Gemuruh tepuk tangan penonton yang tadi meramaikan suasana sekitar panggung maupun jeritan & hiruk pikuk yang sekejap kemudian menggantikannya , seolah hanya ilusi semata saat ini. Ada sepi yang menggigit hati ketika Inspektur cantik itu memeriksa tubuh Mudhoiso – sang Cakil yang malam itu menjadi korban sebenarnya dalam pementasan berdarah itu.
Keheningan masih meraja, ketika akhirnya Inspektur Suzana mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk memeriksa nadi Mudhoiso. ” Sudah tak tertolong lagi…” ujarnya lirih, namun seakan suara petir menggelegar di telinga perempuan muda yang duduk terpekur di ujung panggung itu.
“Ya Allah… kenapa bisa begini??” bisiknya tak kalah lirih, mungkin hanya pada diri sendiri. Tangannya bergetar hebat, dan tanpa disadarinya airmata menganak sungai di pipi mulusnya. Ketika memejamkan matanya, kejadian-kejadian sebelumnya tertayang ulang secara slow motion di benaknya : gerak-gerak tari yang dilakukannya berpasangan dengan Mudhoiso, gerakan – gerakan baku yang sudah berulangkali mereka lakukan sehingga mereka berdua seperti sudah otomatis dalam melakukannya…, lalu adegan terakhir itu… senyum yang harus diulasnya saat meninggalkan panggung ketika tubuh Cakil ambruk… lalu layar yang turun perlahan diiringi gemuruh tepuk tangan penonton… kemudian jeritan teman-teman main ketika menyadari kejadian yang sebenarnya, bahwa Sang Cakil tergorok keris sungguhan dan sedang meregang nyawa…. Duuh… Rikmo Sadhepo pun tersedu… Iapun masih tersedu ketika Inspektur Suzana menghampirinya, ditangannya ada sebilah keris luk 9 yang masih bernoda darah dan terbungkus plastik bening. saklajengipun…


