Horeee… Ibuku sukaaa…

Alhamdulillah…. akhirnya masa heboh akhir tahun berlalu juga.., dan setelah 2 minggu blog ini sawangen akhirnya bisa menulis lagi di sini..  🙂

Mengawali tulisan pertama di tahun baru… ini adalah sekelumit percakapan melalui pesan singkat dengan ibuku.

“Mah…, pun diwaos bukune? Halaman 25 ampun kesupen lho…hehe…”

“Wis…, dhisik dhewe malah.. Suwun yoo… Iki wis tekan halaman 146 wong angger karo ngenteni nang RS tak waca bukune”

“Waah, padahal bukune kandel, nggih… mboten kabotan le ngasta teng RS?”

“Ora. Awale weruh kandele buku yo sungkan.. tapi bareng wiwit maca trus asyiik.. lali karo kandele buku..”

Nah, begitulah sebagian ‘percakapan’ dengan ibuku di awal tahun baru tentang sebuah buku yang kuhadiahkan pada beliau dalam rangka Hari Ibu kemarin.

Syukurlah, rupanya ibu suka membacanya, bahkan buku itu menjadi ‘teman menunggu’ bagi ibu yang akhir-akhir ini rutin 2x seminggu menemani kakak saat kontrol / kemo di salah satu RS di Jogja.

Buku apakah itu? Continue reading “Horeee… Ibuku sukaaa…”

Modus lama

Hujan tak lagi sederas sebelumnya, ketika malam itu di tengah-tengah rapat aku melihat layar HP -yang kupasang mode senyapberkedip tanda ada pesan / panggilan masuk.

Sekilas kulihat ada pesan masuk dari adikku, namun karena pembahasan rapat masih seru aku tak bisa langsung meresponnya. Beberapa waktu kemudian ketika -akhirnya- rapat selesai dan kami berkemas untuk pulang ke rumah masing-masing, aku bergegas ke luar ruangan sambil membuka pesan dari adikku.

“Posisi di mana, mbak? Nggak apa-apa, to?” begitu selarik kalimat yang malah membuatku penasaran.

Ada apa memangnya? Aku pun segera menelponnya, mengabarkan aku masih di kantor dan tidak ada masalah apa-apa (kecuali bila capai & ngantuk masuk kategori masalah malam itu, hehe.. ) dan sedang berkemas untuk pulang.

“Alhamdulillah…, yo wis, hati-hati pulangnya, nanti cerita di rumah saja,” begitu respon adikku.

“Eh, tapi ibu nggak apa-apa kan?” tanyaku penasaran, namun ia meyakinkanku ibu -yang saat aku berangkat malam itu sedang sendirian di rumah- baik-baik saja. Kemudian aku pun bergegas menuju rumah sambil masih menyimpan rasa penasaran, kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa adikku perlu menanyakan posisi & kondisiku lewat sms? Continue reading “Modus lama”

Bolu Mangga : Senama namun tak serupa

Sebagaimana telah kutulis di posting yang lalu, bahwa buah Mangga yang banyak jenisnya dan banyak manfaatnya bagi tubuh kita itu, tidak hanya bisa kita konsumsi segar saja namun bisa kita olah juga.

Jus ataupun puding Mangga tentu kita pernah merasakannya, bukan? Beberapa bulan lalu, ibuku berkreasi mengolah Mangga menjadi dodol / JENANG saat Mangga Kelapa di rumah kakak sedang panen dan cucu-cucu beliau sudah mblenger makan mangga segar, puding Mangga ataupun minum Jus Mangga.

Nah, beberapa waktu lalu, ketika di rumah kakak kubaca kreasi saji serba Mangga di sebuah tabloid wanita, langsung saja kuculik lembaran tabloid itu.. haha… Ada resep Panna Cotta Mangga, Muffin Strusel, Creme brulee Mangga dan Bolu Mangga Butter. Tiga nama pertama cukup asing bagiku (hehe) jadi karena hanya resep terakhir itu yang cukup familiar buatku, jadilah aku minta adikku untuk mempraktekkannya. Lho, tidak praktek sendiri? Tentu tidaak…. aku kan awam banget masak kue2 begini, salah2 malah gak bisa dimakan hasilnya…hihi… Continue reading “Bolu Mangga : Senama namun tak serupa”

Manfaat buah Mangga

MANGGAIni tentang Mangga atau mempelam atau pelem (bhs Jawayang nama latinnya mangifera indica itu lhoo…

Buah yang mudah ditemui di sekitar kita itu -apalagi saat sedang musimnya begini- memang banyak macamnya dan ternyata banyak pula manfaatnya. Continue reading “Manfaat buah Mangga”

Sepenggal malam di sudut taman kenangan

Malam minggu pekan lalu, seorang sahabat menjemput di rumah masa kecilku, berencana meluangkan waktu bersama menikmati malam di Kota Atlas.

Langit sedikit mendung, tapi lalu lintas tetap padat sepanjang jalan dari Tegalsari ke arah Simpang Lima, yang pada awalnya menjadi tujuan kami malam itu.

Sesampai di Bunderan Air Mancur, kami melihat ada keramaian di sekitar Taman Menteri Supeno atau yang seringkali disebut juga Taman KB, taman yang berlokasi di depan almamater kami : SMA N I Semarang.

Akhirnya kami pun berbelok ke arah parkir di sekitar sana, memutuskan untuk menikmati malam di lokasi itu. Rupanya saat itu sedang ada acara pentas seni, kalau tidak salah Pertunjukan Kesenian Rakyat Jawa Tengah (PKRJT) yang antara lain akan menampilkan seni Tayub dari Pati (?). Hm… kaya’nya asyik tuuh…

oncor(1)

Continue reading “Sepenggal malam di sudut taman kenangan”

Ngangsu Kawruh bersama IIDN Semarang

Ngeblog buatku adalah penyeimbang dalam keseharianku. Setelah sesiang sibuk utak-utik angka-angka, atau merangkai kata demi kata untuk konsep laporan ataupun review kegiatan, atau bertukar kata dalam rapat demi rapat yang -kadangkala- membosankan… maka mengisi malam hari dengan aktivitas meng-update blog, ataupun sekedar blogwalking terasa menenangkan buatku.

Yah, mungkin memang baru sebatas itu arti blog buatku. Belum menjadikannya suatu ‘sumber rezeki’ sebagaimana yang telah banyak dilakukan oleh teman-teman lainnya, tapi tetap saja aktivitas ini penting buatku, dan aku ingin juga ngeblog tak sekedar mengisi waktu luang saja.

Itu sebabnya, ketika beberapa waktu lalu membaca wara-wara di grup FB IIDN Semarang bahwa akan ada semacam workshop blogging bersama Mak Indah Julianti Sibarani dengan tema Blogging with heart  pada Minggu, 23 November 2014 akupun langsung daftar sambil berdoa mudah-mudahan tak ada acara lain yg tiba-tiba menggagalkan keikutsertaanku.

Alhamdulillah… rupanya Tuhan merestui harapanku untuk bertemu teman-teman sekaligus ngangsu kawruh tentang per-blog-an itu.  Tidak ada acara mendadak lainnya, sehingga Jumat sore aku sudah bisa meluncur ke Semarang, naik KA lagi.. 🙂 Continue reading “Ngangsu Kawruh bersama IIDN Semarang”

Setangkup rindu untukmu…

With Bp-Ibu

Bapak, ini tahun ke-16 kepergianmu…

tapi rasanya baru kemarin kami melepasmu..

dan bulir-bulir kenangan indah bersamamu masih terpatri di hatiku :

~saat aku bermanja-manja padamu…

~saat kutemukan ketenangan dari kata-kata bijakmu…

~saat kau luangkan waktumu mengantar jemputku di sore hari…

~saat panjang lebar berdiskusi denganmu…

~saat-saat kebersamaan kita.

Bapak, ingatkah dengan foto ini?

Foto bersama ibu saat kepulanganku pertama semenjak jadi anak kost, bertahun lalu…

liburan reuni setelah perpisahan pertama kita, ya Pak…

kali pertama kujalani hidup jauh darimu, memendam rindu padamu, namun kau selalu menguatkanku meski hanya lewat telpon-telpon collect-call…

Bapak…, setelah 16 tahun kepergianmu :

aku masih merindumu!

“Foto ini untuk memperingati Hari Ayah Nasional dan diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog “Aku dan Ayah” di Surau Inyiak”

Berkreasi dan Berbagi

Sejak duluuu… ketrampilan tangan bukanlah hal yang kukuasai dengan baik.  Aku ingat, saat pelajaran ketrampilan di SD, menyulam, menjahit, membuat kerajinan tangan seperti asbak, pigura, dll selalu saja menjadikanku merasa deg-degan… Berhasil kukerjakan memang -meski dengan susah payah- namun aku sadar betul itu bukan keahlianku. Nilai yang kuperoleh pun gak jauh-jauh dari angka 6! hehe…

Padahal sebenarnya aku tak asing dengan hal itu.  Di rumah, ibu sangat suka menjahit, merenda, menyulam… demikian juga kakak-kakak perempuanku, tapi tidak denganku. Tanganku seolah tak pernah luwes mengerjakan hal-hal itu.  Pernah di masa remaja kami, sedang ‘demam’ kristik, maka hampir setiap hari kami sibuk membuat kristik beramai-ramai. Ya, kami memilih suatu pola dengan ukuran yang cukup besar dan dikerjakan bertiga, aku dan 2 orang kakak perempuanku.  Nah..itu bisa?? mungkin demikian katamu… Eh, jangan salah.. aku memang bisa kok, tapi ya sekedar bisa dan hasilnya tak sebaik kakak-kakakku, oleh karenanya bagianku adalah….ngeblok! Itu lhooo, membuat bagian yang hanya satu warna merata, misalnya bagian awan, tanah, atap rumah, dll… 🙂

Sampai sekarang, kerajinan tangan tetap bukan keahlianku.  Mungkin itu sebabnya, aku selalu kagum dengan orang-orang yang pandai membuatnya. Aku sangat menikmati hasil karya mereka.  Ketika ibu senang membuat renda-renda untuk alas almari, aku yang memasangnya, saat kakak keduaku menghasilkan tas-tas cantik, aku lah penggunanya! haha… Continue reading “Berkreasi dan Berbagi”

Perempuan tangguh itu adalah ibu kami!

Ketika dalam perjalanan yang lalu, aku melihat kejadian seorang anak yang tantrum dan membuat heboh satu gerbong kereta, tiba-tiba saja aku teringat cerita ibu bahwa duluuu…saat masih Balita aku pun pernah rewel saat pertama kali diajak beliau naik bus. Dalam pertemuan-pertemuan keluarga kami, cerita tentang hal itu cukup sering ‘diputar-ulang’ , tapi tiba-tiba aku penasaran, separah apa rewelku saat itu?

Dan akupun bertanya-tanya dalam hati, bagaimana perasaan ibu ku saat itu? Seberapa banyak aku telah mempermalukan ibu dengan kerewelanku di masa kecil itu? Akupun kemudian mengirim pesan kepada ibu saat itu juga, menceritakan tentang kejadian anak yang tantrum di kereta api itu dan menanyakan apakah aku juga segitu-nya waktu itu? Dalam pesan jawabannya, beliau menyatakan bahwa saat pertama naik bus itu aku memang menangis tapi tidak sampai teriak-teriak membuat heboh dan mempermalukan beliau… Ah… entah memang begitu kejadiannya dulu, atau itu hanya salah satu cara ibu menenangkanku, tapi aku tetap mengirim pesan mohon maaf atas kelakuanku saat itu. Dan aku bersyukur, mempunyai ibu yang sabar dan tangguh.

Beliau yang lahir dan menjalani masa kecil di masa penjajahan itu telah ditempa cukup keras dalam masa-masa awal kehidupannya.  Terbiasa hidup dalam keterbatasan ekonomi justru membuat beliau semakin kuat & tegar.  Di saat remaja seusianya pasrah dengan nasib menjalani perjodohan dini yang diatur orang-tuanya, beliau nekad menolak dijodohkan saat lulus SMP dan memberanikan diri meninggalkan Salatiga dan merantau ke Jogja,  demi bisa melanjutkan sekolah dengan beasiswa ( namanya ikatan dinas, waktu itu..). Bertekad segera lulus dan bekerja sebagai guru untuk membiayai hidup bersama ibu dan adiknya. Ah, membaca cerita perjalanan hidup yang beliau tuliskan untuk kami, sungguh membuatku makin bangga pada sosok ibuku ini. Continue reading “Perempuan tangguh itu adalah ibu kami!”

Dua cermin di akhir pekan kemarin…

Akhir pekan kemarin, aku harus ke Semarang karena ada acara keluarga.  Berhubung kondisi jalan darat Pekalongan – Semarang masih rawan macet akibat adanya titik-titik perbaikan jalan yang lamaaa… gak selesai-selesai, sehingga waktu tempuh yang biasanya 2 jam bisa muluuuur hingga 3-4 jam, maka akupun memutuskan untuk menggunakan….kereta api!

Halaah… sama-sama perjalanan darat juga ya? hihi… Etapi, naik KA ke Semarang -saat ini- tetap lebih menjanjikan kenyamanan daripada naik bus / travel / bahkan kendaraan pribadi, lho….

Pertama, karena tak harus bermacet-macet ria di jalan raya dalam musim kemarau yang belum juga berakhir ini, kedua karena KA itu kendaraan darat yg ‘menang-an’ (lha iya to…, kan semua kendaraan harus berhenti kalau Si ‘Ular Naga’ ini mau melintas.. hehe…) maka waktu tempuh relatif singkat dibanding Bus, travel, mobil, dll…

Singkat kata, aku memutuskan naik Kaligung Mas -meskipun sekarang ada kereta Pemalang Expres, yg relatif baru- hari Jumat siang, agar sampai Semarang sebelum surup sehingga kalaupun tak ada yang bisa menjemput masih berani naik taksi ke rumah.  Dan, tentu saja aku memilih kursi yang di dekat jendela, agar bisa cuci mata dengan pemandangan sepanjang jalan. Alhamdulillah aku dapat tiket kursi Nomer (A) untuk keberangkatan dan kursi Nomer (E) untuk tiket pulangnya. Continue reading “Dua cermin di akhir pekan kemarin…”