3 Alternatif berbagi bacaan

Mempunyai buku-buku bagus, ingin berbagi dengan teman atau sahabat, namun sayang untuk meminjamkannya karena terbukti bahwa banyak peminjam yang tidak mengindahkan etika peminjaman buku dan hasilnya malah bikin kecewa?

Sebenarnya adakah cara-cara lain untuk berbagi bahan bacaan, tanpa harus sakit hati karena buku yang dipinjamkan rusak / tak kembali?

Hm.., menurutku ada beberapa cara berbagi bacaan , antara lain :

1. Hibah buku

Hah? Hibah buku bukannya memberikan buku? Hawong dipinjam saja sayang.. lha kok malah diberikan?

Ya, hibah memang memberikan buku. Jadi menurutku, kalau serius ingin berbagi bacaan bagus, tapi tak mau ‘kepikiran’ kalau buku kesayangan itu dipinjamkan… solusinya antara lain ya beli lagi buku yang baru dengan judul yang sama lalu hibahkan.

Bisa dihibahkan pada perpustakaan / taman baca di sekitarmu, atau pada kelompok / komunitas yang sekiranya memang dapat mengambil manfaat dari buku itu, atau sebagai hadiah pada beberapa teman / kerabat yang memang menginginkannya 🙂

Sedekah tak hanya dengan uang saja bukan? Sedekah buku = sedekah ilmu 🙂 Continue reading “3 Alternatif berbagi bacaan”

Etika peminjaman buku

Bbrp_bukuqAda yang bilang : ” Buku itu seperti halnya berlian… tidak untuk dipinjamkan.”

Hm, apakah kau setuju dengan pernyataan itu, teman?

Kalau aku, setengah setuju.  Lho…setuju kok setengah-setengah? nanggung amaat… hehe…

Maksudku, aku setuju bahwa buku sama berharganya dengan berlian. Namun bukan berarti tidak untuk dipinjamkan. Sayang kan, kalau hanya numpuk saja tanpa ada yang mengetahui apalagi memanfaatkan ‘isi’nya? Mungkin -bagiku- lebih tepatnya adalah boleh dipinjamkan, dengan syarat dan ketentuan berlaku. #eh, kok jadi mirip iklan yaa? 🙂

Hehe, jelasnya… kita harus pilah-pilih teman yang bisa dipinjami buku – barang berharga kita – itu. Kenapa harus demikian?

Ya, tentunya agar jangan sampai kita berniat baik … tapi berujung pada penyesalan : buku yang dipinjamkan rusak, lama kembali… atau malah tidak kembali sama sekali! 🙁

Sedih? Ya… pastilah sedih bila hal itu terjadi.  Barang yang kita sayang-sayang, dirawat dengan baik dan hati-hati, ternyata mendapat perlakuan buruk bahkan tak dapat kita temui lagi.  Itu mimpi buruk tentunya!

Kok, tahu? Sudah pernah mengalami?

Sudaah… Beberapa kejadian tak mengenakkan di waktu lampau telah membuatku lebih memilih-milih teman yang akan kupinjami. Tapi…ternyata aku masih kurang hati-hati dalam memilih (mungkin karena lebih mengedepankan faktor kasihan), sehingga saat ini pun aku sedang kangen dengan  3 buah buku yang belum jelas nasibnya.

Sudah beberapa bulan lalu aku meminjamkannya pada seorang teman yang kala itu sedang membutuhkan bacaan perintang waktu… namun entah dia tipe ‘pembaca super duper lambat’ atau  ada alasan lain yang tak kumengerti, nyatanya sampai saat ini belum satu pun dari 3 bukuku itu  yang kembali.  Hiks…

Menurutku, perlu ada etika khusus peminjam buku, antara lain :

  1. Menjaga keutuhan & kebersihan buku.
  2. Memperkirakan waktu membaca & menyepakati waktu peminjaman
  3. Segera mengembalikan buku pinjaman setelah selesai di baca
  4. Memberitahukan kepada pemilik bila belum selesai membaca namun waktu peminjaman yang disepakati telah lewat
  5. Please…, jangan lipat halaman.. pakai pembatas buku yaa…. ( ini tambahan dari Bu Prih )
  6. Jangan dipinjamkan lagi pada orang lain tanpa memberitahu / seizin pemilik buku (yg ini tambahan dari Mbak Nanik Nara )
  7. …..

Hm…, ada yang mau menambahkan lagi? Mangga lhoo…. 🙂

***

Catatan : Oya, tulisan ini sudah tayang sebelumnya di Blog IIDN Semarang.

 

Tak hanya ada batik di Kota Pekalongan

Kota Batik di Pekalongan, bukan Jogja bukan Solo.…” itu adalah penggalan lirik lagu Slank ( Sosial Betawi Yo’i) yang menggambarkan bahwa Kota Pekalongan identik dengan Kota Batik.  Ya, memang Batik bisa dikatakan denyut nadi perekonomian Kota Pekalongan. Belanja Batik? Ya… di Pekalongan saja… Pasar Setono adalah salah satu pusatnya 🙂

Jlamprang - salah satu motif batik Pekalongan
Jlamprang – salah satu motif batik Pekalongan

Belajar tentang Batik? Ada Museum Batik di Kota Pekalongan, tempat menyimpan koleksi Batik nan indah dan juga ada sesi workshop bagi pengunjung yang ingin belajar membatik di sini. Selain itu, ada pula Kampung Batik yaitu di Kauman dan Kergon / Pesindon.  Di sana, wisatawan tak hanya dapat memborong aneka produk batik namun juga dapat belajar membatik pada para pengrajin di kedua kampung batik itu.  Masih berkaitan dengan batik, adapula Kampung Canting di Landungsari, di sini para seniman membuat canting-canting ataupun cap-cap sebagai perlengkapan membatik, tidak hanya dalam ukuran sebenarnya namun juga souvenir-souvenir canting / cap nan cantik untuk dijadikan oleh-oleh dari Kota Pekalongan.  Oya, di Kota Pekalongan juga diagendakan Pekan Batik Nusantara yang diselenggarakan setiap tahun  pada tgl 1-5 Oktober sejak tahun 2007.

Kerajinan Cap Batik
Kerajinan Cap Batik

Continue reading “Tak hanya ada batik di Kota Pekalongan”

Bercermin dari Sebuah Renungan

Musing Religion

Judul Buku : MUSING RELIGION (Sebuah Renungan)

Penulis : Bunda Lily

Editor : Catur Sukono

Layouter : Anang Subchana

Desain Cover : Dani Sulistyanto

Tebal Buku : vi + 192

Penerbit : Halaman Moeka Publishing

Cetakan : Juli 2013

***

Memaknai Penderitaan.  Itulah judul ‘bab’ pertama dari buku yang menurut Bunda Lily -penulisnya-  berisi perenungan yang beliau simpulkan dari saat-saat kebersamaannya dengan Ibunda tercinta – Sang Guru Kehidupannya.

Membaca ke-57 hal yang dituliskan di buku ini, buatku seakan melakukan perjalanan untuk menilai hati dan kehidupanku sendiri.  Menghayati hal-hal yang dibahas di buku ini, membuatku mempertanyakan penerapannya dalam kehidupan pribadiku : sejauh mana hal-hal itu telah menjadi bagian dari hidupku? Seolah aku disodori cermin besar dan melihat masih begitu banyak hal yang harus kuperbaiki ! Continue reading “Bercermin dari Sebuah Renungan”

Tulisan : warisan yang tak lekang oleh waktu

Seperti teman-teman ketahui, beberapa waktu lalu aku menuliskan petikan-petikan tulisan dari alm. Mbah Kakung Kasijo -bapaknya ibu- yang beliau tulis di tahun 1935 yang menceritakan tentang masa kecil hingga masa tugas beliau sebagai guru.

Sengaja tulisan-tulisan itu kutayangkan di sini agar mudah link nya kubagi lewat status FB ku  dengan tujuan mudah dibaca anggota keluarga kami yang saat ini tersebar di 4 Kota : Jogja, Semarang, Pekalongan dan Brebes (karena para ponakan itu masih asyik masyuk dg FB dan belum ada yg mau melirik Blog… hiks… ).

Tak disangka, ada banyak tanggapan positif dari teman-teman yang membaca kutipan-kutipan itu -baik di FB maupun di Blog ini- dan rata-rata menyatakan apresiasinya serta tak sedikit pula yang menyarankan agar tulisan itu dibukukan. Continue reading “Tulisan : warisan yang tak lekang oleh waktu”

Belajar bangkit dari kisah DR. Sri Manullang

 Ev-Is-A

  • Judul Buku : Everything Is Alright – Sekuntum Mawar Untuk Negeri
  • Penulis : DR. Sri Damayanty Manullang
  • Editor : Herlina P. Dewi
  • Desain Sampul : Ike Rosana
  • Layout Isi : Diandracreative
  • Proof Reader : Tikah Kumala
  • Jenis Buku : Memoar – Kisah Inspiratif
  • Jml Halaman : xxxii + 388 hlm
  • Penerbit : Stilleto Book

 

Awalnya, ketika memilih buku ini di antara tumpukan buku-buku terbitan Stiletto Book di sebuah toko buku, aku tertarik pada sampulnya dan mengira telah menemukan sebuah buku perjalanan biasa.  Ya, sampul depan -yang menggambarkan sebuah kota / daerah bersalju- telah menggiringku pada kesimpulan awal itu.  Lalu ketika aku melihat sampul belakangnya -yang tak kalah cantik dengan gambar Menara Eifell- dan membaca apa yang tertulis di sana, barulah aku sadar bahwa buku (lumayan tebal) yang kupegang itu memang sebuah buku perjalanan, namun bukan buku perjalanan biasa.

Tepatnya itu buku tentang  perjalanan hidup seorang perempuan cantik bergelar HDR (Doktor besar) yang mampu bangkit dari kegagalannya dan sedang bertekad mentransfer ilmu Competitive Intelligence  –yang telah dipelajarinya bertahun-tahun di Prancis- sebagai mawar persembahannya bagi ibu pertiwi tercinta. Continue reading “Belajar bangkit dari kisah DR. Sri Manullang”

Kopdar Semarang : Menjalin silaturahmi lama & baru

Beberapa waktu lalu, seorang teman lewat statusnya di FB mengabarkan adanya masa diskon di salah satu toko buku di beberapa kota. Nah, seperti biasa, kabar diskonan selalu menarik bagi emak-emak…, apalagi yang didiskon adalah BUKU! Langsung pengen nyerbuuu… hehe…

Ketika saling mengabarkan hal itu, mbak Esti Sulistyawan tanya kenapa nggak pulang saja ke Semarang tanggal 18 April agar nggak kelewat masa diskon yang berlaku hingga akhir April ini, aku sempat tanya balik, kenapa harus tgl 18?

Ternyata eh ternyata, tanggal 18 April 2014 tepatnya hari Jumat adalah hari libur nasional… wih, asyiiik… itu artinya bisa 3 hari di Semarang! Sangat tertarik dengan usulan itu, akupun akhirnya memastikan bahwa di tanggal itu  aku free dan bisa main-main ke Semarang.  Awalnya bahkan berencana jalan-jalan ke Salatiga dengan mbak Esti, tapi karena Sabtu mbak Esti tak bisa libur maka akhirnya kami janjian di Semarang itu saja.

Aku sampai di Semarang hari Jumat (18/4) pagi, diantar Kaligung Mas.  Alhamdulillah, kakak bisa jemput dan Jumat pagi itu akupun akhirnya sampai lagi di rumah masa remaja, di kawasan Tegalsari… Kangen-kangenan dengan keluarga kakak yang tinggal di sana. Continue reading “Kopdar Semarang : Menjalin silaturahmi lama & baru”

Harta Karun dari Mbah Kakung

Beberapa waktu lalu, saat ibu kondur  ke rumah kami di Semarang, beliau sempat bersih-bersih sebuah almari di kamar swargi  Simbah Putri yang sudah cukup lama tak pernah dibuka lagi.  Nah, saat bersih-bersih almari itulah, ibu menemukan beberapa barang yang bisa dikatakan sebagai ‘harta karun’ bagi kami.

Barang-barang apakah itu???

Segenggam berlian atau kah segepok uang?

Hehe…. bukaaan… Sama sekali bukan keduanya.  OK deh… biar tak berlama-lama penasaran, ini dia penampakan barang-barang itu .  Taaraaaa….. (*diiringi suara drum khayalan..) : Continue reading “Harta Karun dari Mbah Kakung”

Wira-wiri

Mbengi iki aku wis ana nang Jogja maneh, sakwise limang ndina wingi  bali nang kuthaku.  Pancen ‘diklat’ sing tak lakoni mulai tanggal 27 Pebruari  nganti suk tanggal 25 Juni iku, jadwale ora pada karo diklat-diklat sakjenis sing wis dianakne sakdurunge.  Jenenge diklat iki ditambahi tembung ‘Pola Anyar’ ateges ora pada karo sing uwis-uwis.

Sing jelas beda karo ‘pola lawas’, yaiku ing pembagian wektune. Yen diklat ngene iki wingi-wingi wektune 3 wulan dur dilakoni ana ing Balai Diklat, saiki ora ngono.  Wektu 4 sasi iku kegiatane dibagi ana ing Balai Diklat lan ana ing kantore dewe-dewe : 9 dina pisanan nang Diklat (piwulangan), 5 dina sakteruse nang kantor (golek data lan nemtoake owah-owahan sing arep dilakoni), 17 dina teruse nang Diklat maneh (sinau maneh), banjur 2 sasi nang kantor (praktek, nglakoni owah-owahan sing wis dirancang) lan terakhir nang diklat maneh (evaluasi / ujian pungkasan ) nganti penutupan.  Lha.. rak kuwi jenenge wira-wiri yo? (eh.. sing bener ki wira-wiri  utawa riwa-riwi yo?..hehe..). Continue reading “Wira-wiri”

Bismillah….

Ditugasi untuk mengikuti pelatihan / pendidikan biasanya selalu menyenangkan buatku. Dapat pengetahuan baru, teman baru, ganti suasana, dll….  Tapi penugasan kali ini, diawali dengan ndandap alias terburu-buru karena tugas untuk mengikuti pelatihan yang memerlukan waktu relatif lama, baru kuterima pada H-1 pembukaan. Hadeeh…  🙁

Selasa sore saat sudah siap-siap mau pulang kantor, dapat telpon dari BKD untuk bahwa aku ditugasi mengikuti diklat selama 4 bulan, yang akan dimulai Kamis pagi ini. Jadilah sore – malam itu aku pontang-panting menyiapkan ini-itu yang mau dibawa, menyiapkan tugas-tugas yang akan diserahkan ke teman seruangan, dll

Rabu pagi masih harus ngantri di Puskesmas terdekat cari surat keterangan sehat, lalu rapat kecil dengan atasan dan teman seruangan yg mau mengambil-alih tugas keseharianku selama 4 bulan ini, cari travel ternyata dapatnya sore hari, menyelesaikan packing yang akhirnya gagal mewujudkan niat hanya membawa 1 tas saja… lalu sorenya perjalanan darat melalui jalan (yang sebagian besar) berlubang-lubang sehingga seolah sedang naik kapal…dan alhamdulillah tepat jam 12 malam (wiih..kaya’ cinderella..haha…) sampai di depan Balai Diklat di kawasan Baciro – Jogja, diantar ke kamar oleh bapak-bapak Satpam yang baik hati, berkenalan dengan teman sekamar, tata-tata sebentar dan siap tidur…

Dan pagi ini, akan dimulai kegiatan yang dijadwalkan akan berlangsung sampai minggu terakhir Juni 2014 itu. Oya, Diklat kali ini menggunakan model baru, tidak full di Balai Diklat selamat 4 bulan itu, ada 4 tahap. Tahap I 9 hari di Diklat, Tahap II 5 hari di kota asal, Tahap III 17 hari di Diklat, Tahap IV 60 hari di kota asal dan Tahap V kembali di Diklat hingga penutupan. Wira-wiri dan belum jelas bagaimana pengaturannya nanti (maklum…baru angkatan pertama) tapi, Insya Allah semua lancar…

Bismillah… mudah-mudahan aku dapat menjalaninya dengan baik dan lancar dari awal hingga akhir nanti -termasuk mudah-mudahan ada kesempatan ingak-inguk  dumay.. biar gak bosen, haha. Aamiin…

Mohon doanya ya teman….