[Prompt #62] Sesaat bersama lagi

sumber

“Senangnya, bisa ke sini lagi…”

“Iya, Nda… Syukurlah, akhirnya Mama mengizinkan kita merayakan ultah di sini lagi..”

Memang, menyenangkan sekali bisa kembali bersama menikmati indahnya sore di villa, apalagi di hari istimewa kami ini. Rasanya sudah lamaaa sekali kami tak duduk bertiga begini.

“Eh, Kak Win… Lihat itu mawar kesukaan Kak Ndy sedang bermekaran…” seru Winda tiba-tiba.

Rumpun mawar itu berseri seolah menyambut kebersamaan kami kembali…

“Ya, cantik dan lembut seperti Windy kita..” sahut Kak Wina lalu tersenyum sendu.

Ah, Kak Wina menyanjungku. Sebenarnya dialah yang paling lembut diantara kita bertiga. Winda manja sedangkan aku sedikit tomboy.

“Winaaa… Windaaa… Ayo pulang, hampir maghriiib..” teriakan Mama dari teras mengusik kebersamaan kami.

“Yaah…, Mama benar-benar belum mau menginap di sini lagi..” keluh Winda.

“Masih butuh waktu bagi beliau untuk kembali ke sini tanpa Windy..” jawab Kak Wina perlahan.

Mereka pun segera beranjak menuju teras…

Meninggalkanku kembali sendiri, di kesunyian villa ini.

***

150 kata untuk MFF Prompt #62 : Hey Girls!

Prompt #57 – Lorong Kenangan

Lorong itu sepi lagi.  Sesudah sesiang tadi ramai dengan kemeriahan hari pertama sekolah.  Selalu senang menikmati keceriaan adik-adik yang baru saja resmi menjadi murid SMA Ternama ini dan sedang mengikuti MOS.

Rasa bangga terlukis jelas di wajah-wajah ceria mereka.  Seragam putih-biru masih mereka kenakan, dilengkapi atribut khas masa yang dulu sering disebut masa perploncoan itu. Ah, melihat mereka mondar-mandir ceria di lorong kenangan itu, membangkitkan rasa haru di hatiku.

Ya… lorong itu, memang lorong kenangan bagiku.  Kenangan ketika keadaanku persis sama dengan mereka : siswa baru SMA Ternama.  Masih kuingat jelas rasa bahagia yang memenuhi dadaku ketika pertama kali menapakkan kaki menyusuri lorong itu, menuju ruang kelas X-C, yang akan menjadi kelasku.

Satu lagi kenangan indahku, di sudut lorong itu, dekat Mading. Tempatku pertama kali berkenalan dengan gadis manis berkuncir lima berpita ungu, yang sama-sama dihukum berdiri di sana.

“Hai… siapa namamu?” tanyaku

“Lolita. Eh, salah apa kau sampai dapat hukuman ini?”

“Itu… Kacang Panjang di Oseng-osengku tak semua pas 3 cm. Kau?”

“Seharusnya aku pakai lima warna, bukan hanya ungu…” jawabnya menunjuk pita di kuncirnya.

“Warna kesukaanmu?”

“Iyalaah…” jawabnya centil. Kami pun tertawa tertahan, takut dibentak lagi.

Sejak itu, hari-hari di masa MOS itu terasa cepat berlalu, dengan kedekatan kami : Oki dan Lolita, yang seolah tak terpisahkan. Namun pada akhirnya hal itu memancing kecemburuan dari teman lain. Bahkan tak hanya teman-teman seangkatanku, juga beberapa senior kami.  Tentu saja, karena Lolita tak hanya cantik dan selalu ceria, ia pun pintar dan pandai bergaul.

Ah.. mengingat kecemburuan itu, membuyarkan semua kenangan indahku dan mengungkit kenangan pahitku di lorong itu. Ya, kenangan terakhirku di lorong itu begitu pahit : saat kelemahan fisikku tak sanggup menerima kebrutalan kakak-kakak senior dan nafas terakhirku terpaksa kuhembuskan di ujung lorong itu!

Hanya satu doaku selalu, semoga peristiwa MOS kelabu itu tak pernah terulang. Cukup aku saja korbannya…

Mimpi Lintang

Sumber

Lintang asyik menikmati malam yang tampak begitu indah dari balik jendela kamarnya. Langit dihiasi gemintang nan sibuk berkerlipan, lalu tiba-tiba… wuuss… Bintang jatuh!

Ia pun terkesiap, cepat-cepat memejamkan mata dan mengucapkan permintaannya : semoga aku juaranya!

Lalu tiba-tiba dirasakannya bumi bergoncang..eh bukan, badannya yang bergoyang-goyang. Dengan kaget dibukanya mata, ternyata ibu yang membangunkannya karena hari sudah siang. Argh…, hanya mimpi rupanya…

Tapi, ketika sambil mandi ia mengingat kembali mimpinya, iapun tersenyum. Hey, siapa tahu mimpi itu bukan sekedar bunga tidur, jangan-jangan itu sebuah pertanda! Ya, pertanda kemenangannya di kontes siang nanti… Continue reading “Mimpi Lintang”

Pilihan ketiga

Sumber

Aku bersama Nadia. Sementara ayah dan ibu berada tak jauh dari kami. Tetapi kami tak melihat keduanya. Kami hanya mendengar suara-suara mereka saling berteriak. Lalu suara itu menghilang. Tak terdengar lagi.

“Bagaimana menurutmu, Dan?” tanya Nadia pelan.

“Apanya?” tanyaku tak mengerti.

“Perpisahan. Tampaknya hal itu tak terelakkan lagi,” bisiknya parau.

Ya, aku juga menyadari hal itu, menilik semakin seringnya pertengkaran keduanya meramaikan rumah kami.

Aku menoleh dan kulihat air mata membasahi pipinya. Ah, Nadia si lembut hati. Mungkin dia yang akan terluka paling parah diantara kami berempat.

“Kau memilih siapa?” tanyaku kemudian.

“Maksudmu?”

“Mereka pasti akan memisahkan kita. Kau boleh memilih duluan, Ayah atau Ibu?”

Nadia menghapus air matanya. Lalu tiba-tiba bangkit dan duduk menghadapku.

“Dania, kenapa aku yang harus memilih duluan?” Continue reading “Pilihan ketiga”