Ada apa dengannya?

Hari Jum’at hingga minggu siang tadi, aku bersama teman2 kantor mendapat tugas menyelenggarakan sebuah pembekalan  / pelatihan singkat bagi rekan-rekan yg saat ini bertugas sebagai fasilitator sebuah program daerah.  Kegiatan pelatihan singkat yang bertujuan meningkatkan kerjasama / team-work dan kinerja para fasilitator tersebut dilaksanakan di Wana Wisata Pagilaran, kebun teh yang ada di Kabupaten Batang Jawa Tengah.

Meskipun itu bukan kali pertama aku Tea walk Medini juga sudah kali kesekian menginap di salah satu villa di Pagilaran, tapi menikmati sejuknya udara di perkebunan teh selalu menyenangkan buatku, apalagi hari terakhir pelatihan itu akan diisi dengan acara Outbond yang pastinya seru… Maka akupun semangat menyiapkan segala sesuatu persiapannya, termasuk kamera saku yang selalu setia menemani acara jalan-jalanku.. 🙂 Continue reading “Ada apa dengannya?”

Aku sudah, kamu ?

Hari ini, Minggu 26 Mei 2013 ada Pilgub Jawa Tengah.

Tapiii… kok rasanya sepi sepi saja yaa… Bahkan sejak masa kampanye sebelum hari H ini, tak ada hiruk pikuk, gegap gempita ataupun hingar bingar -setidaknya- di sekitar tempat tinggal kami.  Suasanya adem ayem saja, bahkan di koran lokal beberapa hari lalu, tertulis artikel bahwa Pemilukada di Jawa Tengah ini cenderung anyep… -eh, sayur…’kalee kok dikatakan anyep gitu..- 🙂

Sangking adem ayemnya, dua hari lalu ketika melihat berita di salah satu channel TV petugas Kamtib ramai-ramai membersihkan atribut kampanye di jalan protokol Kota Semarang, aku baru tersadar bahwa masa tenang sudah datang, dan nyeletuk, ” Eh… , kampanyene wis rampung to?”

Langsung teman-temanku melantunkan koor “Wooo…. ketinggalan beritaa…” dengan riangnya.  Haha, tapi aku seneng juga bahwa kampanye telah berlalu tanpa ada keributan apa pun.  Tak seperti masa kampanye dulu-dulu yang hampir selalu ada bentrok antar pendukung yang meramaikan rapat akbar ataupun pawai dalam rangka kampanye.

Eh tapi, suasana sepi ini memang karena kesadaran para warga yang sudah semakin tinggi untuk mengedepankan kedamaian saat kampanye, ataukah rasa ketakpedulian warga akan adanya pilgub ini yg makin meninggi? hehe.. biarlah para pakar saja yang menilai…

Sampai dengan kemarin masih banyak kudengar pertanyaan ,” Enake nyoblos yang mana ya? Gak kenal semua…”  Hm, sosialisasinya masih kurang ternyata…  Adalagi yang nyeletuk, ” Eh, jadi Pilgub gak sih? kok amplopnya belum sampai?” Alamaaak…. ada yang masih menunggu serangan fajar ternyata..  🙁  Mudah2an gak banyak yg begini…

Bagaimanapun, kampanye telah usai, masa tenang telah berlalu, dan hari ini saat memilih telah tiba.  Gunakan hak pilihmu dengan sebaik-baiknya, karena hari ini menentukan masa 5 tahun ke depan, bukan? Semoga siapapun Gubernur Jateng yang terpilih nantinya, akan amanah dan mendapat dukungan penuh dari semua pihak untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh penduduk Jawa Tengah. Aamin…

Kalau ada yang tanya apakah aku sudah memilih hari ini? Tentu sudah, nih buktinya…

coblosan

Lalu, siapa yang kupilih ? Hm, kasih tau gak yaa… ? 😉

Rumus ’10-D’ dan Beda Kaum Pemenang dg Kaum Kalah

Akhir pekan kemarin, kami berkesempatan mengikuti sebuah acara dimana salah satu pembicaranya adalah Prof. DR. Mudjahirin Thohir MA, seorang budayawan Jawa Tengah sekaligus salah satu Guru Besar UNDIP Semarang.  Dan ini adalah sekelumit penggalan catatan kami :

* Rumus 10 D yang menentukan Kualitas Hidup, yaitu :

  1. DREAM –> bagaimana mewujudkan mimpi atau angan-angannya
  2. DECISIVENESS –> kecepatan & ketepatan dalam mengambil keputusan adalah faktor kunci sukses bisnis
  3. DOERS –> tidak menunda-nunda kesempatan yang dapat dimanfaatkan
  4. DETERMINATION –> tanggung jawab tinggi walau dihadapkan pada halangan dan rintangan
  5. DEDICATION –> pengorbanan yang tinggi untuk kesuksesan
  6. DEVOTION  –> kegemaran yang dapat mendorong keberhasilan
  7. DETAILS –> memperhatikan factor kritis secara rinci
  8. DESTINY –>bertanggung jawab terhadap nasib dan tujuan yg hendak dicapainya
  9. DOLLARS –> motivasinya bukan uang, namun uang dapat menjadi tolok ukur kesuksesan bisnis
  10. DISTRIBUTE –> mendistribusikan kepemilikan bisnisnya kepada orang-orang kepercayaannya

 

* Sikap positif terhadap persaingan :

  • Persaingan perlu dilihat sebagai sebuah bentuk kerjasama, dimana kedua pesaing / lebih mendapatkan keuntungan karena dipaksa untuk melakukan yang terbaik

* Perbedaan cara pandang orang pesimis dan optimis  :

  • Orang PESIMIS :

             –          Hanya melihat kesulitan dalam setiap peluang
             –          Merasa bahwa perubahan adalah ANCAMAN

  • Orang OPTIMIS :

             –          Cenderung melihat peluang dalam setiap kesulitan

             –          Menganggap perubahan adalah sebuah TANTANGAN

* Kelebihan kaum pemenang dari kaum kalah :

  • Kaum PEMENANG :

             –          Mampu menemukan peluang di setiap kesulitan

             –          Berpikir bahwa, “ Itu memang sulit, tapi pasti ada jalan keluar”

  • Kaum KALAH :

             –          Selalu melihat adanya masalah pada tiap peluang

             –          Berpikir bahwa, “setiap penyelesaian tetap menghadirkan masalah”

Nah… bagaimana denganmu, teman? Semoga kita semua tergabung dalam kelompok orang OPTIMIS yang ditakdirkan menjadi kaum PEMENANG…  

Selamat mengawali pekan, teman 🙂

Membantu Mengarahkan Panah Para Srikandi

BLKKrplor1

Berbagi itu membahagiakan.  Meski yang kami bagi hanya  pengetahuan sederhana, namun sungguh membahagiakan melihat kesungguhan para ibu untuk belajar sesuatu yang baru, tidak malu bertanya dan mau mencoba.  Semua bertujuan agar kelompok usaha yang mereka kelola lebih berkembang dan pada akhirnya membantu meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

Berbagi itu sekaligus mendapatkan.  Karena semangat para Srikandi keluarga dalam membidik kesejahteraan keluarga dan lingkungannya ini, memacu semangat kami untuk memberi yang terbaik dalam memfasilitasi usaha gigih mereka. Semangat mereka menyemangati kami juga, menjadikan itu semua tak sekedar menunaikan tugas semata.

Foto diatas adalah ketika kami menyemangati para Srikandi pada kegiatan pembinaan rutin bagi ibu-ibu pengurus kelompok BLK ( Bina Lingkungan Keluarga ) Kel. Kuripan Lor. Foto ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Sehari Menjadi Srikandi.

Gugon tuhon

Ketika membaca Cerpen Pakdhe yang berjudul ‘Botol Parfum Biru Daun’ dimana salah satu tokohnya percaya tentang pantangan memberikan parfum bagi yang sedang pacaran, aku kembali teringat cerita salah satu eyangku dulu tentang gugon tuhon semacam itu.

Oya untuk teman-teman yang belum mengetahui, gugon tuhon adalah nasehat dari para sesepuh (Jawa) untuk tidak melakukan sesuatu hal / berperilaku yang dianggap tidak pantas / tidak baik untuk dilakukan dan dipercaya akan mendatangkan kesialan.  Biasanya larangan ini dimulai dengan kata ‘Aja‘ yang berarti Jangan. Misalnya : Aja … mundhak… atau Jangan…nanti akan….   Dan ketika ditanyakan alasannya, jawaban yang paling sering keluar adalah : Ora ilok alias tidak pantas .  Mungkin istilah lainnya adalah ‘Pamali’ ataupun Mitos.

Nah, dalam salah satu ceritanya kepada kami, eyang menceritakan adanya gugon tuhon bahwa memberikan saputangan pada kekasih adalah sebuah pantangan, konon saputangan atau kacu (sebutannya dalam bahasa jawa) ini akan membuat hubungan tersebut putus alias kacunthel ( Cunthel = selesai ).

Nah, lucunya… dengan mengetahui kepercayaan tersebut, eyang kakung kami itu malah memberikan selembar saputangan kepada seorang gadis yang saat itu menjadi pacangan / pacarnya.. Lho… apa eyang memang ingin putus? Jawabannya adalah ya, karena ada gadis lain yang lebih menarik hati beliau dan ternyata gadis terakhir inilah yang kelak menjadi eyang putri kami.. hehe…

Tapi sebenarnya ada banyak juga gugon tuhon yang berisi nasehat tersembunyi, misalnya larangan untuk tidak duduk di depan pintu (Aja lungguh nang ngarep lawang), tentu saja alasan rasionalnya adalah agar tak menghalangi jalan.  Atau larangan untuk menyapu malam hari (Aja nyapu wayah bengi), yang barangkali alasan rasionalnya adalah karena akan relatif lebih sulit melihat kotoran pada malam hari sehingga dikhawatirkan tidak bersih. Dan masih banyak pula lainnya.

Oya.. di jaman modern seperti ini, adakah gugon tuhon atau pamali atau pantangan yang masih berlaku di keluarga / lingkungan terdekatmu, teman ? Bagi ceritanya ya…

7 Kawasan Tanpa Rokok di Kota Pekalongan

Beberapa hari lalu, aku mengalami hal tak menyenangkan berkaitan dengan bau rokok.  Kantin di belakang kantor kami memang ruangannya kecil, hanya muat untuk beberapa orang saja.  Namun (mungkin) karena harga yg terjangkau dan rasa masakan yang relatif enak, kantin Mak Saroh itu mempunyai banyak pelanggan, tidak hanya karyawan dari kantor kami.

Nah, yang paling menjengkelkan adalah segerombolan pelanggan tanpa tenggang rasa yang setelah selesai menyantap makanan mereka suka berlama-lama duduk sambil ngobrol & rokokan di sana.  Bau asap rokok yg tertinggal di ruang kantin nan sempit itu sangat mengganggu!  Mau makan jadi nggak kolu alias makanan tak bisa tertelan karena merasa mual. Daripada maag kumat, akhirnya terpaksalah aku memesan makan siang untuk diantar ke mejaku, padahal sebenarnya aku sangat tidak suka makan di meja kerja 🙁

Di lain pihak, sebenarnya saat ini pemerintah kota kami sedang menggalakkan sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Kota Pekalongan No. 19 Tahun 2012 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang sudah ditetapkan pada tanggal 22 November 2012 lalu.  Perda KTR tersebut dimaksudkan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari bahaya asap rokok, memberi ruang dan lingkungan yang bersih bagi masyarakat, melindungi kesehatan masyarakat dari dampak buruk merokok dan mencegah perokok pemula.

Adapun 7 KTR tersebut adalah :

(1) Fasilitas pelayanan kesehatan;

(2) Tempat proses belajar mengajar;

(3) Tempat anak bermain;

(4) Tempat ibadah;

(5) Angkutan umum;

(6) Tempat kerja;  dan

(7) Tempat umum.

Tidak hanya larangan merokok di 7 KTR tersebut, namun di kawasan yang telah ditetapkan sebagai KTR tersebut juga dilarang untuk kegiatan menjual, mengiklankan atau mempromosikan rokok.  Bagi perokok / penjual / pengiklan / yg mempromosikan rokok di 7 KTR tersebut akan dikenakan sanksi administrasi hingga denda.

Khusus di 2 kawasan yaitu Tempat kerja dan tempat umum, diperbolehkan untuk menyediakan tempat merokok / smoking area.  Dinas Kesehatan Kota Pekalongan menyiapkan 22 smoking area di sejumlah kantor pelayanan & kelurahan.  Namun dari pengamatanku, tempat-tempat khusus tersebut saat ini masih kurang berfungsi secara maksimal, banyak yang tidak digunakan alias masih banyak yg merokok di tempat terbuka.

Yaah… semoga saja kedepan masyarakat kota kami akan makin menyadari pentingnya udara bebas asap rokok itu dan hanya merokok pada tempat-tempat yang diperbolehkan…

Bagaimana denganmu, teman… adakah pengalaman tidak mengenakkan dengan perokok / asap rokok? Oya, tentang Kawasan Tanpa Rokok, apakah berhasil diterapkan di kotamu?

Workshop Online ” All About Pepaya”

workshop

Siapa yang tak kenal Pepaya ? Wong Jawa menyebutnya kates sedangkan urang sunda menyebutnya gedang.  Menurut wikipedia, buah bernama latin Carica papaya L ini berasal dari meksiko, namun sudah menyebar luas di hampir semua daerah tropis termasuk negara kita.

Buah yang nikmat dikonsumsi segar maupun olahannya ini banyak mengandung manfaat bagi tubuh kita, coba saja masukkan kata ‘manfaat pepaya’ di mesin pencarian maka hasilnya akan berderet-deret dan tinggal pilih mana yg mau di baca 🙂

Nah, dalam rangka meningkatkan konsumsi dan dan mendukung keberadaan buah nusantara -khususnya Pepaya– di Indonesia, IKA Faperta ( Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Pertanian) IPB akan menyelenggarakan Workshop Online “All About Pepaya” di Facebook.

Workshop online ini rencananya diselenggarakan pada tanggal 1 sampai 30 April 2013 dan akan membahas seluruh aspek dari komoditi pepaya, mulai dari on farm hingga off farm, dari hulu hingga ke hilir. Bila ingin mengikutinya, langsung saja menuju ke Workshop IKA Faperta IPB  Lalu klik button “LIKE” yang ada di sana… Terbuka untuk umum dan gratis..tis..tis… Hehe…

Nah, untuk lebih mengetahui apa itu Workshop Online “All about Pepaya” yg akan diadakan oleh IKA Faperta IPB ini, silahkan simak aturan mainnya ya… Continue reading “Workshop Online ” All About Pepaya””

Kiat menjaga semangat

Jangan terkecoh dengan judul tulisan ini ya… Judulnya memang menjanjikan sekali, namun mohon maaf bila isinya hanya catatan kecil ku untuk menjaga semangat yang seringkali naik turun dalam mengerjakan sesuatu.

Memulai adalah kiat pertama menuju sukses, demikian yang pernah kubaca .  Dan tentu saja aku setuju akan hal itu, tanpa tindakan memulai, tak akan sampai kita pada tujuan.  Ibaratnya cucian kering yg menggunung tak akan berubah menjadi tumpukan rapi terseterika hanya dengan niat kita untuk melakukannya, bukan? Persis sama dengan sebuah buku impian yang tak akan siap terbit begitu saja tanpa kita mulai menuliskan ide-ide yang bersliweran di benak… *ahay… contoh-contohnya subyektif banget..* 🙂

Namun setelah langkah pertama kita lakukan, entah itu mulai menata alas setrika atau mulai menetapkan tema tulisan, hasil akhir yang kita impikan masih jauh dari kenyataan jika kita mandeg di tengah usaha yang kita lakukan.  Kenapa berhenti? karena semangat kita menguap di tengah jalan, dengan begitu banyak alasan.

Nah, itu sebabnya aku berusaha mencari kiat-kiat untuk menjaga semangat tetap menyala hingga selesai suatu kegiatan.   Lalu, apakah kiat-kiat itu? Menurutku, ini beberapa diantaranya : Continue reading “Kiat menjaga semangat”

Telepon dari Polda (?)

Suasana terminal bus -seperti biasanya- selalu ramai, begitu juga yang kujumpai ketika sampai di Kota Tegal sabtu pagi kemarin.  Turun dari bus, masih harus menunggu kakak yang akan menjemput dari rumahnya di Brebes, oleh karena itu aku, ibu dan adikku duduk-duduk di depan salah satu agen bus yang sebelumnya membawa kami ke kota itu.

Sedang asyik membuka FB dengan HP ketika tiba-tiba ada panggilan masuk.  Kukira dari kakak yang akan menjemput, ternyata dari nomor yang tak kukenal..  Ketika kemudian kuterima, begini ringkasan percakapan telepon itu :

“Haloo… ini ibu…. (menyebutkan nama panggilanku di kantor) “

“Betul, pak.. Maaf ini dari siapa, ya?”

“Saya dari Polda Jateng bu.. Saya sudah menelpon Pak X (nama atasanku) berkali-kali tapi tak bisa sambung.  Bisa saya minta tolong disampaikan pesan?”

“Insya Allah pak.. Maaf ini dengan Bapak siapa ya?”

Kurang jelas apakah penelepon menjawab atau tidak, karena suara bising di sekitarku, sehingga aku minta diulang, namun ia tak menanggapi permintaanku.

” Ini saya mau minta tolong untuk menyampaikan pesan pada istrinya Pak Sigit”

“Maaf, Pak Sigit yang mana ya?”

“Lho.. masa anda tidak tahu Pak Sigit Suryono.  Pak X saja tahu lho.. Dia kan mantan pejabat di kantor XX (menyebutkan nama kantor kami tapi kurang tepat) “

“Maaf pak, mungkin saya tadi kurang jelas mendengar.  Maklum saya sedang di terminal sekarang. Bisa diulang nama Pak Sigit, Pak? Seingat saya tidak ada mantan pejabat kantor kami bernama Sigit Suryono..”

“Hah.. ibu ini gimana sih.. masa sama senior tidak kenal. Ini penting bu, saya harus titip pesan pada istrinya…” suaranya terdengar kurang jelas lagi, meskipun aku sudah mencoba mencari pojokan yang lebih sepi, sambil mengingat-ingat nama senior-senior kami.. tetap saja nama itu tak muncul dalam ingatanku.  Padahal aku juga bukan orang baru di kantor kami.

Ketika aku minta maaf  & minta penjelasan lagi, mulailah si penelepon itu marah-marah..

“Ibu ini bagaimana sih… tidak sopan sekali dalam menerima telepon.  Padahal ini penting sekali.  Karena ibu tidak sopan, tunggu saja…akan ada surat panggilan dari Polda Jateng!” ketusnya sebelum mengakhiri telepon.

Tinggal aku terbengong sendiri… lhah…kok malah ngancam???

Akupun mencoba menghubungi Pak X -atasanku yg disebutkan tadi- namun lewat sms karena takut komunikasi lewat telepon akan terhambat lagi.  Pada pesan itu kuceritakan singkat kejadiannya & kutanyakan mungkin beliau tahu apa maksud si penelepon.

Tak lama kemudian balasan sms dari Pak X masuk, dan pesannya singkat saja : “Wis, mbak… gak usah ditanggapi.. Biasa itu telepon teror.”

Hm… meski masih penasaran aku pun tak membahasnya lebih lanjut, terlebih karena kakakku yang menjemput sudah sampai dan kami pun meninggalkan terminal Tegal menuju rumah kakakku.  Tapi, rasa penasaran itu masih mengusik juga.. apa maksudnya telepon teror? apa sejenis telepon tipu-tipu yang beberapa waktu ini terjadi di beberapa instansi lain? Maka aku bertekad akan bertanya langsung pada Pak X di kantor nanti…

Hm, kira-kira siapa ya?? *penasaranakut*

(Bukan) Alih Fungsi

alihfungsi

Ketika geliat usaha perbatikan itu kembali meraja, ketika mentari tak lagi bersembunyi, pemandangan seperti ini kembali banyak dijumpai di daerah kami…

Tentu saja ini bukan alih fungsi lahan secara permanen seperti yang banyak dikritisi oleh para ahli itu…  Ini hanya sekedar pemanfaatan secara maksimal lahan yang ada untuk keperluan mengepulnya dapur banyak keluarga…

Sementara jemuran kain ratusan meter itu belum lagi kering…. pengguna lapangan lainnya ngantri dulu ya.. hehe…