[Berani Cerita #11] Kembalinya Cincin Ibu

“Buuk… Sri pergi dulu yaa… Assalamualaikuum ”

“Waalaikumsalam. Lho Sri, mau kemana lagi? Kan baru pulang?” ibu menyahut dari belakang rumah, tapi tak ada jawaban dari Sri. Rupanya anak itu langsung  pergi lagi.  Hm… wanita paruh baya itu menarik nafas panjang sebelum meneruskan kesibukannya mencuci.  Ada apa dengan anak gadisnya itu? Akhir-akhir ini selalu saja pergi sepulang sekolah hingga malam hari.  Malam ini, aku harus tahu kemana saja Sri selama ini, tekadnya dalam hati.

Rasa gelisah terus hinggap di hatinya saat duduk menunggu di amben sambil memilah-milah baju-baju yang sudah diseterikanya, dikelompok-kelompokkan sesuai pemiliknya. Ia teringat berita TV yang ditontonnya sore kemarin di rumah Bu Sardi.  Ah.. miris hatinya mengetahui berita kekerasan yang korbannya gadis seusia Sri. Atau juga cerita Yu Ginah tentang penangkapan gadis-gadis yang katanya bekerja di warung remang-remang… Duh Gusti… Bagaimana kalau Sri mengalami hal itu? Pikiran buruk itu melintas. Ya Allah…lindungilah selalu anak hamba…doanya untuk keselamatan buah hatinya itu.

“Assalamualaikum… ” Sri masuk rumah dengan wajah tampak lelah.

“Waalaikumsalam…. Dari mana saja to, nduk ?”

“Dari… rumah Santi, buk..” jawab Sri pelan sambil membantu ibunya menata baju-baju pelanggan ibunya.

“Tiap hari? Ah, ojo ngapusi ta nduk…

“Buk, maafkan Sri ya buuk..” tiba-tiba Sri merangkul ibunya sambil menangis.

Hati perempuan paruh baya itupun tersentak Ya Allah… ada apa dengan anak semata wayangnya ini? Berbagai pikiran buruk kembali memenuhi benaknya.

“Ada apa, nduk ? apa yang sudah kau lakukan?”

Sri melepas pelukannya dan perlahan mencium tangan ibunya, tepat di atas tanda yang melingkari jari manis kanan ibunya.

“Sri membuat ibu harus melepaskan cincin peninggalan Bapak..”

“Oalaah nduuk… Cuma karena itu to? Ndak papa , kapan-kapan kalau ada rejeki bisa kita tebus.  Yang penting, ujianmu kemarin lancar to?”

“Alhamdulillah bu, sudah selesai.  Dan, sepuluh hari ini aku tiap sore bantu-bantu Bulik Tri jaga toko bu… kadang-kadang bantu masak di katering ibunya Santi. Lumayan bu, ini hasilnya…”

Sri menyerahkan bungkusan saputangan ke tangan ibunya.  Perlahan sang ibu membuka saputangan itu dan air matanya mengalir melihat cincin kawin yang sempat digadaikannya untuk biaya yang harus dilunasi sebelum Sri bisa ikut ujian akhir di SMAnya.

“Alhamdulillah…. Duh Gustiiii…maturnuwun sanget…” rasa lega dan syukur memenuhi hati perempuan paruh baya itu. Bukan karena cincinnya telah tertebus, tapi lebih karena keselamatan Sri- kekayaannya yang tak ternilai…

Note : 370 kata.

2 Aroma

Alkisah, di suatu siang menjelang sore, seorang gadis sedang termangu di tepi jalan di seberang rumah kostnya.  Ia gelisah menanti datangnya bus AKAP yang akan membawanya kembali ke rumahnya di Kota Lumpia.  Tunggu punya tunggu tak juga datang bus itu, hingga lewat 1 jam lebih dari waktu yang seharusnya, dan siang pun beranjak sore.

Akhirnya si gadis pun menyeberang jalan, kembali ke rumah kostnya.  Setelah meminjam telepon kepada ibu kostnya, barulah ia mendapat kepastian bus yang ditunggunya sudah berangkat sesuai jadwal, namun entah kenapa tidak berhenti di seberang rumah kost itu, tempat yang sudah disepakati sebelumnya dengan si agen.  Sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya selama dia menggunakan jasa bus itu.  Maka galaulah hatinya saat itu… batal pulang kampung dan bertemu keluarga tersayang? aargh… menyebalkan! 🙁

Namun rupanya itu bukan akhir cerita.  Seseorang dengan baik hati menawarkan untuk mengantarnya ke agen bus itu, sehingga bisa segera mencari solusi atas masalah itu.  Dan sore itu, kegalauannya akhirnya sirna…tercecer di sepanjang perjalanan PP dari Jl. GG (tempat kost) – Tajur (tempat pool bus malam itu) yang mereka tempuh dengan berboncengan Vespa tua Sang Pahlawan itu…  Tentu saja, karena Sang Pahlawan itu tak lain orang yang -saat itu- menghiasi mimpi-mimpinya 😉 Continue reading “2 Aroma”

Membantu Mengarahkan Panah Para Srikandi

BLKKrplor1

Berbagi itu membahagiakan.  Meski yang kami bagi hanya  pengetahuan sederhana, namun sungguh membahagiakan melihat kesungguhan para ibu untuk belajar sesuatu yang baru, tidak malu bertanya dan mau mencoba.  Semua bertujuan agar kelompok usaha yang mereka kelola lebih berkembang dan pada akhirnya membantu meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

Berbagi itu sekaligus mendapatkan.  Karena semangat para Srikandi keluarga dalam membidik kesejahteraan keluarga dan lingkungannya ini, memacu semangat kami untuk memberi yang terbaik dalam memfasilitasi usaha gigih mereka. Semangat mereka menyemangati kami juga, menjadikan itu semua tak sekedar menunaikan tugas semata.

Foto diatas adalah ketika kami menyemangati para Srikandi pada kegiatan pembinaan rutin bagi ibu-ibu pengurus kelompok BLK ( Bina Lingkungan Keluarga ) Kel. Kuripan Lor. Foto ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Sehari Menjadi Srikandi.

[BeraniCerita#06] Akhir sebuah pelarian

Tak perlu waktu lama, Rino akhirnya sampai di rumah bergaya Jawa kuno yang cukup besar. Halamannya luas dengan beberapa pohon beringin. Tampaknya rumah ini adalah rumah turun-temurun.

Tok, tok! Rino mengetuk pintu.

Tak lama pintu dibuka. Rino terkejut melihat sosok yang berada di hadapannya.

***

Rino bergegas berbalik, namun tangan halus itu kuat memegangi lengannya..

“Aku sudah lama menunggumu di sini.  Rumah nenek yg penuh kenangan ini, pasti menjadi tujuan akhir pelarianmu…”

Rino tetap diam, namun diapun mengurungkan niatnya untuk lari.

“Rino… masuklah, ada banyak hal yang ingin kujelaskan…”

“Tak ada lagi yang ingin kudengar.  Kau telah memilihnya, maka tak perlu ada aku lagi di hidupmu!”

“Kenapa tidak?”

“Karena aku tak mau menjadi benalu dalam hidup kalian!”

“Benalu? Dalam 15 tahun kebersamaan kita, kau adalah yang terpenting bagiku! Kau, satu-satunya! Siapa yg berani mengatakan kau adalah benalu dalam hidupku?” suara penuh emosi wanita itu menyentak hati Rino.

Perlahan ditatapnya wajah cantik yang sangat dicintainya itu…, ada yg tercekat di hatinya menyaksikan bulir-bulir air mata membasahi pipi pucat nan tirus itu….

Baru kemarin aku meninggalkanmu namun rasanya sudah sangat lama waktu berlalu, bisik hatinya.  Ada luka di mata indah itu, aku kah yang menorehkannya, ibu?

“Nak… jangan pernah meragukan cinta ibu.  Tadinya aku memang sedang mempertimbangkan pinangannya, namun bila itu menyakiti hatimu, membuatmu pergi dari hidupku, maka untuk apa kuterima?  Kau hanya perlu mengatakan ketaksetujuanmu, tidak harus pergi tanpa pamit seperti ini…”

Rino masih terdiam, diingatnya rasa takut yang membuatnya nekad kabur kemarin.  Kabar bahwa ibu akan segera menikah dengan Oom Randi!

“Kenapa kau membencinya, Rino?”

“Aku tak pernah membencinya..” jawab Rino lirih, “…tapi aku takut bernasib seperti Rudi..”

Perlahan wanita cantik itu mendekati Rino lalu memeluknya erat.  Air mata tertumpah membasahi rambut lelaki kecil kesayangannya.  Ia tahu kisah hidup Rudi -teman Rino- yang kurang beruntung mendapatkan ayah tiri yang cengkiling .  Tapi ia cukup mengenal Randi – sahabat lama almarhum suaminya- yang ia yakin tak akan bertabiat seperti itu.

“Aku tak berani menjanjikan yang muluk-muluk, Nak… Namun aku ingin kamu mau mengenalnya lebih dekat.  Jika pada akhirnya nanti apa yang kau putuskan tetap sama,  maka aku tetap akan menghormati keputusanmu itu…”

Mereka berpelukan lama, tak menyadari sepasang mata tua yang basah menatap dari dalam rumah tua itu.  Namun, ada senyum di bibir keriput Mbah Citro, menyaksikan cucu dan menantu kesayangannya kembali berdamai…

***

Notes : 385 kata.  Cengkiling  (Bhs Jawa = ringan tangan / suka memukul )

Keke & Nai… ke River World yuuk…

Ketika jalan-jalan ke Purbalingga tempo hari, tidak hanya Taman Sanggaluri (yang ada museum reptil & serangga serta Museum Uang itu), kami juga sempat mampir ke wahana wisata lain yang bernama River World Purbasari Pancuran Mas.  Ini cerita jalan-jalan kami di sana…

Lokasi wisata yang terkenal dengan akuarium raksasanya ini terletak di Desa Purbayasa Kec Padamara Kab. Purbalingga Jawa Tengah.  Salah satu yang paling terkenal di sana adalah Ikan Araipama Gigas yang berasal dari Sungai Amazon  yang panjangnya bisa lebih 2 meter.

Si ikan raksasa yg berasal dari sungai Amazon itu... (maaf, hasil fotonya kurang bagus..hehe..)
Si ikan raksasa yg berasal dari sungai Amazon itu… (maaf, hasil fotonya kurang bagus..hehe..)
Sekumpulan Araipama di akuarium lain...
Sekumpulan Araipama di akuarium lain…

Selain ikan raksasa itu, banyak juga jenis-jenis ikan lain yang dapat dilihat di sana, terutama jenis ikan perairan sungai sebagaimana nama taman ini yaitu River World PPM :  ada Ikan Aba aba, Ikan Buaya, Belut Listrik / Sidat, dll.  Eh, di Jakarta  ada Sea world, di Purbalingga nggak mau kalah dengan River world-nya 🙂

River World PPM
River World PPM Purbalingga

Aba2buayasidat

Tak hanya ikan-ikan dalam akuarium saja yang dapat dinikmati di taman itu.  Sambil berjalan-jalan di lingkungan taman yang asri, dapat pula menikmati burung ataupun unggas cantik yang ada di sana.  Ada Golden Pheasant yang warna-warni, Si biru Mambruk, Nuri Kepala Hitam (dengan tubuh berbulu warna warni ceria) dan masih banyak lagi.

Burung-burung cantik di Bird park PPM
Burung-burung cantik di Bird park PPM

Oya, satu hal lagi yang membuatku semakin ingin mengajak para krucils kami untuk main di sana adalah adanya kolam renang yang lumayan luas yaitu di Taman air luncur ( water boom ), karena para krucils kami paling betah main air…   Selain itu, bagi yang ingin bersantai diatas perahu dapat memilih naik perahu besar / speedboat / sepeda air untuk berputar-putar di wisata telaga yang juga ada di sana.

Ohya, HTMnya Rp. 10.000,-  untuk masuk di lokasi-lokasi wisata yg ada di sana ( River world, play ground, water boom & kolam renang anak / dewasa, Bird park & konservasi rusa ) sedangkan untuk berperahu dikenakan tambahan sewa pelampung Rp. 2.500,- atau Rp. 10.000,- untuk bersepeda air…

Bermain air, berlarian di lapangan hijau atau berjalan menyusuri pinggir telaga... pilih saja...
Bermain air, menikmati alam hijau atau berperahu di telaga… pilih saja…

Nah, itu dia cerita jalan-jalan kami di River world Purbasari Pancuran Mas yang ada di Purbalingga, apakah Keke & Nai tertarik untuk jalan-jalan ke sana? Silahkan minta mama untuk menjadwalkannya di liburan mendatang, ya.. 🙂

1st Giveaway : Jalan-jalan Seru untuk Keke dan Nai

[Berani Cerita#05] Deja vu (?)

Sepertinya suasana malam ini tidak begitu bersahabat bagi Riana. Angin yang dingin membuat dia memaki dirinya sendiri kenapa lupa membawa jaketnya yang tertinggal di mobil. Lorong yang tidak terlalu terang karena beberapa lampu mulai dimatikan. Dan kenapa tidak ada orang bersliweran? Padahal masih jam 8 malam.

 “Nah, sebentar lagi sudah sampai di kamar Sinta.” Riana mencoba menghibur diri sendiri karena dirinya masih merinding. Cepat-cepat langkahnya diayun, sampai akhirnya dia berhenti tiba-tiba saat melihat sebuah tempat tidur dorong melaju cepat ke arahnya.

Continue reading “[Berani Cerita#05] Deja vu (?)”

3 di bulan 3

Aku bukan anak ke- 3, aku tidak lahir di bulan 3, jumlah saudaraku lebih dari 3…. dan angka 3 juga bukan angka favoritku! Lalu apa yang dapat kutulis tentang angka 3 di hidupku agar bisa mangayubagyo syukuran rame-ramenya Mama CALVIN, Little Dija dan Acacicu ?

Eeeh… tunggu dulu… bukan tak ada sama sekali angka 3 di hidupku… Meskipun aku anak ke-empat, tapi aku adalah putri ke-3 bapak-ibuku lho… #maksa.. 😉  Hm, Sebenarnya sih ada juga beberapa hal lain yang berkaitan dengan angka 3 di hidupku, namun kali ini sedang tak sempat mengingat-ingatnya (alias kejar tayang, haha..) jadi aku akan menulis saja tentang 3 di bulan 3.

Apapula itu? Continue reading “3 di bulan 3”

Jailolo, I’m coming….!

“Tulisan ini diikutkan dalam Jailolo, I’m Coming!” Blog Contest yang diselenggarakan oleh Festival teluk Jailolo dan Wego Indonesia

Jailolo… apa & di mana itu?

Terus terang aku sama sekali buta tentang Jailolo.  Menurut Wikipedia, Jailolo adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara.  Penelusuran di inet juga menghasilkan gambar-gambar cantik sebuah teluk & beragam  tarian indah.. *dari sini aku sudah mulai ngiler tuh…*

Sumber lain menyebutkan bahwa Gilolo atau Jailolo adalah nama lain yang diberikan oleh penduduk setempat pada Pulau Halmahera di Prov. Maluku Utara.  Di pulau itulah digelar festival tahunan bertajuk Festival  Teluk Jailolo.

Naah… apa pula Festival Jailolo itu? Itu adalah  festival yang menitik beratkan pada penampilan budaya dan adat istiadat yang menarik, khususnya dari Suku Sahu, tahun ini akan mengusung tema  “The Treasure of Spice Island”.  Selain itu akan ditampilkan pula teater “Sasadu on the sea” pada panggung diatas laut. Continue reading “Jailolo, I’m coming….!”

Nunut urip

Nalika aku sak kulawarga dolan bareng menyang kebon teh Medini dhek mbiyen kae, ana ing sak wijining dalan aku sempat weruh ana uwit gedhe kang narik kawigatenku.  Sebabe, uwit gedhe iku ketok ngrembuyung amarga di nunuti urip karo tanduran-tanduran cilik  kang nempel ana ing uwit kuwi.

Ketika aku sekeluarga pergi bersama ke kebun teh Medini dulu itu, di suatu jalan aku sempat melihat ada sebuah pohon besar yang menarik perhatianku.  Hal itu dikarenakan pohon besar itu terlihat rimbun karena banyaknya tanaman-tanaman kecil yang numpang hidup di pohon itu.

Uwit gedhe kang dadi inang kanggone tanduran-tanduran cilik liyane..
Uwit gedhe kang dadi inang kanggone tanduran-tanduran cilik liyane..

mangga dipun lajengaken…

Ketika layar misteri terkuak ….

Gemuruh tepuk tangan penonton yang tadi meramaikan suasana sekitar panggung maupun jeritan & hiruk pikuk  yang sekejap kemudian menggantikannya , seolah hanya ilusi semata saat ini.  Ada sepi yang menggigit hati ketika Inspektur cantik itu memeriksa tubuh Mudhoiso – sang Cakil yang malam itu menjadi korban sebenarnya dalam pementasan berdarah itu.

Keheningan masih meraja, ketika akhirnya Inspektur Suzana mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk memeriksa nadi Mudhoiso.   ” Sudah tak tertolong lagi…” ujarnya lirih, namun seakan suara petir menggelegar di telinga perempuan muda yang duduk terpekur di ujung panggung itu.

“Ya Allah… kenapa bisa begini??” bisiknya tak kalah lirih, mungkin hanya pada diri sendiri.  Tangannya bergetar hebat, dan tanpa disadarinya airmata menganak sungai di pipi mulusnya.  Ketika memejamkan matanya, kejadian-kejadian sebelumnya tertayang ulang secara slow motion di benaknya : gerak-gerak tari yang dilakukannya berpasangan dengan Mudhoiso, gerakan – gerakan baku yang sudah berulangkali mereka lakukan sehingga mereka berdua seperti sudah otomatis dalam melakukannya…, lalu adegan terakhir itu… senyum yang harus diulasnya saat meninggalkan panggung ketika tubuh Cakil ambruk… lalu layar  yang turun perlahan diiringi gemuruh tepuk tangan penonton… kemudian jeritan teman-teman main ketika menyadari kejadian yang sebenarnya, bahwa Sang Cakil tergorok keris sungguhan dan sedang meregang nyawa…. Duuh… Rikmo Sadhepo pun tersedu…  Iapun masih tersedu ketika Inspektur Suzana menghampirinya, ditangannya ada sebilah keris luk 9 yang masih bernoda darah dan terbungkus plastik bening. saklajengipun…