LALANG UNGU

Ruang berbagi pengalaman dan manfaat

Ketika masa jaya Si Emas Hijau ‘tlah berlalu…

| 6 Comments

biji-anth

Pernah ada masanya, biji-biji itu begitu berharga.  Th 2007, per biji Anthurium Jenmannii dihargai Rp. 150.000-an,  sedangkan bibit berdaun 2 helai sebesar jempol saja dihargai ratusan ribu rupiah. Apalagi indukan yang sudah menampakkan tanda-tanda bereproduksi dengan tongkol penuh biji… wiih… pasti diburu oleh banyak peminat, sehingga harganya meroket dan si empunya bisa kipas-kipas dengan uang hasil penjualannya….  Eh, pernah dengar istilah ‘Kaji Kembang’ ? itu lho.. seseorang yg berhasil pergi haji dari hasil penjualan kembang / tanaman (baca : anthurium) nya..  Itulah salah satu fenomena di masa jaya si ’emas hijau’ itu…

Namun, sebagaimana roda berputar dan musim berganti, kini Anthurium seolah tenggelam dan kehilangan pamornya.  Bila dulu pemiliknya selalu menempatkannya di tempat khusus, memperlakukannya dengan sepenuh hati dan memperketat penjagaannya dari tangan-tangan usil, maka kini banyak terlihat pot-pot anthurium yang tergeletak begitu saja di sudut teras atau di bawah pohon di pekarangan.  Tak ada lagi rasa takut kehilangan karena ia seolah tak berharga lagi…

Ah, Anthurium…. riwayatmu kini tak lagi seelok masa keemasan tempo hari… tapi bersabarlah…, siapa tahu roda akan berputar lagi dan masa jayamu akan kembali 🙂

Anthurium

Catatan :

Tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya di blognya Oom NH saat menggelar ‘Karsini’ beberapa waktu yg lalu… dan yg membuat ‘tertebak’ buka gaya penulisanku melainkan jenis kamera jadul yg kugunakan…hihi….

6 Comments

Leave a Reply

Required fields are marked *.