Oil drop speck method

Tadi pagi, saat membuka dasbor blog ini, kutemukan komen dari Pakde yang makjleb banget : ‘sudah 5 hari kok masih mimpi ‘  Buat yg kurang faham, itu sindiran Pakde untuk tulisanku yg panceeet ae, padahal hari telah 5x berganti… hihi… ampuuun, Pakde…, ponakan njenengan satu ini memang sering angot-angotan nulisnya.. hehe…

Nulis 1 tema…macet di tengah jalan…simpan di draft.  Nulis tema lain, macet lagi… parkir lagi di draft… akhirnya tempat ngedraft penuuh, sedangkan berandanya sawangen alias penuh sarang laba-laba… *tidak untuk ditiru! 🙂

So.., setelah tertohok komen Pak Kumendan itu, akhirnya akupun ngubek-ubek simpanan draft, dan menemukan salah satu diantaranya, yaitu tentang metode rembesan tetesan minyak.  Apakah itu? Continue reading “Oil drop speck method”

Ceritaku hari ini

Semalam hujan cukup deras mengguyur kota kami, sehingga meskipun belum terlalu malam, aku pengennya ngruntel  saja meskipun suara penyanyi & MC di hajatan tetangga cukup mengganggu juga. Alhamdulillah kantuk segera datang akibat dinginnya malam, maka akupun tertidur pulaaas sehingga pagi ini bisa bangun pagi dengan segar 🙂

Sesaat setelah usai menyapa Sang Pencipta, terdengar sms dan ternyata seorang sahabat mengajak jalan pagi mumpung libur. Kuintip keluar jendela, meskipun masih cukup gelap namun tampaknya hujan sudah benar-benar berhenti, maka akupun meng-iyakan ajakan itu.

Setelah olahraga pagi, sarapan sega megana, lalu sampai di rumah melihat halaman yang mulai njembrung lagi dan tanaman-tanamanku banyak yang daunnya gripis dimakan bekicot.  Maka akupun olahraga tangan, mengayun sapu lidi kesana kemari diakhiri dengan memainkan gunting membabat daun-daun yang sudah tak layak pandang itu. Iih..kasian beberapa tanamanku jadi agak gundul, tapi tak apalaah… masih musim hujan kan? jadi dengan siraman alami insya Allah akan segera tumbuh daun-daun baru dan mereka akan tampak cantik lagi… Continue reading “Ceritaku hari ini”

Perkenalanku dengan BPJS-Kes

BPJS -Kes ? Apa itu?

Sejak akhir tahun lalu sudah banyak spot iklan di TV yang mengenalkan program baru pemerintah ini.  Rupanya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial bidang Kesehatan  ini adalah transformasi dari ASKES dan Jamsostek ya..

Apa dan bagaimana BPJS Kesehatan itu dapatlah di-google rame-rame…, karena tulisan ini bukan membahas tentang hal itu.  Hanya sekedar berbagi pengalaman pertama berkenalan dengan program ini.

Sebenarnya aku sudah beberapa kali mengikuti sosialisasi tentang program ini, jadi sedikit banyak sudah ada persiapan ketika harus beralih dari pelayanan ASKES ke BPJS Kes ini.  Berdasarkan informasi yang kudapat, pada awal th 2014 sebagai masa peralihan ini, kartu ASKES  (juga kartu Jamkesmas ataupun Jamsostek ) lama masih berlaku sebelum kartu baru diterima.  Olehkarena itu dengan PD aku melangkah santai menuju RS dengan berbekal surat rujukan dari puskesmas & kartu lama itu.  Paling nanti prosesnya sama seperti biasanya, pikirku. Continue reading “Perkenalanku dengan BPJS-Kes”

Kawasan Rumah Pangan Lestari

Apa itu  Kawasan Rumah Pangan Lestari atau yang seringkali disingkat KRPL?

KRPL  adalah pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan, dalam suatu kawasan, untuk :

  1. Pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga;
  2. Peningkatan pendapatan keluarga;
  3. Meningkatkan kesejahteraan melalui partisipasi masyarakat.

Latar-belakang diadakannya Model KRPL ini adalah karena adanya 2 permasalahan, yaitu :

  1. Realisasi konsumsi masyarakat masih di bawah anjuran pemenuhan gizi;
  2. Perhatian terhadap pemanfaatan lahan pekarangan relatif masih terbatas.

Adapun tujuan pengembangan KRPL adalah :

  1. Memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan secara lestari.
  2. Meningkatkan kemampuan keluarga & masyarakat dalam pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman pangan, buah, sayuran, tanaman obat, ternak, ikan, pengolahan hasil dan kompos.
  3. Mengembangkan sumber benih / bibit untuk menjaga keberlanjutan pemanfaatan pekarangan.
  4. Melestarikan tanaman pangan lokal untuk masa depan.
  5. Mengembangkan ekonomi produktif keluarga, hingga mampu meningkatkan kesejahteraan dan menciptakan lingkungan hijau, bersih dan sehat secara mandiri. Continue reading “Kawasan Rumah Pangan Lestari”

Anak SMA hidung belang

Cerita tentang anak SMA memang tak ada habisnya.  Mendengar kata anak SMA maka pikiranku akan melayang ke kenangan indah kala bersama teman-teman berkegiatan Pramuka masa SMA.  Tepatnya kami bergabung di Ambalan Gajah Mada dan Dewi Sartika yang berpangkalan di SMA Negeri I  Semarang.

Selalu banyak kegiatan luar ruang yang mengasyikkan, terutama saat liburan akhir semester tiba.  Selain keasyikan bersama teman-teman itu, oleh-oleh apa yang di dapat? Seringnya adalah kondisi hidung belang.  Ya, benar-benar hidung belang dalam arti yang sebenarnya lho… Kok bisa?

Naah.. ceritanya adalah, sebagai anggota Pramuka kami sering menghabiskan waktu beraktivitas di luar ruang pada cuaca panas maupun dingin. Naik truk bak terbuka (kecuali kalau hujan), hiking ataupun mencari jejak di siang hari nan terik, bersepeda ke sana kemari dari satu pos ke pos lain, dll… Tak ada masalah saat kegiatan berlangsung.  Topi tentunya digunakan, tapi seringkali pula terlepas ataupun terlupa… Hasilnya baru dirasakan setelah kegiatan selesai… Biasanya, sehari-dua hidung memerah, lalu berikutnya kulitnya sedikit terkelupas… maka jadilah kami Si Hidung Belang untuk beberapa hari.

Masalahkah itu buat kami? Membuat kapok dan tak ikut Pramuka lagi? Tentu tidaaak! 😀

Sangking asyiknya menikmati kebersamaan dengan teman-teman se-ambalan, maka kondisi itu hanya masalah kecil buat kami.  Toh bukan hal yang permanen…. maklum, sebagai  anak SMA kami memang lagi cuek-cueknya saat itu. Yang penting asyik, masalah penampilan nomer belakangan..haha….

Anak SMA
Pramuka, salah satu kegiatan anak SMA yang mengasyikkan meskipun sering membuat hidung belang…

Begitulah cerita tentang Anak SMA Hidung Belang.  Yang pasti, mengikuti ekskul Pramuka itu kegiatan positif, banyak pelajaran untuk pembentukan pribadi generasi muda, jadi sangat boleh ditiru… 🙂

Nah, itu cerita tentang anak SMA dariku… bagaimana cerita darimu?

Artikel ini turut mendukung gerakan PKK Warung Blogger

gerakan PKK WB

Catatan : Foto-foto dipinjam dari FBnya mbak Atik Kaswarganti -rekan seangkatan tersayang… Trims yo mbak…

Kilas balik

Seperti biasa di akhir tahun menjelang tahun berganti, selalu ada acara kilas balik di TV… eh, itu dulu ding, kalau sekarang entah masih atau tidak karena aku sudah semakin jaraaang nonton TV.

Nah, ceritanya aku juga mau nulis tentang kilas balik, tapi bukan kilas balik setahun kemarin, melainkan kilas balik liburan akhir tahun ataupun tahun baruan beberapa tahun kebelakang.  Untuk apa? Emm… sebagai kenangan saja sih, atau mungkin sebagai ganti karena akhir tahun ini sedang jadi tahanan kota alias gak boleh kemana-mana…jadinya berkelana di ranah kenangan saja,  haha… Continue reading “Kilas balik”

Topengnya Ragil

Masih cerita tentang aksi ragil-nya mbakku.

Suatu sore, Yangti sedang menyiram tanaman di pekarangan, ketika ada seorang tamu yang menanyakan Si Ragil. Yangti pun kemudian menemani ragil menerima tamu itu, yang ternyata seorang kurir pengantar barang pesanan ragil yang dibelinya secara onlen.  Si mas kurir itu sempat kaget ketika yang tahu yang memesan barangnya seorang anak SD bertubuh mungil.  Oya, barang apakah itu?

Ternyata sebuah topeng.

Yangti sempat agak marah ketika tahu harga topeng itu, merasa eman uang sejumlah itu untuk membeli barang yang -menurut Yangti- kurang berharga.  Sedangkan ragil dengan percaya dirinya bertahan bahwa  itu karya seni yang bagus. Lagi pula ia merasa tak bersalah karena membeli barang itu dengan uang tabungannya sendiri.  Akhirnya Yangti pun mengalah, meskipun masih merasa tak mengerti indahnya topeng itu..hehe…

Beberapa hari kemudian, si Ragil tiba-tiba keluar rumah setelah mendapat telepon.  Ketika pulang, ia menenteng sebuah bungkusan yang ternyata berisi topeng yang hampir sama dengan yang pertama.  Lho… apa dia beli lagi? kenapa nggak diantar ke rumah seperti kemarin?

Ternyata betul, ia memang memesan topeng lagi, dan kurir itu minta ketemu di luar rumah karena ‘takut’ dimarahi Eyang lagi… haha…. ada-ada saja si mas itu..padahal kan Yangti juga gak marah-marah sama dia waktu itu…

Sebelum si Eyang marah lagi karena dia membeli barang yang sama, si Ragil menjelaskan kepada Eyang bahwa itu bukan untuk disimpannya.  Itu pesanan seorang temannya yang tertarik melihat topengnya kemarin, sehingga minta dibelikan. Dan jiwa bisnis si Ragil mulai tumbuh rupanya, karena ia sudah menaikkan sedikit harga topeng itu…

“Berapa keuntungannya, De’?” tanya Yangti.

Diapun senyum-senyum saja… “Lumayan, Yang… Bisa buat beli pulsa…” begitu jawabnya enteng kepada Eyang.

Yangti pun urung marah, berganti menjadi geli karena ternyata cucu ragilnya  menuruni bakat dagangnya, hehe…

Suatu pagi, mobil keluarga mogok lagi.  Ini sudah yang kesekian kali.  Lalu si Sulung tiba-tiba nyeletuk, “Yah, ati-ati lho… Jangan-jangan, besuk-besuk ada yang datang karena mobil tua itu diiklankan Ragil di Toko Begus…”

Semua tertawa… tapi…. siapa tahu juga ya? 😀

Petualangan pertama Si Ragil

Minggu pagi, di rumah kakakku.

Alhamdulillah, demamku sudah agak turun, namun dinginnya pagi itu membuatku kembali berselimut setelah menyelesaikan kewajiban pagi, sedangkan burung-burung sudah asyik membangunkan mentari dengan kicauannya..

Yangti sudah sibuk klithak klithik di dapur sementara mbakku sibuk membangunkan kedua jagoannya, yang rupanya masih sangat betah ngruntel di balik selimut.

Acara heboh membangunkan mereka mulai menampakkan hasil dengan nguletnya Si Sulung, lalu terkantuk-kantuk menuju kamar mandi mengambil air wudhu, sementara Si Ragil masih saja tak bergeming.  Ketika mamanya sudah hampir di batas kesabarannya, tiba-tiba saja si bungsu itu njenggirat  terbangun.

“Mah, jam berapa?” tanyanya sambil kucek-kucek mata.

“Hampir jam 6, De’.. Makanya, ayo ndang sholat…” jawab Sang Ibu.

“Ooh… untunglaah… tak kira sudah telaat…” jawab Ragil, “aku mau bangun jam 7 terus langsung makan ya Mah…” katanya kemudian sambil kembali mlungker.  Tepatnya, berusaha untuk itu, yang gagal total karena sudah dicegah mamanya, yg segera saja menggandengnya ke kamar mandi.

Ketika dia sedang mengerjakan kewajibannya, aku bertanya pada mbakku itu, tumben amat minggu pagi dia sudah semangat begitu, ada apa? Ternyata hari itu Ragil dan teman-temannya -serombongan anak-anak kelas 6 SD itu- berencana bersepeda bersama. Dan rupanya itu acara pertama Ragil pergi sendiri dengan teman-temannya, tanpa kawalan ayah / ibu / kakaknya.

Ooh… pantas saja dia begitu semangat.  Tadinya Si Eyang yang kurang setuju, mamanya juga agak keberatan, tapi ayah & kakaknya mendukung, akhirnya si bungsu itupun diizinkan menjalani ‘petualangan’ pertamanya.

Sayangnya, entah kenapa dia tak mau terus terang rute mana saja yang akan mereka lewati dengan bersepeda itu. Pokoke amanlaah… di dekat-dekat situ kok, itu selalu jawabnya bila ditanya… Apa ia khawatir akan disusul / diikuti ayah atau kakaknya ( demi ketentraman hati ibu & neneknya ya?)  hihi…

Maka pagi itu pun ia berangkat dengan ransel di punggung dan semangat di dada… (ahay…) dan restu dari semuanya… 😀 Continue reading “Petualangan pertama Si Ragil”

Ujian sabar

Ada yang bilang, saat sakit, itu salah satu ujian sabar kita.

Dan aku setuju dengan pendapat itu.  Ketika sakit, kita benar-benar harus punya banyak persediaan  sabar…

Mulai dari sabar menikmati rasa kemeng-kemeng di perut yang datang dan pergi seenaknya sendiri…  Sabar ketika nyari posisi berbaring yang paling nyaman…tapi tetep saja yang ada boseeen…setelah berbaring seharian…  Sabar ketika ngantri di puskesmas nyari surat rujukan ke RS…  Sabar ketika pengen segera ditangani tapi harus nunggu luamaaaa di poli RS karena (kabarnya) Sang Dokter sedang sibuk visite pasien rawat inapnya…

Juga mesti sabar ketika hasil periksa tensi oleh siswa perawat jauuuh dari angka yang biasanya.  Aku sempat kaget ketika diberi tahu bahwa tensiku 160.  Yang bener??? Aku kan biasanya tensi rendah, 100-120 itu normalku. Kemarin pernah naik jadi 130 saja sudah pusiiing rasanya, kok ini 160 aku gak kerasa apa-apa??

Terus terang aku tak percaya dengan hasil periksa siswa itu.  Namun ketika aku minta diulangi dan dia bilang tetap segitu, yo wis,  aku berusaha tetap sabar saja.  Barulah ketika akhirnya -setelah 3,5 jam menunggu- tiba giliranku diperiksa oleh Sang Dokter dan setelahnya beliau berkata akan meresepkan obat penurun tensi, aku pun dengan sabarnya ngeyel  (hihi… jelas-jelas ngeyel  kok sabar… hehe… ) ke pak dokter itu minta ditensi ulang, takutnya aku manut  minum obat penurun tensi itu sedangkan sebenarnya tensiku nggak tinggi…lha rak malah kojuur…

Sebenarnya aku merasa agak tak enak meminta tensi ulang itu karena si siswa ada di sana, tapi aku juga nggak mau terjadi salah obat akibat salah bahan diagnosa itu kaan…

Untunglah si Pak dokternya sabaaar… ( yg ini sabar beneran) dan akhirnya meskipun ia tetap meresepkan obat itu (agar ada persediaan di rumah bila tiba-tiba tensiku meninggi, begitu kilahnya) dia pun mengizinkan aku ditensi lagi, dan hasilnya : 120! Naah… bener kaan… untung aku bersabar untuk tetep ngeyel minta ditensi ulang..  🙂

Obatq

Dan akhirnya, aku pun harus bersabar menunggu kesembuhan sambil menghabiskan obat sak gebung yang kubawa pulang kemarin.  Sambil merapal ‘mantra’ warisan swargi simbahBismillah… tamba teka lara lunga…  Mudah-mudahan aku lulus dari ujian sabar kali ini… aamiin…

Obong-obong

Ngobong suket ing lemah nganggur
Ngobong suket ing lemah nganggur

Hm… jare obong-obong sampah, suket  lan sak panunggale ki dilarang, malah jare wis ana peraturane, mbuh kuwi Undang-undang apa dene Peraturan Daerah / Perda.  Lha tapi, kok yo isiiih wae ana sing nindakke obong-obong , kaya sing tak sawang wingi sore wayah bali kantor.

Ana sing lagi obong-obong suket sak amban2 nang lemah nganggur sing ana ning ngarep kantorku.  Pancen ing lemah nganggur kuwi sukete dhuwur-dhuwur, mungkin sing arep ngresiki awang-awangen yen kudu mbabati saka sithik, dadine trus diobong wae kaya sing katon ing gambar nduwur iku…  Lha nek kasep kobaran gedhe gek njur piye??? Sapa sing gelem disalahke???

Hm… polusiii… 🙁 Continue reading “Obong-obong”