Kopdar Mini

Ketika awal minggu lalu mbak Esti menulis status di wall nya bahwa akan bertugas di Pekalongan selama beberapa hari dan mengajak kopdar bagi blogger yang kebetulan berdomisili di Kota Batik itu, aku merasa senang sekaligus sedih. Senang karena akan ada kesempatan bertemu secara langsung dengan salah seorang teman maya, namun juga sedih karena selama 2 hari di awal minggu itu aku harus dinas luar sehingga kemungkinan terlewat kesempatan itu. Tapi kemudian kucermati lagi bahwa beliau ada di Pekalongan sampai hari Jumat pagi, sementara aku rabu sore sudah kembali dari tugas itu, sehingga akhirnya kuhubungi Diajeng  Cii Yuniaty agar bisa bersama-sama ketemuan dengan mbak Esti di hari Kamis itu.

Hari pertemuan sudah ditentukan, tinggal tempat dan waktunya.  Pesan dari mbak Esti, kopdar agar dilakukan di hotel tempatnya menginap selama bertugas itu, namun aku dan Yuni merasa lebih nyaman bertemu di luar hotel.  Kebetulan teringat bahwa di samping hotel itu ada resto baru yang -dari luar- tampaknya nyaman untuk tempat bertemu & ngobrol. Akhirnya kami memilih resto itu sebagai tempat ketemuan.

Lalu tentang waktunya, karena jam kerjaku normalnya sampai sore, maka sebenarnya yang paling nyaman adalah bertemu setelah magrib, sehingga waktu lebih longgar.  Namun, mengingat lokasi pertemuan terletak di pinggir jalan raya Pantura yang sore-malam selalu ruamai dengan kendaraan-kendaraan besar, maka aku & Yuni agak berkecil hati untuk naik motor malam2 ke sana. Akhirnya setelah dipikir-pikir lagi, maka ditetapkan bahwa kamis itu aku izin pulang awal ( trimakasih pak Boss..hehe..) sehingga ba’da ashar awal sudah bisa sampai di tempat yang ditentukan.  Jadilah kamis sekitar jam 4 sore aku dan Yuni berboncengan ke meeting point…

Sayangnya, karena kesibukan kami sebelumnya, kami tidak sempat ngecek menu di resto itu.. walhasil..ketika akhirnya mbak Esti datang, kami bertukar salam dan cipika-cipiki..lalu melihat menu…. alamaaak! Ternyata resto itu hanya menyediakan makanan berat saja! Maaf mbak Esti…. kopdar pertama kita menjadi Kopdar Garingan alias dengan konsumsi seadanya saja…hehe…

Alhamdulillah, kondisi itu tak mengurangi gayengnya pertemuan perdana dengan blogger ayu nan lembut dari Semarang tersebut. Meskipun baru pertama kali bertemu, suasana terasa ‘cair’ dan obrolan berlangsung seru hingga tak terasa waktu berlalu, adzan maghrib berkumandang dan kami pun harus segera mengakhiri jumpa darat darurat itu…

Sebelum meninggalkan tempat, nggak aci kalau tak berfoto-ria terlebih dahulu… untunglah ada si mas pelayan resto yang mau membantu mengambil foto emak-emak narsis ini.  Dan ini dia hasilnya…

Kopdar mini bin garingan..hehe...
Kopdar mini bin garingan..hehe…

Oya, kopdar mini ini sekaligus menjadi kopdar pendahuluan bagiku sebelum mengikuti kopdar akbar di Kopdar Blogger Nusantara 2013 yang diadakan di Jogja. Alhamdulillah mbak Esti akan ikut acara itu juga sehingga kita janjian ketemu lagi di sana, sayang Yuni tidak bisa meninggalkan tugasnya di jadwal BN 2013 itu.  Mudah-mudahan lain kali ya Yun…

YuniEsti

Mbak Esti dan Yuni… trims ya.. sudah meluangkan waktu ketemu bertiga… sangat menyenangkan berbagi cerita bersama kalian…   😀

Memberi & Menerima

Pohon Mangga di pojok halaman kami memang tak seberapa besar, meskipun umurnya sudah cukup tua.  Ditanam sejak awal pembangunan rumah kami, mungkin dulu sebagai ‘bonus’ dari pengembang karena di rumah-rumah lain di kompleks perumahan kami hampir semua memiliki pohon mangga 🙂

Alhamdulillah, meskipun tak seberapa besar, saat berbuah seringkali cukup banyak untuk bisa kami nikmati sekeluarga, ataupun dibagi kepada teman / kerabat yang menginginkannya.  Namun beberapa musim yang lalu, entah kenapa pohon itu sempat ‘mogok’ berbuah.  Mungkin karena tak terurus..hehe…

Ketika pohon-pohon mangga tetangga sarat buah, pohon kami sarat daun saja dan hanya memunculkan buahnya 1-2 gerombol saja.  Sampai-sampai, kami sangat yakin kalau mangga kami itu berjenis ‘mana lagi’… berbuah hanya beberapa hingga kami berharap..”mana lagiii???” 😉

Lucunya, 1-2 gerombol yang ada itupun adanya di cabang-cabang  yang menjulur di luar pagar , sehingga rentan raib dan kami lebih sering memandang tanpa merasakan… haha…lebay banget yaa…  Sebenarnya bisa saja sih, buah-buah yang mung-mungan itu di brongsong  sehingga aman sampai matang, tapi kami malas melakukannya. Yaah, anggap saja sedang sedekah kepada orang lewat… Sering kami berseloroh, gak punya banyak harta ya  sedekahnya mangga… haha…

Namun, bahkan di saat pohon mangga kami sedang demo seperti itu, tak berarti kami tak pernah merasakan manisnya mangga. Tak harus membeli meskipun di pasar banyak mangga. Karena, ada sahabat kami yang mempunyai berbagai jenis pohon mangga yang rajin berbuah bergantian dan selalu ingat untuk membaginya kepada kami. Belum lagi kalau Mangga Kelapa yg di Jogja lagi panen, pasti kami kebagian juga.. Alhamdulillah… ora melu nandur tapi bisa melu ngrasakke 🙂

Menanam persahabatan, berbuah kiriman segeran.. hehe...
Menanam persahabatan, berbuah kiriman segeran.. hehe…

Alhamdulillah, musim buah kali ini, demo ‘mogok’ berbuah itu sudah selesai rupanya.  Pohon di sudut halaman itu akhir-akhir ini kembali sarat dengan buah, tak hanya di cabang-cabang yang di luar pagar saja.  Jadinya kami bisa kembali merasakan manisnya mangga milik sendiri, sambil tetap sedekah mangga bagi yg menginginkannya… 🙂

Alhamdulillah... pohon ini tak 'mogok berbuah' lagi...
Alhamdulillah… pohon ini tak ‘mogok berbuah’ lagi…

Mangga…mangga… siapa mauu ?? 🙂

Sepaket kasih dari Salatiga

Pulang kantor sore tadi, rasa lelah yang terasa tiba-tiba menguap ketika adik menyodorkan sekotak paket yang katanya tiba siang tadi.

Kubaca pengirimnya, dan teringat sms yang kuterima siang kemarin, dari seorang sahabat Blogger di Salatiga yang menanyakan alamatku, karena aku merupakan salah satu yang menebak dengan betul nama buah yang hidupnya memeluk erat batang pohonnya itu.

Ketika tahu beliau akan mengirim bingkisan kenang-kenangan pada kami, berseloroh kusebutkan keinginanku mencicipi buah berwarna coklat sekepalan tangan itu.  Ya, aku memang sering mendengar nama buah ini dari ibu & swargi simbah, sejak masih kecil dulu, namun baru melihat dengan mata kepala sendiri pada saat berkunjung ke Pemda Sleman beberapa waktu lalu.  Saat itu, pengen meminta satu buahnya tapi tak tampak ada tuan rumah yang dapat dimintai, jadilah aku memendam keinginanku untuk mencicipi rasa buah itu.

KEPEL-2

Dan sore ini, ketika kubuka paket dari ibu cantik pemerhati tanaman dari kota kelahiran.. taraaaa….. ini dia isinya :

Sebuah buku, sepiring Kepel dan selaksa kasih yg menyertainya...
Sebuah buku, sepiring Kepel dan selaksa kasih yg menyertainya…

Aku membukanya bersama ibu, dan komentar beliau adalah : ” Wah, iki rak Kepel to? wis suwiii… ora ketemu woh iki…”  ( Wah, ini kan buah KEPEL toh? sudah lamaaa… sekali tak menemukan buah ini ).  Adikku pun terheran-heran melihat buah ini… maklum memang tak ada pohon KEPEL (Stelechocarpus burahol) yang tumbuh di sekitar kami.. hehe…

Menemani buah langka itu, sebuah buku bertajuk Salatiga – Sketsa Kota Lama buah karya Eddy Supangkat pun menggenapi bahagia itu.  Semoga sesekali kangen Salatiga, begitu tulis Bu Prih dalam sms beliau.  Ah… leres, Bu… Salatiga akan selalu terkenang dengan kesejukan & keasriannya….

Maturnuwun sanget, Bu Prih…  Begitupun sepaket kasih dari ibu ini, akan terkenang selalu… 🙂

Ketika anak bermasalah dengan guru

Sudah 2 minggu ini, Lin -salah satu keponakan kami- mogok sekolah khusus pada hari kamis.  Awalnya dia tak mau cerita apa masalahnya, hanya selalu mencari-cari alasan agar bisa absen di hari itu.  Kemudian akhirnya setelah dibujuk-bujuk oleh Eyangnya, dia mau bercerita bahwa dia takut pada guru ketrampilannya yang mengajar tiap hari kamis.

Rupanya, kamis tiga minggu lalu, gadis kelas 4 SD itu mengalami perlakuan kasar dari Pak Gurunya itu.  Si bapak guru yang memang sering marah-marah dengan mengeluarkan koleksi kebun binatang itu, siang itu menarik kerudung & kerah bajunya dari belakang hingga mencekik lehernya.  Saat ia menangis dan mengadukannya kepada guru wali kelasnya, si ibu guru kemudian mengatakan akan melaporkan kepada kepala sekolahnya namun meminta Lin untuk tidak bercerita kepada orang-tuanya.

Rupanya perlakuan kasar itu membawa trauma tersendiri bagi Lin, hingga ia selalu mencari alasan untuk tidak masuk pada hari kamis, yang berarti bisa menghindari guru yang ditakutinya itu.  Ketika ditanyakan kepada Lan -kakak Lin yang juga pernah diajar guru itu- memang kata Lan pak guru itu pemarah, dan cengkiling / suka main tangan pada murid-muridnya.

Akhirnya orang-tua Lin menghadap langsung ke kepala sekolah untuk melaporkan hal itu, karena mereka takut putrinya ketinggalan pelajaran jika terus bolos di hari Kamis.  Ketika dipertemukan dengan guru tersebut oleh kepala sekolah, sang guru tadinya tidak mengakui perbuatan itu, namun pada akhirnya mengakui dan menyembah-nyembah memohon maaf, mohon agar masalah tidak diperpanjang karena ia takut hal itu mematikan karirnya.

Sang kepala sekolah juga menjanjikan akan membawa masalah tersebut ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Dinas Pendidikan. Namun yg menjadi masalah kini, apabila sang guru tetap mengajar selama proses itu, kami justru takut bila ia mendendam dan melampiaskannya pada Lin ataupun kawan-kawannya.  Bagaimana menghindari hal itu?

Beberapa tahun lalu, salah satu keponakan kami lainnya pernah pula mogok sekolah karena trauma atas perlakuan keras gurunya.  Namun karena saat itu dia masih kelas 1 SD, memindahkannya ke sekolah lain menjadi alternatif yang menyelesaikan masalah. Sampai dengan saat ini, di sekolah baru si anak tenang bersekolah  dengan nyaman.  Apakah alternatif pindah sekolah masih tepat bila diterapkan pada Lin, mengingat ia sudah kelas 4 ?

Rekan-rekan…, mungkin ada masukan buat kami? Kami tunggu yaa…

Ketika mondhok kemarin…

Alhamdulillah… sekarang  keseharianku sudah ‘normal’ kembali… hm, belum sepenuhnya pulih seperti sediakala sih, tapi minimal sudah membaik semuanya.  Ini hari ke-3 aku beraktvitas kembali setelah cuti sekitar 10 hari kemarin.

Ya, setelah ketar-ketir karena harus mondhok , akhirnya 2 minggu lalu aku memberanikan diri karena itu satu-satunya cara bila ingin sehat kembali.  Oya, terima kasih untuk teman-teman tersayang yg komen di posting curhat waktu itu, dukungan & doa kalian juga salah satu yang menguatkanku lho!

Senin malam, 23 Sept 2013 aku mulai menjalani rawat inap di sebuah RS di kotaku, lalu keesokan harinya, Selasa 24 Sept 2013 menjalani operasi laparoskopi untuk membuang si usus buntu yg meradang itu, ditambah 2 hari berikutnya, lengkaplah pengalaman pertamaku mondhok alias menjalani rawat inap di RS, selama 3 hari itu.

Dan sesungguhnya, ada banyak hikmah yang bisa kuambil dari peristiwa itu.  Yang pertama adalah bahwa rasa takut sebelum menjalani sesuatu yg baru adalah wajar, namun ketakutan yang berlebihan sangatlah tak perlu.  Ternyata, mondhok tak seseram yang kubayangkan semula.  Memang pada malam pertama itu aku tak bisa tidur, namun itu lebih karena mengkhawatirkan operasi esok harinya… (bahkan tensi yg biasanya 100-110, malam itu melonjak jadi 150 !  haha…).

Dan hikmah berikutnya adalah bahwa, dukungan dan perhatian dari keluarga, sahabat, kerabat, sangatlah berarti bagi kita, itu pula yang pada akhirnya membuatku mampu menjalani pengalaman kemarin dengan baik.  Continue reading “Ketika mondhok kemarin…”

Kupu Hias dari Daun Kupu-Kupu

Teman, tahukah apa nama daun ini ?

DAUN_KUPU

Kalau di daerahku sering disebut Daun Kalibangbang, ada juga yang menyebutnya Daun Kupu-kupu.  Ketika aku tanya mbah Google, tentang Daun / Pohon Kalibangbang, tak ada hasil pencarian yg mengena, namun ketika kuganti kata kuncinya dengan Daun Kupu-kupu, hasilnya adalah sejenis pohon yang nama latinnya  Bauhinia purpurea.

Ternyata, oleh tangan-tangan kreatif, daun tersebut dapat ‘disulap’ menjadi kupu-kupu hias yang cantik lho…. Bahkan sayapnya bisa digambari motif batik juga.. jadilah Kupu Batik yang cantik & ber nilai ekonomi 🙂

Warna-warni kupu hias dari Daun Kupu-kupu
Warna-warni kupu hias dari Daun Kupu-kupu
Yang bermotif batik pun tak kalah cantik
Yang bermotif batik pun tak kalah cantik

Ketika kutanya pada Mas Beni  -yaitu salah seorang pengurus Pos Pelayanan Teknologi ( POSYANTEK ) Mitra Pantura Kec. Pekalongan Utara- cara pembuatan kupu hias dari daun ini tak terlalu sulit.  Awalnya daun direbus dengan air yang telah ditambahi soda api & tawas, lalu setelah itu dicuci dengan air biasa sambil menghilangkan khlorofil dari daun yang telah berubah warna itu.  Setelah dikeringkan, maka daun pun siap untuk di potong sesuai pola sayap kupu-kupu yang diinginkan.  Untuk mempercantik si kupu-kupu, maka ditambahkan warna-warni & motif indah… termasuk juga motif batik.  Setelah dirangkai, maka siaplah kupu-kupu hias nan cantik itu.

Pada pameran hasil Teknologi Tepat Guna (TTG) yang lalu, mereka menjual hiasan cantik ini secara satuan maupun ‘paket’ berisi 3 / 4 / 5 model kupu-kupu.  Harganya relatif terjangkau kok.. paket berisi 4 kupu warna-warni, hanya Rp. 40.000,- saja, sedangkan sebuah Kupu Batik agak besar dalam pigura diberi harga Rp. 300.000,-an.

Stand POSYANTEK Mitra Pantura di pameran kemarin itu...
Stand POSYANTEK Mitra Pantura di pameran kemarin itu…

Selain Kupu hias dari Daun Kupu-kupu itu, dipamerkan pula beberapa produk TTG yang dihasilkan kelp. masyarakat ini, antara lain Kerupuk Sayuran, Septictank apung (yang cocok untuk daerah yg sering banjir / rob), alat fermentasi mikro organik cair,  dll.  Mereka memang orang-orang yang kreatif.  Tak heran jika kelp ini juga mewakili Prop. Jawa Tengah dalam Lomba POSYANTEK  Tk Nasional yang diadakan dalam rangka Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HARTEKNAS) yang penilaiannya di Jakarta awal bulan ini.  Mudah-mudahan saja hasilnya bagus, sehingga makin menambah semangat mereka…

Bagaimana teman, ingin mencoba membuat Kupu Hias-mu sendiri? 🙂

Edit 28 Sept 2013 :

Alhamdulillah… Posyantek Mitra Pantura berhasil membawa Jawa Tengah menjadi Juara I Lomba Posyantek Tk Nasional Th 2013..   😀

Edit 23 Januari 2015 :

Jika ada teman yang berminat memesan kupu hias cantik ini, silakan langsung menghubungi Sdr FIRMAN di 085842378372.

Ganti rego : Golek penak malah keplenyak

Nalika aku dolan nang omahe kancaku rong minggu kepungkur, aku ditawani nontoni buku  katalog sing gambare klambi-klambi muslim sing apik-apik.  Ana gamis, klambi koko, tunik, lan sakpanunggale.
“Ayo mbak… milih-milih klambi bada..” ngono ujare kancaku kuwi.
Sing maune aku ora niat tuku klambi anyar kanggo badan, wong memang kanggoku yen bada iku ora kudu nganggo klambi anyar, lha kok nyawang maneka gambar klambi-klambi kang apik-apik iku, aku dadi kepengen tuku.  Ora kanggo aku dewe, nanging kanggo ‘tanda tresna’ kagem ibu, mbak-mbak lan keluarga liyane.
Biasane aku memang merloke dolan nyang tokone Bu Kaji langgananku, sak perlu golek klambi-klambi kanggo cangkingan mudik, nanging nganti wingi kuwi aku durung duwe kelonggaran wektu kanggo golek-golek mrana.  Mula mumpung ana sing cemepak, aku langsung milih-milih klambi saka gambar sing ana ing buku katalog kuwi.  Regane memang rada kacek yen dibandingke karo rega nang tokone Bu Kaji, nanging pikirku tinimbang aku mbuwang tenaga mrana-mrana, yo aku milih barang sing cemepak kuwi, mung kari pesen trus ngenteni barang dikirim udakara semingguan.
Wingi, kancaku iku ngabari yen barang pesenanku wis teka, mula aku enggal mara nang omahe kancaku iku sak perlu njupuk (lan mbayar) klambi-klambi pesenanku kuwi.  Seka omah aku nggawa duwit kira-kira cukup kanggo bayar pesenan, kepara tak luwihi sithik, mbok-mbok mengko pengen apa-apa nang ndalan.
Nanging, nalika aku maca nota sing diulungke kancaku nang omahe, aku rada kaget.  Gunggunge duwit sing kudu tak bayar kok ora pada karo sing wis tak etung saka omah?  Luwih larang, padahal aku apal rego-rego sing ditulis ning katalog sing tak tonton wingi kae.  Apa ora salah?  
Nalika tak takonke kancaku, jawabane enteng : pesenanku iku dietung nganggo rego sing ditulis nang katalog paling anyar! Lan ing katalog paling anyar iku kabeh regone wis mundak, lan rata-rata sak klambi mundake rego sekitar seket ewunan… Hm 🙁
Terus terang aku rada gela.  Sing paling tak gelani amarga kancaku kok ora ngomong sakdurunge yen ana kemungkinan ganti rego manut katalog sing paling anyar lan kabeh pesenan dietung manut rego ing katalog paling anyar! 
Tapi yo wis, piye maneh… mungkin pancen ngono aturan ning bisnise iku…  Pengene golek penak malah keplenyak… yo ngene iki ceritane.. hehe… 
Terjemahan bebas : Continue reading “Ganti rego : Golek penak malah keplenyak”

Miksi kuwi numani…

Alhamdulillah….  

Aku bungah, soale pirang-pirang dina kepungkur iki, tambah akeh kanca-kanca kang nggawe tulisan  fiksi, mbuh kuwi crita cekak, apa crita super cekak – sing jare basa mancane flash fiction iku lho…  

Ana Mbak Monda sing crita tentang kacamata silihan, Mbak Irma sing crita bab donya kang beda, lan nembe wingi Mbak Ely uga nulis crita super cekak tentang si pleboi cap krupuk ( sst… ana candhake lho…)  lan isih akeh kanca liyane 🙂

Yo mesti wae aku bungah, soale aku ki pancen karem banget maca crita-crita, dadi yen tambah akeh kanca sing gawe tulisan crita fiksi ngono kui, rak berarti wacananku tambah akeh to? asyiiik…

Oya, nek miturut pengalamanku dewe, nulis crita fiksi alias miksi ki numani lho… dadi, gedhe pangarep-arepku, kanca-kanca kuwi yo banjur numan nulis crita ben tambah akeh sing bisa diwaca bareng-bareng.. rak gayeng to?

Mangga lho..kanca-kanca… sinten malih sing badhe miksi ? Kula tengga nggih….

Terjemahan :

Alhamdulillah…

Aku bahagia, karena beberapa hari terakhir ini semakin banyak teman-teman yang membuat tulisan fiksi, entah itu berupa Cerita Pendek ataupun Cerita super pendek – yang sering disebut dengan bahasa seberang flash fiction itu lho..

Ada Mbak Monda yang bercerita tentang kacamata pinjamanada Mbak Irma yang bercerita tentang dunia yang berbeda, dan kemarin ini Mbak Ely menulis cerita tentang Si Pleboi Cap Kerupuk  (sst…. akan ada lanjutannya lhoo), juga tentunya masih ada beberapa teman lainnya… 🙂

Ya, tentu saja aku bahagia, karena aku kan paling suka membaca aneka cerita, jadi dengan semakin banyaknya teman yang menulis fiksi , berarti persediaan bacaanku semakin banyak.. Asyiik…

Oya, berdasarkan pengalaman pribadi, menulis cerita fiksi alias miksi itu bisa bikin ketagihan lho… jadi aku sangat berharap teman-teman itupun akan merasakan menulis fiksi sebagai candu agar semakin banyak cerita yang ditulis dan semakin banyak yang dapat kita nikmati bersama-sama.  Menyenangkan, bukan ?

Silahkan teman-teman… siapa lagi yang mau miksi ? Tak tunggu yaa….

Ketika ada sekat antar sahabat…

Tulisan ini ada karena membaca posting mba Ely (duniaely).  Tulisan yang membahas tentang pernah tidaknya kita sebagai blogger merasa asing dengan satu / beberapa blogger lain yang pernah dekat dengan kita di dumay ini, telah membuka memoriku pada peristiwa terurainya sebuah jalinan pertemanan .

Menjalin persahabatan dengan beberapa orang sekaligus, memang mengasyikkan.  Lebih seru dibanding hanya bersahabat dengan 1 orang saja.  Bisa saling curhat, ataupun saling support, lebih banyak telinga yang mendengar, lebih banyak hati yang terlibat.  Namun, bila antara sahabat itu terjadi suatu perselisihan…maka pemecahannya pun relatif lebih sulit karena masalah terasa rumit 🙁 Continue reading “Ketika ada sekat antar sahabat…”