Ngapain Ngeblog ?

Eh, hari gini… masih muncul pertanyaan itu ya?

Hehe, maklum saja, itu adalah pertanyaan yang sering muncul dari teman-temanku di saat awal aku Ngeblog dulu, awal tahun 2010 tepatnya.

berandamechta
Blog pertama : Beranda Mechta ( http://new.mechta.blogdetik.com )

Menjawab pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini, adalah : karena aku senang membaca dan menulis. Continue reading “Ngapain Ngeblog ?”

Menjejak Pantai Tanjung Tinggi : Mimpi Yang Tertunda

Pernah dengar nama Pantai Tanjung Tinggi, teman?

Jika belum, ketikkan saja nama itu di mesin pencari… dan siap-siap ternganga dengan keindahan foto-foto pantai ini yang banyaaak bertebaran di dunia maya.

Sudah cukup lama aku memimpikan melihat langsung keindahan pantai ini. Para pecinta Film Laskar Pelangi pasti tahu tentang pantai ini, karena salah satu pantai indah berbatu-batu besar yang terletak di Pulau Belitung ini menjadi salah satu lokasi shooting Film Laskar Pelangi.

Selain pantai satu ini masih banyak destinasi wisata yang sangat menggoda untuk dikunjungi. Cukup lama mimpi untuk jalan-jalan ke Belitung terpendam dalam rutinitas keseharianku, dan akhirnya aku akan bisa mewujudkannya!

Adalah dari mba Dewi Rieka aku pertama kali mendengar ada rencana trip ke Belitung. Di bulan-bulan terakhir tahun lalu tepatnya aku pertama kali mengetahui rencana trip yang akan dilaksanakan pada 1-3 Mei 2016 nanti.

Senang? Tentu saja! Kala itu aku langsung antusias mendaftar, mulai hunting tiket pesawat maupun kereta api,berkenalan dengan teman-teman baru yang akan menjadi teman seperjalanan, wislah…pokoknya sudah tak sabar menghitung hari menuju tgl 1 Mei!

Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Continue reading “Menjejak Pantai Tanjung Tinggi : Mimpi Yang Tertunda”

Ngilo githoke dhewe

Ngiloa githokmu dhewe” .  Kanca, apa nate krungu tembung iku? Utawa malah nate ngucap marang kanca liyane?

Mbok menawa isih akeh kanca sing babar blas durung nate krungu tembung pitutur iku. Ngilo -yaiku nyawang nganggo kaca pangilon- githoke dhewe, iku angel bisane kelakon, butuh kanca / wong liya kang ngewangi supaya kita kelakon bisa ngilo githoke dhewe.

Semono uga ing panguripan iki, ora gampang mbiji awake dhewe utawa metani kesalahane dhewe, biasane butuh wong liya kang nuduhke kesalahane ndhewe.  Mula, aja susah apa maneh nesu yen ana kang nuduhake kesalahane ndhewe, malah kudune dhewe matur nuwun marang kanca / uwong iku.

Ya, iku sing lagi tak alami dina iki. Ana kanca sing gelem nuduhake kesalahanku.  Sepisanan pancen rasane mak peng! kaya ketampek rasane… Rumangsa nelangsa amarga apa sing sak lawase iki tak perjuwangke jebule ora ditampa bener marang liyan -mbok menawa ana sing rumangsa lara ati, aku nyuwun pangapura. Nanging aku banjur matur kesuwun marang kanca iku, amarga aku dadi ngerti menawa isih ana kaluputan sing kudu tak dandani…

Kedadeyan iki dadi pasinaon urip kang wigati kanggoku, dielingke maneh yen manungsa pancen kudu bisa rumangsa, ning aja rumangsa bisa… Alhamdulillah.., Jemuah barokah 🙂

*** Continue reading “Ngilo githoke dhewe”

Setangkup rindu untukmu…

With Bp-Ibu

Bapak, ini tahun ke-16 kepergianmu…

tapi rasanya baru kemarin kami melepasmu..

dan bulir-bulir kenangan indah bersamamu masih terpatri di hatiku :

~saat aku bermanja-manja padamu…

~saat kutemukan ketenangan dari kata-kata bijakmu…

~saat kau luangkan waktumu mengantar jemputku di sore hari…

~saat panjang lebar berdiskusi denganmu…

~saat-saat kebersamaan kita.

Bapak, ingatkah dengan foto ini?

Foto bersama ibu saat kepulanganku pertama semenjak jadi anak kost, bertahun lalu…

liburan reuni setelah perpisahan pertama kita, ya Pak…

kali pertama kujalani hidup jauh darimu, memendam rindu padamu, namun kau selalu menguatkanku meski hanya lewat telpon-telpon collect-call…

Bapak…, setelah 16 tahun kepergianmu :

aku masih merindumu!

“Foto ini untuk memperingati Hari Ayah Nasional dan diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog “Aku dan Ayah” di Surau Inyiak”

Dua cermin di akhir pekan kemarin…

Akhir pekan kemarin, aku harus ke Semarang karena ada acara keluarga.  Berhubung kondisi jalan darat Pekalongan – Semarang masih rawan macet akibat adanya titik-titik perbaikan jalan yang lamaaa… gak selesai-selesai, sehingga waktu tempuh yang biasanya 2 jam bisa muluuuur hingga 3-4 jam, maka akupun memutuskan untuk menggunakan….kereta api!

Halaah… sama-sama perjalanan darat juga ya? hihi… Etapi, naik KA ke Semarang -saat ini- tetap lebih menjanjikan kenyamanan daripada naik bus / travel / bahkan kendaraan pribadi, lho….

Pertama, karena tak harus bermacet-macet ria di jalan raya dalam musim kemarau yang belum juga berakhir ini, kedua karena KA itu kendaraan darat yg ‘menang-an’ (lha iya to…, kan semua kendaraan harus berhenti kalau Si ‘Ular Naga’ ini mau melintas.. hehe…) maka waktu tempuh relatif singkat dibanding Bus, travel, mobil, dll…

Singkat kata, aku memutuskan naik Kaligung Mas -meskipun sekarang ada kereta Pemalang Expres, yg relatif baru- hari Jumat siang, agar sampai Semarang sebelum surup sehingga kalaupun tak ada yang bisa menjemput masih berani naik taksi ke rumah.  Dan, tentu saja aku memilih kursi yang di dekat jendela, agar bisa cuci mata dengan pemandangan sepanjang jalan. Alhamdulillah aku dapat tiket kursi Nomer (A) untuk keberangkatan dan kursi Nomer (E) untuk tiket pulangnya. Continue reading “Dua cermin di akhir pekan kemarin…”

Etika peminjaman buku

Bbrp_bukuqAda yang bilang : ” Buku itu seperti halnya berlian… tidak untuk dipinjamkan.”

Hm, apakah kau setuju dengan pernyataan itu, teman?

Kalau aku, setengah setuju.  Lho…setuju kok setengah-setengah? nanggung amaat… hehe…

Maksudku, aku setuju bahwa buku sama berharganya dengan berlian. Namun bukan berarti tidak untuk dipinjamkan. Sayang kan, kalau hanya numpuk saja tanpa ada yang mengetahui apalagi memanfaatkan ‘isi’nya? Mungkin -bagiku- lebih tepatnya adalah boleh dipinjamkan, dengan syarat dan ketentuan berlaku. #eh, kok jadi mirip iklan yaa? 🙂

Hehe, jelasnya… kita harus pilah-pilih teman yang bisa dipinjami buku – barang berharga kita – itu. Kenapa harus demikian?

Ya, tentunya agar jangan sampai kita berniat baik … tapi berujung pada penyesalan : buku yang dipinjamkan rusak, lama kembali… atau malah tidak kembali sama sekali! 🙁

Sedih? Ya… pastilah sedih bila hal itu terjadi.  Barang yang kita sayang-sayang, dirawat dengan baik dan hati-hati, ternyata mendapat perlakuan buruk bahkan tak dapat kita temui lagi.  Itu mimpi buruk tentunya!

Kok, tahu? Sudah pernah mengalami?

Sudaah… Beberapa kejadian tak mengenakkan di waktu lampau telah membuatku lebih memilih-milih teman yang akan kupinjami. Tapi…ternyata aku masih kurang hati-hati dalam memilih (mungkin karena lebih mengedepankan faktor kasihan), sehingga saat ini pun aku sedang kangen dengan  3 buah buku yang belum jelas nasibnya.

Sudah beberapa bulan lalu aku meminjamkannya pada seorang teman yang kala itu sedang membutuhkan bacaan perintang waktu… namun entah dia tipe ‘pembaca super duper lambat’ atau  ada alasan lain yang tak kumengerti, nyatanya sampai saat ini belum satu pun dari 3 bukuku itu  yang kembali.  Hiks…

Menurutku, perlu ada etika khusus peminjam buku, antara lain :

  1. Menjaga keutuhan & kebersihan buku.
  2. Memperkirakan waktu membaca & menyepakati waktu peminjaman
  3. Segera mengembalikan buku pinjaman setelah selesai di baca
  4. Memberitahukan kepada pemilik bila belum selesai membaca namun waktu peminjaman yang disepakati telah lewat
  5. Please…, jangan lipat halaman.. pakai pembatas buku yaa…. ( ini tambahan dari Bu Prih )
  6. Jangan dipinjamkan lagi pada orang lain tanpa memberitahu / seizin pemilik buku (yg ini tambahan dari Mbak Nanik Nara )
  7. …..

Hm…, ada yang mau menambahkan lagi? Mangga lhoo…. 🙂

***

Catatan : Oya, tulisan ini sudah tayang sebelumnya di Blog IIDN Semarang.

 

My Dreamy Trip : Mengunjungi Masjid Biru di Istanbul

Membaca adalah hobbyku, sejak kecil hingga saat ini.  Dari Cerpen, Cerber, Novellet, hingga Novel semua bisa kunikmati.  Dan tiap kali membaca, tak jarang aku terhanyut dalam alur ceritanya ataupun ikut menikmati keindahan lokasi kisah-kisah yang diceritakan di sana.

Duluuu….saat masih kuliah, aku membaca sebuah novel roman yang berlokasi kisah di Istanbul – Turki -maaf, aku lupa judul & pengarangnya- dan sangat terinspirasi dengan keindahan peninggalan-peninggalan sejarah muslim di Istanbul – Turki yang menjadi latarbelakang kisah dan diceritakan keindahannya dengan apik.

Masjid Biru ( Blue Mosque ) adalah salah satu peninggalan sejarah yang diceritakan dengan cukup detil dalam novel itu dan sejak saat itulah aku memendam impian untuk bisa langsung menikmati keindahan yang digambarkan di novel itu.  Saat itu aku belum mengenal internet sehingga belum bisa googling penampakan asli masjid indah itu, dan aku hanya mengandalkan imajinasiku atas untaian kata-kata yang disajikan dalam novel tersebut.  Novel itu sukses membuatku mencanangkan harapan untuk suatu saat bisa menapakkan kaki langsung ke Istanbul, khususnya menikmati keindahan Masjid Biru itu. Aamiin. Continue reading “My Dreamy Trip : Mengunjungi Masjid Biru di Istanbul”

Bismillah….

Ditugasi untuk mengikuti pelatihan / pendidikan biasanya selalu menyenangkan buatku. Dapat pengetahuan baru, teman baru, ganti suasana, dll….  Tapi penugasan kali ini, diawali dengan ndandap alias terburu-buru karena tugas untuk mengikuti pelatihan yang memerlukan waktu relatif lama, baru kuterima pada H-1 pembukaan. Hadeeh…  🙁

Selasa sore saat sudah siap-siap mau pulang kantor, dapat telpon dari BKD untuk bahwa aku ditugasi mengikuti diklat selama 4 bulan, yang akan dimulai Kamis pagi ini. Jadilah sore – malam itu aku pontang-panting menyiapkan ini-itu yang mau dibawa, menyiapkan tugas-tugas yang akan diserahkan ke teman seruangan, dll

Rabu pagi masih harus ngantri di Puskesmas terdekat cari surat keterangan sehat, lalu rapat kecil dengan atasan dan teman seruangan yg mau mengambil-alih tugas keseharianku selama 4 bulan ini, cari travel ternyata dapatnya sore hari, menyelesaikan packing yang akhirnya gagal mewujudkan niat hanya membawa 1 tas saja… lalu sorenya perjalanan darat melalui jalan (yang sebagian besar) berlubang-lubang sehingga seolah sedang naik kapal…dan alhamdulillah tepat jam 12 malam (wiih..kaya’ cinderella..haha…) sampai di depan Balai Diklat di kawasan Baciro – Jogja, diantar ke kamar oleh bapak-bapak Satpam yang baik hati, berkenalan dengan teman sekamar, tata-tata sebentar dan siap tidur…

Dan pagi ini, akan dimulai kegiatan yang dijadwalkan akan berlangsung sampai minggu terakhir Juni 2014 itu. Oya, Diklat kali ini menggunakan model baru, tidak full di Balai Diklat selamat 4 bulan itu, ada 4 tahap. Tahap I 9 hari di Diklat, Tahap II 5 hari di kota asal, Tahap III 17 hari di Diklat, Tahap IV 60 hari di kota asal dan Tahap V kembali di Diklat hingga penutupan. Wira-wiri dan belum jelas bagaimana pengaturannya nanti (maklum…baru angkatan pertama) tapi, Insya Allah semua lancar…

Bismillah… mudah-mudahan aku dapat menjalaninya dengan baik dan lancar dari awal hingga akhir nanti -termasuk mudah-mudahan ada kesempatan ingak-inguk  dumay.. biar gak bosen, haha. Aamiin…

Mohon doanya ya teman….

Ketika ‘sungai-sungai dadakan’ muncul lagi…

Hujan yang turun cukup deras di kota kami sejak sebelum subuh tadi, membuatku sempat was-was ketika bangun tidur. Langsung melongok ke halaman depan…. dan benar saja : kembali jalan di depan rumah telah berubah menjadi ‘sungai dadakan’ seperti kemarin dulu 🙁

Sungai dadakan di depan & samping rumah kami
Sungai dadakan di depan & samping rumah kami

Jadilah perjalanan ke kantor pagi tadi kembali kutempuh dengan bantuan Pak Becak yang mangkal di prapatan sebelah rumah, dan sepanjang perjalanan ke kantor itu, iseng-iseng aku sempat memotret kondisi sepanjang jalan dari depan rumah hingga ke kantor yang sudah berubah lagi menjadi sungai kecil…

Pantauan dari atas becak...hehe...
Pantauan dari atas becak…hehe…
Kondisi depan kantor kami (Jl Sriwijaya)
Kondisi depan kantor kami (Jl Sriwijaya)

Rupanya pagi tadi tak hanya wilayah Pekalongan bagian utara (daerah pantai) yang kembali terendam, namun juga daerah-daerah lainnya secara cukup merata.  Walhasil banyak warga yang kembali mengungsi di beberapa pos pengungsian dan dapur-dapur umum kembali di buka, antara lain dapur umum Sekretariat Pemkot Pekalongan bekerjasama dengan Kodim 0710 Pekalongan.

Kebetulan lokasi dapur umum di kantor Kodim 0710 itu di seberang kantor kami, sehingga cukup dekat untuk mengangkut peralatan masak dan kamipun tinggal menyeberang jalan untuk bergabung di sana.  Sekitar pukul 9 pagi aku mulai bergabung di sana bersama teman-teman lainnya.

Aku masak? tentu tidaaak… hehe…  Maklum, aku kan gak pinter masak, apalagi masak untuk orang buanyaaak begitu, maka akupun membantu sesuai kemampuanku saja, yaitu membungkus hasil masakan bapak-bapak dari Kodim itu..hehe…

Eh, ternyata membungkus nasi + lauk-pauknya itu tidak mudah lhoo… Apalagi buat kami yang tak biasa.  Tapi tak apa, bisa langsung dipelajari di situ trik-trik membungkus dengan (cukup) rapi dan cepat.  Ya, harus cepat karena nasi bungkus itu sudah ditunggu di pos-pos pengungsian.

Hiruk pikuk di dapur umum
Hiruk pikuk di dapur umum
Masak nasi pakai dandang besar...dan ngambilnya dengan...sekop! hehe... (sekop khusus nasi lho..)
Masak nasi pakai dandang besar…dan ngambilnya dengan…sekop! hehe… (sekop khusus nasi lho..)

Syukurlah, acara bungkus-membungkus itu berjalan dengan lancar dan sampai sore menjelang maghrib tadi sekitar 1000-an nasi bungkus sudah dapat terdistribusi kepada pos pengungsian yang dituju.  Mudah-mudahan bermanfaat bagi saudara-saudara kami yang sedang mendapat musibah itu…

Nasi bungkus siap didistribusikan...
Nasi bungkus siap didistribusikan…

Nah, itu ceritaku hari ini.  Pulang dari dapur umum sore tadi, alhamdulillah sungai dadakan di sekitar perumahan kami sudah berangsur menghilang, menampakkan kembali ruas jalan yang berlobang-lobang akibat seringkali tergenang & tergerus air.  Semoga saudara-saudara kami di bagian lain Kota Pekalongan juga sudah dapat bernafas lega karena banjir sudah surut…

 Bagaimana di kotamu, teman? mudah-mudahan tidak banjir juga yaa…

Buku bertuliskan namaku : Proyek Monumental 2014

Jumat pagi ini, seperti biasa burung-burung berkicau menyemangatiku membuka hari.  Setelah menyelesaikan rutinitas pagi, kulirik jam di dinding kamar, dan ternyata masih cukup waktu untuk ingak-inguk di dunia maya… Maka akupun menghidupkan si merah, lalu mulai mengetikkan kata kunci dan ketika melihat dinding FB ku, langsung semangat melihat status Pakdhe yang mengabarkan telah dimulainya sebuah kontes baru.  Mungkin itu akan memecah kebuntuan ide selama beberapa hari ini… Maka akupun segera menuju TKP.

Ah, ternyata Pakdhe memberikan tantangan untuk berkreasi di tahun 2014, dan aku seperti terlecut oleh tantangan Pakdhe itu : ini saatnya aku menuliskan tekadku untuk mewujudkan mimpi selama ini !  Mimpi apakah itu ?

Buku bertuliskan namaku sebagi penulisnya.   Menerbitkan buku hasil karyaku sendiri.  Ya, mungkin itu impian kodian, dalam arti banyak teman lainnya yang bermimpi sama, tapi tetap itu mimpi spesial bagiku.  Bagi beberapa teman lain bahkan sudah bukan menjadi impian lagi.  seperti Pakdhe misalnya. Menyaksikan keberhasilan beliau menerbitkan 1 buku dan kemudian disusul terbitnya buku-buku beliau lainnya, sangatlah menginspirasiku ! 🙂

Kenapa teman-teman lain telah bisa mewujudkan mimpi, sementara mimpiku masih utuh berwujud mimpi?

Ah, sungguh aku malu.  Sejujurnya, halangan terbesarku selama ini adalah rasa minder.  Apakah apa yang kutulis layak untuk dibaca orang lain? apakah hasil karyaku pantas untuk dipublikasikan? Apakah…apakah…apakah… ah… begitu banyak  kata ‘apakah’ yang selama ini menghalangi langkahku, hingga aku berhenti di satu titik dan tak maju-maju 🙁   Sudah saatnya menyingkirkan ragu & beranjak dari zona minder itu… !

Pagi ini, menjawab tantangan Pakdhe, aku sekaligus menantang diriku sendiri : Di tahun 2014, harus kuwujudkan impianku !  Ya, dengan menuliskan ini, mau tak mau nanti aku harus merealisasikannya, entah bagaimana caranya, karena bagiku menulis adalah seperti berkata-kata.  Apa yang kita tulis seperti apa yang kita katakan, haruslah dapat dipertanggungjawabkan.  Ini adalah semacam janji -disaksikan banyak orang- alangkah maluuuu…. bila nantinya aku tak sanggup merealisasikan janji itu.

Maka, setelah menuliskan ‘janji’ ini, aku akan segera membuka-buka kembali draft yang dulu pernah kutulis itu.  Setidaknya ada satu kumpulan kenangan atas pengalaman indah 2 tahun lalu, dan belajar dari pengalaman Pakdhe yang telah membukukan tulisan-tulisannya di blog, hal itu juga bisa menjadi langkah awalku mewujudkan mimpi.  Tak lupa aku harus mencermati lagi beberapa tulisan teman tentang bagaimana langkah-langkah menerbitkan sebuah buku.  Hm, aku yakin ini memang bukan hal mudah… tapi, dengan Bismillah…. semoga Allah memberi kemudahan…

Teman-teman…. selamat hari Jumat…. mohon doa dan dukungannya yaa…. 🙂

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan:Proyek Monumental Tahun 2014.