Jarak antara menanam dan memanen..

” Hindari budaya quick fix, berfikir jangka pendek, cepat beres dan tidak sabar. Untuk sukses ada jarak antara saat menanam dan panen, inallah maa shabirin..”

***

Itu adalah status yang tertulis di wall FB Muhammad Syafii Antonio yang kubaca kemarin, yang kurasa sangat tepat mengingat kondisi yang banyak kita temui pada saat ini, oleh karena itu ku kutip di sini untuk kujadikan catatan tersendiri.

Tak sedikit pula yang menyebut masa kini adalah masa jaya ‘Budaya Instan’ :  semua serba dicari mudahnya atau cepatnya, tidak hanya pada sarana prasarana yang melengkapi kehidupan kita, namun sampai juga ke perwujudan suatu keinginan ataupun cita-cita.

Ingin kaya, ingin sukses, ingin terkenal ….. semua ada cara instannya, begitu promosi yang seringkali kita jumpai -entah terang-terangan ataupun umpet-umpetan …  Dan sebagaimana biasanya iklan, yang dikedepankan adalah sedikitnya upaya yang dikeluarkan dan besarnya hasil yang didapatkan… Tak disinggung mengenai benar-tidaknya proses yang akan dilakukan, sesuai atau justru bertententangan dengan norma-norma yang ada, dsb.

Ada jarak antara MENANAM dan MEMANEN

Ada jarak antara menanam dan memanen.  Itu kalimat yang aku suka, menjelaskan bahwa ada proses yang harus dilalui dengan sabar. Ada upaya dan kerja keras di antara kondisi ‘tanam’ dan ‘panen’. Dan proses itupun harus dilakukan dengan benar. Bila cara menanam salah.. belum tentu kau akan panen sesuai harapan…

Benar tidaknya suatu proses mungkin memang relatif, dalam artian tidak selalu proses yang dilakukan seseorang adalah yang paling benar sementara proses yang dilakukan orang lain adalah salah. Semua tergantung kondisi dan hasil akhir yang ingin dicapai masing-masing. Namun begitu, ada nilai-nilai universal yang bisa kita jadikan patokan untuk menilai benar tidaknya suatu proses.

Ada proses yang harus dilalui sebelum menuai hasil. Bila ingin sukses dalam suatu ujian, seorang pelajar harus belajar mengenai materi yang akan diujikan. Jika ingin memenangkan suatu kompetisi, seorang petarung harus benar-benar berlatih dan bersiap untuk menghadapi kompetisi itu. Proses tak bisa ditinggalkan begitu saja.

Hasil tak akan mengkhianati proses. Itu adalah sebuah kutipan lain yang sering kudengar / kubaca, dan juga kuyakini kebenarannya. Seseorang yang jatuh-bangun dalam berproses sudah selayaknya menikmati kesuksesannya. Seseorang yang merasa cukup sekedar telah berusaha dalam meraih mimpinya, jangan iri pada kesuksesan orang lain yang penuh totalitas dalam upaya meraih tujuannya. Besar kecilnya usaha yang dilakukan akan berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh.

Oleh karena itu, mari kita nikmati prosesnya. Cermati juga tahapan-tahapannya, mungkin dengan demikian kita bahkan akan melihat satu dua hal yang dapat diperbaiki sehingga akan meningkatkan kualitas hasil akhirnya.. Jika keberhasilan belum teraih kali ini, maka itu berarti proses kita belum selesai.

Daripada menyesali diri, berputus asa atau justru mencari kambing hitam dan menyalahkan orang lain atas kegagalan kita, bukankah sebaiknya justru kita meninjau ulang proses yang kita lalui? Apakah kita telah melakukan semua tahapan dengan benar dan sepenuh hati? Apakah sebenarnya ada yang masih bisa kita maksimalkan lagi?

Sekali lagi, karena hasil tak akan mengkhianati proses, maka mari berproses dengan sepenuh hati dan kemudian, setelah melakukan yang terbaik yang kita bisa, kita tinggal berlapang hati menerima apapun hasilnya nanti.

Ah, berkata memang mudah. Tapi coba saja menjalani, apakah akan semudah itu?

Hm, mungkin memang ada yang akan nyinyir begitu. Tak apa…, itu hak setiap orang untuk berpendapat dan adalah hakku juga untuk meyakini apa yang kutulis ini. Mungkin memang tak akan mudah, tapi yang pasti bukan pula hal mustahil. Tinggal kembali ke diri kita sendiri, mau atau tidak menjalaninya?

Ada proses yang harus ditempuh sebelum memanen keberhasilan

Kembali ke status dari Muhammad Syafi’i Antonio yang mengilhamiku untuk menuliskan opini ini. Itu memang hanya sebuah status pendek, namun bagiku bisa membawa ke pemikiran yang panjang… Bagaimana pendapatmu, teman? Silakan bagi pendapatmu di kolom komen ya teman… Terimakasih..

Catatan : last edited 30 Nop 2018

62 thoughts on “Jarak antara menanam dan memanen..”

  1. Jadi inget bulikku hampir sampai nangis waktu cerota katanya gagal panen… proses menanam sudah betul, hingga prosesnya sudah betul, tapi ada faktor ex yang bikin gagal, parinya dimakan burung.. sedih jadinya

  2. Setiap proses yang dilalui, itulah pembelajaran buat kita. Harusnya kita nikmati dan syukuri.
    Dan saya setuju banget dengan kalimat “hasil tidak akan mengkhianati proses”, jadi sebesar apa proses yang kamu kerjakan yang segitu pula hasilnya.

  3. budaya instan di kalangan generasi muda itu bikin miris saat ini. Entah apa yang salah, dan aku sering merasa telunjuk itu menunjuk ke kita, para orang tua yang telah mendidik generasi saat ini. Jangan2 kita yang salah hingga melahirkan generasi dengan budaya instan?

  4. Setuju, Mbak. Memang sebaiknya kita fokus di proses ya karena hasil akan mengikut. Beda halnya kalo fokus di hasil, belum tentu prosesnya jadi bagus karena bisa saja segala daya dan upaya meski gak halal dipake juga.

  5. sejak berkebun dan mulai menanam pohon buah-buahan,saya pun mulai memahami makna tersebut dengan sesungguhnya memang ada jarak dari menanam dan memanen tapi ada saja orang yang pengen ikutan panen tanpa mau menanam

  6. Aku juga sangat menikmati semua proses dalam nulis blog yang tadinya begini sampe akhirnya membuahkan alhamdulilah proses memang tidak bisa instan yang penting tekun y mba

  7. Proses itu kalo dinikmati jadi sebuah kegiatan yang menyenangkan. Apapun hasilnya kita sebagai manusia juga tak berharap yang berlebihan. Aku sih lebih menikmati setiap proses yang aku jalani ketika melakukan sesuatu. Hasilnya gimana, pasrah aja ,hihii

  8. Proses itulah yang sekarang kadang dilupakan apalagi oleh anak milenia. Mungkinkah karena selalu disuguhi yang instan-instan?
    Jangan sampai.

    1. Hehe…penggemar instan hingga lupa proses ya mba.. padahal mi instan pun hasil proses dan harus diproses sblm bisa dimakan.. hehe..

  9. Benar, Mb
    Zaman sekarang itu penginnya yang cepet: cepet kaya terkenal dll
    Kalau udah gini jadi ingat betapa telatenny generasi zaman dulu
    Telaten dg kesabaran dan keuletan tnoa ngarep hasil instan

  10. Proses memang penting. Sayangnya sekarang banyak cerita yang katanya inspiratif juga cuma fokus sama sukses nya aja, jarang yang ngerjain prosesnya, jatuh bangun nya

  11. Setuju. Setiap usaha atau proses akan berbanding lurus dengan hasilnya. Tepatnya hasil tidak akan membohongi proses, ya, kan …
    Apalagi dengan menanam pohon, pasti membutuhkan proses yang panjang.

  12. Sebagai orang yang sudah akrab dengan dunia pertanian sejak kecil aku pun terbiasa dengan dunia pertanian. Tapi ya memang aku lebih suka panennya daripada saat menanam. Butuh proses yang lumayan panjang untuk bisa panen dengan hasil memuaskan. Btw, aku juga nanam sayur cikri itu di kebun belakang rumah. Tapi sayang sekali pas panen kemarin harganya murah sekali. Kan jadi sedih aku. Ah, malah curhat. Hehehe.

Leave a Reply to Mugniar Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *