My Dreamy Trip : Mengunjungi Masjid Biru di Istanbul

Membaca adalah hobbyku, sejak kecil hingga saat ini.  Dari Cerpen, Cerber, Novellet, hingga Novel semua bisa kunikmati.  Dan tiap kali membaca, tak jarang aku terhanyut dalam alur ceritanya ataupun ikut menikmati keindahan lokasi kisah-kisah yang diceritakan di sana.

Duluuu….saat masih kuliah, aku membaca sebuah novel roman yang berlokasi kisah di Istanbul – Turki -maaf, aku lupa judul & pengarangnya- dan sangat terinspirasi dengan keindahan peninggalan-peninggalan sejarah muslim di Istanbul – Turki yang menjadi latarbelakang kisah dan diceritakan keindahannya dengan apik.

Masjid Biru ( Blue Mosque ) adalah salah satu peninggalan sejarah yang diceritakan dengan cukup detil dalam novel itu dan sejak saat itulah aku memendam impian untuk bisa langsung menikmati keindahan yang digambarkan di novel itu.  Saat itu aku belum mengenal internet sehingga belum bisa googling penampakan asli masjid indah itu, dan aku hanya mengandalkan imajinasiku atas untaian kata-kata yang disajikan dalam novel tersebut.  Novel itu sukses membuatku mencanangkan harapan untuk suatu saat bisa menapakkan kaki langsung ke Istanbul, khususnya menikmati keindahan Masjid Biru itu. Aamiin. Continue reading “My Dreamy Trip : Mengunjungi Masjid Biru di Istanbul”

Blogger Punya Mimpi

Ketika tahun lalu Pakdhe wara-wara melalui Warung Blogger untuk bareng-bareng menerbitkan buku, aku sangatlah senang, karena merasa mendapat kesempatan untuk mewujudkan salah satu mimpi yaitu menulis dan menerbitkan buku, yang -saat itu- rasanya suliiiit untuk terlaksana.

Saat itu aku merasa kecil kemungkinan untuk bisa menerbitkan buku sendiri, maka alangkah senangnya ketika ada jalan untuk bikin buku secara kroyokan ( yang belakangan baru kutahu istilah ‘antologi’ untuk buku semacam itu, hehe… ).

Ada banyak kategori buku yang disiapkan oleh teman-teman warga WB yang dikoordinatori oleh masing-masing Blogger yang ditunjuk oleh Pakde sebagai Desk Oficer, namun aku baru PD mengirim sebuah cerpen dan beberapa puisi saja.

Dan semakin senang rasanya hatiku ketika mendapat kabar bahwa aku berhasil menyelipkan karya-karya sederhanaku itu diantara banyak tulisan bagus teman-teman lainnya.  Tak sabar rasanya menanti buku kumpulan cerpen & kumpulan puisi itu kumiliki.. hehe…

Alhamdulillah, salah satu diantara 2 buku antologi itu terbit sudah, dan tadi sore baru saja kuterima : Blogger Punya Mimpi ( Kumpulan Cerita Pendek), sebuah buku mungil bersampul ungu lembut -warna kesukaanku- dengan gambar unik yang menarik dan berisi 21 Cerita Pendek karya para blogger anggota Warung Blogger yang tak akan mengecewakan untuk dinikmati 🙂

Ini dia penampakannya :

Kemaruk... maklum buku pertama, hehe...
Kontribusi di Buku antologi ku yang pertama, hehe…

Menyertakan 1 dari 21 Cerpen yang ada di buku ini saja senangnya seperti ini, bagaimana bila bisa menerbitkan sendiri 1 buku karya kita? Aah… mudah2an kubisa segera merasakan rasa senang yang satu itu 🙂

Oya, di sudut kiri atas cover buku ini tertulis : Hasil Penjualan untuk Proyek Amal.  Jadi sesuai kesepakatan awal kita, hasil dari penjualan buku ini memang akan kita sumbangkan untuk proyek amal. Mungkin tak banyak / kecil nilainya, namun… Insya Allah bermanfaat.

Jadi… mau membaca sambil beramal? Yuuk… segera pesan banyak-banyak buku ini…. 🙂

Maturnuwun Pakde Cholik, Diajeng Orin sang DO Kumcer ini, dan juga teman-teman lainnya yang telah berbagi mimpi denganku di buku ini… Dan Insya Allah buku ini akan segera disusul 2 buku antologi lagi dan 1 buku solo… mohon doanya ya…

CerKak a la Pakdhe

Sore-sore krasa atis amarga nang njaba isih udan kawit mau awan, mbuka ‘efbe’  lha kok nemu wara-wara saka Pakdhe sing lagi nganaake bagi-bagi hadiah alias ‘Giveaway’ utawa uga kerep disingkat ‘GA’.

GA-ne Pakde sing iki ‘unik’ lho…beda karo liyane.   (Eh, yo mesti wae yo… dudu Pakdhe asmane nek nganaake GA sing biasa-biasa wae..hehe) 😀

Apa istimewane GA Pakdhe siji iki?

Judule wae ‘Giveaway 2 Hari‘, dadi tantangane yo wektune sing mung rong ndina alias mefeeet byanget iku…hehe…

Langsung wae aku ngobrak-abrik blog ‘Cak Cholik’ kagungane Pakdhe iku kanggo golek tulisan sing arep tak tanggapi.  Ndilalah  kok nemu tulisan sing judule wae wis langsung narik kawigatenku : SMS Bocor bikin tekor.

Aku pancen seneng yen maca seratane Pakde sing model ‘CerKak’ alias Cerita Cekak ngono iku. Ceritane ora ngayawara, nyritaake kedaden-kedaden sing kerep awake dhewe temoni ing urip sakdina-dinane. Gaya-basane enteng, gampang dimangerteni  lan kerep uga nyisipake geguyonan nanging ora ngilangake arti / pesen sing dikarepake.  Siji maneh sing marakake Cerkak-cerkake Pakde nyenengake diwaca lan ora mboseni, yaiku olehe milih jeneng-jeneng paragane. Kadang dipilihke saka basa jawa… dadi nek diterjemahke (sing ngerti) jan lucuuu pwool…marai ngakak ra uwis-uwis.. hehe…

Cerkak sing judule ‘SMS Bocor Bikin Tekor’ iku, nyritakake Raymoe sing karepe nraktir 3 kanca cedhake (Rabulusa, Ahadiki & Setuwingi) nanging kepeksa dadi tekor amarga ndadak mbayari ‘tamu tak diundang’ sing akehe luwih saka 20!  Lha kok bisa? Jebule kedadeyan iku disebabake bocore undangan sing lewat sms.

Sing tak tangkep saka cerita iki : (1) aja nggawa dhuwit pas-pasan yen arep nraktir kanca, sapa ngerti ana kebutuhan ndadak.  (2) yen ora diundang yo ora sah mara…apa maneh teka rombongan… melas tuan-omahe… hehe… *upps, ngapunten, Pakdhe… niki penangkepan kula sing cethek… hihi…

Pakdhe, cekap semanten tanggapan kula kangge salah setunggal seratanipun Pakdhe ing Blog ‘Cak Cholik’… mugi-mugi saged dipun tampi  🙂

Anak SMA hidung belang

Cerita tentang anak SMA memang tak ada habisnya.  Mendengar kata anak SMA maka pikiranku akan melayang ke kenangan indah kala bersama teman-teman berkegiatan Pramuka masa SMA.  Tepatnya kami bergabung di Ambalan Gajah Mada dan Dewi Sartika yang berpangkalan di SMA Negeri I  Semarang.

Selalu banyak kegiatan luar ruang yang mengasyikkan, terutama saat liburan akhir semester tiba.  Selain keasyikan bersama teman-teman itu, oleh-oleh apa yang di dapat? Seringnya adalah kondisi hidung belang.  Ya, benar-benar hidung belang dalam arti yang sebenarnya lho… Kok bisa?

Naah.. ceritanya adalah, sebagai anggota Pramuka kami sering menghabiskan waktu beraktivitas di luar ruang pada cuaca panas maupun dingin. Naik truk bak terbuka (kecuali kalau hujan), hiking ataupun mencari jejak di siang hari nan terik, bersepeda ke sana kemari dari satu pos ke pos lain, dll… Tak ada masalah saat kegiatan berlangsung.  Topi tentunya digunakan, tapi seringkali pula terlepas ataupun terlupa… Hasilnya baru dirasakan setelah kegiatan selesai… Biasanya, sehari-dua hidung memerah, lalu berikutnya kulitnya sedikit terkelupas… maka jadilah kami Si Hidung Belang untuk beberapa hari.

Masalahkah itu buat kami? Membuat kapok dan tak ikut Pramuka lagi? Tentu tidaaak! 😀

Sangking asyiknya menikmati kebersamaan dengan teman-teman se-ambalan, maka kondisi itu hanya masalah kecil buat kami.  Toh bukan hal yang permanen…. maklum, sebagai  anak SMA kami memang lagi cuek-cueknya saat itu. Yang penting asyik, masalah penampilan nomer belakangan..haha….

Anak SMA
Pramuka, salah satu kegiatan anak SMA yang mengasyikkan meskipun sering membuat hidung belang…

Begitulah cerita tentang Anak SMA Hidung Belang.  Yang pasti, mengikuti ekskul Pramuka itu kegiatan positif, banyak pelajaran untuk pembentukan pribadi generasi muda, jadi sangat boleh ditiru… 🙂

Nah, itu cerita tentang anak SMA dariku… bagaimana cerita darimu?

Artikel ini turut mendukung gerakan PKK Warung Blogger

gerakan PKK WB

Catatan : Foto-foto dipinjam dari FBnya mbak Atik Kaswarganti -rekan seangkatan tersayang… Trims yo mbak…

KBN2013 : Istimewa!

Ikut…tidak…ikut…tidak..ikut…tidak..ikuuuut! *akhirnya 🙂

Setelah sempat ‘maju mundur’ -karena satu dan lain hal- tentang keikutsertaanku di KBN 2013 di Jogja, akhirnya awal pekan lalu kepastian itu pun datang : kerjaan beres alias bisa ditinggal. Segera nyari tiket travel (alhamdulillah dapat) dan siap-siap untuk berangkat jumat sorenya.

Kalau ditanya blogger mana yang khusus ingin kutemui di KBN 2013 itu, kujawab dengan pasti, aku ingin ketemu semua teman yang sudah kukenal dari blog.  Ya, kali ini tidak ada yang khusus, karena memang -kecuali mbak Esti- belum ada yg pernah kutemui sebelumnya… hehe..  Tapi…, tak ada blogger khusus yg ingin kutemui di KBN 2013 bukan berarti tak deg2an sebelumnya lhooo…

Rasa was-was itu sempat ada karena itu adalah kopdar akbar yg pertama kali akan kuikuti. Bisakah aku ‘membaur’ dengan teman-teman yang belum pernah kutemui secara nyata? Apakah interaksi kami akan sehangat interaksi saat berbalas komen? Bukan aku meragukan teman-teman, tapi lebih kepada diriku sendiri yang seringkali agak susah memulai dengan orang baru.  Tapi kopdar pemanasan sebelumnya memperkecil rasa was-was itu. Ternyata dengan Cii Yuni & mbak Esti yg baru pertama bertemu terbukti kami bisa ‘larut’ dalam percakapan gayeng, jadi insya Allah di Jogja bisa lah aku berbaur dengan teman-teman baru di sana, begitu pikirku ‘menguatkan’ hati..hehe.. Continue reading “KBN2013 : Istimewa!”

Buku bertuliskan namaku : Proyek Monumental 2014

Jumat pagi ini, seperti biasa burung-burung berkicau menyemangatiku membuka hari.  Setelah menyelesaikan rutinitas pagi, kulirik jam di dinding kamar, dan ternyata masih cukup waktu untuk ingak-inguk di dunia maya… Maka akupun menghidupkan si merah, lalu mulai mengetikkan kata kunci dan ketika melihat dinding FB ku, langsung semangat melihat status Pakdhe yang mengabarkan telah dimulainya sebuah kontes baru.  Mungkin itu akan memecah kebuntuan ide selama beberapa hari ini… Maka akupun segera menuju TKP.

Ah, ternyata Pakdhe memberikan tantangan untuk berkreasi di tahun 2014, dan aku seperti terlecut oleh tantangan Pakdhe itu : ini saatnya aku menuliskan tekadku untuk mewujudkan mimpi selama ini !  Mimpi apakah itu ?

Buku bertuliskan namaku sebagi penulisnya.   Menerbitkan buku hasil karyaku sendiri.  Ya, mungkin itu impian kodian, dalam arti banyak teman lainnya yang bermimpi sama, tapi tetap itu mimpi spesial bagiku.  Bagi beberapa teman lain bahkan sudah bukan menjadi impian lagi.  seperti Pakdhe misalnya. Menyaksikan keberhasilan beliau menerbitkan 1 buku dan kemudian disusul terbitnya buku-buku beliau lainnya, sangatlah menginspirasiku ! 🙂

Kenapa teman-teman lain telah bisa mewujudkan mimpi, sementara mimpiku masih utuh berwujud mimpi?

Ah, sungguh aku malu.  Sejujurnya, halangan terbesarku selama ini adalah rasa minder.  Apakah apa yang kutulis layak untuk dibaca orang lain? apakah hasil karyaku pantas untuk dipublikasikan? Apakah…apakah…apakah… ah… begitu banyak  kata ‘apakah’ yang selama ini menghalangi langkahku, hingga aku berhenti di satu titik dan tak maju-maju 🙁   Sudah saatnya menyingkirkan ragu & beranjak dari zona minder itu… !

Pagi ini, menjawab tantangan Pakdhe, aku sekaligus menantang diriku sendiri : Di tahun 2014, harus kuwujudkan impianku !  Ya, dengan menuliskan ini, mau tak mau nanti aku harus merealisasikannya, entah bagaimana caranya, karena bagiku menulis adalah seperti berkata-kata.  Apa yang kita tulis seperti apa yang kita katakan, haruslah dapat dipertanggungjawabkan.  Ini adalah semacam janji -disaksikan banyak orang- alangkah maluuuu…. bila nantinya aku tak sanggup merealisasikan janji itu.

Maka, setelah menuliskan ‘janji’ ini, aku akan segera membuka-buka kembali draft yang dulu pernah kutulis itu.  Setidaknya ada satu kumpulan kenangan atas pengalaman indah 2 tahun lalu, dan belajar dari pengalaman Pakdhe yang telah membukukan tulisan-tulisannya di blog, hal itu juga bisa menjadi langkah awalku mewujudkan mimpi.  Tak lupa aku harus mencermati lagi beberapa tulisan teman tentang bagaimana langkah-langkah menerbitkan sebuah buku.  Hm, aku yakin ini memang bukan hal mudah… tapi, dengan Bismillah…. semoga Allah memberi kemudahan…

Teman-teman…. selamat hari Jumat…. mohon doa dan dukungannya yaa…. 🙂

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan:Proyek Monumental Tahun 2014.

Pohon kenangan di rumah masa kecil…

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pada lebaran kali ini aku juga mudik ke Semarang.  Meskipun tak seperti biasanya, kali ini hanya 2 hari saja yaitu pada tanggal 10-11 Agustus 2013, karena pada tanggal 12 nya sudah harus masuk kerja lagi.. 🙁

Tapi, meskipun hanya sebentar, alhamdulillah acara kumpul keluarga di rumah masa kecil kami selalu menyenangkan dan penuh kesan.  Selalu ada kegiatan asyik ataupun cerita-cerita seru dari masa kecil kami yang menyemarakkan saat-saat kumpul dengan kakak-adik ditambah para keponakan ini.

Salah satu pemicu kenangan lama kami itu adalah sebuah pohon Nangka ( Artocarpus heterophyllus yang tumbuh di halaman rumah kami.  Sejak kami menempati rumah itu setelah kepindahan kami dari kota sejuk Salatiga, pohon Nangka itu sudah ada di halaman rumah kami.  Saat itupun sudah terlihat besar, tajuknya yang lebat menaungi halaman rumah kami sehingga area di bawah pohon itu selalu menjadi tempat favorit bagi kami untuk bermain bersama teman-teman.

Pohon itupun selalu berbuah lebat, pating grandul menyenangkan hati yang melihatnya.  Setiap kali musim buah, kami hampir tiap hari membagi-bagikan buah nangka yang sudah matang kepada tetangga kanan-kiri ataupun mengirimkannya kepada saudara, karena tak pernah habis kami makan sendiri.  Daging buahnya berwarna kuning agak oranye -tak seperti nangka yang banyak di pasar yang berwarna kuning pucat- terasa manis, dan tebal.  Bahkan dami-nya pun tebal sehingga selalu menjadi rebutan saat kami kecil 🙂 Continue reading “Pohon kenangan di rumah masa kecil…”

[Berani Cerita#22] Akhir penantian itu…

“Dio sayaang…, baik-baik dengan Oma Nina ya… Nggak boleh rewel…” begitu bujuk Mama Luna sambil mengelus kepalaku dan berusaha memindahkanku dari gendongannya, ke pelukan Oma Nina.

Aku meronta tak mau lepas dari gendongannya, dan dia pun kembali memeluk dan menenangkanku. ” Cuma beberapa hari, sayaaang… Lalu mama akan menjemputmu dan kita bersama lagi,” bujuknya lembut.  Akhirnya akupun menurut, berpindah dari pelukan hangatnya ke pelukan rapuh Oma Nina.  Sekilas diciumnya kepalaku, lalu bergegas menuruni anak tangga, meninggalkanku.  Ah, aku tak tahan dengan perpisahan ini, kupalingkan wajahku dari memandangi langkahnya yang lambat karena perutnya yang mulai membuncit.  Cepat jemput aku kembali, mama…bisik hatiku.

Namun ternyata, janjinya tak kunjung nyata.  Hari berganti, minggu berlalu dan perpisahan di tangga rumah Oma Nina itu telah terhitung bulan, tanpa kehadirannya kembali.  Tiap sore aku setia duduk menantinya di anak tangga teratas teras rumah Oma Nina, dengan keyakinan penuh bahwa itu adalah sore terakhir penantianku… namun sejauh ini semua tampaknya sia-sia. Malam selalu menjelang begitu cepat dan mengakhiri penantianku, karena Oma Nina tak pernah membiarkanku menunggu di kegelapan malam.  Dengan penuh kasih ia akan mengajakku masuk rumah, sebagaimana kasihnya mengurusiku selama itu, namun dia bukan kamu, mama…

Sore ini, entah sore yang keberapa, tak sanggup lagi aku menghitungnya.  Rembang petang rupanya telah menjelang, dan dengan lesu aku menyadari, rinduku padamu belum akan tuntas malam ini.  Nanar kupandangi kelokan jalan di depan rumah, sebelum sebentar lagi Oma Nina mengajakku masuk.

Ya Tuhan! Bukankah itu kau yang berdiri di balik pagar??? Mama… kenapa kau hanya berdiri diam di situ dan tak segera menghambur memelukku? Bergegas aku bangkit dari dudukku untuk menyambutmu, namun… dua buah tangan hangat memelukku tiba-tiba.  Sambil mengangkat tubuhku ke dalam pelukannya, Oma Nina tersedu.

“Ah.. Dio, kasihan kau nak… Penantianmu sia-sia… ” begitu bisiknya lirih.

Hah, apa maksud Oma Nina? Penantianku sudah berakhir, Oma… Bukankah itu Mama Luna yang datang hendak menjemputku? Aku meronta, ingin melompat dari pelukannya, sementara pandanganku ke pagar terhalang tubuhnya.

“Dio…, Mama Luna sudah pergi, nak… Dia dan bayinya, tak berhasil bertahan…” bisik Oma Nina kembali, kali ini sambil berputar kearah pagar, lalu duduk memangkuku di ujung anak tangga itu.

Mataku nanar mencari sosok Mama Luna di balik pintu pagar.  Ya, dia masih berdiri di sana menatapku sambil tersenyum, ah… ada bayi mungil dalam gendongannya… tapi… mengapa bayangnya mengabur? Mama Luna, jangan pergi !!

Arrgh… aku tak berdaya melepaskan diri dari gendongan Oma Nina, menatap bayangan terkasih yang perlahan memudar di balik pintu pagar…. dan tangisan sedihku hanya berupa eongan tak jelas, teredam pelukan erat Oma Nina…

Note : 413 kata.

Miscall dari Eyang

“Wiin, Eyang gimana?”

“Belum tahu, Kak…”

Wina adalah yang ke 5 kutanya tentang Eyang yang miscall sejak pagi, tapi tak menjawab telepon ataupun  sms dari kami.

Akhirnya siang ini aku ke rumah Eyang, menggenapi keluarga kami yang telah berkumpul di sana.

“Eyaang… Eyang sehat kan?” seruku sambil menghambur kepelukannya.

Eyang tersenyum manis, dan menjawab dengan riang, “Alhamdulillah… Sehat nduk..  Eyang cuma kangen kalian kok…”

[BeraniCerita#12] Hadiah dari Bunda

Setelah beberapa kali menekan remote  untuk mengganti-ganti saluran TV dan tak menemukan acara yang diminatinya, akhirnya Putri memutuskan untuk mematikan saja TV itu.  Lalu dia menghampiri tempat tidur besar di sudut kamarnya dan menghempaskan diri di kasur empuk itu.

Dia tersenyum puas ketika melayangkan pandangnya menikmati kamar luas itu.  Sudah lebih setahun dia menempati kamar indah itu, sejak Bunda menerima pinangan Oom Doni, duda kaya yang sekarang dipanggilnya Ayah.  Lebih dua belas bulan telah berlalu namun tak juga berkurang rasa gembiranya menikmati kemewahan yang sekarang melimpahinya, dunia gemerlap yang tak disangka-sangka menggantikan kehidupan sederhana yang dulu dimilikinya berdua ibunya.

Putri memiringkan badannya, meraih Teddy Bear besar berbulu lembut yang menjadi hadiah dari ayah barunya setahun lalu.  Seulas senyum kembali terukir di bibirnya.  Esok adalah ulang tahunnya yang ke 14, dan ia yakin akan mendapat hadiah-hadiah indah lainnya dari orang-tuanya.  Dan akhirnya Putri pun terlelap, masih dengan senyum yang terukir di bibirnya.

***

Pesta meriah itu telah usai dan teman-temannya telah meninggalkan rumahnya.  Putri tak sabar membuka bungkusan-bungkusan kadonya.  Senang hatinya melihat satu demi satu hadiah yang diterimanya.  Ah, setahun lalu, hanya ada tiga bungkusan hadiah yang diterimanya.  Satu boneka beruang dari ayah barunya, satu lagi tas sekolah cantik dari ibunya, dan satu tempat pinsil dari Tuti, teman sebangkunya dulu. Ya, dulu, karena sudah lama ia tak lagi sebangku dengan Tuti bahkan  malam inipun Tuti tak diundangnya.

Yah, tahun lalu -kecuali Tuti- tak ada teman-teman yang mengucapkan selamat padanya, apalagi memberikan kado untuknya.  Tahun lalu, ia hanyalah Putri -gadis sederhana yang tak diperhitungkan teman-temannya.  Namun kini? Ah…lihat saja kado-kado bertumpuk itu…  Dunia gemerlapnya membawa teman-teman baru, seolah madu yang menghadirkan kumbang-kumbang 🙂

Kado terakhir yang belum dibukanya, berbungkus kertas indah seperti kado-kado sebelumnya.  Putri menoleh kepada ibunya ketika meraih kado itu.  Dilihatnya ada senyum di bibir ibunya, yang berdiri bersisian dengan ayahnya.  Kado itu terasa ringan ketika ditimangnya… apakah isinya? Apakah ponsel baru seperti yang sedang diinginkannya? Tergesa ia membuka kado itu, dan tertegun ketika melihat isinya. Continue reading “[BeraniCerita#12] Hadiah dari Bunda”