Prompt #57 – Lorong Kenangan

Lorong itu sepi lagi.  Sesudah sesiang tadi ramai dengan kemeriahan hari pertama sekolah.  Selalu senang menikmati keceriaan adik-adik yang baru saja resmi menjadi murid SMA Ternama ini dan sedang mengikuti MOS.

Rasa bangga terlukis jelas di wajah-wajah ceria mereka.  Seragam putih-biru masih mereka kenakan, dilengkapi atribut khas masa yang dulu sering disebut masa perploncoan itu. Ah, melihat mereka mondar-mandir ceria di lorong kenangan itu, membangkitkan rasa haru di hatiku.

Ya… lorong itu, memang lorong kenangan bagiku.  Kenangan ketika keadaanku persis sama dengan mereka : siswa baru SMA Ternama.  Masih kuingat jelas rasa bahagia yang memenuhi dadaku ketika pertama kali menapakkan kaki menyusuri lorong itu, menuju ruang kelas X-C, yang akan menjadi kelasku.

Satu lagi kenangan indahku, di sudut lorong itu, dekat Mading. Tempatku pertama kali berkenalan dengan gadis manis berkuncir lima berpita ungu, yang sama-sama dihukum berdiri di sana.

“Hai… siapa namamu?” tanyaku

“Lolita. Eh, salah apa kau sampai dapat hukuman ini?”

“Itu… Kacang Panjang di Oseng-osengku tak semua pas 3 cm. Kau?”

“Seharusnya aku pakai lima warna, bukan hanya ungu…” jawabnya menunjuk pita di kuncirnya.

“Warna kesukaanmu?”

“Iyalaah…” jawabnya centil. Kami pun tertawa tertahan, takut dibentak lagi.

Sejak itu, hari-hari di masa MOS itu terasa cepat berlalu, dengan kedekatan kami : Oki dan Lolita, yang seolah tak terpisahkan. Namun pada akhirnya hal itu memancing kecemburuan dari teman lain. Bahkan tak hanya teman-teman seangkatanku, juga beberapa senior kami.  Tentu saja, karena Lolita tak hanya cantik dan selalu ceria, ia pun pintar dan pandai bergaul.

Ah.. mengingat kecemburuan itu, membuyarkan semua kenangan indahku dan mengungkit kenangan pahitku di lorong itu. Ya, kenangan terakhirku di lorong itu begitu pahit : saat kelemahan fisikku tak sanggup menerima kebrutalan kakak-kakak senior dan nafas terakhirku terpaksa kuhembuskan di ujung lorong itu!

Hanya satu doaku selalu, semoga peristiwa MOS kelabu itu tak pernah terulang. Cukup aku saja korbannya…

Subuhan di Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal seringkali menjadi tempat jujugan bagi para pendatang di Ibu Kota. Seperti halnya yang kami lakukan menjelang subuh 10 Juli 2014 kemarin, ketika kami sampai di Stasiun Gambir pada pukul 03.30 dan mendapati bahwa lingkungan stasiun menjelang subuh itu kurang kondusif untuk bersantap sahur & menunggu subuh. Maka kami pun memutuskan menuju Masjid Istiqlal. Alhamdulillah, di masjid agung dengan interior nan cantik itu, kami bisa sholat berjamaah disambung dengan mendengarkan kultum subuh dari imam masjid sesudah sholat. Siraman rohani pembuka hari… 🙂

Jamaah subuh mendengarkan kultum dari imam Masjid Istiqlal

“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog The Ordinary Trainer”

LOGO

 

Antara aku dan Indonesia

Indonesia tanah air Beta

pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala

tetap dipuja-puja bangsa

Reff :

Di sana tempat lahir Beta

dibuai dibesarkan Bunda

Tempat berlindung di hari tua

tempat akhir menutup mata

Sungguh Indah tanah air Beta

tiada bandingnya di dunia

Karya indah Tuhan Maha Kuasa

bagi bangsa yang menujanya

Reff :

Indonesia Ibu Pertiwi

Kau kupuja Kau kukasihi

Tenagaku bahkan pun jiwaku

Kepadamu rela kuberi

Continue reading “Antara aku dan Indonesia”

Liebster Award dari Mbak Monda

Liebster Award

Beberapa waktu lalu saat BW ke blognya mbak Monda ternyata aku salah 1 dari 11 yang ketiban sampur untuk mengerjakan PR yang ada bersama Liebster award ini. Terimakasih, mbak Monda… Tapi maaf yaa, ngerjain PR nya lamaa, maklum suka susah kalau disuruh cerita tentang diri sendiri  🙂

Oya,aturan Liebster Award  adalah :

  1. Post award ke blognya
  2. Say thanks buat yang memberi award dan link back ke blog dia
  3. Share 11 hal tentang dirinya
  4. Jawab 11 pertanyaan yang diajukan si pemberi award
  5. Pilih 11 blogger lainnya dan ajukan 11 pertanyaan.

 

OK deeh…, yuuuk kita mulai :

Aturan no. 1 : sudah.

Aturan no. 2 : sudah. Continue reading “Liebster Award dari Mbak Monda”

Mimpi Lintang

Sumber

Lintang asyik menikmati malam yang tampak begitu indah dari balik jendela kamarnya. Langit dihiasi gemintang nan sibuk berkerlipan, lalu tiba-tiba… wuuss… Bintang jatuh!

Ia pun terkesiap, cepat-cepat memejamkan mata dan mengucapkan permintaannya : semoga aku juaranya!

Lalu tiba-tiba dirasakannya bumi bergoncang..eh bukan, badannya yang bergoyang-goyang. Dengan kaget dibukanya mata, ternyata ibu yang membangunkannya karena hari sudah siang. Argh…, hanya mimpi rupanya…

Tapi, ketika sambil mandi ia mengingat kembali mimpinya, iapun tersenyum. Hey, siapa tahu mimpi itu bukan sekedar bunga tidur, jangan-jangan itu sebuah pertanda! Ya, pertanda kemenangannya di kontes siang nanti… Continue reading “Mimpi Lintang”

Pilihan ketiga

Sumber

Aku bersama Nadia. Sementara ayah dan ibu berada tak jauh dari kami. Tetapi kami tak melihat keduanya. Kami hanya mendengar suara-suara mereka saling berteriak. Lalu suara itu menghilang. Tak terdengar lagi.

“Bagaimana menurutmu, Dan?” tanya Nadia pelan.

“Apanya?” tanyaku tak mengerti.

“Perpisahan. Tampaknya hal itu tak terelakkan lagi,” bisiknya parau.

Ya, aku juga menyadari hal itu, menilik semakin seringnya pertengkaran keduanya meramaikan rumah kami.

Aku menoleh dan kulihat air mata membasahi pipinya. Ah, Nadia si lembut hati. Mungkin dia yang akan terluka paling parah diantara kami berempat.

“Kau memilih siapa?” tanyaku kemudian.

“Maksudmu?”

“Mereka pasti akan memisahkan kita. Kau boleh memilih duluan, Ayah atau Ibu?”

Nadia menghapus air matanya. Lalu tiba-tiba bangkit dan duduk menghadapku.

“Dania, kenapa aku yang harus memilih duluan?” Continue reading “Pilihan ketiga”

Tak hanya ada batik di Kota Pekalongan

Kota Batik di Pekalongan, bukan Jogja bukan Solo.…” itu adalah penggalan lirik lagu Slank ( Sosial Betawi Yo’i) yang menggambarkan bahwa Kota Pekalongan identik dengan Kota Batik.  Ya, memang Batik bisa dikatakan denyut nadi perekonomian Kota Pekalongan. Belanja Batik? Ya… di Pekalongan saja… Pasar Setono adalah salah satu pusatnya 🙂

Jlamprang - salah satu motif batik Pekalongan
Jlamprang – salah satu motif batik Pekalongan

Belajar tentang Batik? Ada Museum Batik di Kota Pekalongan, tempat menyimpan koleksi Batik nan indah dan juga ada sesi workshop bagi pengunjung yang ingin belajar membatik di sini. Selain itu, ada pula Kampung Batik yaitu di Kauman dan Kergon / Pesindon.  Di sana, wisatawan tak hanya dapat memborong aneka produk batik namun juga dapat belajar membatik pada para pengrajin di kedua kampung batik itu.  Masih berkaitan dengan batik, adapula Kampung Canting di Landungsari, di sini para seniman membuat canting-canting ataupun cap-cap sebagai perlengkapan membatik, tidak hanya dalam ukuran sebenarnya namun juga souvenir-souvenir canting / cap nan cantik untuk dijadikan oleh-oleh dari Kota Pekalongan.  Oya, di Kota Pekalongan juga diagendakan Pekan Batik Nusantara yang diselenggarakan setiap tahun  pada tgl 1-5 Oktober sejak tahun 2007.

Kerajinan Cap Batik
Kerajinan Cap Batik

Continue reading “Tak hanya ada batik di Kota Pekalongan”

[FF Cinta Pertama] Cinta Monyet

“Niaaar…, sdh jadi beluuum?” suara centil Tia menyambutku pagi itu.

Kelas masih sepi, tumben dia datang pagi-pagi begini.

“Apanya?” sahutku pura-pura tak tahu.

“Halaaah…, suka gitu deh..” dengan lincah dia duduk di sebelahku, lalu meletakkan sebatang coklat kegemaranku di atas meja, ” niih.. sudah kubawakan untukmu.”

Aku pun tertawa, memasukkan coklat itu ke dalam tas dan segera mengangsurkan selembar kertas padanya.

Sekilas dia membacanya, lalu senyum manis terulas di bibirnya, ” Makasih, Niar. Kau memang jago merangkai kata.  Aku yakin Ardi akan klepek-klepek membaca puisi ini.”

Aku hanya tersenyum mendengar pujian yang sudah sering kudengar, khususnya dari teman-teman  sekelas yang memintaku menuliskan puisi untuk dikirimkan pada cowok / cewek gebetan mereka.  Sudah cukup banyak coklat atau kue-kue yang kubawa pulang sebagai barter puisi-puisi pesanan itu. Lumayaan.. hehe..

Sebenarnya, aku geli dengan kelakuan teman-temanku itu.  Belum lagi lulus SD sudah naksir-naksiran dengan teman sekelas ataupun tetangga kelas. Mendingan juga belajar dengan rajin agar  bisa mengerjakan ujian nanti dengan baik, begitu pikirku kala itu. Continue reading “[FF Cinta Pertama] Cinta Monyet”

Memanjakan mata di Dunia Ely

Mbak Ely mau bagi2 kartu pos cantik!

Wow…, pasti banyak teman yang sudah tahu kabar bagus itu yaa… malah mungkin sudah banyak yang ikutan gawe-nya Mbak Ely ini.  Dan, aku tak mau kalah tentunyaa…..

Kenapa mau ikutan?

Karena aku salah satu dari buanyaaaak teman DUNIA ELY yang selalu suka dan suka bertandang ke sana…. (dan tentu karena ingin dapat kartu pos juga.. hehe…).

Kenapa suka ke sana?

Karena banyaaak hal yang kudapat dari sana : tulisan-tulisan yang ringan namun berisi dengan 1001 materi, berbalas komen yang kadang bikin senyum-senyum sendiri, dan…. memanjakan mata! Continue reading “Memanjakan mata di Dunia Ely”

Reni Judhanto : Antara Blog, Buku dan Sampah

Reni Judhanto.

Rasanya sudah banyak yang mengenal blogger wanita satu ini.  Namun terus terang, setelah membaca tulisan mbak Reni yang dibuat untuk pendaftaran Srikandi Blogger 2014 lalu, aku merasa lebih kenal dengannya.

Dalam tulisan itu aku membaca semangat mbak Reni untuk terus berkarya.  PNS yang berdomisili di Madiun ini, tak putus semangat untuk membagi waktu antara kesibukan di dunia kerja, tanggung-jawab sebagai istri dan ibu dan juga menyalurkan hobby menulis melalui 2 rumah maya-nya : Catatan Kecilku dan The Others, yang sudah dimilikinya sejak 2008 & 2009 itu.

Kecintaannya akan buku, merupakan hal yang sangat bisa kumaklumi, karena buku juga hampir selalu menjadi magnet tersendiri bagiku. Namun, aku belum sampai pada taraf berbagi buku sebagaimana yang telah sering dilakukan mbak Reni ini.

Dan hal lain yang menarik tentang mbak Reni, adalah perhatian lebihnya pada…. sampah! Ya, sampah, sesuatu yang tampaknya sepele namun bisa membawa dampak buruk bila tak dikelola dengan baik sejak dari rumah tangga.  Hal ini rupanya sangat dipahami oleh mbak Reni.

“… jika para pemulung dapat dengan mudah mengambil ‘barang’ dari tempat sampah kita, otomatis sampah yang dibawa dari rumah kita ke TPS dan TPA sudah sedikit berkurang bukan? Sekarang kita bayangkan gundukan sampah di TPS dan TPA yang bercampur antara sampah organik dan anorganik, pasti menyulitkan para pemulung mencari ‘barang’ yang mereka butuhkan bukan? Akibatnya, ‘barang-barang’ yang harusnya bisa diambil para pemulung dan dapat didaur ulang tak dapat terambil karena tertimbun sampah-sampah lainnya sehingga timbunan sampah di TPS dan TPA makin menggunung. Masuk akal, gak sih Mak? “

Itu salah satu pemikiran mbak Reni yang membuatnya ngotot melakukan pilah sampah di rumahnya, meskipun tempat sampah di lingkungannya masih belum terpisah antara sampah organik & non organik.  Jika sebagian besar ibu rumah tangga berpikiran seperti itu… maka akan terciptalah lingkungan bersih & nyaman yang kita idam-idamkan itu, bukan?

Dua tulisan lain tentang Bank sampah yang ditulis mbak Reni di blognya itu juga masuk dalam catatanku, sebagai bahan bagus untuk kutularkan bagi kelompok ibu-ibu binaan kami yang sedang getol memulai upaya pengelolaan sampah dari rumah tangga.

Demikianlah, bagiku, mbak Reni Judhanto adalah salah satu blogger wanita yang inspiratif. Seorang wanita yang terus berusaha menyeimbangkan antara kewajiban dan hobby, seorang pemerhati lingkungan yang tak enggan berbagi… Seorang blogger wanita yang menyimpan semangat Kartini di dadanya!

Artikel ini diikutkan dalam Giveaway Ada Kartini Di Dadamu