar rasa bersalah krna jadi penyebab tergadainya cincin si ibu…dan berusaha menebusnya 🙂

  6. begitu besar cintau seorang ibu kepada anaknya ya

    tetep ya Jeng… tak terukur & tak tertandingi 🙂

  7. Betapa ibu bangga akan dirimu nduk Sri….
    Tulisan Jeng Mechta selalu enak dibaca, sarat makna
    Selamat terus berkarya Jeng

    maturnuwun supportnya, Bu Prih… 🙂

  8. aih…cerita yg manis sekali auntie^^

    trims, Rin… *sodorin air putih* 🙂

  9. Sial! Keren bgt nih cerita! Telak gue dah… B-)

    haiyaah…isih tetep durung bisa nge-twist ngono kok…isih adoooh… tapi trims yo wis nggedeke ati 🙂

  10. Manis sekali… 🙂

    komen yg sangat membesarkan hati… trims, mbak Rini… *butuh air putih juga? hehe..*

  11. inilah kalau orang tua mau berkorban demi masa depan anaknya 🙂

    mbak, ada yang mengganjal dengan kalimat ini : Malam ini, aku harus tahu kemana saja Sri selama ini, tekadnya dalam hati.

    tapi kenapa pada paragraf selanjutnya, si ibu malah duduk-duduk di amben sambil melipat baju? padahal harapan saya sebagai pembaca saat membaca kalimat di atas, adalah si ibu bakal nguntit anaknya atau main detektif gitu 🙂

    maksud si ibu, malam ini dia akan sungguh2 bertanya (bhs jawa : ndedes) pada anaknya ttg apa yg dilakukan si anak selama ini… tapi, mungkin juga akan lebih berkembang jika main detektif2an ya Miss..hehe… trimakasih masukannya…

  12. terharu 🙂
    aih..begitukah? 🙂 *sodorintisu*

  13. ibu memang perjuangannya tiada perlu diragukan ya Mbak…
    *tisu mana, tisuuu… !! * 🙂

    jasanya tak terhitung apalagi tergantikan ya Asmie… *sodorin sekotak tisu* Thx sdh mampir ya…

Leave a Reply

Required fields are marked *.