LALANG UNGU

Ruang berbagi pengalaman dan manfaat

Ketika hidayah-NYA tiba…

| 7 Comments

“De’… cerita dong pengalaman pertama kali berjilbab dulu..”

Itu permintaan dari salah seorang kerabatku, di sela-sela keasyikan kami ngobrol ngalor-ngidul  dalam salah satu kesempatan silaturahmi lebaran yang lalu.

“Kenapa? Mbak Ayu mau berjilbab juga?” aku balas bertanya padanya, dan ucapan syukur pun terlontar ketika melihat anggukannya menjawab tanyaku.

“Insya Allah, De’… Sudah makin manteb sih, sudah kumpul2 juga, tinggal cari momen yg tepat untuk memulainya…Ayo dong cerita, sebagai tambahan pertimbanganku juga…” desaknya.

Dengan senang hati akupun berbagi pengalaman pertamaku, mengingat-ingat kembali perasaanku sendiri maupun reaksi keluarga dan lingkungan dekatku saat aku merubah penampilanku, hampir 12 tahun lalu.

***

Sebenarnya, sejak awal kuliah keinginan untuk menutup aurat itu sudah singgah di hati, terlebih dengan suasana kampus yang sangat mendukung.  Namun, ketika itu orang-tuaku belum memberikan restu, dan karena merasa masih menjadi tanggung-jawab orang-tua maka akupun menuruti permintaan mereka.

Baru pada saat aku telah memasuki dunia kerja, telah mandiri, akupun berusaha mewujudkan keinginanku itu.  Awalnya aku juga ragu-ragu, karena saat itu baru satu-dua rekan kerja  – bahkan baru  satu dari 5 teman dekatku- yang berjilbab.  Setelah berjilbab nanti, apakah aktivitasku akan terbatasi? apakah aku tak bisa lagi ubyang-ubyung bersama sohib-sobihku itu? Apakah aku bisa menahan rasa gerah karena kami tinggal di kota pantai? Apakah aku akan bisa konsisten dengan pilihanku itu? Apakah aku akan mulai sedikit demi sedikit, hanya memakainya sekali-sekali…atau langsung saja mulai pakai disepanjang aktifitas sehari-hari?

Berbagai pertanyaan mengepung hati, belum lagi rasa was-was sebelum meminta restu pada orang-tua.  Tapi…bila aku maju-mundur terus, kapan aku akan mulai? sedangkan aku tak tahu apabila aku terus menunda-nunda, bagaimana bila ternyata aku tak punya waktu lagi untuk menjalankan kewajibanku satu itu? Maka dengan Bismillah, aku pun meyakinkan hati.

Alhamdulillah, ternyata bapak-ibu sangat mendukung.  Entah karena telah terbukanya wawasan beliau atau karena mereka merasa aku telah dewasa dan berhak menentukan sendiri, atau entah apa…yang jelas, tak ada lagi larangan itu buatku.  Semakin yakin aku dengan keputusanku, maka pada hari pertama masuk kerja setelah libur lebaran di tahun 2000 itu, aku mulai berhijab.  Alhamdulillah…semua yang kukhawatirkan tak terjadi, lingkunganku sangat mendukung, akupun masih bisa melakukan semua aktivitasku seperti biasa, bahkan dengan lebih percaya diri…

***

“Jadi, kaupun merasakan keraguan dan kekhawatiran saat mulai dulu, ya De’ ?”

“Iya, mbak… Bagiku, itu adalah keputusan penting dan besar dalam hidupku, jadi aku juga mempertimbangkannya masak-masak… Alhamdulillah banyak yang membantu & meyakinkan hatiku, mbak..”

“De’… rasanya, momen hari raya ini akan menjadi momen yang tepat pula bagiku untuk mulai.  Insya Allah, hari pertama masuk kerja besok, akan jadi hari pertamaku berjilbab!” ujar mbak Ayu yakin.

“Alhamdulillah mbak… Oya, mbak kan masih di sini beberapa hari ini..nah, kita pakai kesempatan itu untuk hunting kerudung ya mbak… biar koleksinya makin banyak..”

“Siiplah…. ”  derai tawa kami pun mewarnai siang yang cerah itu…

Ya Allah, berilah kemudahan bagi saudari-saudariku untuk menjalankan perintah-MU… Aamiin….

***

Ketika hidayah-NYA tiba…kenapa harus ditunda-tunda ? 🙂

7 Comments

Leave a Reply

Required fields are marked *.