Anak SMA hidung belang

Cerita tentang anak SMA memang tak ada habisnya.  Mendengar kata anak SMA maka pikiranku akan melayang ke kenangan indah kala bersama teman-teman berkegiatan Pramuka masa SMA.  Tepatnya kami bergabung di Ambalan Gajah Mada dan Dewi Sartika yang berpangkalan di SMA Negeri I  Semarang.

Selalu banyak kegiatan luar ruang yang mengasyikkan, terutama saat liburan akhir semester tiba.  Selain keasyikan bersama teman-teman itu, oleh-oleh apa yang di dapat? Seringnya adalah kondisi hidung belang.  Ya, benar-benar hidung belang dalam arti yang sebenarnya lho… Kok bisa?

Naah.. ceritanya adalah, sebagai anggota Pramuka kami sering menghabiskan waktu beraktivitas di luar ruang pada cuaca panas maupun dingin. Naik truk bak terbuka (kecuali kalau hujan), hiking ataupun mencari jejak di siang hari nan terik, bersepeda ke sana kemari dari satu pos ke pos lain, dll… Tak ada masalah saat kegiatan berlangsung.  Topi tentunya digunakan, tapi seringkali pula terlepas ataupun terlupa… Hasilnya baru dirasakan setelah kegiatan selesai… Biasanya, sehari-dua hidung memerah, lalu berikutnya kulitnya sedikit terkelupas… maka jadilah kami Si Hidung Belang untuk beberapa hari.

Masalahkah itu buat kami? Membuat kapok dan tak ikut Pramuka lagi? Tentu tidaaak! 😀

Sangking asyiknya menikmati kebersamaan dengan teman-teman se-ambalan, maka kondisi itu hanya masalah kecil buat kami.  Toh bukan hal yang permanen…. maklum, sebagai  anak SMA kami memang lagi cuek-cueknya saat itu. Yang penting asyik, masalah penampilan nomer belakangan..haha….

Anak SMA
Pramuka, salah satu kegiatan anak SMA yang mengasyikkan meskipun sering membuat hidung belang…

Begitulah cerita tentang Anak SMA Hidung Belang.  Yang pasti, mengikuti ekskul Pramuka itu kegiatan positif, banyak pelajaran untuk pembentukan pribadi generasi muda, jadi sangat boleh ditiru… 🙂

Nah, itu cerita tentang anak SMA dariku… bagaimana cerita darimu?

Artikel ini turut mendukung gerakan PKK Warung Blogger

gerakan PKK WB

Catatan : Foto-foto dipinjam dari FBnya mbak Atik Kaswarganti -rekan seangkatan tersayang… Trims yo mbak…

Kilas balik

Seperti biasa di akhir tahun menjelang tahun berganti, selalu ada acara kilas balik di TV… eh, itu dulu ding, kalau sekarang entah masih atau tidak karena aku sudah semakin jaraaang nonton TV.

Nah, ceritanya aku juga mau nulis tentang kilas balik, tapi bukan kilas balik setahun kemarin, melainkan kilas balik liburan akhir tahun ataupun tahun baruan beberapa tahun kebelakang.  Untuk apa? Emm… sebagai kenangan saja sih, atau mungkin sebagai ganti karena akhir tahun ini sedang jadi tahanan kota alias gak boleh kemana-mana…jadinya berkelana di ranah kenangan saja,  haha… Continue reading “Kilas balik”

Topengnya Ragil

Masih cerita tentang aksi ragil-nya mbakku.

Suatu sore, Yangti sedang menyiram tanaman di pekarangan, ketika ada seorang tamu yang menanyakan Si Ragil. Yangti pun kemudian menemani ragil menerima tamu itu, yang ternyata seorang kurir pengantar barang pesanan ragil yang dibelinya secara onlen.  Si mas kurir itu sempat kaget ketika yang tahu yang memesan barangnya seorang anak SD bertubuh mungil.  Oya, barang apakah itu?

Ternyata sebuah topeng.

Yangti sempat agak marah ketika tahu harga topeng itu, merasa eman uang sejumlah itu untuk membeli barang yang -menurut Yangti- kurang berharga.  Sedangkan ragil dengan percaya dirinya bertahan bahwa  itu karya seni yang bagus. Lagi pula ia merasa tak bersalah karena membeli barang itu dengan uang tabungannya sendiri.  Akhirnya Yangti pun mengalah, meskipun masih merasa tak mengerti indahnya topeng itu..hehe…

Beberapa hari kemudian, si Ragil tiba-tiba keluar rumah setelah mendapat telepon.  Ketika pulang, ia menenteng sebuah bungkusan yang ternyata berisi topeng yang hampir sama dengan yang pertama.  Lho… apa dia beli lagi? kenapa nggak diantar ke rumah seperti kemarin?

Ternyata betul, ia memang memesan topeng lagi, dan kurir itu minta ketemu di luar rumah karena ‘takut’ dimarahi Eyang lagi… haha…. ada-ada saja si mas itu..padahal kan Yangti juga gak marah-marah sama dia waktu itu…

Sebelum si Eyang marah lagi karena dia membeli barang yang sama, si Ragil menjelaskan kepada Eyang bahwa itu bukan untuk disimpannya.  Itu pesanan seorang temannya yang tertarik melihat topengnya kemarin, sehingga minta dibelikan. Dan jiwa bisnis si Ragil mulai tumbuh rupanya, karena ia sudah menaikkan sedikit harga topeng itu…

“Berapa keuntungannya, De’?” tanya Yangti.

Diapun senyum-senyum saja… “Lumayan, Yang… Bisa buat beli pulsa…” begitu jawabnya enteng kepada Eyang.

Yangti pun urung marah, berganti menjadi geli karena ternyata cucu ragilnya  menuruni bakat dagangnya, hehe…

Suatu pagi, mobil keluarga mogok lagi.  Ini sudah yang kesekian kali.  Lalu si Sulung tiba-tiba nyeletuk, “Yah, ati-ati lho… Jangan-jangan, besuk-besuk ada yang datang karena mobil tua itu diiklankan Ragil di Toko Begus…”

Semua tertawa… tapi…. siapa tahu juga ya? 😀

Petualangan pertama Si Ragil

Minggu pagi, di rumah kakakku.

Alhamdulillah, demamku sudah agak turun, namun dinginnya pagi itu membuatku kembali berselimut setelah menyelesaikan kewajiban pagi, sedangkan burung-burung sudah asyik membangunkan mentari dengan kicauannya..

Yangti sudah sibuk klithak klithik di dapur sementara mbakku sibuk membangunkan kedua jagoannya, yang rupanya masih sangat betah ngruntel di balik selimut.

Acara heboh membangunkan mereka mulai menampakkan hasil dengan nguletnya Si Sulung, lalu terkantuk-kantuk menuju kamar mandi mengambil air wudhu, sementara Si Ragil masih saja tak bergeming.  Ketika mamanya sudah hampir di batas kesabarannya, tiba-tiba saja si bungsu itu njenggirat  terbangun.

“Mah, jam berapa?” tanyanya sambil kucek-kucek mata.

“Hampir jam 6, De’.. Makanya, ayo ndang sholat…” jawab Sang Ibu.

“Ooh… untunglaah… tak kira sudah telaat…” jawab Ragil, “aku mau bangun jam 7 terus langsung makan ya Mah…” katanya kemudian sambil kembali mlungker.  Tepatnya, berusaha untuk itu, yang gagal total karena sudah dicegah mamanya, yg segera saja menggandengnya ke kamar mandi.

Ketika dia sedang mengerjakan kewajibannya, aku bertanya pada mbakku itu, tumben amat minggu pagi dia sudah semangat begitu, ada apa? Ternyata hari itu Ragil dan teman-temannya -serombongan anak-anak kelas 6 SD itu- berencana bersepeda bersama. Dan rupanya itu acara pertama Ragil pergi sendiri dengan teman-temannya, tanpa kawalan ayah / ibu / kakaknya.

Ooh… pantas saja dia begitu semangat.  Tadinya Si Eyang yang kurang setuju, mamanya juga agak keberatan, tapi ayah & kakaknya mendukung, akhirnya si bungsu itupun diizinkan menjalani ‘petualangan’ pertamanya.

Sayangnya, entah kenapa dia tak mau terus terang rute mana saja yang akan mereka lewati dengan bersepeda itu. Pokoke amanlaah… di dekat-dekat situ kok, itu selalu jawabnya bila ditanya… Apa ia khawatir akan disusul / diikuti ayah atau kakaknya ( demi ketentraman hati ibu & neneknya ya?)  hihi…

Maka pagi itu pun ia berangkat dengan ransel di punggung dan semangat di dada… (ahay…) dan restu dari semuanya… 😀 Continue reading “Petualangan pertama Si Ragil”

Ujian sabar

Ada yang bilang, saat sakit, itu salah satu ujian sabar kita.

Dan aku setuju dengan pendapat itu.  Ketika sakit, kita benar-benar harus punya banyak persediaan  sabar…

Mulai dari sabar menikmati rasa kemeng-kemeng di perut yang datang dan pergi seenaknya sendiri…  Sabar ketika nyari posisi berbaring yang paling nyaman…tapi tetep saja yang ada boseeen…setelah berbaring seharian…  Sabar ketika ngantri di puskesmas nyari surat rujukan ke RS…  Sabar ketika pengen segera ditangani tapi harus nunggu luamaaaa di poli RS karena (kabarnya) Sang Dokter sedang sibuk visite pasien rawat inapnya…

Juga mesti sabar ketika hasil periksa tensi oleh siswa perawat jauuuh dari angka yang biasanya.  Aku sempat kaget ketika diberi tahu bahwa tensiku 160.  Yang bener??? Aku kan biasanya tensi rendah, 100-120 itu normalku. Kemarin pernah naik jadi 130 saja sudah pusiiing rasanya, kok ini 160 aku gak kerasa apa-apa??

Terus terang aku tak percaya dengan hasil periksa siswa itu.  Namun ketika aku minta diulangi dan dia bilang tetap segitu, yo wis,  aku berusaha tetap sabar saja.  Barulah ketika akhirnya -setelah 3,5 jam menunggu- tiba giliranku diperiksa oleh Sang Dokter dan setelahnya beliau berkata akan meresepkan obat penurun tensi, aku pun dengan sabarnya ngeyel  (hihi… jelas-jelas ngeyel  kok sabar… hehe… ) ke pak dokter itu minta ditensi ulang, takutnya aku manut  minum obat penurun tensi itu sedangkan sebenarnya tensiku nggak tinggi…lha rak malah kojuur…

Sebenarnya aku merasa agak tak enak meminta tensi ulang itu karena si siswa ada di sana, tapi aku juga nggak mau terjadi salah obat akibat salah bahan diagnosa itu kaan…

Untunglah si Pak dokternya sabaaar… ( yg ini sabar beneran) dan akhirnya meskipun ia tetap meresepkan obat itu (agar ada persediaan di rumah bila tiba-tiba tensiku meninggi, begitu kilahnya) dia pun mengizinkan aku ditensi lagi, dan hasilnya : 120! Naah… bener kaan… untung aku bersabar untuk tetep ngeyel minta ditensi ulang..  🙂

Obatq

Dan akhirnya, aku pun harus bersabar menunggu kesembuhan sambil menghabiskan obat sak gebung yang kubawa pulang kemarin.  Sambil merapal ‘mantra’ warisan swargi simbahBismillah… tamba teka lara lunga…  Mudah-mudahan aku lulus dari ujian sabar kali ini… aamiin…

Obong-obong

Ngobong suket ing lemah nganggur
Ngobong suket ing lemah nganggur

Hm… jare obong-obong sampah, suket  lan sak panunggale ki dilarang, malah jare wis ana peraturane, mbuh kuwi Undang-undang apa dene Peraturan Daerah / Perda.  Lha tapi, kok yo isiiih wae ana sing nindakke obong-obong , kaya sing tak sawang wingi sore wayah bali kantor.

Ana sing lagi obong-obong suket sak amban2 nang lemah nganggur sing ana ning ngarep kantorku.  Pancen ing lemah nganggur kuwi sukete dhuwur-dhuwur, mungkin sing arep ngresiki awang-awangen yen kudu mbabati saka sithik, dadine trus diobong wae kaya sing katon ing gambar nduwur iku…  Lha nek kasep kobaran gedhe gek njur piye??? Sapa sing gelem disalahke???

Hm… polusiii… 🙁 Continue reading “Obong-obong”

KBN2013 : Istimewa!

Ikut…tidak…ikut…tidak..ikut…tidak..ikuuuut! *akhirnya 🙂

Setelah sempat ‘maju mundur’ -karena satu dan lain hal- tentang keikutsertaanku di KBN 2013 di Jogja, akhirnya awal pekan lalu kepastian itu pun datang : kerjaan beres alias bisa ditinggal. Segera nyari tiket travel (alhamdulillah dapat) dan siap-siap untuk berangkat jumat sorenya.

Kalau ditanya blogger mana yang khusus ingin kutemui di KBN 2013 itu, kujawab dengan pasti, aku ingin ketemu semua teman yang sudah kukenal dari blog.  Ya, kali ini tidak ada yang khusus, karena memang -kecuali mbak Esti- belum ada yg pernah kutemui sebelumnya… hehe..  Tapi…, tak ada blogger khusus yg ingin kutemui di KBN 2013 bukan berarti tak deg2an sebelumnya lhooo…

Rasa was-was itu sempat ada karena itu adalah kopdar akbar yg pertama kali akan kuikuti. Bisakah aku ‘membaur’ dengan teman-teman yang belum pernah kutemui secara nyata? Apakah interaksi kami akan sehangat interaksi saat berbalas komen? Bukan aku meragukan teman-teman, tapi lebih kepada diriku sendiri yang seringkali agak susah memulai dengan orang baru.  Tapi kopdar pemanasan sebelumnya memperkecil rasa was-was itu. Ternyata dengan Cii Yuni & mbak Esti yg baru pertama bertemu terbukti kami bisa ‘larut’ dalam percakapan gayeng, jadi insya Allah di Jogja bisa lah aku berbaur dengan teman-teman baru di sana, begitu pikirku ‘menguatkan’ hati..hehe.. Continue reading “KBN2013 : Istimewa!”

Kopdar Mini

Ketika awal minggu lalu mbak Esti menulis status di wall nya bahwa akan bertugas di Pekalongan selama beberapa hari dan mengajak kopdar bagi blogger yang kebetulan berdomisili di Kota Batik itu, aku merasa senang sekaligus sedih. Senang karena akan ada kesempatan bertemu secara langsung dengan salah seorang teman maya, namun juga sedih karena selama 2 hari di awal minggu itu aku harus dinas luar sehingga kemungkinan terlewat kesempatan itu. Tapi kemudian kucermati lagi bahwa beliau ada di Pekalongan sampai hari Jumat pagi, sementara aku rabu sore sudah kembali dari tugas itu, sehingga akhirnya kuhubungi Diajeng  Cii Yuniaty agar bisa bersama-sama ketemuan dengan mbak Esti di hari Kamis itu.

Hari pertemuan sudah ditentukan, tinggal tempat dan waktunya.  Pesan dari mbak Esti, kopdar agar dilakukan di hotel tempatnya menginap selama bertugas itu, namun aku dan Yuni merasa lebih nyaman bertemu di luar hotel.  Kebetulan teringat bahwa di samping hotel itu ada resto baru yang -dari luar- tampaknya nyaman untuk tempat bertemu & ngobrol. Akhirnya kami memilih resto itu sebagai tempat ketemuan.

Lalu tentang waktunya, karena jam kerjaku normalnya sampai sore, maka sebenarnya yang paling nyaman adalah bertemu setelah magrib, sehingga waktu lebih longgar.  Namun, mengingat lokasi pertemuan terletak di pinggir jalan raya Pantura yang sore-malam selalu ruamai dengan kendaraan-kendaraan besar, maka aku & Yuni agak berkecil hati untuk naik motor malam2 ke sana. Akhirnya setelah dipikir-pikir lagi, maka ditetapkan bahwa kamis itu aku izin pulang awal ( trimakasih pak Boss..hehe..) sehingga ba’da ashar awal sudah bisa sampai di tempat yang ditentukan.  Jadilah kamis sekitar jam 4 sore aku dan Yuni berboncengan ke meeting point…

Sayangnya, karena kesibukan kami sebelumnya, kami tidak sempat ngecek menu di resto itu.. walhasil..ketika akhirnya mbak Esti datang, kami bertukar salam dan cipika-cipiki..lalu melihat menu…. alamaaak! Ternyata resto itu hanya menyediakan makanan berat saja! Maaf mbak Esti…. kopdar pertama kita menjadi Kopdar Garingan alias dengan konsumsi seadanya saja…hehe…

Alhamdulillah, kondisi itu tak mengurangi gayengnya pertemuan perdana dengan blogger ayu nan lembut dari Semarang tersebut. Meskipun baru pertama kali bertemu, suasana terasa ‘cair’ dan obrolan berlangsung seru hingga tak terasa waktu berlalu, adzan maghrib berkumandang dan kami pun harus segera mengakhiri jumpa darat darurat itu…

Sebelum meninggalkan tempat, nggak aci kalau tak berfoto-ria terlebih dahulu… untunglah ada si mas pelayan resto yang mau membantu mengambil foto emak-emak narsis ini.  Dan ini dia hasilnya…

Kopdar mini bin garingan..hehe...
Kopdar mini bin garingan..hehe…

Oya, kopdar mini ini sekaligus menjadi kopdar pendahuluan bagiku sebelum mengikuti kopdar akbar di Kopdar Blogger Nusantara 2013 yang diadakan di Jogja. Alhamdulillah mbak Esti akan ikut acara itu juga sehingga kita janjian ketemu lagi di sana, sayang Yuni tidak bisa meninggalkan tugasnya di jadwal BN 2013 itu.  Mudah-mudahan lain kali ya Yun…

YuniEsti

Mbak Esti dan Yuni… trims ya.. sudah meluangkan waktu ketemu bertiga… sangat menyenangkan berbagi cerita bersama kalian…   😀

Memberi & Menerima

Pohon Mangga di pojok halaman kami memang tak seberapa besar, meskipun umurnya sudah cukup tua.  Ditanam sejak awal pembangunan rumah kami, mungkin dulu sebagai ‘bonus’ dari pengembang karena di rumah-rumah lain di kompleks perumahan kami hampir semua memiliki pohon mangga 🙂

Alhamdulillah, meskipun tak seberapa besar, saat berbuah seringkali cukup banyak untuk bisa kami nikmati sekeluarga, ataupun dibagi kepada teman / kerabat yang menginginkannya.  Namun beberapa musim yang lalu, entah kenapa pohon itu sempat ‘mogok’ berbuah.  Mungkin karena tak terurus..hehe…

Ketika pohon-pohon mangga tetangga sarat buah, pohon kami sarat daun saja dan hanya memunculkan buahnya 1-2 gerombol saja.  Sampai-sampai, kami sangat yakin kalau mangga kami itu berjenis ‘mana lagi’… berbuah hanya beberapa hingga kami berharap..”mana lagiii???” 😉

Lucunya, 1-2 gerombol yang ada itupun adanya di cabang-cabang  yang menjulur di luar pagar , sehingga rentan raib dan kami lebih sering memandang tanpa merasakan… haha…lebay banget yaa…  Sebenarnya bisa saja sih, buah-buah yang mung-mungan itu di brongsong  sehingga aman sampai matang, tapi kami malas melakukannya. Yaah, anggap saja sedang sedekah kepada orang lewat… Sering kami berseloroh, gak punya banyak harta ya  sedekahnya mangga… haha…

Namun, bahkan di saat pohon mangga kami sedang demo seperti itu, tak berarti kami tak pernah merasakan manisnya mangga. Tak harus membeli meskipun di pasar banyak mangga. Karena, ada sahabat kami yang mempunyai berbagai jenis pohon mangga yang rajin berbuah bergantian dan selalu ingat untuk membaginya kepada kami. Belum lagi kalau Mangga Kelapa yg di Jogja lagi panen, pasti kami kebagian juga.. Alhamdulillah… ora melu nandur tapi bisa melu ngrasakke 🙂

Menanam persahabatan, berbuah kiriman segeran.. hehe...
Menanam persahabatan, berbuah kiriman segeran.. hehe…

Alhamdulillah, musim buah kali ini, demo ‘mogok’ berbuah itu sudah selesai rupanya.  Pohon di sudut halaman itu akhir-akhir ini kembali sarat dengan buah, tak hanya di cabang-cabang yang di luar pagar saja.  Jadinya kami bisa kembali merasakan manisnya mangga milik sendiri, sambil tetap sedekah mangga bagi yg menginginkannya… 🙂

Alhamdulillah... pohon ini tak 'mogok berbuah' lagi...
Alhamdulillah… pohon ini tak ‘mogok berbuah’ lagi…

Mangga…mangga… siapa mauu ?? 🙂