[Berani Cerita#22] Akhir penantian itu…

“Dio sayaang…, baik-baik dengan Oma Nina ya… Nggak boleh rewel…” begitu bujuk Mama Luna sambil mengelus kepalaku dan berusaha memindahkanku dari gendongannya, ke pelukan Oma Nina.

Aku meronta tak mau lepas dari gendongannya, dan dia pun kembali memeluk dan menenangkanku. ” Cuma beberapa hari, sayaaang… Lalu mama akan menjemputmu dan kita bersama lagi,” bujuknya lembut.  Akhirnya akupun menurut, berpindah dari pelukan hangatnya ke pelukan rapuh Oma Nina.  Sekilas diciumnya kepalaku, lalu bergegas menuruni anak tangga, meninggalkanku.  Ah, aku tak tahan dengan perpisahan ini, kupalingkan wajahku dari memandangi langkahnya yang lambat karena perutnya yang mulai membuncit.  Cepat jemput aku kembali, mama…bisik hatiku.

Namun ternyata, janjinya tak kunjung nyata.  Hari berganti, minggu berlalu dan perpisahan di tangga rumah Oma Nina itu telah terhitung bulan, tanpa kehadirannya kembali.  Tiap sore aku setia duduk menantinya di anak tangga teratas teras rumah Oma Nina, dengan keyakinan penuh bahwa itu adalah sore terakhir penantianku… namun sejauh ini semua tampaknya sia-sia. Malam selalu menjelang begitu cepat dan mengakhiri penantianku, karena Oma Nina tak pernah membiarkanku menunggu di kegelapan malam.  Dengan penuh kasih ia akan mengajakku masuk rumah, sebagaimana kasihnya mengurusiku selama itu, namun dia bukan kamu, mama…

Sore ini, entah sore yang keberapa, tak sanggup lagi aku menghitungnya.  Rembang petang rupanya telah menjelang, dan dengan lesu aku menyadari, rinduku padamu belum akan tuntas malam ini.  Nanar kupandangi kelokan jalan di depan rumah, sebelum sebentar lagi Oma Nina mengajakku masuk.

Ya Tuhan! Bukankah itu kau yang berdiri di balik pagar??? Mama… kenapa kau hanya berdiri diam di situ dan tak segera menghambur memelukku? Bergegas aku bangkit dari dudukku untuk menyambutmu, namun… dua buah tangan hangat memelukku tiba-tiba.  Sambil mengangkat tubuhku ke dalam pelukannya, Oma Nina tersedu.

“Ah.. Dio, kasihan kau nak… Penantianmu sia-sia… ” begitu bisiknya lirih.

Hah, apa maksud Oma Nina? Penantianku sudah berakhir, Oma… Bukankah itu Mama Luna yang datang hendak menjemputku? Aku meronta, ingin melompat dari pelukannya, sementara pandanganku ke pagar terhalang tubuhnya.

“Dio…, Mama Luna sudah pergi, nak… Dia dan bayinya, tak berhasil bertahan…” bisik Oma Nina kembali, kali ini sambil berputar kearah pagar, lalu duduk memangkuku di ujung anak tangga itu.

Mataku nanar mencari sosok Mama Luna di balik pintu pagar.  Ya, dia masih berdiri di sana menatapku sambil tersenyum, ah… ada bayi mungil dalam gendongannya… tapi… mengapa bayangnya mengabur? Mama Luna, jangan pergi !!

Arrgh… aku tak berdaya melepaskan diri dari gendongan Oma Nina, menatap bayangan terkasih yang perlahan memudar di balik pintu pagar…. dan tangisan sedihku hanya berupa eongan tak jelas, teredam pelukan erat Oma Nina…

Note : 413 kata.

Ganti rego : Golek penak malah keplenyak

Nalika aku dolan nang omahe kancaku rong minggu kepungkur, aku ditawani nontoni buku  katalog sing gambare klambi-klambi muslim sing apik-apik.  Ana gamis, klambi koko, tunik, lan sakpanunggale.
“Ayo mbak… milih-milih klambi bada..” ngono ujare kancaku kuwi.
Sing maune aku ora niat tuku klambi anyar kanggo badan, wong memang kanggoku yen bada iku ora kudu nganggo klambi anyar, lha kok nyawang maneka gambar klambi-klambi kang apik-apik iku, aku dadi kepengen tuku.  Ora kanggo aku dewe, nanging kanggo ‘tanda tresna’ kagem ibu, mbak-mbak lan keluarga liyane.
Biasane aku memang merloke dolan nyang tokone Bu Kaji langgananku, sak perlu golek klambi-klambi kanggo cangkingan mudik, nanging nganti wingi kuwi aku durung duwe kelonggaran wektu kanggo golek-golek mrana.  Mula mumpung ana sing cemepak, aku langsung milih-milih klambi saka gambar sing ana ing buku katalog kuwi.  Regane memang rada kacek yen dibandingke karo rega nang tokone Bu Kaji, nanging pikirku tinimbang aku mbuwang tenaga mrana-mrana, yo aku milih barang sing cemepak kuwi, mung kari pesen trus ngenteni barang dikirim udakara semingguan.
Wingi, kancaku iku ngabari yen barang pesenanku wis teka, mula aku enggal mara nang omahe kancaku iku sak perlu njupuk (lan mbayar) klambi-klambi pesenanku kuwi.  Seka omah aku nggawa duwit kira-kira cukup kanggo bayar pesenan, kepara tak luwihi sithik, mbok-mbok mengko pengen apa-apa nang ndalan.
Nanging, nalika aku maca nota sing diulungke kancaku nang omahe, aku rada kaget.  Gunggunge duwit sing kudu tak bayar kok ora pada karo sing wis tak etung saka omah?  Luwih larang, padahal aku apal rego-rego sing ditulis ning katalog sing tak tonton wingi kae.  Apa ora salah?  
Nalika tak takonke kancaku, jawabane enteng : pesenanku iku dietung nganggo rego sing ditulis nang katalog paling anyar! Lan ing katalog paling anyar iku kabeh regone wis mundak, lan rata-rata sak klambi mundake rego sekitar seket ewunan… Hm 🙁
Terus terang aku rada gela.  Sing paling tak gelani amarga kancaku kok ora ngomong sakdurunge yen ana kemungkinan ganti rego manut katalog sing paling anyar lan kabeh pesenan dietung manut rego ing katalog paling anyar! 
Tapi yo wis, piye maneh… mungkin pancen ngono aturan ning bisnise iku…  Pengene golek penak malah keplenyak… yo ngene iki ceritane.. hehe… 
Terjemahan bebas : Continue reading “Ganti rego : Golek penak malah keplenyak”

BerPUISI yuuk….

Terkadang…

terasa seperti…

menggelayuuut

nikmati… atau lepaskan saja!

melayaaaang

rasaku… anganku…

hmmmm…

aduuuh…

***

Teman, menurut kalian… apakah, untaian kata di atas itu bisa disebut puisi ?  Atau apa sebenarnya yang disebut dengan puisi itu ? 

Menurut Wikipedia, Puisi (dari bahasa Yunani kuno: ποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) = I create) adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya.  Masih dari Wiki, dinyatakan bahwa beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas. Selain itu puisi juga merupakan curahan isi hati seseorang yang membawa orang lain ke dalam keadaan hatinya.

Ah, entahlah… definisi yang paling tepat silahkan dicari sendiri ya… tapi kalau buatku pribadi, yang namanya puisi adalah untaian kata yang bermakna, menyuarakan opini ataupun isi hati.  *halaaah… sok tau banget ya gue.. hehe…

Oya, kenapa hari ini nulis tentang puisi ? Tak lain dan tak bukan karena ternyata hari ini, 26 Juli 2013 merupakan Hari Puisi Nasional, sebagaimana telah dideklarasikan sejak 22 November 2012 di Pakanbaru, dan konon berdasarkan hari kelahiran Chairil Anwar, Sang Penyair kondang yang tepat pada tanggal 26 Juli ini (eh, kukira dulu Chairil Anwar ini lahirnya Pebruari..hehe).

Nah, bagaimana denganmu teman…?  Yang suka membaca / menulis puisi, silahkan angkat tangan…. Kita ramai2 ber PUISI yuuk… 🙂

 Catatan :

Untaian kata diatas mungkin bukanlah termasuk puisi, setidaknya pada awalnya tidak dimaksudkan sebagai puisi,  karena sejatinya itu hanyalah  pesan berbalas dari 2 orang iseng saja…hehe…

Miksi kuwi numani…

Alhamdulillah….  

Aku bungah, soale pirang-pirang dina kepungkur iki, tambah akeh kanca-kanca kang nggawe tulisan  fiksi, mbuh kuwi crita cekak, apa crita super cekak – sing jare basa mancane flash fiction iku lho…  

Ana Mbak Monda sing crita tentang kacamata silihan, Mbak Irma sing crita bab donya kang beda, lan nembe wingi Mbak Ely uga nulis crita super cekak tentang si pleboi cap krupuk ( sst… ana candhake lho…)  lan isih akeh kanca liyane 🙂

Yo mesti wae aku bungah, soale aku ki pancen karem banget maca crita-crita, dadi yen tambah akeh kanca sing gawe tulisan crita fiksi ngono kui, rak berarti wacananku tambah akeh to? asyiiik…

Oya, nek miturut pengalamanku dewe, nulis crita fiksi alias miksi ki numani lho… dadi, gedhe pangarep-arepku, kanca-kanca kuwi yo banjur numan nulis crita ben tambah akeh sing bisa diwaca bareng-bareng.. rak gayeng to?

Mangga lho..kanca-kanca… sinten malih sing badhe miksi ? Kula tengga nggih….

Terjemahan :

Alhamdulillah…

Aku bahagia, karena beberapa hari terakhir ini semakin banyak teman-teman yang membuat tulisan fiksi, entah itu berupa Cerita Pendek ataupun Cerita super pendek – yang sering disebut dengan bahasa seberang flash fiction itu lho..

Ada Mbak Monda yang bercerita tentang kacamata pinjamanada Mbak Irma yang bercerita tentang dunia yang berbeda, dan kemarin ini Mbak Ely menulis cerita tentang Si Pleboi Cap Kerupuk  (sst…. akan ada lanjutannya lhoo), juga tentunya masih ada beberapa teman lainnya… 🙂

Ya, tentu saja aku bahagia, karena aku kan paling suka membaca aneka cerita, jadi dengan semakin banyaknya teman yang menulis fiksi , berarti persediaan bacaanku semakin banyak.. Asyiik…

Oya, berdasarkan pengalaman pribadi, menulis cerita fiksi alias miksi itu bisa bikin ketagihan lho… jadi aku sangat berharap teman-teman itupun akan merasakan menulis fiksi sebagai candu agar semakin banyak cerita yang ditulis dan semakin banyak yang dapat kita nikmati bersama-sama.  Menyenangkan, bukan ?

Silahkan teman-teman… siapa lagi yang mau miksi ? Tak tunggu yaa….

Hidup adalah CERMIN

lembah

Seorang bocah mengisi waktu luang dengan kegiatan mendaki gunung bersama ayahnya. Entah mengapa, tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon, dan terjatuh.

“Aduhh!” jeritannya memecah keheningan suasana pegunungan.

Si bocah amat terkejut, ketika ia mendengar suara di kejauhan menirukan teriakannya persis sama, “Aduhh!”.

Dasar anak-anak, ia kemudian berteriak lagi : “Hei! Siapa kau?”

Jawaban yang terdengar : “Hei siapa kau?”

Lantaran kesal mengetahui suaranya selalu ditirukan, si anak berseru, “Pengecut kamu!”

Lagi-lagi ia terkejut ketika suara dari sana membalasnya dengan umpatan serupa.

Ia lalu bertanya kepada sang ayah, “Ayah, apa yang terjadi?” Continue reading “Hidup adalah CERMIN”

Miscall dari Eyang

“Wiin, Eyang gimana?”

“Belum tahu, Kak…”

Wina adalah yang ke 5 kutanya tentang Eyang yang miscall sejak pagi, tapi tak menjawab telepon ataupun  sms dari kami.

Akhirnya siang ini aku ke rumah Eyang, menggenapi keluarga kami yang telah berkumpul di sana.

“Eyaang… Eyang sehat kan?” seruku sambil menghambur kepelukannya.

Eyang tersenyum manis, dan menjawab dengan riang, “Alhamdulillah… Sehat nduk..  Eyang cuma kangen kalian kok…”

Ketika ada sekat antar sahabat…

Tulisan ini ada karena membaca posting mba Ely (duniaely).  Tulisan yang membahas tentang pernah tidaknya kita sebagai blogger merasa asing dengan satu / beberapa blogger lain yang pernah dekat dengan kita di dumay ini, telah membuka memoriku pada peristiwa terurainya sebuah jalinan pertemanan .

Menjalin persahabatan dengan beberapa orang sekaligus, memang mengasyikkan.  Lebih seru dibanding hanya bersahabat dengan 1 orang saja.  Bisa saling curhat, ataupun saling support, lebih banyak telinga yang mendengar, lebih banyak hati yang terlibat.  Namun, bila antara sahabat itu terjadi suatu perselisihan…maka pemecahannya pun relatif lebih sulit karena masalah terasa rumit 🙁 Continue reading “Ketika ada sekat antar sahabat…”

Ada apa dengannya?

Hari Jum’at hingga minggu siang tadi, aku bersama teman2 kantor mendapat tugas menyelenggarakan sebuah pembekalan  / pelatihan singkat bagi rekan-rekan yg saat ini bertugas sebagai fasilitator sebuah program daerah.  Kegiatan pelatihan singkat yang bertujuan meningkatkan kerjasama / team-work dan kinerja para fasilitator tersebut dilaksanakan di Wana Wisata Pagilaran, kebun teh yang ada di Kabupaten Batang Jawa Tengah.

Meskipun itu bukan kali pertama aku Tea walk Medini juga sudah kali kesekian menginap di salah satu villa di Pagilaran, tapi menikmati sejuknya udara di perkebunan teh selalu menyenangkan buatku, apalagi hari terakhir pelatihan itu akan diisi dengan acara Outbond yang pastinya seru… Maka akupun semangat menyiapkan segala sesuatu persiapannya, termasuk kamera saku yang selalu setia menemani acara jalan-jalanku.. 🙂 Continue reading “Ada apa dengannya?”