Antara Dea, Dodi dan sebuah nama

Beberapa waktu lalu, membuka-buka arsip lama & menemukan cerita berseri ini :

#1. Suatu sore di sebuah cafe

#2. Sore itu menjadi tak terduga

#3. Dan sore itu pun berlalu menyisakan sendu

#4. Back to the cafe, breaking the code

#5. Akhir sebuah kasus

Satu kasus memang sudah selesai, namun masih ada ‘kasus’ lain yang belum tuntas, bukan? Inginnya, kisah berikut ini menjadi pembuka kisah-kisah selanjutnya… 🙂

****

Dea masih asyik dengan bacaannya di cafe langganannya sore itu, ketika tiba-tiba nada detik terakhir-nya Lyla terdengar.  Sekilas diliriknya layar HP dan ketika melihat identitas penelpon yang sama yang telah berkali-kali menelponnya seharian itu, ia pun kembali asyik dengan bacaannya.

Dia masih saja asyik begitu ketika beberapa waktu kemudian suara detak sepatu di lantai keramik terdengar teratur menuju ke arahnya, dan sejurus kemudian sebuah tepukan lembut singgah di bahunya.

“Hai, Re… Kamu terlambat seperti biasanya,” sapanya pada karibnya yang memasang senyum tak bersalah di sebelahnya itu.

“Maaf, De… Pak Bos rewel betul hari ini, jadi tak bisa langsung kutinggalkan kantor begitu saja..” sahut Rere sambil menarik dan menduduki salah satu kursi di meja itu.

“Oya, Dodi berkali-kali menelponku… Masih belum mau menerima telpon darinya ya?” tanya Rere langsung dengan nada menyelidik.

Dea menghela nafas panjang, menutup novel yang dibacanya, lalu menyipitkan mata ke arah sahabatnya itu. Continue reading “Antara Dea, Dodi dan sebuah nama”

Mitos

Aku termangu…sebal!

“Sabar,Nez… Kata orang-orang, yang kedua biasanya memang lebih sulit..” ucapan sahabatku masih terngiang..

Akhir-akhir ini aku sering mendengar kalimat itu. Aah, itu hanya mitos bukan? Tak selalu yang kedua lebih sulit dari yang pertama, bukan? Tapi…

Rasanya, dulu memang tak sesukar kini. Semua seolah mengalir begitu saja. Selaksa syukur senantiasa kupanjatkan atas semua kelancaran dan kemudahan waktu itu… Continue reading “Mitos”

Ngilo githoke dhewe

Ngiloa githokmu dhewe” .  Kanca, apa nate krungu tembung iku? Utawa malah nate ngucap marang kanca liyane?

Mbok menawa isih akeh kanca sing babar blas durung nate krungu tembung pitutur iku. Ngilo -yaiku nyawang nganggo kaca pangilon- githoke dhewe, iku angel bisane kelakon, butuh kanca / wong liya kang ngewangi supaya kita kelakon bisa ngilo githoke dhewe.

Semono uga ing panguripan iki, ora gampang mbiji awake dhewe utawa metani kesalahane dhewe, biasane butuh wong liya kang nuduhke kesalahane ndhewe.  Mula, aja susah apa maneh nesu yen ana kang nuduhake kesalahane ndhewe, malah kudune dhewe matur nuwun marang kanca / uwong iku.

Ya, iku sing lagi tak alami dina iki. Ana kanca sing gelem nuduhake kesalahanku.  Sepisanan pancen rasane mak peng! kaya ketampek rasane… Rumangsa nelangsa amarga apa sing sak lawase iki tak perjuwangke jebule ora ditampa bener marang liyan -mbok menawa ana sing rumangsa lara ati, aku nyuwun pangapura. Nanging aku banjur matur kesuwun marang kanca iku, amarga aku dadi ngerti menawa isih ana kaluputan sing kudu tak dandani…

Kedadeyan iki dadi pasinaon urip kang wigati kanggoku, dielingke maneh yen manungsa pancen kudu bisa rumangsa, ning aja rumangsa bisa… Alhamdulillah.., Jemuah barokah 🙂

*** Continue reading “Ngilo githoke dhewe”

Ketika satu nikmat terangkat…

Siang beranjak malam dan hari akan segera berganti, sudahkah kau hitung dan syukuri nikmat-nikmat dari NYA untukmu hari ini, teman?

Nikmat sehat, adalah salah satunya… Ya, saat sakit begini..baru terasa betapa indah nikmat sehat itu dan betapa seringkali kita lupa mensyukurinya.

Selain itu, ada begitu banyak nikmat lain yang telah kita terima -dan pantas untuk kita syukuri- bahkan hal-hal yang tampaknya sepele bagi kita. Kemampuan lidah mengecap rasa, misalnya. Continue reading “Ketika satu nikmat terangkat…”

Ngantri di sabtu pagi

Sudah beberapa lama lutut kananku sering terasa nyeri bila dilipat, terlebih saat harus duduk bersila…hadeeh…. Kalau sudah begitu, posisi duduk harus sering dibolak-balik biar gak gosong..eh..biar gak sakit lututnya… 🙁

Sayangnya, kesempatan untuk periksa tak juga datang karena untuk itu harus meluangkan waktu seharian di RS -yang merupakan kesempatan langka di waktu-waktu yang lalu- sehingga sementara waktu kemarin harus menahan rasa dulu & berupaya meghindari gaya duduk bersila itu…

Belum tertangani unjuk rasa si lutut itu, disusul oleh sang panggul yang juga melu-payu berunjuk-rasa.  Dan yang ini lebih menyiksa, maka mau tak mau akhirnya aku harus segera menggunakan BPJS lagi dan alhamdulillah kemarin sempat izin cari rujukan & periksa ke poli syaraf yang kemudian disarankan untuk melakukan fisioterapi, sehingga sabtu pagi tadi aku harus standby ngantri di RS untuk fisioterapi.

Begitulah, pagi-pagi sudah menyambangi RS terdekat dari rumah, dan mendapatkan nomor….172! Olala…ternyata orang-orang lain sudah ambil nomor sejak subuh! hihi… yo wis lah, gak papa… memang sudah siap nunggu lama dengan berbekal buku kok..hehe..

PhotoGrid_1419995241975
suasana di depan loket pendaftaran

Saat di ruang tunggu itu, aku sempat juga mengamati beberapa pasien / keluarga pasien yang juga sedang sama-sama ngantri periksa, juga terlibat pembicaraan dengan ‘tetangga’ kanan-kiri tempat dudukku. Continue reading “Ngantri di sabtu pagi”

Horeee… Ibuku sukaaa…

Alhamdulillah…. akhirnya masa heboh akhir tahun berlalu juga.., dan setelah 2 minggu blog ini sawangen akhirnya bisa menulis lagi di sini..  🙂

Mengawali tulisan pertama di tahun baru… ini adalah sekelumit percakapan melalui pesan singkat dengan ibuku.

“Mah…, pun diwaos bukune? Halaman 25 ampun kesupen lho…hehe…”

“Wis…, dhisik dhewe malah.. Suwun yoo… Iki wis tekan halaman 146 wong angger karo ngenteni nang RS tak waca bukune”

“Waah, padahal bukune kandel, nggih… mboten kabotan le ngasta teng RS?”

“Ora. Awale weruh kandele buku yo sungkan.. tapi bareng wiwit maca trus asyiik.. lali karo kandele buku..”

Nah, begitulah sebagian ‘percakapan’ dengan ibuku di awal tahun baru tentang sebuah buku yang kuhadiahkan pada beliau dalam rangka Hari Ibu kemarin.

Syukurlah, rupanya ibu suka membacanya, bahkan buku itu menjadi ‘teman menunggu’ bagi ibu yang akhir-akhir ini rutin 2x seminggu menemani kakak saat kontrol / kemo di salah satu RS di Jogja.

Buku apakah itu? Continue reading “Horeee… Ibuku sukaaa…”

Modus lama

Hujan tak lagi sederas sebelumnya, ketika malam itu di tengah-tengah rapat aku melihat layar HP -yang kupasang mode senyapberkedip tanda ada pesan / panggilan masuk.

Sekilas kulihat ada pesan masuk dari adikku, namun karena pembahasan rapat masih seru aku tak bisa langsung meresponnya. Beberapa waktu kemudian ketika -akhirnya- rapat selesai dan kami berkemas untuk pulang ke rumah masing-masing, aku bergegas ke luar ruangan sambil membuka pesan dari adikku.

“Posisi di mana, mbak? Nggak apa-apa, to?” begitu selarik kalimat yang malah membuatku penasaran.

Ada apa memangnya? Aku pun segera menelponnya, mengabarkan aku masih di kantor dan tidak ada masalah apa-apa (kecuali bila capai & ngantuk masuk kategori masalah malam itu, hehe.. ) dan sedang berkemas untuk pulang.

“Alhamdulillah…, yo wis, hati-hati pulangnya, nanti cerita di rumah saja,” begitu respon adikku.

“Eh, tapi ibu nggak apa-apa kan?” tanyaku penasaran, namun ia meyakinkanku ibu -yang saat aku berangkat malam itu sedang sendirian di rumah- baik-baik saja. Kemudian aku pun bergegas menuju rumah sambil masih menyimpan rasa penasaran, kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa adikku perlu menanyakan posisi & kondisiku lewat sms? Continue reading “Modus lama”

Bolu Mangga : Senama namun tak serupa

Sebagaimana telah kutulis di posting yang lalu, bahwa buah Mangga yang banyak jenisnya dan banyak manfaatnya bagi tubuh kita itu, tidak hanya bisa kita konsumsi segar saja namun bisa kita olah juga.

Jus ataupun puding Mangga tentu kita pernah merasakannya, bukan? Beberapa bulan lalu, ibuku berkreasi mengolah Mangga menjadi dodol / JENANG saat Mangga Kelapa di rumah kakak sedang panen dan cucu-cucu beliau sudah mblenger makan mangga segar, puding Mangga ataupun minum Jus Mangga.

Nah, beberapa waktu lalu, ketika di rumah kakak kubaca kreasi saji serba Mangga di sebuah tabloid wanita, langsung saja kuculik lembaran tabloid itu.. haha… Ada resep Panna Cotta Mangga, Muffin Strusel, Creme brulee Mangga dan Bolu Mangga Butter. Tiga nama pertama cukup asing bagiku (hehe) jadi karena hanya resep terakhir itu yang cukup familiar buatku, jadilah aku minta adikku untuk mempraktekkannya. Lho, tidak praktek sendiri? Tentu tidaak…. aku kan awam banget masak kue2 begini, salah2 malah gak bisa dimakan hasilnya…hihi… Continue reading “Bolu Mangga : Senama namun tak serupa”

Manfaat buah Mangga

MANGGAIni tentang Mangga atau mempelam atau pelem (bhs Jawayang nama latinnya mangifera indica itu lhoo…

Buah yang mudah ditemui di sekitar kita itu -apalagi saat sedang musimnya begini- memang banyak macamnya dan ternyata banyak pula manfaatnya. Continue reading “Manfaat buah Mangga”

Sepenggal malam di sudut taman kenangan

Malam minggu pekan lalu, seorang sahabat menjemput di rumah masa kecilku, berencana meluangkan waktu bersama menikmati malam di Kota Atlas.

Langit sedikit mendung, tapi lalu lintas tetap padat sepanjang jalan dari Tegalsari ke arah Simpang Lima, yang pada awalnya menjadi tujuan kami malam itu.

Sesampai di Bunderan Air Mancur, kami melihat ada keramaian di sekitar Taman Menteri Supeno atau yang seringkali disebut juga Taman KB, taman yang berlokasi di depan almamater kami : SMA N I Semarang.

Akhirnya kami pun berbelok ke arah parkir di sekitar sana, memutuskan untuk menikmati malam di lokasi itu. Rupanya saat itu sedang ada acara pentas seni, kalau tidak salah Pertunjukan Kesenian Rakyat Jawa Tengah (PKRJT) yang antara lain akan menampilkan seni Tayub dari Pati (?). Hm… kaya’nya asyik tuuh…

oncor(1)

Continue reading “Sepenggal malam di sudut taman kenangan”