Menguak Dahsyatnya Ibadah Haji bersama Pakdhe Cholik

DIH

Judul Buku :

Dahsyatnya Ibadah Haji

(Catatan perjalanan ibadah di Makkah dan Madinah)

Penulis : Abdul Cholik

Jenis Buku : Motivasi Islami

Jumlah Halaman : ix + 233 halaman

Penerbit : PT Elex Media Komputindo

ISBN : 978-602-02-4810-3

Cetakan Pertama : 2014

Harga : Rp. 47.800,-

*** Continue reading “Menguak Dahsyatnya Ibadah Haji bersama Pakdhe Cholik”

Horeee… Ibuku sukaaa…

Alhamdulillah…. akhirnya masa heboh akhir tahun berlalu juga.., dan setelah 2 minggu blog ini sawangen akhirnya bisa menulis lagi di sini..  🙂

Mengawali tulisan pertama di tahun baru… ini adalah sekelumit percakapan melalui pesan singkat dengan ibuku.

“Mah…, pun diwaos bukune? Halaman 25 ampun kesupen lho…hehe…”

“Wis…, dhisik dhewe malah.. Suwun yoo… Iki wis tekan halaman 146 wong angger karo ngenteni nang RS tak waca bukune”

“Waah, padahal bukune kandel, nggih… mboten kabotan le ngasta teng RS?”

“Ora. Awale weruh kandele buku yo sungkan.. tapi bareng wiwit maca trus asyiik.. lali karo kandele buku..”

Nah, begitulah sebagian ‘percakapan’ dengan ibuku di awal tahun baru tentang sebuah buku yang kuhadiahkan pada beliau dalam rangka Hari Ibu kemarin.

Syukurlah, rupanya ibu suka membacanya, bahkan buku itu menjadi ‘teman menunggu’ bagi ibu yang akhir-akhir ini rutin 2x seminggu menemani kakak saat kontrol / kemo di salah satu RS di Jogja.

Buku apakah itu? Continue reading “Horeee… Ibuku sukaaa…”

Yang Kedua dan Keempat

Ketika iseng melihat-lihat tulisan-tulisanku di rumah maya yang ini, khususnya pada kategori ‘buku ku’, sempat mengerutkan kening ketika hanya menemukan 2 tulisan -yaitu tentang buku solo pertamaku & buku antologi pertamaku- sementara aku merasa telah mendokumentasikan beberapa antologi lain yang juga memuat karyaku.

Ternyata eh ternyata…. yang satu kutuliskan di blogdetikku, sementara 2 buku lagi memang belum sempat kuulas di sini..hihi… *pikuuun…

Jadi -tanpa bermaksud pamer- aku akan menuliskan 2 buku yang tertinggal itu kali ini, untuk melengkapi dokumentasi pribadiku tentang beberapa buku yang -Alhamdulillah- telah terbit pada tahun 2014 ini dan memuat tulisanku.

Buku pertamaku yaitu Notes from Mecca terbit Bulan Februari, bulan yang sama saat kuterima buku antologi pertamaku yaitu Blogger Punya Mimpi yang merupakan Kumpulan Cerpen dari warga Warung Blogger.

Yang Kedua

Adapun buku antologi kedua ku adalah Harmoni yang merupakan antologi Warung Blogger pula, namun kali ini berupa Kumpulan Puisi.

HARMONI - Antologi Puisi Warung Blogger.
HARMONI – Antologi Puisi Warung Blogger.

Berkolaborasi dengan 34 kawan lain dalam buku ini sungguh merupakan suatu kebanggaan bagiku.  Ke-80 untaian kata indah ini dikelompokkan dalam 5 Bagian yaitu : Mengetuk Pintu-Mu ; Cintamu Sesejuk Embun ; Bisikan Alam ; Kasidah Nyeri dan Zamrud Cinta Untuk Nusantara.  Hm, dengan membaca judul-judul bab itu tidakkah kalian penasaran akan puisi-puisi yang terangkum di dalam masing-masing bab itu, teman? Continue reading “Yang Kedua dan Keempat”

3 Alternatif berbagi bacaan

Mempunyai buku-buku bagus, ingin berbagi dengan teman atau sahabat, namun sayang untuk meminjamkannya karena terbukti bahwa banyak peminjam yang tidak mengindahkan etika peminjaman buku dan hasilnya malah bikin kecewa?

Sebenarnya adakah cara-cara lain untuk berbagi bahan bacaan, tanpa harus sakit hati karena buku yang dipinjamkan rusak / tak kembali?

Hm.., menurutku ada beberapa cara berbagi bacaan , antara lain :

1. Hibah buku

Hah? Hibah buku bukannya memberikan buku? Hawong dipinjam saja sayang.. lha kok malah diberikan?

Ya, hibah memang memberikan buku. Jadi menurutku, kalau serius ingin berbagi bacaan bagus, tapi tak mau ‘kepikiran’ kalau buku kesayangan itu dipinjamkan… solusinya antara lain ya beli lagi buku yang baru dengan judul yang sama lalu hibahkan.

Bisa dihibahkan pada perpustakaan / taman baca di sekitarmu, atau pada kelompok / komunitas yang sekiranya memang dapat mengambil manfaat dari buku itu, atau sebagai hadiah pada beberapa teman / kerabat yang memang menginginkannya 🙂

Sedekah tak hanya dengan uang saja bukan? Sedekah buku = sedekah ilmu 🙂 Continue reading “3 Alternatif berbagi bacaan”

Etika peminjaman buku

Bbrp_bukuqAda yang bilang : ” Buku itu seperti halnya berlian… tidak untuk dipinjamkan.”

Hm, apakah kau setuju dengan pernyataan itu, teman?

Kalau aku, setengah setuju.  Lho…setuju kok setengah-setengah? nanggung amaat… hehe…

Maksudku, aku setuju bahwa buku sama berharganya dengan berlian. Namun bukan berarti tidak untuk dipinjamkan. Sayang kan, kalau hanya numpuk saja tanpa ada yang mengetahui apalagi memanfaatkan ‘isi’nya? Mungkin -bagiku- lebih tepatnya adalah boleh dipinjamkan, dengan syarat dan ketentuan berlaku. #eh, kok jadi mirip iklan yaa? 🙂

Hehe, jelasnya… kita harus pilah-pilih teman yang bisa dipinjami buku – barang berharga kita – itu. Kenapa harus demikian?

Ya, tentunya agar jangan sampai kita berniat baik … tapi berujung pada penyesalan : buku yang dipinjamkan rusak, lama kembali… atau malah tidak kembali sama sekali! 🙁

Sedih? Ya… pastilah sedih bila hal itu terjadi.  Barang yang kita sayang-sayang, dirawat dengan baik dan hati-hati, ternyata mendapat perlakuan buruk bahkan tak dapat kita temui lagi.  Itu mimpi buruk tentunya!

Kok, tahu? Sudah pernah mengalami?

Sudaah… Beberapa kejadian tak mengenakkan di waktu lampau telah membuatku lebih memilih-milih teman yang akan kupinjami. Tapi…ternyata aku masih kurang hati-hati dalam memilih (mungkin karena lebih mengedepankan faktor kasihan), sehingga saat ini pun aku sedang kangen dengan  3 buah buku yang belum jelas nasibnya.

Sudah beberapa bulan lalu aku meminjamkannya pada seorang teman yang kala itu sedang membutuhkan bacaan perintang waktu… namun entah dia tipe ‘pembaca super duper lambat’ atau  ada alasan lain yang tak kumengerti, nyatanya sampai saat ini belum satu pun dari 3 bukuku itu  yang kembali.  Hiks…

Menurutku, perlu ada etika khusus peminjam buku, antara lain :

  1. Menjaga keutuhan & kebersihan buku.
  2. Memperkirakan waktu membaca & menyepakati waktu peminjaman
  3. Segera mengembalikan buku pinjaman setelah selesai di baca
  4. Memberitahukan kepada pemilik bila belum selesai membaca namun waktu peminjaman yang disepakati telah lewat
  5. Please…, jangan lipat halaman.. pakai pembatas buku yaa…. ( ini tambahan dari Bu Prih )
  6. Jangan dipinjamkan lagi pada orang lain tanpa memberitahu / seizin pemilik buku (yg ini tambahan dari Mbak Nanik Nara )
  7. …..

Hm…, ada yang mau menambahkan lagi? Mangga lhoo…. 🙂

***

Catatan : Oya, tulisan ini sudah tayang sebelumnya di Blog IIDN Semarang.

 

Bercermin dari Sebuah Renungan

Musing Religion

Judul Buku : MUSING RELIGION (Sebuah Renungan)

Penulis : Bunda Lily

Editor : Catur Sukono

Layouter : Anang Subchana

Desain Cover : Dani Sulistyanto

Tebal Buku : vi + 192

Penerbit : Halaman Moeka Publishing

Cetakan : Juli 2013

***

Memaknai Penderitaan.  Itulah judul ‘bab’ pertama dari buku yang menurut Bunda Lily -penulisnya-  berisi perenungan yang beliau simpulkan dari saat-saat kebersamaannya dengan Ibunda tercinta – Sang Guru Kehidupannya.

Membaca ke-57 hal yang dituliskan di buku ini, buatku seakan melakukan perjalanan untuk menilai hati dan kehidupanku sendiri.  Menghayati hal-hal yang dibahas di buku ini, membuatku mempertanyakan penerapannya dalam kehidupan pribadiku : sejauh mana hal-hal itu telah menjadi bagian dari hidupku? Seolah aku disodori cermin besar dan melihat masih begitu banyak hal yang harus kuperbaiki ! Continue reading “Bercermin dari Sebuah Renungan”

Lajang Babad lelakone Kasijo (3)

Ini adalah petikan ketiga dari terjemahan tulisan Mbah Kakung Kasijo. Oya, kisah-kisah sebelumnya dapat dibaca  di sini.

***

Sajroning aku sekolah mau wis ngiras ajar dodolan werna-werna. Ora nganggo isan-isin kaya ta adol kayu areng, kulakan dewe duwite yoiku celengan naliko buruh nglinting rokok. Gonta ganti dodolanku, lebar iku mau geplak lan jenang, lebar iku krupuk lan karag nuli roti nganggo pupuk gula pasir, nuli bolang-baling.

Suwe-suwe sak metuku saka Karanganyar aku wis ora bakulan maneh, sekolah maneh ana ing Jetis (Leerschool Jetis). Kang dadi wewakile ngleboake Karsodinama agen pulisi, kang mbayari yo bapakku dewe, Joyo Setika.

Nalika semana wis lumrah pamulangan jaman mlebune ana ing Sasi Sawal tanggal ping 5. Unggah-unggahan mesti ing Sasi Ruwah ngarepake Sasi Pasa, dadi tanggal ping 28 Ruwah. Kang dadi mantri gurune Bahu Atmaja, nyekel ing pangkat siji, Cakra Suwignya nyekel pangkat lima, Adi Sumarta nyekel pangkat telu, Mangun Sudirjo nyekel pangkat papat lan isih kabantu para murid ing Normalschool kang wis pangkat papat.

Tamatku saka pamulangan mau ing tanggal ping 3 wulan 4 tahun 1924, ing nalika iku uga ana eksamenan werna loro, yaiku : Normalschool (NS) lan Kursus Guru Desa (CGD). Nanging wis wiwit pada ora oleh bayaran. Continue reading “Lajang Babad lelakone Kasijo (3)”

Belajar bangkit dari kisah DR. Sri Manullang

 Ev-Is-A

  • Judul Buku : Everything Is Alright – Sekuntum Mawar Untuk Negeri
  • Penulis : DR. Sri Damayanty Manullang
  • Editor : Herlina P. Dewi
  • Desain Sampul : Ike Rosana
  • Layout Isi : Diandracreative
  • Proof Reader : Tikah Kumala
  • Jenis Buku : Memoar – Kisah Inspiratif
  • Jml Halaman : xxxii + 388 hlm
  • Penerbit : Stilleto Book

 

Awalnya, ketika memilih buku ini di antara tumpukan buku-buku terbitan Stiletto Book di sebuah toko buku, aku tertarik pada sampulnya dan mengira telah menemukan sebuah buku perjalanan biasa.  Ya, sampul depan -yang menggambarkan sebuah kota / daerah bersalju- telah menggiringku pada kesimpulan awal itu.  Lalu ketika aku melihat sampul belakangnya -yang tak kalah cantik dengan gambar Menara Eifell- dan membaca apa yang tertulis di sana, barulah aku sadar bahwa buku (lumayan tebal) yang kupegang itu memang sebuah buku perjalanan, namun bukan buku perjalanan biasa.

Tepatnya itu buku tentang  perjalanan hidup seorang perempuan cantik bergelar HDR (Doktor besar) yang mampu bangkit dari kegagalannya dan sedang bertekad mentransfer ilmu Competitive Intelligence  –yang telah dipelajarinya bertahun-tahun di Prancis- sebagai mawar persembahannya bagi ibu pertiwi tercinta. Continue reading “Belajar bangkit dari kisah DR. Sri Manullang”

Lajang Babad Lelakone Kasijo (2)

Ini lanjutan tulisan Mbah Kakung yang kemarin….

……

Kasijo kelairan ing dina Setu Wage = 13,  manut ing petung bocah kakon aten ( Mei 1909 ). Wiwit nalika isih cilik uripe tansah kelara-lara utawa rekasa wae. Bareng wis wiwit umur nem tahun luwih, dituntun marang laku gemi sarta seneng ngupaya sandang pangan. Sarana disinau buruh nggawe rokok klobot.

Nalika ngarah pangan sarta duwit oleh-olehane ora mbejaji mung oleh loro utawa telung sen, ing ndalem sedina sewengi. Nanging bungahku wis dudu-dudu, wong bocah cilik duwit mau tunggale dinggo jajan lan sebagian dicelengi.

Nglakoni dadi buruh mau nganti ngancik umur 14 tahun. Sing kerep dieloni swargi Wa Tingkir, mBok Rasin lan Muljosamsi. Malah wis nganti ketula-tula nggolek pegaweyan menyang Semarang nalika tahun walanda 1924 nanging ora oleh, tibane yo mung buruh nglinting rokok cengkeh melu Muljosamsi ing Kampung nJomblang.

Nalika umurku lagi 6 taun dadi ana ing tahun 1915, dileboake sekolah ana ing Pamulangan Desa ning Karanganyar Salatiga. Mantri gurune Tuwan Liyonar. Ana ing pamuwalangan mau kegolong pinter. Wiwitaning klas ing Karanganyar iku klas 0 nganti klas 4, dene aturane unggah-unggahan iyo nyetaun. Olehku sekolah mung rong taun, wiwit saka klas das (0) nganti klas 1 A/B nuli klas 2.

 Gurune nalika iku mas Guru Sumono lan rayine, sarta mas Guru Glundhung lan mantri guru Tuwan Liyonar. Lha sing dadi tukang mriksa panditane Tuwan Kam. Guru-guru mau kang tresna banget nyang aku sarta kakangku Tuwan Liyonar mau, nganti sak prene isih tak eling-eling. Yaiku aku kerep lara mimisen, tuwan sarta nyonyahe kerep maringi salin klambi, topi, tuwin liya-liyane. Pancen gumati banget.

Nggonku sekolah ora tutug awit ana dadakan lupute gurune yaiku Sumono dalah kang wadon. Guru wadon lagi nyontoni nulis alus kesuwen, guru Sumono mara nganggo nyekeli garisan papan, disabetake aku nanging luput nganti ping pindho. Sabet tak cekel lan poklek, sabak dak cangking nuli mulih bali terus aku ora gelem mlebu maneh, tuwane kerep marani aku nanging aku meksa mbangkang dadi metu.

Ana tutuge…

Terjemahan bebas : Continue reading “Lajang Babad Lelakone Kasijo (2)”

Lajang Babad Lelakone Kasijo (1)

Seperti yang kuceritakan beberapa waktu lalu keluarga kami seolah mendapat ‘harta karun’ ketika menemukan buku-buku berisi tulisan tangan dari swargi Mbah Kakung Kasijo Prijosudarmo yaitu ayah dari ibu kami.

Sampul Bukunipun Mbah Kakung
Sampul Bukunipun Mbah Kakung

Nah, inilah sebagian kisah hidup beliau -yang aslinya tertulis dengan huruf  jawa itu- hasil ‘terjemahan’  ibu kami.

SALASILAH

Bp. Djaja Setika + Ibu Mukinem , nganakake :

  1. Sarpin – Djaja Soekarto ( Krajan )
  2. Kasijo – Prijosoedarmo ( Krajan )
  3. Kusmin ( Ajal )
  4. ….. ( Ajal )
  5. Salimin ( Krajan )

 

Bp. Sarpin , nganakake :

  1. Soemarno
  2. Soemarni
  3. Soemardi
  4. Soemarsono
  5. Soemarjati

 

Bp.Kasijo, nganakake :

  1. Srie Moeljani ( Gunung Tumpeng, setu pon )
  2. Sri Marjati ( Gunung Tumpeng )
  3. Marijadi = Wakhidin
  4. Sri mardijanti

PENGETAN

 

Djaja Setika lan Mukinem nduwe anak lanang lima, nanging mung gesang kang 3. Pembarepe aran Sarpin, penggulune Kasijo, wuragil gesang aran Salimin. Telu-telune mau kelairan ing kampung Krajan, distrikan afdeeling uga Salatiga, residen Semarang.

 

Layang iki katulis ana ing Desa Gunung Tumpeng onderdistrik Suruh. Wiwit ing dina Selasa kliwon kaping 1 Dulkaidah 1865 utawa kaping 4 ngrinaake 5 ing sasi Pebruari th 1935. Ana ing pondokan omahe Kamituwa Mustajab.

 

Layang iki mung dijupuk sak perlune wae kanggo mbabadake lelakone Kasijo utawa Prijosudarmo. Sak turun-turune bisa nek klakon ing mbesuk meruhi undha-usuking lelakon. Utawa kenaa kanggo pangeling-eling sokurbage yen kenaa ditiru. (Tinggalan pangeling-eling)

Terjemahan bebas :

SILSILAH

Bp. Djaja Setika + Ibu Mukinem , mempunyai putra-putri :

  1. Sarpin – Djaja Soekarto ( Lahir di Krajan )
  2. Kasijo – Prijosoedarmo ( Lahir di Krajan )
  3. Kusmin ( Meninggal )
  4. ….. ( Meninggal )
  5. Salimin ( Lahir di Krajan )

 

Bp. Sarpin , mempunyai putra-putri :

  1. Soemarno
  2. Soemarni
  3. Soemardi
  4. Soemarsono
  5. Soemarjati

 

Bp.Kasijo, mempunyai putra-putri :

  1. Srie Moeljani ( Lahir di Gunung Tumpeng, pada hari Sabtu Pon )
  2. Sri Marjati ( Lahir di Gunung Tumpeng – meninggal )
  3. Marijadi = Wakhidin
  4. Sri mardijanti (meninggal)

 

PENGINGAT

 

Djaja Setika dan Mukinem mempunyai lima anak laki-laki, namun hanya 3 orang yang hidup. Yang sulung bernama Sarpin, yang kedua Kasijo dan bungsu yang hidup bernama Salimin. Ketiganya lahir di Kampung Krajan, distrik afdeeling Salatiga, Karesidenan Semarang.

 

Surat ini ditulis di Desa Gunung Tumpeng bagian dari Distrik Suruh. Mulai ditulis sejak Hari Selasa Kliwon tanggal 1 Dulkaidah 1865 atau tanggal 4 malam 5 Bulan Pebruari Tahun 1935.  Ditulis di (tempat kost) rumah Kamituwa Mustajab.

Surat ini hanya diambil seperlunya saja untuk menjelaskan kisah hidup Kasijo atau Prijosudarmo. Harapannya agar kisah hidup ini besuk dapat dimengerti oleh anak cucunya, sebagai pengingat  atau lebih baik lagi apabila dapat ditiru.  (Warisan pengingat )

Bersambung….