Sepaket kasih dari Salatiga

Pulang kantor sore tadi, rasa lelah yang terasa tiba-tiba menguap ketika adik menyodorkan sekotak paket yang katanya tiba siang tadi.

Kubaca pengirimnya, dan teringat sms yang kuterima siang kemarin, dari seorang sahabat Blogger di Salatiga yang menanyakan alamatku, karena aku merupakan salah satu yang menebak dengan betul nama buah yang hidupnya memeluk erat batang pohonnya itu.

Ketika tahu beliau akan mengirim bingkisan kenang-kenangan pada kami, berseloroh kusebutkan keinginanku mencicipi buah berwarna coklat sekepalan tangan itu.  Ya, aku memang sering mendengar nama buah ini dari ibu & swargi simbah, sejak masih kecil dulu, namun baru melihat dengan mata kepala sendiri pada saat berkunjung ke Pemda Sleman beberapa waktu lalu.  Saat itu, pengen meminta satu buahnya tapi tak tampak ada tuan rumah yang dapat dimintai, jadilah aku memendam keinginanku untuk mencicipi rasa buah itu.

KEPEL-2

Dan sore ini, ketika kubuka paket dari ibu cantik pemerhati tanaman dari kota kelahiran.. taraaaa….. ini dia isinya :

Sebuah buku, sepiring Kepel dan selaksa kasih yg menyertainya...
Sebuah buku, sepiring Kepel dan selaksa kasih yg menyertainya…

Aku membukanya bersama ibu, dan komentar beliau adalah : ” Wah, iki rak Kepel to? wis suwiii… ora ketemu woh iki…”  ( Wah, ini kan buah KEPEL toh? sudah lamaaa… sekali tak menemukan buah ini ).  Adikku pun terheran-heran melihat buah ini… maklum memang tak ada pohon KEPEL (Stelechocarpus burahol) yang tumbuh di sekitar kami.. hehe…

Menemani buah langka itu, sebuah buku bertajuk Salatiga – Sketsa Kota Lama buah karya Eddy Supangkat pun menggenapi bahagia itu.  Semoga sesekali kangen Salatiga, begitu tulis Bu Prih dalam sms beliau.  Ah… leres, Bu… Salatiga akan selalu terkenang dengan kesejukan & keasriannya….

Maturnuwun sanget, Bu Prih…  Begitupun sepaket kasih dari ibu ini, akan terkenang selalu… 🙂

Saknyukan tilik kutho klairan

Dhek preinan 1 Suro ( 1 Muharam ) Selasa wingi kuwi, alhamdulillah ana kesempatan tilik kutho klairanku : Salatiga. Pancen ora suwe, mung sawatara jam wae, nanging lumayan bisa nambani kangen marang kutho adem iku.

Aku budhal saka Pekalongan watara jam sanga esuk, lan nembe tekan panggonan kang tak tuju watara jam loro awan.  Pancen luwih suwe tinimbang wektu biasane, amarga esuk iku aku numpak travel lan travele kudu mubeng-mubeng dhisik nang Kutho Batang saperlu methuk salah sijine penumpang kang alamat omahe lumayan angel golek-golekane. Kejobo iku, amarga sopire travel ngerti yen ing kutho Kendal macet amarga dalan kang nembe didandani, dadi ora dilewatke Kendal kutho nanging diubengke lewat njaban kutho (nek ora salah lewat Patebon ).

Sanajan mung duwe wektu sedhelok thok nang Salatiga, aku tetep golek kesempatan muter-muter kutho kenangan iku, nglewati dalan Osamaliki ( trenyuh nyawang pasar nJetis sing wis ora karuwan..), ing dalan Kartini rada pangling amarga gedung SMP I wis malih banget lan sing mbiyen gedung SPG -panggonan aku lan mbak-mbakku biasa golek kembang-kembang nggo piranti dandan sakdurunge njoged- saiki wis dadi gedung SMA III .

Sakdurunge menggok nang dalan cilik nggoleki SD Margosari 7, aku isih sempat lingak-linguk wit2an gede ing pinggir dalan iku, sapa ngerti bisa nyawang anggrek merpati kaya sing diserat Bu Prih wingi kae, hehe… Sak elingku, dalan cilik sak ngarepe SD ku mbiyen kanggo parkiran dokar-dokar… jebule saiki wis ora ana dokar-dokare lan SD Margosari 7 wis maleh jeneng dadi SD Negeri … ( maaf.. aku lali, wis dadi SD pira, hehe…).  Sing jelas, wis ora ana maneh gapuro sing ana lungguhane, sing maraake aku tibo lan tanganku kudu digips pirang-pirang wulan dhek klas 2 mbiyen kae 😉

Aku uga sempat mampir nang Pasar Blauran, golek krupuk dhele karemanku kawit cilik.  Eman, sore iku rada angel golekane, mung ana sak nggon ding dodol, iku wae kari entuk sak plastik cilik krupuk mentah iku.  Yo wis, akhire digenepi oleh-oleh khas Salatiga liyane : enting-enting gepuk, gula kacang, uga kripik paru… alhamdulillah 🙂

Enting-enting Gepuk siap makan & Krupuk Dhele siap goreng
Enting-enting Gepuk siap makan & Krupuk Dhele siap goreng

Nalika muter-muter Salatiga sore iku, aku sempat rasan yen Salatiga kok saiki panas yo… ora adhem kaya biasane, ndilalah, nalika mampir nang Warung Joglo -maem awan sing kesoren- lha kok ndadak udan rada deres! Naah, sakbare udan iku, Salatiga dadi ketok asline : adem..hehe…

Wektu krasane mlayu cepet banget sore iku ( ya’e amarga kegawa ati seneng, hehe…) akhire watara jam 8 bengi, aku ninggalke kutho klairan iku, diampiri mbakku sing nuju saka Boyolali arep kondur nang Semarang.  Pancen mung saknyukan olehku tilik kutho klairan, tapi tetep nyenengake.  Muga-muga liya wektu bisa dolan maneh luwih suwe, syukur-syukur bisa sowan daleme Bu Prih .  Aamiin  🙂

Buku bertuliskan namaku : Proyek Monumental 2014

Jumat pagi ini, seperti biasa burung-burung berkicau menyemangatiku membuka hari.  Setelah menyelesaikan rutinitas pagi, kulirik jam di dinding kamar, dan ternyata masih cukup waktu untuk ingak-inguk di dunia maya… Maka akupun menghidupkan si merah, lalu mulai mengetikkan kata kunci dan ketika melihat dinding FB ku, langsung semangat melihat status Pakdhe yang mengabarkan telah dimulainya sebuah kontes baru.  Mungkin itu akan memecah kebuntuan ide selama beberapa hari ini… Maka akupun segera menuju TKP.

Ah, ternyata Pakdhe memberikan tantangan untuk berkreasi di tahun 2014, dan aku seperti terlecut oleh tantangan Pakdhe itu : ini saatnya aku menuliskan tekadku untuk mewujudkan mimpi selama ini !  Mimpi apakah itu ?

Buku bertuliskan namaku sebagi penulisnya.   Menerbitkan buku hasil karyaku sendiri.  Ya, mungkin itu impian kodian, dalam arti banyak teman lainnya yang bermimpi sama, tapi tetap itu mimpi spesial bagiku.  Bagi beberapa teman lain bahkan sudah bukan menjadi impian lagi.  seperti Pakdhe misalnya. Menyaksikan keberhasilan beliau menerbitkan 1 buku dan kemudian disusul terbitnya buku-buku beliau lainnya, sangatlah menginspirasiku ! 🙂

Kenapa teman-teman lain telah bisa mewujudkan mimpi, sementara mimpiku masih utuh berwujud mimpi?

Ah, sungguh aku malu.  Sejujurnya, halangan terbesarku selama ini adalah rasa minder.  Apakah apa yang kutulis layak untuk dibaca orang lain? apakah hasil karyaku pantas untuk dipublikasikan? Apakah…apakah…apakah… ah… begitu banyak  kata ‘apakah’ yang selama ini menghalangi langkahku, hingga aku berhenti di satu titik dan tak maju-maju 🙁   Sudah saatnya menyingkirkan ragu & beranjak dari zona minder itu… !

Pagi ini, menjawab tantangan Pakdhe, aku sekaligus menantang diriku sendiri : Di tahun 2014, harus kuwujudkan impianku !  Ya, dengan menuliskan ini, mau tak mau nanti aku harus merealisasikannya, entah bagaimana caranya, karena bagiku menulis adalah seperti berkata-kata.  Apa yang kita tulis seperti apa yang kita katakan, haruslah dapat dipertanggungjawabkan.  Ini adalah semacam janji -disaksikan banyak orang- alangkah maluuuu…. bila nantinya aku tak sanggup merealisasikan janji itu.

Maka, setelah menuliskan ‘janji’ ini, aku akan segera membuka-buka kembali draft yang dulu pernah kutulis itu.  Setidaknya ada satu kumpulan kenangan atas pengalaman indah 2 tahun lalu, dan belajar dari pengalaman Pakdhe yang telah membukukan tulisan-tulisannya di blog, hal itu juga bisa menjadi langkah awalku mewujudkan mimpi.  Tak lupa aku harus mencermati lagi beberapa tulisan teman tentang bagaimana langkah-langkah menerbitkan sebuah buku.  Hm, aku yakin ini memang bukan hal mudah… tapi, dengan Bismillah…. semoga Allah memberi kemudahan…

Teman-teman…. selamat hari Jumat…. mohon doa dan dukungannya yaa…. 🙂

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan:Proyek Monumental Tahun 2014.

Ketika anak bermasalah dengan guru

Sudah 2 minggu ini, Lin -salah satu keponakan kami- mogok sekolah khusus pada hari kamis.  Awalnya dia tak mau cerita apa masalahnya, hanya selalu mencari-cari alasan agar bisa absen di hari itu.  Kemudian akhirnya setelah dibujuk-bujuk oleh Eyangnya, dia mau bercerita bahwa dia takut pada guru ketrampilannya yang mengajar tiap hari kamis.

Rupanya, kamis tiga minggu lalu, gadis kelas 4 SD itu mengalami perlakuan kasar dari Pak Gurunya itu.  Si bapak guru yang memang sering marah-marah dengan mengeluarkan koleksi kebun binatang itu, siang itu menarik kerudung & kerah bajunya dari belakang hingga mencekik lehernya.  Saat ia menangis dan mengadukannya kepada guru wali kelasnya, si ibu guru kemudian mengatakan akan melaporkan kepada kepala sekolahnya namun meminta Lin untuk tidak bercerita kepada orang-tuanya.

Rupanya perlakuan kasar itu membawa trauma tersendiri bagi Lin, hingga ia selalu mencari alasan untuk tidak masuk pada hari kamis, yang berarti bisa menghindari guru yang ditakutinya itu.  Ketika ditanyakan kepada Lan -kakak Lin yang juga pernah diajar guru itu- memang kata Lan pak guru itu pemarah, dan cengkiling / suka main tangan pada murid-muridnya.

Akhirnya orang-tua Lin menghadap langsung ke kepala sekolah untuk melaporkan hal itu, karena mereka takut putrinya ketinggalan pelajaran jika terus bolos di hari Kamis.  Ketika dipertemukan dengan guru tersebut oleh kepala sekolah, sang guru tadinya tidak mengakui perbuatan itu, namun pada akhirnya mengakui dan menyembah-nyembah memohon maaf, mohon agar masalah tidak diperpanjang karena ia takut hal itu mematikan karirnya.

Sang kepala sekolah juga menjanjikan akan membawa masalah tersebut ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Dinas Pendidikan. Namun yg menjadi masalah kini, apabila sang guru tetap mengajar selama proses itu, kami justru takut bila ia mendendam dan melampiaskannya pada Lin ataupun kawan-kawannya.  Bagaimana menghindari hal itu?

Beberapa tahun lalu, salah satu keponakan kami lainnya pernah pula mogok sekolah karena trauma atas perlakuan keras gurunya.  Namun karena saat itu dia masih kelas 1 SD, memindahkannya ke sekolah lain menjadi alternatif yang menyelesaikan masalah. Sampai dengan saat ini, di sekolah baru si anak tenang bersekolah  dengan nyaman.  Apakah alternatif pindah sekolah masih tepat bila diterapkan pada Lin, mengingat ia sudah kelas 4 ?

Rekan-rekan…, mungkin ada masukan buat kami? Kami tunggu yaa…

Ketika mondhok kemarin…

Alhamdulillah… sekarang  keseharianku sudah ‘normal’ kembali… hm, belum sepenuhnya pulih seperti sediakala sih, tapi minimal sudah membaik semuanya.  Ini hari ke-3 aku beraktvitas kembali setelah cuti sekitar 10 hari kemarin.

Ya, setelah ketar-ketir karena harus mondhok , akhirnya 2 minggu lalu aku memberanikan diri karena itu satu-satunya cara bila ingin sehat kembali.  Oya, terima kasih untuk teman-teman tersayang yg komen di posting curhat waktu itu, dukungan & doa kalian juga salah satu yang menguatkanku lho!

Senin malam, 23 Sept 2013 aku mulai menjalani rawat inap di sebuah RS di kotaku, lalu keesokan harinya, Selasa 24 Sept 2013 menjalani operasi laparoskopi untuk membuang si usus buntu yg meradang itu, ditambah 2 hari berikutnya, lengkaplah pengalaman pertamaku mondhok alias menjalani rawat inap di RS, selama 3 hari itu.

Dan sesungguhnya, ada banyak hikmah yang bisa kuambil dari peristiwa itu.  Yang pertama adalah bahwa rasa takut sebelum menjalani sesuatu yg baru adalah wajar, namun ketakutan yang berlebihan sangatlah tak perlu.  Ternyata, mondhok tak seseram yang kubayangkan semula.  Memang pada malam pertama itu aku tak bisa tidur, namun itu lebih karena mengkhawatirkan operasi esok harinya… (bahkan tensi yg biasanya 100-110, malam itu melonjak jadi 150 !  haha…).

Dan hikmah berikutnya adalah bahwa, dukungan dan perhatian dari keluarga, sahabat, kerabat, sangatlah berarti bagi kita, itu pula yang pada akhirnya membuatku mampu menjalani pengalaman kemarin dengan baik.  Continue reading “Ketika mondhok kemarin…”

Kupu Hias dari Daun Kupu-Kupu

Teman, tahukah apa nama daun ini ?

DAUN_KUPU

Kalau di daerahku sering disebut Daun Kalibangbang, ada juga yang menyebutnya Daun Kupu-kupu.  Ketika aku tanya mbah Google, tentang Daun / Pohon Kalibangbang, tak ada hasil pencarian yg mengena, namun ketika kuganti kata kuncinya dengan Daun Kupu-kupu, hasilnya adalah sejenis pohon yang nama latinnya  Bauhinia purpurea.

Ternyata, oleh tangan-tangan kreatif, daun tersebut dapat ‘disulap’ menjadi kupu-kupu hias yang cantik lho…. Bahkan sayapnya bisa digambari motif batik juga.. jadilah Kupu Batik yang cantik & ber nilai ekonomi 🙂

Warna-warni kupu hias dari Daun Kupu-kupu
Warna-warni kupu hias dari Daun Kupu-kupu
Yang bermotif batik pun tak kalah cantik
Yang bermotif batik pun tak kalah cantik

Ketika kutanya pada Mas Beni  -yaitu salah seorang pengurus Pos Pelayanan Teknologi ( POSYANTEK ) Mitra Pantura Kec. Pekalongan Utara- cara pembuatan kupu hias dari daun ini tak terlalu sulit.  Awalnya daun direbus dengan air yang telah ditambahi soda api & tawas, lalu setelah itu dicuci dengan air biasa sambil menghilangkan khlorofil dari daun yang telah berubah warna itu.  Setelah dikeringkan, maka daun pun siap untuk di potong sesuai pola sayap kupu-kupu yang diinginkan.  Untuk mempercantik si kupu-kupu, maka ditambahkan warna-warni & motif indah… termasuk juga motif batik.  Setelah dirangkai, maka siaplah kupu-kupu hias nan cantik itu.

Pada pameran hasil Teknologi Tepat Guna (TTG) yang lalu, mereka menjual hiasan cantik ini secara satuan maupun ‘paket’ berisi 3 / 4 / 5 model kupu-kupu.  Harganya relatif terjangkau kok.. paket berisi 4 kupu warna-warni, hanya Rp. 40.000,- saja, sedangkan sebuah Kupu Batik agak besar dalam pigura diberi harga Rp. 300.000,-an.

Stand POSYANTEK Mitra Pantura di pameran kemarin itu...
Stand POSYANTEK Mitra Pantura di pameran kemarin itu…

Selain Kupu hias dari Daun Kupu-kupu itu, dipamerkan pula beberapa produk TTG yang dihasilkan kelp. masyarakat ini, antara lain Kerupuk Sayuran, Septictank apung (yang cocok untuk daerah yg sering banjir / rob), alat fermentasi mikro organik cair,  dll.  Mereka memang orang-orang yang kreatif.  Tak heran jika kelp ini juga mewakili Prop. Jawa Tengah dalam Lomba POSYANTEK  Tk Nasional yang diadakan dalam rangka Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HARTEKNAS) yang penilaiannya di Jakarta awal bulan ini.  Mudah-mudahan saja hasilnya bagus, sehingga makin menambah semangat mereka…

Bagaimana teman, ingin mencoba membuat Kupu Hias-mu sendiri? 🙂

Edit 28 Sept 2013 :

Alhamdulillah… Posyantek Mitra Pantura berhasil membawa Jawa Tengah menjadi Juara I Lomba Posyantek Tk Nasional Th 2013..   😀

Edit 23 Januari 2015 :

Jika ada teman yang berminat memesan kupu hias cantik ini, silakan langsung menghubungi Sdr FIRMAN di 085842378372.

Pohon kenangan di rumah masa kecil…

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pada lebaran kali ini aku juga mudik ke Semarang.  Meskipun tak seperti biasanya, kali ini hanya 2 hari saja yaitu pada tanggal 10-11 Agustus 2013, karena pada tanggal 12 nya sudah harus masuk kerja lagi.. 🙁

Tapi, meskipun hanya sebentar, alhamdulillah acara kumpul keluarga di rumah masa kecil kami selalu menyenangkan dan penuh kesan.  Selalu ada kegiatan asyik ataupun cerita-cerita seru dari masa kecil kami yang menyemarakkan saat-saat kumpul dengan kakak-adik ditambah para keponakan ini.

Salah satu pemicu kenangan lama kami itu adalah sebuah pohon Nangka ( Artocarpus heterophyllus yang tumbuh di halaman rumah kami.  Sejak kami menempati rumah itu setelah kepindahan kami dari kota sejuk Salatiga, pohon Nangka itu sudah ada di halaman rumah kami.  Saat itupun sudah terlihat besar, tajuknya yang lebat menaungi halaman rumah kami sehingga area di bawah pohon itu selalu menjadi tempat favorit bagi kami untuk bermain bersama teman-teman.

Pohon itupun selalu berbuah lebat, pating grandul menyenangkan hati yang melihatnya.  Setiap kali musim buah, kami hampir tiap hari membagi-bagikan buah nangka yang sudah matang kepada tetangga kanan-kiri ataupun mengirimkannya kepada saudara, karena tak pernah habis kami makan sendiri.  Daging buahnya berwarna kuning agak oranye -tak seperti nangka yang banyak di pasar yang berwarna kuning pucat- terasa manis, dan tebal.  Bahkan dami-nya pun tebal sehingga selalu menjadi rebutan saat kami kecil 🙂 Continue reading “Pohon kenangan di rumah masa kecil…”

[Berani Cerita#22] Akhir penantian itu…

“Dio sayaang…, baik-baik dengan Oma Nina ya… Nggak boleh rewel…” begitu bujuk Mama Luna sambil mengelus kepalaku dan berusaha memindahkanku dari gendongannya, ke pelukan Oma Nina.

Aku meronta tak mau lepas dari gendongannya, dan dia pun kembali memeluk dan menenangkanku. ” Cuma beberapa hari, sayaaang… Lalu mama akan menjemputmu dan kita bersama lagi,” bujuknya lembut.  Akhirnya akupun menurut, berpindah dari pelukan hangatnya ke pelukan rapuh Oma Nina.  Sekilas diciumnya kepalaku, lalu bergegas menuruni anak tangga, meninggalkanku.  Ah, aku tak tahan dengan perpisahan ini, kupalingkan wajahku dari memandangi langkahnya yang lambat karena perutnya yang mulai membuncit.  Cepat jemput aku kembali, mama…bisik hatiku.

Namun ternyata, janjinya tak kunjung nyata.  Hari berganti, minggu berlalu dan perpisahan di tangga rumah Oma Nina itu telah terhitung bulan, tanpa kehadirannya kembali.  Tiap sore aku setia duduk menantinya di anak tangga teratas teras rumah Oma Nina, dengan keyakinan penuh bahwa itu adalah sore terakhir penantianku… namun sejauh ini semua tampaknya sia-sia. Malam selalu menjelang begitu cepat dan mengakhiri penantianku, karena Oma Nina tak pernah membiarkanku menunggu di kegelapan malam.  Dengan penuh kasih ia akan mengajakku masuk rumah, sebagaimana kasihnya mengurusiku selama itu, namun dia bukan kamu, mama…

Sore ini, entah sore yang keberapa, tak sanggup lagi aku menghitungnya.  Rembang petang rupanya telah menjelang, dan dengan lesu aku menyadari, rinduku padamu belum akan tuntas malam ini.  Nanar kupandangi kelokan jalan di depan rumah, sebelum sebentar lagi Oma Nina mengajakku masuk.

Ya Tuhan! Bukankah itu kau yang berdiri di balik pagar??? Mama… kenapa kau hanya berdiri diam di situ dan tak segera menghambur memelukku? Bergegas aku bangkit dari dudukku untuk menyambutmu, namun… dua buah tangan hangat memelukku tiba-tiba.  Sambil mengangkat tubuhku ke dalam pelukannya, Oma Nina tersedu.

“Ah.. Dio, kasihan kau nak… Penantianmu sia-sia… ” begitu bisiknya lirih.

Hah, apa maksud Oma Nina? Penantianku sudah berakhir, Oma… Bukankah itu Mama Luna yang datang hendak menjemputku? Aku meronta, ingin melompat dari pelukannya, sementara pandanganku ke pagar terhalang tubuhnya.

“Dio…, Mama Luna sudah pergi, nak… Dia dan bayinya, tak berhasil bertahan…” bisik Oma Nina kembali, kali ini sambil berputar kearah pagar, lalu duduk memangkuku di ujung anak tangga itu.

Mataku nanar mencari sosok Mama Luna di balik pintu pagar.  Ya, dia masih berdiri di sana menatapku sambil tersenyum, ah… ada bayi mungil dalam gendongannya… tapi… mengapa bayangnya mengabur? Mama Luna, jangan pergi !!

Arrgh… aku tak berdaya melepaskan diri dari gendongan Oma Nina, menatap bayangan terkasih yang perlahan memudar di balik pintu pagar…. dan tangisan sedihku hanya berupa eongan tak jelas, teredam pelukan erat Oma Nina…

Note : 413 kata.